My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 132 NASEHAT SAHABAT (2)



Fitri tersenyum mendengar pertanyaan Divya dengan memegang tangan kanan Divya, Fitri mengajaknya berjalan menuju masjid kampus yang tak jauh dari gedung jurusan management. Meski pun jarak antara gedung jurusan management dan masjid hanya 300 meter tapi sepanjang dua wanita itu melangkah, banyak pasang mata para mahasiswa melihat penampilan Divya. Meski pun Divya kali ini mengenakan celana model straight dan kaos dengan lengan 7/8, tapi penampilan Divya tetap saja membuat mata para mahasiswa melihatnya dengan pandangan menggoda.


Divya mulai merasa sedikit risih mendapat pandangan mata seperti itu dari para mahasiswa. Fitri tersenyum melihat tingkah Divya yang terlihat jelas tidak nyaman mendapatkan tatapan mata dari para mahasiswa.


“ ayo kita masuk kesana “ ajak Fitri sambil menunjuk ke sebuah bangun kecil yang tepat berada di sisi timur masjid.


Divya mengikuti langkah kaki Fitri, Divya memperhatikan ada beberapa mahasiswi yang berpenampilan serba hitam dan hanya memperlihatkan kedua mata saja.


“ lihat apa kamu? Mereka? “ tebakan Fitri membuat Divya tersenyum.


“ mereka kebanyakan mahasiswi Fakultas MIPA, mereka ada komunitas tersendiri tentunya komunitas mereka langsung di bawah pengawasan Rektor. Karena istri Rektor kami juga berpenampilan seperti mahasiswi itu “ jelas Fitri sambil mengajak Divya duduk di sebuah kursi kayu panjang.


Perhatian Divya kembali tertuju pada Fitri.


“ sejak kapan penampilan kamu berubah? Terakhir kali aku melihatmu masih berpenampilan terbuka seperti aku. “ ucapan Divya membuat Fitri tersenyum.


“ Kita sholat Dhuhur dulu ya.... nanti aku ceritakan semua “ ucap Fitri yang sudah mengambil sebuah mukena untuk Divya.


Mereka sholat Dhuhur berjamaah di masjid kampus bersama mahasiswa dan mahasiswi yang lain, di area wanita sebenarnya ada Nara tapi Divya tidak menyadari bahwa mereka berdua berada di barisan syaf yang sama.


Selesai Sholat Dhuhur Fitri melepas mukena dan merapikan hijabnya, Divya mengamati Fitri tanpa berkedip. Fitri tersenyum melihat Divya yang terlihat jelas menyimpan seribu pertanyaan untuknya, Fitri berdiri dan melangkah mendekati salah satu mahasiswi. Fitri kembali mendekati Divya dengan membawa sebuah kain dan 2 buah jarum.


“ kamu mau mendengar cerita ku disini atau di tempat lain? “ tanya Fitri sambil melipat kain yang dia pegang.


“ menurut kamu enaknya dimana? “ tanya balik Divya.


“ di kantin Fakultas suamiku saja bagaimana? “ ucapan Fitri sekali lagi membuat Divya terkejut bahkan sangat terkejut.


“ su...ami? “ ucap Divya pelan.


Fitri tersenyum mendengar ucapan Divya.


“ pakai ini dulu, tidak enak ke kampus suami tidak pakai hijab “ ucap Fitri sambil memakaikan kain yang ternyata sebuah hijab di kepala Divya.


Divya tidak protes dengan perlakuan Fitri dan menuruti permintaan Fitri untuk mengingat rambutnya.


“ selesai... Masya ALLAH.... kamu cantik sekali pakai hijab “ ucapan Fitri membuat Divya bingung dan mencari-cari sesuatu untuk berkaca.


Fitri menunjukkan sebuah kaca kecil yang berada di atas meja tempat meletakkan mukena. Divya mengamati wajahnya dan kedua matanya terasa panas melihat wajahnya sendiri. Fitri segera memegang lengan Divya dan mengajaknya keluar dari Masjid, mereka berjalan menuju kampus Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan yang tepat berada di samping kiri gedung jurusan management. Fitri mengajaknya duduk di sebuah kantin Fakultas, banyak para mahasiswa yang masih memperhatikan Divya tapi tatapan mata mereka tidak seperti mahasiswa yang sebelumnya saat Fitri belum memakaikan hijab.


“ kamu mau pesan apa? “ tany fitri sambil melihat sekeliling.


“ bakso sama es kelapa muda saja bagaimana? “ Divya menganggukan kepala menjawab pertanyaan Fitri.


