My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 16 SEPERTI SEMUT



Sejak pertemuan mereka di restauran Jepang, Yudha menjadi kagum dengan sosok Fajrin yang belum pernah dia ketahuai dari orang lain. Setiap kali Yudha bertemu dengan Fajrin, Yudha akan memberi salam terlebih dahulu mengingat Fajrin selalu sibuk dan perhatiannya selalu terfokus pada laptop atau pun Tab yang menampilkan gambar-gambar desain gedung atau pun resort yang dia rancang. Fajrin tidak menggunakan masa cutinya selama enam hari karena setelah pengumuman penerimaan mahasiswa baru, Nara harus segera melakukan daftar ulang dan ospek. Fajrin sangat tidak suka di rumah sendiri jadi dia memutuskan untuk masuk kerja saja meski pun sudah dua kali Azkar menyuruh Fajrin untuk pulang dan istirahat di rumah tetap saja Fajrin menolak perintah Azkar.


“setidak-tidaknya selama satu tahun kedepan aku tidak memikirkan uang kuliah Nara dan hanya perlu memikirkan kebutuhan sehari-hari.” Ucap Fajrin sambil memandangi layar laptopnya yang menampilkan aplikasi layanan internet banking.


Saat Fajrin melamun memandangi layar laptopnya seseorang mengetuk pintu ruangannya.


“permisi pak, saya ingin menyerahkan undangan pesta anniversary dari direktur zulian" ucap Ningsih seorang admin sambil membuka gagang pintu ruangan Fajrin.


“masuklah..... anniversary apa?” tanya Fajrin sambil membuka undangan yang admin tadi letakkan di meja Fajrin.


“kurang tahu pak..... tapi pesan dari sekretaris pak Zulian..... pak Fajrin harus berpakaian resmi" ucap Ningsih malu-malu.


“terima kasih...... tolong berikan berkas ini ke bagian keuangan" ucap Fajrin sambil menyerahkan dokumen pertanggungjawaban kartu kredit yang dia pakai selama mengerjakan project Phu Quoc.


Fajrin kembali menyibukkan diri dengan mengambar beberapa desain gedung yang pembangunannya akan di mulai dua minggu lagi. Sesekali Fajrin terlihat sedang menghubungi seseorang dan berbicara sangat serius, sesekali Fajrin memijat tengkuknya yang terasa penat. Jam sudah menunjukkan waktu istirahat makan siang, Fajrin masih tertenung memikirkan ide desain bangunan yang akan di buat untuk project selanjutnya.


“Bro..... ayo makan.” Ucap Roby yang sudah masuk ke dalam ruangan Fajrin tanpa mengucap salam.


“kebiasaan.... masuk tanpa salam" ucap Fajrin sambil membetulkan kemejanya yang sedikit kusut.


Roby mengedarkan pandangan di seluruh meja Fajrin yang berantakan dengan tumpukan gambar desain banguan.


“undangan apa ini?" ucap Roby sambil meraih undangan tersebut.


“anniversary direktur Zulian" jawab Fajrin singkat.


“ooooo..... datang?” tanya Roby yang sudah kembali meletakan undangan tersebut di emja Fajrin.


“entahlah...... dress code formal sekali.... aku tidak memiliki satu pun jas atau pun tuxedo..... ada juga jas almamater" jawab asal Fajrin membuat Roby menahan tawanya.


“pakai saja jas almamater itu.....” canda Roby membuat Fajrin menekan bahu kiri Roby.


“aduuuh..... sakit.... mentang-mentang sabuk Sandan" canda Roby pura-pura sakit.


“kita makan siang di samping gedung..... aku lagi ingin makan soto betawi" ucap Fajrin yang sudah menekan tombol lift.


Pintu lift terbuka dan di dalam lift sudah ada Yudha dengan asistennya.


“selamat siang pak Yudha” sapa Fajrin saat melangkah masuk ke dalam lift.


Roby mengikuti langkah Fajrin dengan tatapan heran.


“selamat siang pak Fajrin.... bapak mau makan siang? Bagaimana kalau bergabung dengan kami?..... kebetulan rekan-rekan marketing cabang ada di kantor ini dan saya ingin makan bersama mereka" ucap Yudha dengan sopan tanpa ada rasa sakit hati.


Roby terkejut mendengar nada bicara Yudha pada Fajrin yang terdengar biasa saja tidak seperti saat terakhir kali dia melihatnya.


