My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 202 TAK SEBANDING



“ 26 kilo PAMP...... kali ini aku kagum dengan keputusanmu....... aku yakin setelah ini tidak akan ada satu orang pun yang memandangmu sebelah mata...... 1 kilo emas PAMP saja lebih 64.000 dollar.... kalau dalam kurs rupiah kurang lebih 935 juta rupiah..... 26 kilo PAMP..... itu sudah lebih dari cukup apa yang mereka minta dalam daftar itu “ ucapan Azkar membuat Fajrin terkejut.


“ Abang yakin..... ini sudah lebih dari nilai di daftar mereka? “ Azkar menganggukkan kepala sekali.


Proses pengangkutan Bugatti Centodieci dan 26 kilo PAMP menggunakan truk pengangkut menuju kediaman Azkar untuk mereka simpan hingga hari H.


“ jangan katakan semua ini pada Divya dan om Davis..... kita buat semua ini kejutan di hari H kalian.” Ucap Azkar dengan senyum tipis yang terkesan dingin.


Semua orang yang berada di kediaman Azkar sangat terkejut melihat sebuah truk pengangkut mobil memasuki gerbang kediaman Azkar. Freya dan Selo yang sudah mendapatkan informasi bahwa hari ini apa yang Afkar janjikan sudah sampai, hampir tidak percaya melihat sebuah truk pengangkut itu. Dengan sigap para pengawal Azkar memindahkan kotak-kotak kecil emas PAMP dan meletakkan di ruang tengah.


Azkar dan Fajrin yang sejak dari bandara mengikuti truk tersebut dari belakang, melihat kesigapan para pengawal membuat Fajrin merasa bahwa banyak orang yang membantunya. Selo mendekati Fajrin yang menatap satu persatu para pengawal yang sedang sibuk memindahkan kotak PAMP.


“ semua ini tidak sebanding dengan apa yang sudah orang tua kalian lakukan pada kami..... semua ini tidak akan pernah ada bahkan Rosenkrantz tidak akan seperti sekarang tanpa pengorbanan kedua orang tua kalian..... percayalah...... kalian berdua sangat berarti bagi kami. “ ucapan Selo membuat Fajrin tertunduk mengingat sosok kedua orang tuanya.


“ Abba.... jangan buat Fajrin sedih..... sebentar lagi dia akan menikah..... ayo kemari katakan rencanamu.... siapa yang akan membawa semua ini di akad nikah kalian “ ucap Freya sambil menarik lengan kemeja Fajrin.


Freya menarik Fajrin ke ruang tengah yang sudah ada Helen dengan bayi kecilnya. Semua orang terlihat serius mendengarkan rencana Fajrin siapa saja yang akan membawa semua ini.


“ sebenarnya Fajrin ingin adik yang membawa dua barang pelangkah tapi.... kalau kondisi adik tidak memungkinkan..... apakah Afkar mau membawanya menggantikan adik “ ucap Fajrin.


“ biar Afkar yang membawa dua barang pelangkah..... untuk mahar..... Singgih bawa Al Quran dan alat Sholat..... kamu pikirkan saja siapa yang membawa 26 kilo PAMP..... “ ucap Freya dengan cepat.


Terlihat kulit dahi Fajrin berkerut memikirkan siapa yang akan membawa 26 kilo PAMP, karena anggota timnya hanya berjumlah 12 orang. Azkar pun terlihat mengerutkan kulit dahinya memikirkan suatu pesan singkat dari Afkar beberapa waktu lalu, tiba-tiba Azkar bersuara.


“ sebentar..... sepertinya Afkar dan Nara kemari tidak sendiri..... tapi bersama timnya ..... kita minta saja mereka untuk membawa PAMP itu “ ucapan Azkar membuat Freya tersenyum.


“ timnya Nara ada 4 orang.... masih kurang...... “ ucap Helen sambil memandang dua anaknya yang sedang bermain.


“ Amma..... mungkin mereka bisa membantu Fajrin “ ucap Helen sambil menunjuk kedua anaknya.


Azkar mencium kepala Helen karena Helen mengizinkan kedua anaknya membantu Fajrin.


Setelah menentukan siapa saja yang akan membawa mahar dan barang pelangkah Fajrin, Freya menghubungi keluarga besar Surendra di Jogja.


Selo memperhatikan Fajrin yang sepertinya masih menyimpan sesuatu yang mengganjal di pikirannya.


