My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 146 MENCOBA NEGOSIASI (2)



Davis bingung mengambil keputusan membiarkan Divya dan Fajrin bersatu atau menyelamatkan perusahan. Davis menarik nafas panjang terduduk kembali di sofa. Saat hanya terdengar suara tangis Divya yang masih memohon agar Fajrin tinggal, tiba-tiba ponsel salah seorang pengawal Davis berdering. Pengawal itu dengan gugup mencoba mematikan ponselnya, tapi dengan cepat Jason segera merebut dan melihat ponsel tersebut. Tanpa mengatakan apa pun, seketika Jason memukul wajah pengawal tersebut.


“ So you have been the liaison between young master Ditya and those people (jadi kamu yang selama ini menjadi penghubung antara tuan muda Ditya dan orang-orang itu) “ mendengar ucapan Jason membuat kedua mata Davis memerah.


Jason menunjukkan isi pesan di ponsel pengawal itu pada Davis, sebuah pesan video beberapa orang yang membuat kegaduhan di restauran syafril.


“ Fajrin..... berikan papi nomor ponsel adikmu “ pinta Davis dengan tertunduk menahan emosi yang sudah ingin sekali menghukum Ditya.


Fajrin ragu untuk memberikan nomor ponsel Nara, tapi melihat Divya yang semakin deras air matanya membuat Fajrin tidak tega dan mengatakan nomor ponsel Nara.


Davis mencoba menghubungi Nara, berkali-kali nada panggil tapi tetap berakhir pada kotak suara.


“ bagaimana papi bisa menghubungi adikmu? “ tanya Davis yang sudah tidak dapat memikirkan apa yang harus dia lakukan.


Fajrin mengetik pesan pada Nara tapi hanya menerima notifikasi terbaca.


“ Fajrin sudah mengirim pesan pada adik.... sudah adik baca.... semoga saja adik mau menerima panggilan papi “ ucap Fajrin


“ duduklah dulu.... jangan pergi.... setidak-tidaknya kamu bantu papi menenangkan wanitamu “ ucap Davis dengan isyarat tangan agar Fajrin kembali duduk di sofa.


Fajrin duduk dan Divya masih saja menggenggam lengan Fajrin.


“ lepaskan tangan ayang.... “ ucap Fajrin dengan tangan kanan berusaha melepas tangan Divya tapi Divya semakin erat memegangnya.


Akhirnya Fajrin pasrah dengan sikap Divya yang memegang erat lengannya. Seisi ruangan seketika terdiam semua menjadi hening menunggu Davis mengucapkan kata-kata. Keheningan yang terasa menegangkan bagi seorang pengawal yang ketahuan oleh Jason.


“ Is there anyone else among you who supports Ditya's actions (apakah ada lagi di antara kalian yang mendukung perbuatan Ditya)? “ suara dingin Davis membuat suasana ruangan menjadi mencekam.


Dengan serentak 4 pengawal Davis mundur 1 langkah dan menyisahkan 1 orang pengawal, membuat 1 orang tersebut tertunduk.


“ is still not enough what I have given you? until you have to betray me by doing the things that you shouldn't do..... Jason.... send them back to their environment (apa masih kurang yang selama ini aku berikan pada kalian? sampai kalian tega menghianatiku dengan melakukan hal yang tidak seharusnya kalian lakukan..... Jason.... kembalikan mereka ke lingkungannya) “ ucapan pelan dan dingin Davis membuat tubuh kedua orang pengawal itu bergetar.


Mereka teringat bagaimana Davis melepaskan mereka dari kemiskinan dengan menjadikan pengawalnya, mereka pernah tinggal dan memiliki keluarga di distrik termiskin di Quebec. Mereka bersujud memohon agar Davis tidak mengembalikan mereka, Davis sedikit iba dan menarik nafas panjang.


“ This time I will forgive you guys but do one thing for me....you must know all of them....bring all of them to me and I will consider what the punishment will be for you (aku akan memaafkan kalian kali ini tapi lakukan satu hal buatku.... kalian pasti mengenal mereka semua.... bawa mereka menghadapku dan akan aku pertimbangkan apa hukuman untuk kalian) “ ucap Davis sambil memberi isyarat tangan pada kedua pengawal tersebut.


