
Arbab langsung melakukan penerbangan ke New Delhi begitu mendapat kabar dari orang kepercayaannya dimana pria misterius itu tinggal, Elena yang mendapat kabar bahwa Arbab akan datang terlihat sangat tegang karena dia belum menceritakan dengan lengkap rencana Arbab pada Divya.
Elena dan kedua penggawal Divya sudah berada di lobi apartment sejak pukul enam pagi, Elena hanya menceritakan pada Divya bahwa hari ini dia akan melakukan perjalanan jauh ke Jaipur. Seketika otak Divya mengajaknya berhalusinasi, karena dia masih mengingat ucapan Dipta bahwa Fajrin mengerjakan project di Jaipur. Divya berharap bisa bertemu dan berbicara dengan Fajrin, Divya mengenakan pakaian berbahan satin dengan potongan leher berbentuk jewel yang menutupi area dada dan bahan yang lebih tipis memperlihatkan area sekitar dada. Menurut Divya ini sudah termasuk pakaian yang menutupi area sekitar dada, memakai celana jeans dengan sedikit sobekan di paha kanan bagian atas.
Arbab menghampiri Divya dengan tatapan kagum melihat penampilan Divya yang sederhana dan terkesan seksi.
“ we go to Jaipur now (kita ke Jaipur sekarang) “ ucap Arbab sambil berjalan menuju mobil yang akan membawa mereka ke Jaipur.
Sepanjang perjalanan dari New Delhi ke Jaipur, jantung Divya berdetak tidak beraturan antara rasa bahagia dan gugup bercampur aduk menjadi satu. Setelah sekian bulan di India berada di satu Negara yang sama dengan pria yang dia kagum tapi baru hari ini bisa bertemu untuk berbicara secara langsung.
Hari ini Fajrin dan yang lain sedang libur karena hari ini masyarakat India merasakan hari libur Maha Shivaratri atau festival Hindu yang dirayakan setiap tahun untuk menghormati dewa Siwa. Tim India sudah kembali pulang ke kampung halaman masing-masing untuk merayakan festival ini kecuali Jatinra yang memilih menghabiskan hari libur ini dengan mencari kesibukan di unit apartment yang Fajrin tempati.
“ sir.... are this design has been repaired (pak.... design yang ini apa sudah di lakukan perbaikan)? ” tanya Jatinra sambil menunjukkan selembar kertas kalkir design Fajrin.
“ not yet. You fix it..... you can make a new drawing with the new tracing paper and you mark it on the old tracing paper. So that we can find out where the changes are (belum. Kamu perbaiki saja..... kamu buat gambar baru dengan kertas kalkir baru dan kamu tandai di kertas kalkir yang lama. Supaya kita bisa mengetahui letak perubahannya) " ucap Fajrin yang sibuk mengetik sesuatu di laptopnya.
Saat Fajrin dan yang lain sibuk membuat desain perbaikan project yang mereka kerjakan, tiba-tiba mereka mendengar bel unit apartemen mereka. Jatinra dan tim Jakarta terdiam dan saling memandang satu sama lain seperti sedang bertanya-tanya apakah diantara mereka ada yang menunggu tamu. Hampir bersama mereka menggelengkan kepala dan melihat ke arah Fajrin yang sedari tadi merasa tidak terganggu dengan suara bel apartemen.
“ Sir, are you waiting for someone (pak, apa anda menunggu seseorang)? ” tanya Andra memberanikan diri.
“ no.... I only know Jatinra, vikas and the others... didn't two days ago you meet an Indian woman (tidak.... aku hanya mengenal Jatinra, vikas dan yang lain...bukankah kalian dua hari lalu berkenalan dengan wanita India)? ” ucapan Fajrin seketika membuat semua tim Jakarta dan Jatinra melihat ke arah Muslim.
“ let me see who rings the apartment bell (biar saya lihat siapa yang menekan bel apartemen) ” ucap Jatinra sambil melangkah mendekati pintu.
