
“ nona.... beliau sebenarnya sudah menghubungi kami sebelum kemari, beliau mengatakan ingin membeli sesuatu yang spesial untuk nona tapi tidak tahu menahu tentang perhiasan.... lantas saya meminta beliau untuk melihat website kami dan beliau langsung memilih ini.... mengenai semua ini.... saya mohon maaf.... karena beliau juga yang meminta ini semua “ jelas manager showroom sambil meminta seorang pramuniaga membawa sebuah mesin EDC untuk menggesek kartu ATM titanium milik Fajrin.
Divya menatap Fajrin tidak percaya, Fajrin hanya menggenggam tangan Divya untuk membalas tatapan mata Divya.
Saat manager showroom hendak menyerahkan kembali kartu ATM titanium Fajrin, Fajrin menunjuk pada sebuah untaian kalung emas.
“ kalau yang itu berapa karat? “ pertanyaan Fajrin membuat seorang pramuniaga yang berdiri tak jauh dari benda yang Fajrin maksud segera mendekati benda yang Fajrin maksud.
Dengan isyarat tangan Fajrin meminta tangan pramuniaga itu menggeser tangannya ke kanan dan tepat di sebuah kalung yang Fajrin maksud, Fajrin meminta pramuniaga itu untuk membawanya mendekat.
“ ayang..... buat siapa? “ tanyw Divya sambil menyerahkan cincin pilihan Fajrin pada manager showroom.
“ buat Nenek.... sebagai ucapan terima kasih karena sudah menjaga mendidik calon istri ayang dengan baik “ ucap Fajrin sambil mengamati kalung yang masih pramuniaga itu pegang.
“ saya ambil ini juga.... tolong di kemasnya terpisah karena yang ini untuk hadiah “ ucap Fajrin dengan santai.
Mutia dan temannya menatap Fajrin tidak percaya, Mutia yang membuka mulutnya dengan heran apa yang Fajrin lakukan membuat temannya pelan-pelan berdiri dan menjauh dari Mutia. Teman Mutia merasa malu karena percaya dengan apa yang tadi Mutia katakan tentang Fajrin.
Selesai dengan semua transaksi itu, manager showroom menyerahkan dua kantung kertas dan kartu ATM titanium pada Fajrin. Belum sempat Fajrin menerima kartu ATMnya, Mutia merebutnya dari tangan manager showroom dan membolak balikkan kartu ATM milik Fajrin dengan tidak percaya.
“ anda yakin ini asli.... anda yakin apa yang anda gesek sudah masuk ke rekening showroom anda..... anda pastikan lagi.... jangan sampai anda tertipu dengan tampangnya. “ kalimat sinis dan merendahkan membuat manager showroom merebut paksa kartu ATM Fajrin dari tangan Mutia.
“ apa anda sudah selesai memilih mana yang akan anda beli? “ kalimat tegas manager showroom membuat Mutia gugup.
“ silahkan pak.... kami senang melayani anda.... silahkan datang kembali “ ucap manager showroom dan menyerahkan kartu tersebut pada Fajrin.
“ terima kasih.... maaf kedatangan saya memicu sedikit keributan “ ucap Fajrin sambil memasukkan kembali kartu ATM titanium ke dalam dompetnya.
Fajrin menggenggam tangan Divya keluar dari showroom perhiasan membiarkan Mutia menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
Setelah menjauh beberapa meter dari showroom tersebut, Fajrin terduduk di sebuah kursi besi membuat Divya bingung.
“ ayang kenapa? “ tanya Divya yang melihat Fajrin sudah memegang dadanya.
Divya duduk di sebelah kanan Fajrin.
“ ayang.... ayang kenapa? Siapa wanita tadi? “ suara pelan Divya membuat Fajrin memejamkan kedua matanya menahan rasa sakit di dadanya.
Fajrin menarik nafas panjang berusaha menghilangkan rasa sakit di dadanya.
“ wanita tadi namanya Mutia.... ibunya Sofia “ suara Fajrin terdengar berat berusaha menahan rasa sakit di dada.
“ ayang.... maaf.... Divya tidak tahu.... “ suara pelan Divya membuat Fajrin memberanikan diri untuk melihat wajah Divya.
“ sekarang sudah ada Divya..... wanita yang bersedia menerima semua kekurangan ayang.... ayang sudah melupakan mereka.... tapi ayang tidak bisa melupakan kalimat yang mereka ucapkan pada ayang..... “ mendengar pengakuan Fajrin membuat Divya ingin memeluk Fajrin tapi Divya mulai merasa malu karena banyak pengunjung mall lalu lalang.