“ apa ada yang masih kamu pikirkan? Ketiga barang yang sudah kita dapatkan.... “ ucap Selo membuyarkan lamunan Fajrin.


Selo berpindah tempat duduk di sebelah Fajrin dan menepuk punggung Fajrin.


“ om yakin..... pernikahanmu dengan Divya akan menjadi pernikahan yang tidak bisa mereka lupakan.... bahkan om yakin.... setelah acara.... mereka tidak lagi memandangmu dengan sebelah mata “ nasehat Selo membuat Helen merasa bahwa sahabatnya ini terlalu berlebihan menyikapi keluarga Divya yang sangat suka berfoya-foya.


Untuk mencairkan suasana, Azkar menunjukan daftar tamu undangan pada Fajrin.


“ mereka semua sudah konfirmasi akan hadir di pesta kalian..... aku yakin kehadiran para jajaran direksi Rosewood dan PPB group..... sudah cukup membuat mereka tidak lagi memandangmu dengan sebelah mata “ ucap Azkar sambil menyerahkan daftar tamu undangan.


“ sepertinya aku tidak mampu membalas semua kebaikan yang kalian berikan..... tanpa kalian semua..... mungkin usahaku akan sulit menghalalkan Divya. “ ucap Fajrin tertunduk dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.


“ jangan cengeng..... mana Fajrin yang aku kenal..... “ ucap Helen membuat Fajrin menghapus air matanya dan menatap Azkar juga orang-orang di sekitarnya.


“ serahkan semua acara ini pada Amma dan Abba.... kamu pikirkan saja bagaimana mencari perusahaan yang mau bekerjasama dengan kita..... batas waktu kita hanya 4 minggu “ ucap Azkar membuat Fajrin teringat akan ketidakberesan yang dia temukan.


Fajrin menepuk dahinya pelan dan segera berdiri.


“ om.... tante.... Fajrin pulang dulu..... ada yang harus Fajrin selesaikan sebelum hari H.... bang..... 1 minggu ini jangan cari aku..... aku cari yang mau bekerjasama dengan kita. Assalamu'allaikum. “ ucap Fajrin dan melangkah menuju pintu.


Azkar dan yang lainnya melihat Fajrin dengan heran.


“ paling dia mau melakukan negosiasi dengan temannya..... “ ucapan Helen membuat Azkar dan yang lainnya menatap Helen curiga.


Sekepergian Fajri, keluarga Azkar mulai dari Freya, Helen juga Norin mulai sibuk mengemas mahar Farjin dan mempersiapkan 1 kotak untuk 1 barang pelangkah yang akan Afkar bawa sendiri. Freya sengaja melakukan ini sendiri tanpa meminta bantuan dari jasa pengemas mahar, Freya ingin membuat kejutan bagi keluarga besar Prakash dan Lohia. Azkar memerintahkan para 4 orang pengawalnya untuk membungkus Bugatti Centodieci dengan sebuah kain berwarna silver dan memberinya asesoris berupa pita besar berwarna senada.


“ bagaimana pun, pernikahan ini harus tetap terjadi.... tidak akan aku biarkan mereka memandangmu sebelah mata “ gumam Azkar dalam hati.


Selo mulai menghubungi keluarga besarnya yang di Jogja dan mengatakan bahwa persiapan pernikahan Fajrin sudah mendekati sempurna. Helen sesekali menarik nafas panjang melihat tumpukkan kotak kayu yang berisi emas PAMP seberat 1 kilogram, Freya dan Norin terkadang juga terlihat menarik nafas panjang.


Mereka merasa bahwa sepertinya keluarga besar Prakash mau pun Lohia masih ragu menerima Fajrin.


“ mungkin sudah jalanmu seperti ini.... semoga saja nanti mereka semua tidak akan lagi meragukanmu atau pun memandangmu sebelah mata..... harta sudah tidak ada artinya kalau salah satu dari tubuh kita tidak berfungsi lagi “ ucapan Freya yang terdengar sangat sedih.


Membuat Helen juga Norin merasakan sakit di dadanya serasa di hantam dan di tusuk oleh sebuah tiang baja, Helen dan Norin saling memandang satu sama lain sebelum melihat Freya yang berkali-kali menarik nafas panjang seperti berusaha keras menahan sesuatu agar tidak meneteskan air mata. Karena tidak mendapat jawaban apa-apa dari Freya, Helen dan Norin mengangkat kedua bahu mereka sesaat dan kembali sibuk mengemasi mahar milik Fajrin.