“kalau menunya masakan Jepang..... dengan jujur saya akan menolak tawaran pak Yudha, tapi kalau menunya masakan indonesia saya dengan senang hati akan menerima ajakan pak Yudha.” Ucap Fajrin dengan santai dan menyungging sedikit senyum.


“hahahahaha...... anda sudah dua kali terang-terangan menolak tawaran makan siang saya...... baiklah kalau begitu lain kali kita makan siang bersama dengan menu nusantara.” Ucap Yudha yang masih tertawa mengingat alasan penolakan Fajrin.


“jadi makan siang soto betawi?” tanya Roby sekali lagi.


“jadi.... kita lewat gedung ini saja dari pada memutar keluar kejauhan.....” ucap Fajrin yang sudah melangkah masuk ke lobi Surendra cyber.


Fajrin dan Roby terus berjalan melewatin lobi dan area lift.


“ini kenapa pegawai wanita berkerumun disini?” ucap roby heran.


“ada gula mungkin" jawab Fajrin asal.


“memangnya wanita itu semut?”canda Roby membuat dirinya menahan tawa melihat para pegawai wanita semakin banyak berkerumun hingga menghalangi langkah mereka berdua untuk lewat.


Beberapa detik kemudian kerumunan para pegawai wanita membelah menjadi dua kelompok dan membuka jalan untuk seseorang lewat. Seketika Fajrin dan Roby melewati jalan itu hingga berpapasan dengan sosok pria tampan yang menampilkan wajah dingin dan mengabaikan kerumunan para wanita.


Tatapan mata Fajrin dan sosok pria itu bertemu untuk sepersekian detik.


“siapa dia?” tanya Fajrin heran pada Roby


“kamu tidak tahu siapa dia?”tanya Roby balik.


Fajrin diam tidak menjawab pertanyaan Roby, karena memang dia tidak tahu siapa pria itu.


“dia bos Afkar.... adiknya bos Azkar abang kamu.....”ucap Roby dengan berbisik.


“oooo..... dia adiknya bang Azkar..... aku kira adiknya bang Azkar hanya Norin" ucap Fajrin santai.


“memang dia baru menempati gedung Surendra Cyber satu tahun ini..... sebelumnya dia berkantor di Club House dan hanya sesekali saja ke gedung ini.” Jelas Roby.


“ooooo.... pantas tidak pernah lihat" ucap Fajrin sambil membuka kain penutup warung soto betawi.


“kenapa? Pernah lihat wajahnya?” tanya Roby yang sudah duduk di sebelah Fajrin


“entahlah.... sepertinya pernah melihat tapi dimana dan kapan..... aku tidak ingat" ucap Fajrin sambil meneguk minuman teh hangat yang sudah berada di depannya.


Setelah menunggu kurang lebih lima belas menit, dua mangkuk soto betawi sudah berada di hadapan mereka. Fajrin dan Roby menikmati soto betawi tanpa ada obrolan apa pun, sesekali Fajrin menggeser ponselnya untuk melihat pesan masuk. Selepas makan siang, seperti biasa Fajrin dan Roby sholat Dhuhur di masjid gedung Surendra Corp dan sudah ada beberapa pegawai yang menunggu Fajrin untuk menjadi makmumnya.


“aku heran melihatmu..... diberi cuti tanpa memotong cuti tahunan.... kamu malah masuk kerja..... nanti tidak boleh cuti minta ijin tidak masuk" ucap Azkar yang sudah menggeser duduknya lebih dekat ke Fajrin.


“bosan bang di rumah sendiri...... Nara dari lepas Shubuh sudah minta di antar ke kampus...... nanti jam sembilan malam minta jemput di pos satpam gerbang depan kampus.” Ucap Fajrin sambil memperlihatkan pesan singkat dari Nara pada Azkar.


“oya.... abang punya adik selain Norin?” tanya Fajrin tiba-tiba.


“oooo..... apa maksud kamu Afkar? Iya dia adikku yang paling susah di atur ambisinya membangun bisnis dia sendiri di luar lingkaran Surendra Corp dan Rosenkrantz group" ucap Azkar yang sudah mengambil alih ponsel Fajrin untuk melihat foto-foto Nara selama orientasi kampus yang Fajrin terima dari Nara.


“hahahahaha.....” tawa keras Azkar saat melihat foto Nara yang sedang berjalan jongkok melewati para seniornya.