My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 239 10%



“ Assalamu'allaikum...... bagaimana kabar kembar “ salam Fajrin saat menerima panggilan dari Afkar.


“....... “ Fajrin tersenyum mendengar ucapan Afkar.


Fajrin mulai mengatakan maksud dari dirinya menghubungi Afkar, Davis mendengarkan cara berbicara Fajrin yang menurutnya terdengar jelas seperti berusaha meyakinkan Afkar. Sesaat kemudian Fajrin terdiam seperti mendengarkan penjelasan Afkar, sesekali Fajrin menarik nafas panjang dan memijat keningnya.


“ baiklah.... akan aku sampai apa yang menjadi persyaratan Rosenkrantz..... sebelum aku memutus sambungan ini.... bisakah kau membuat kedua keponakanku tertawa.... aku ingin mendengar suaranya “ ucap Fajrin sambil tersenyum.


Fajrin tersenyum karena mendengar suara tawa kedua bayi, entah apa yang Afkar lakukan pada bayi kembarnya hingga tertawa riang dan keras.


Fajrin menutup sambungan telepon dan mulai menjelaskan apa yang Afkar katakan, Davis mendengarkan dan terlihat jelas wajahnya menjadi tidak suka.


“ kalau papi bersedia dan menyetujui persyaratan yang Afkar ajukan..... dalam dua atau tiga hari kedepan akan ada beberapa orang auditor profesional dari Rosenkrantz yang melakukan audit keuangan di kantor papi. “ ucapan Fajrin membuat Davis berpikir keras.


Davis terdiam bingung ingin mengatakan apa, karena menurutnya sepertinya Afkar selaku CEO Rosenkrantz terkesan mempersulit dirinya.


“ sebenarnya Afkar sudah memahami kondisi perusahaan papi.... tapi Afkar ingin tahu lebih detail siapa saja yang berpengaruh di perusahaan papi selain papi...... tentu papi lebih paham dengan struktur management di perusahaan papi...... begitu juga dengan di Rosenkrantz.... segala bentuk kerjasama investasi atau pun kerjsama yang lain..... sudah ada orang-orang yang terganggung jawab... “ ucapan Fajrin kali ini membuat Davis sedikit terkejut.


“ bagaimana Fajrin bisa mengerti tentang struktur management perusahaan..... apa sekarang Fajrin sudah bukan seorang arsitek? “ gumam Davis dalam hati.


Dengan menarik nafas panjang, Davis mulai menjelaskan siapa saja yang memiliki pengaruh di perusahaannya dan siapa saja yang berhak menentukan kerjasama dengan perusahaan apa saja. Mendengar penjelasan Davis sudah cukup membuat Fajrin bisa memahami bahwa sebenarnya di perusahaan milik keluarga besar Prakash dan Lohia terdapat beberapa kubu yang saling berusaha menjatuhkan satu sama lain. Hal yang paling di kuatirkan Fajrin adalah bahwa Afkar sebenarnya sudah mengetahui status dan kondisi di dalam perusahaan Prakash Lohia tapi Afkar tidak berani menolak apa yang Fajrin ucapan sehingga Fajrin harus menemukan kata-kata yang tepat bahwa Rosenkrantz tidak melakukan kerjasama atau pun berinvestasi di perusahaan milik Davis.


“ kalau papi keberatan dengan kehadiran para auditor Rosenkrantz.... bagaimana Afkar bisa meyakinkan Rosenkrantz untuk berinvestasi? Kalau pun seandainya Afkar bisa meyakinkan Rosenkrantz untuk berinvestasi kemungkinan besar Rosenkrantz akan berinvestasi melalui salah satu anak perusahaannya..... “ penjelasan Fajrin membuat Davis menyandarkan punggungnya dengan lemas di sandaran sofa.


Davis merasa menemui jalan buntu untuk mendaparkan investasi dari Rosenkrantz, Fajrin merasa kasihan melihat Davis yang terlihat jelas sangat lelah dengan masalah perusahaan yang tidak ada ujungnya.


“ kalau saja waktu itu aku lebih berani tegas menitipkan Ditya seperti Divya pada neneknya ..... mungkin Ditya tidak akan separah ini “ keluh kesah Davis semakin membuat Fajrin merasa sedih dan sedikit tidak berguna di hadapan Davis.


Ingin sekali Fajrin berinvetasi pada perusahaan Davis tapi ada rasa ragu dan tidak percaya diri mengingat perusahaan Prakash Lohia bukan perusahan berskala kecil seperti milik Alif teman kuliahnya. Fajrin berpikir keras bagaimana mengetahui nominal investasi yang Davis butuhkan tanpa menyinggung perasaan mau pun merendahkan Davis.