Fitri berjalan menuju stand yang menyediakan bakso dan es kelapa muda, Divya mengamati Fitri dengan tatapan penuh tanya. Bahkan saat Fitri mencium punggung tangan seorang pria, kedua mata Divya terlihat jelas sangat terkejut dan tidak percaya dengan yang dia lihat saat ini. Fitri kembali ke meja tempat Divya duduk dengan membawa sebuah nampan yang terdapat 2 mangkuk bakso dan 2 gelas es kelapa muda.


“ suami kamu? “ Fitri menjawab pertanyaan Divya dengan tersenyum.


“ nama suamiku mas Ilham, dia dosen di jurusan Teknik Sipil. Kami bertemu di mall “ akhirnya Fitri menceritakan awal mula pertemuannya dengan Ilham.


Divya mendengarkan tanpa menyela sekali pun, dan ini pertama kalinya Divya tidak menyela ucapan orang lain. Fitri juga menceritakan bagaimana penampilannya bisa berubah menjadi seperti ini.


“ awalnya memang berat tapi, pelan-pelan aku bisa dan menjadi seperti yang kamu lihat sekarang “ ucap Fitri sambil memasukkan 1 bakso yang sudah dingin ke dalam mulutnya.


“ jadi kamu berhenti menjadi model karena kamu menyukai pria yang sekarang menjadi suami kamu itu “ Fitri tersenyum mendengar ucapan Divya.


“ tidak, selama 2 minggu aku memikirkan ucapan mas Ilham.... aku memutuskan tidak menerima panggilan dari sebuah ajang pencarian model.... “ ucapan Fitri berhenti karena ponselnya menampilkan sebuah pesan.


Fitri tersenyum melihat pesan itu, Divya merasa tenang melihat wajah Fitri yang tersenyum penuh bahagia.


“ waktu itu aku lolos seleksi dan berhak mengikuti kompetisi di Singapore, tapi entah mengapa saat aku mempersiapkan semua kebutuhanku untuk selama di Singapore ada satu rasa sakit di sini “ jelas Fitri sambil menepuk dadanya.


“ seperti rasa sakit, sedih, kecewa, takut..... semua rasa tidak bagus berkumpul menjadi satu, tapi aku tidak tahu mengapa aku merasakan itu semua.... “ Fitri kembali memasukkan 1 buah bakso ke mulutnya.


“ sama seperti yang aku rasakan saat ini.... seharusnya aku senang karena agensi Victoria's Secret mengamatiku tapi aku justru merasa sebaliknya “ gumam Divya dalam hati yang menarik perhatian Fitri.


“ apa kamu juga mengalami hal yang sama sepertiku.... saranku.... selama kamu senang bahagia melakukannya berarti itu memang jalanmu, tapi kalau kamu merasakan berbagai rasa negatif berarti sudah waktunya kamu berhenti menjadi model.... jangan memaksakan diri bila apa yang kamu jalani sekarang tidak membuatmu bahagia.” Ucap Fitri sambil meminum es kelapa muda.


“ apa lagi kalau kamu sudah menemukan tambatan hati.... lebih baik pakailah hatimu untuk mengambil keputusan, jangan sampai keputusanmu itu semakin membuatmu merasakan semua rasa negatif. Bisa saja kamu menyembunyikan rasa negatif itu tapi bukan karir yang bagus yang akan kamu dapatkan justru karirmu akan menurun. “ nasehat Fitri sangat mengena di otak dan hatinya.


Terakhir kali saat pemotretan di Bangkok, setiap kali pengambilan foto ada rasa tidak nyaman di hatinya saat harus berpose sesuatu arahan pengarah gaya.


“ benar apa kata kamu.... aku mulai merasakan rasa tidak nyaman saat pemotretan terakhir kali di bangkok, meski pun saat itu aku memakai pakaian yang tidak jauh berbeda dengan pakaian keseharianku. Tapi ada rasa sakit di sini, berkali-kali aku mencoba mengabaikan rasa itu tapi hanya bisa mengulas senyum saat berpose. Setelah selesai pemotretan, aku kembali merasakan rasa tidak nyaman disini “ ucap Divya sambil menunjuk dadanya.


Fitri tersenyum dan tangan kanannya membelai lengan kiri Divya.


“ kamu sudah menemukan apa yang membuatmu bahagia.... kamu harus mengejar kebahagianmu itu jangan sampai lepas. “ nasehat Fitri membuat Divya tersenyum.