Setelah kepergian dua orang pengawal tersebut, Davis berbicara dengan Jason untuk melakukan pengawasan pada mereka.


“ ayang sholat di sini saja“ pinta Divya dengan memaksa yang membuat Fajrin hanya bisa menganggukkan kepala menjawab permintaan Divya.


Divya menarik Fajrin menunjukkan dimana dia bisa sholat, Davis memperhatikan mereka berdua dan mengikuti mereka. Yang akhirnya Divya dan Davis sholat berjamaah dengan Fajrin sebagai imam.


Sementara itu Jason menghubungi seseorang untuk melakukan pengawasan dan menyuruh seseorang untuk mengumpulkan dokument perjalanan mereka. Setelah mereka selesai sholat, Davis memberikan beberapa perintah yang harus Jason lakukan, tiba-tiba sebuah panggilan skype masuk. Jason menunjukkan nama panggilan tersebut membuat Davis heran karena tidak mengenal nama itu, dengan sedikit ragu Davis menekan tombol terima dan terlihat sosok Nara yang sudah menutup seluruh wajahnya tanpa terkecuali. Bahkan kedua matanya tertutup oleh kain hitam. Sehingga sekarang Davis, Ditya dan Nara berada dalam satu panggilan skype.


“ Assalamu'allaikum “ suara yang sangat dikenal oleh Fajrin dan tidak asing di telinga Divya juga Davis.


“ Wa'alaikumsalam “ balas Fajrin dan Divya hampir bersamaan.


“ terima kasih.... Nara sudah menghubungi om.... apa kita bisa melakukan sedikit negosiasi agar Nara bersedia membuka blokir akun perbankan perusahan om? “ tanya Davis memulai negosiasi dengan Nara.


“ is that person willing to apologize to my brother (bersediakah orang itu meminta maaf pada kakak?) “ pertanyaan singkat padat dan jelas membuat Davis menarik nafas panjang.


“ if my son is not willing to apologize... is there any other choice so that you unblocks my banks account (kalau anak om tidak mau meminta maaf... apakah ada pilihan lain supaya Nara membuka blokir akun perbankan om)? “ tanya Davis sekali.


“ how about brother syafril's restaurant? Have you pulled and forbade them from causing trouble or even banned them from being in the restaurant? (bagaimana dengan restauran kak syafril? apa om sudah menarik dan melarang mereka agar tidak membuat onar atau bahkan melarang mereka berada di restauran itu.)? “ Davis terdiam dan dengan isyarat tangan menyuruh Jason melaporkan perkembangan 2 pengawal tadi.


Jason mencoba menghubungi 2 pengawal tadi, saat Jason dan Davis masih menunggu kabar dari 2 pengawal tadi.


“ I will never apologize to him (aku tidak akan pernah meminta maaf padanya) “ ucapan keras Ditya membuat Nara tertunduk.


Dan ponsel Fajrin berdering sebuah pesan berupa video singkat dari nomor tidak di kenal mengirimkan aksi beberapa orang yang membuat keonaran di restaruan Syafril, tangan Fajrin bergetar melihat itu semua. Divya yang sedikit mengintip pesan video itu seketika menjadi terkejut dan tidak percaya, terlihat 4 orang merusak beberapa meja dan kursi di restauran.


Davis segera merebut kembali ponsel Fajrin dan melihat pesan video itu, Davis seketika menjadi sangat emosi.


“ say sorry now (minta maaf sekarang) “ suara keras Davis membuat semua suasana ruangan menjadi semakin mencekam.


“ Never (tidak akan) “ teriak Ditya keras.


Ayah dan anak saling adu mulut, di saat mereka adu mulut Nara mengetik sesuatu yang membuat Jason sangat terkejut dan tidak percaya dengan apa yang dia baca dengan mata kepalanya sendiri. Kedua tangan Jason mulai bergetar karena gugup dan takut, tablet yang dia pegang memberikan laporan harga saham di pembukaan awal. Saat ini waktu di Montreal tepat pukul 8 pagi, para pekerja mulai beraktivitas pada pekerjaannya.


Jason mencoba mendekati Davis yang masih bersitegang dengan Ditya melalui sambungan skype.