Jatinra menekan intercom yang tepat berada di samping kanan pintu apartemen, Jatinra melihat siapa yang menekan bel dan membuatnya terkejut melihat wajah yang beberapa hari ini menjadi berita hangat di media.
“ sir..... that model is standing in front of this door with several people (pak..... model itu berdiri di depan pintu ini bersama beberapa orang) " ucap Jatinra gugup.
Fajrin segera mendekati Jatinra dan melihat ke layar intercom, seketika Fajrin tertunduk lesu.
“ clean up all your design, don't open anything (bereskan semua gambar kalian jangan ada yang terbuka). ” Ucap Fajrin dengan tegas.
“ can I open this door now (apa saya boleh membuka pintu ini sekarang)? ” tanya Jatinra sedikit kuatir.
“ open it, tell them to come in and ask why they here (buka saja, suruh mereka masuk dan tanyakan apa keperluan mereka kemari) ” ucap Fajrin sambil melangkah kembali ke meja tempat laptopnya berada.
Jatinra membuka pintu dan menyuruh mereka masuk menanyakan apa keperluan mereka. Arbab, Divya, Elena dan Ben masuk ke dalam mereka mengedarkan pandangan mencari sosok Fajrin tapi tidak mendapatinya. Karena memang Fajrin duduk di sebuah kursi yang tepat berada di belakang sebuah lemari yang mereka pakai untuk menyimpan tabung kertas kalkir.
“ I will call Mr. Fajrin (saya akan panggilankan tuan Fajrin) " ucapan Jatinra membuat jantung Divya berdetak tak beraturan.
Kedua tangan Divya terasa dingin karena gugup dan juga senang bisa melihat Fajri dari dekat. Fajrin melihat satu persatu tamunya dan tertunduk lesu saat melihat wajah Divya adik sahabatnya yang pernah dia tolong. Fajrin duduk tepat di hadapan Arbab dan tidak sekali pun melirik atau mencuri pandang pada Divya, sedangkan kedua mata Divya terlihat jelas berbinar-binar melihat Fajrin.
“ let me introduce myself, I’m Arbab from the plug media talent management Kuala Lumpur Kuala (perkenalkan saya Arbab kami dari the plug media talent management Kualalumpur) " ucap Arbab memperkenalkan diri dan mengulurkan tangan kanannya dengan percaya diri.
“ Fajrin.... what the important thing that made you fly away from Kuala Lumpur to meet me (Fajrin.... ada keperluan apa sehingga anda terbang jauh dari KualaLumpur menemui saya)? ” ucap Fajrin sambil menjabat tangan Arbab.
“ we would like to offer a contract with you (kami ingin mengajukan kontrak dengan anda) " ucap Arbab sambil meraih sebuah amplop dari tangan Ben dan meletakkan di meja tepat di depan Fajrin
“ sorry I'm already working so it's impossible for me to accept a job from your company (maaf saya sudah bekerja jadi tidak mungkin saya menerima pekerjaan dari perusahan anda) " ucap Fajrin sambil menggeser amplop tersebut lebih dekat ke Arbab.
“ our contract is different from the company you work for (kontrak kami berbeda dengan perusahaan tempat anda bekerja) " ucap Arbab yang kembali menggeser amplop itu lebih dekat ke Fajrin.
“ Sorry I am not interested (maaf saya tidak tertarik) " ucap Fajrin singkat dan jelas.
Sementara Fajrin sibuk menolak tawaran kontrak Arbab, tim Jakarta dan Jatinra terpesona melihat kecantikan wajah Divya.
Arbab mulai menahan emosi karena Fajrin berkali-kali menolaknya, baru kali ini ada yang menolak kontrak the plug media. Sekuat tenaga Arbab mencoba meyakinkan Fajrin agar menerima kontrak darinya. Arbab meraih amplop itu mengeluarkan berkas dan menyodorkan pada Fajrin.
“ please read this contract first, after that you can make a decision (silahkan anda baca dulu kontrak ini, setelah itu anda bisa mengambil keputusan) " ucap Arbab yang masih menyodorkan berkas kontrak tepat di hadapan Fajrin.