Tanpa Fajrin dan Divya sadari, teman Mutia mendekatinya.
“ apa kamu yang bernama Fajrin? “ pertanyaan yang membuat Fajrin juga Divya terkejut.
Fajrin dan Divya berdiri hampir bersamaan.
“ tidak apa-apa tante.... maafkan kami juga karena sudah membuat tante menjadi seperti ini.... perkenalkan saya Fajrin dan ini Divya calon istri saya “ ucap Fajrin dengan sopan membuat hati teman Mutia merasa lega karena ternyata Fajrin tidak sesuai dengan apa yang sudah Mutia ceritakan padanya.
Setelah mereka berbasa-basi Fajrin izin jalan kembali, Divya tersipu malu karena Fajrin memperkenalkan dirinya sebagai calon Istri.
“ suka dengan pilihan ayang? “ tanya Fajrin membuat Divya memeluk erat lengan kiri Fajrin.
“ suka sekali..... “ ucap Divya bahagia.
“ tapi jangan begini.... malu di lihat orang...” ucap Fajrin berusaha melepas lengan kirinya dari pelukan Divya.
Dari kejauhan Mutia berjalan mendekati temannya yang masih melihat kemesraan Fajrin dan Divya.
“ tidak aku sangka.... pria yang lamarannya aku tolak.... sekarang membuatku malu begini “ ucap Mutia membuat temannya malas membalas ucapan Mutia.
Mereka berdua melangkahkan kaki dan tanpa sadar Mutia mengikuti kemana Fajrin dan Divya melangkah. Fajrin mengajak Divya masuk ke sebuah showroom perhiasan dan kali ini Divya tidak menahan tangan Fajrin di pintu showroom.
“ ayang mau beli sesuatu buat di pakai di sini..... pakai saat acara lamaran nanti “ ucap Fajrin yang sudah mendekati seorang pramuniaga.
Mereka melihat barisan bros yang tersusun dari berbagai jenis mutiara laut dan batu mulia, Fajrin menunjuk pada sebuah bros di deretan perhiasan terbaru dan berkualitas tinggi. Bros yang terinspirasi dari kain kimono dua belas lapis pada masa Periode Heian yang pernah di dokumentasikan dalam film The Tale of Genji. Desainnya menangkap garis mengalir yang dibuat oleh beberapa lapisan kain dalam berbagai warna dan pola. Pramuniaga tersenyum ramah dengan bros pilihan Fajrin.
“ bagus..... “ ucap Fajrin singkat dan sekali lagi mengeluarkan kartu ATM titanium yang sama.
Divya menatap Fajrin tidak percaya bahwa semudah ini Fajrin mengeluarkan uang yang tidak sedikit.
“ Ayang buat siapa ini? “ tanta Divya bingung.
Fajrin hanya tersenyum mendengar pertanyaan Divya. Tak butuh waktu lama proses transaksi bros yang Fajrin pilih pun selesai, pramuniaga menyerahkan kantong kertas berisi bros juga kartu ATM titanium.
“ Terima kasih “ ucap Fajrin sambil menerima kartu ATM dan kantung kertas tersebut.
Divya masih menatap Fajrin dengan tatapan penuh tanya.
Saat hendak melangkah keluar dari showroom perhiasan, tiba-tiba Fajrin menyerahkan kantung kertas tersebut pada Divya.
“ buat calon istri ayang.... pakai saat acara lamaran nanti “ bisik Fajrin saat kantung itu sudah berpindah tangan ke tangan Divya.
Divya terharu tidak bisa berkata-kata.
“ ayang..... “ kedua mata Divya sudah berkaca-kaca.
Fajrin tersenyum bahagia karena bisa memberikan apa yang Divya tidak terbayangkan sebelumnya. Dengan menggenggam tangan kanan Divya, mereka berjalan menuju area parkir mobil.
“ kalau saja waktu itu aku lebih bisa berpikir logis.... mungkin Sofia yang akan berdiri di sampingnya “ ucap Mutia pelan tapi masih terdengar oleh temannya.
“ tidak ada yang namanya penyesalan di awal..... semua penyesalan selalu di akhir “ ucap teman Mutia membuat Mutia menarik nafas panjang.
Mutia merasa menyesal menolak Fajrin bahkan merendahkan harga diri Fajrin.