“ pi..... kalau boleh tahu berapa nilai investasi yang papi butuhkan untuk mengembalikan kondisi perusahaan? “ pertanyaan Fajrin membuat Davis menatapnya penuh tanya juga ketidakyakinan.


Untuk beberapa detik mereka terdiam sibuk dengan pemikiran masing-masing, dengan perlahan Davis mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan kondisi perusahaannya saat ini juga nilai investasi yang di butuhkan untuk menarik kepercayaan para investor yang lain. Fajrin melihat sesaat nilai investasi yang Davis tunjukkan dalam mata uang Dollar Canada, Fajrin mengerutkan kulit di antara kedua alisnya seperti memikirkan nilai investasi tersebut bila di konversikan dalam mata uang Euro. Fajrin mengeluarkan ponselnya dan menghitung nilai investasi tersebut dalam mata uang Euro, sedetik kemudian Fajrin menarik nafas panjang dan mengetik sebuah pesan pada Afkar.


Davis menatap dalam-dalam kedua mata Fajrin mencoba mencari tahu apakah Fajrin serius dengan ucapannya.


“ apakah nilai sebesar itu mampu mengembalikan kepercayaan para investor? “ pertanyaan Fajrin membuat Davis tertegun dan tidak percaya dengan apa yang sudah dia dengar.


Davis terdiam mendengar ucapan Fajrin yang bernada serius karena nilai investasi yang Davis tunjukkan adalah kurang lebih 10% dari nilai kepemilikan perusahaan, yang berarti bila Fajrin sudah mentransfer seluruh nilai investasi yang Davis tunjukkan berarti posisi Fajrin akan menjadi salah satu pemegang saham seperti Martha dan dirinya. Menjadikan Fajrin sebagai salah satu orang yang menentukan jabatan CEO juga salah satu jajaran komisaris yang menentukan setiap keputusan perusahaan.


Davis masih terdiam, entah lidahnya terasa kaku untuk mengucapkan kata-kata atau otaknya yang kesulitan menyusun kata-kata.


“ sebelumnya ada beberapa dokumen yang harus papi tanda tangani supaya dalam tiga empat hari kedepan, Afkar sendiri yang mentransfer sepertiga dari nominal itu...... selebihnya akan Afkar transfer dalam rentang waktu satu minggu setelah tranfer yang pertama “ ucap Fajrin sambil melangkah menuju meja kerjanya.


Davis masih menatap Fajrin dengan tatapan tidak percaya, sosok Fajrin yang dia lihat saat ini sudah berbeda jauh dengan saat pertama kali dirinya mengenal Fajrin. Sementara Fajrin mulai mencetak surat perjanjian investasi yang harus Davis tanda tangani. Dan saat Fajrin kembali mendekati Davis dengan menyodorkan beberapa lembar surat perjanjian investasi, membuat Davis tidak bisa mempercayai semua panca inderanya.


“ papi bisa pelajari perjanjian ini dulu..... mungkin ada beberapa point yang ingin papi revisi..... “ ucap Fajrin yang masih mengulurkan berkas perjanjian pada Davis.


Tanpa kedua orang itu sadari, Divya sedari tadi mendengar seluruh pembicaraan mereka berdua. Di satu sisi Divya sedih karena ternyata perusahaan Davis bermasalah akibat dari berita skandal Ditya dan para saudara sepupunya, tapi di satu sisi Divya senang karena suaminya sendiri yang membantu memulihkan kondisi perusahaan Davis. Divya tidak berani ikut campur dalam hal ini karena Divya yakin bahwa Afkar berada di belakang Fajrin, bahkan tidak hanya Afkar saja yang berada di belakang Fajrin tapi Rosenkrantz.


Davis melangkah keluar dari ruang kerja Fajrin dan mendapati Divya yang pura-pura membersihkan meja kecil, Davis tersenyum dan membelai rambut Divya.


“ maafkan papi sudah salah menilai tentang suamimu..... jadilah istri yang berbakti pada suami di dunia dan di akhirat “ ucapan Davis entah mengapa membuat dada Divya terasa sesak.


Davis melangkah menuju ruang tidur tamu yang akan dia tempati selama tinggal di rumah ini, Fajrin yang sebenarnya sudah tahu bahwa Divya mendengar pembicaraannya dengan Davis sengaja berpura-pura tidak tahu.


“ sayang..... mejanya sudah bersih? “ suara Fajrin yang sedikit tinggi menyadarkan Divya.


Divya tersenyum malu karena ternyata keberadaannya di ketahui Fajrin, dengan tersipu malu Divya melangkah masuk dan duduk di pangkuan Fajrin.


“ capek tidak berdiri di situ? “ goda Fajrin membuat Divya semakin tersipu malu.


“ kalau capek..... ayang angkat sayang saja “ ucap Fajrin yang sudah mengangkat Divya untuk membawanya ke lantai 2.