
Keadaan Henri sudah tenang dan membiarkan Henri beristirahat.
“ Dhis.... kemari “ ucap Fajrin yang sudah berdiri di dekat pintu.
“ apa kak.... “ ucap Gendhis yang masih merapikan selimut untuk Henri.
Divya yang melihat Gendhis dengan rasa kasihan hanya bisa menarik nafas panjang.
“ bisa tidak kamu batalkan pekerjaanmu dan pulang ke Jakarta bersama kami? “ tanya Fajrin bingung bagaimana menjelaskan kondisi Henri saat ini.
“ tidak bisa kak..... mereka sudah transfer fee Gendhis..... kalau Gendhis batalkan bisa-bisa Gendhis kenal penalty 3 kali lipat dari yang sudah mereka tranfer..... kakak kan bisa temani papa pulang..... Gendhis hanya 3 hari saja. “ ucap Gendhis yang masih belum paham dengan kondisi Henri.
Fajrin dan Divya menarik nafas panjang mendapati penolakan Gendhis. Karena tidak bisa meyakinkan Gendhis pada akhirnya Fajrin hanya bisa menasehati Gendhis agar jangan jauh-jauh dari Henri.
Fajrin dan Divya kembali ke kamarnya, Fajrin merebahkan tubuhnya dengan kasar di sofa.
“ ayang..... ayang tahu pekerjaan Gendhis apa? “ tanya Divya sambil melepas sepatunya.
“ kalau tidak salah dia freelance konsultan IT..... entahlah.... ayang juga tidak begitu paham dengan pekerjaannya.... yang pasti dia selalu pergi ke luar negeri beberapa hari dan paling lama 2 minggu setelah itu pulang. “ ucap Farjin mencoba mengingat apa yang Gendhis kerjakan selama ini.
Karena tidak banyak yang Fajrin tahu tentang pekerjaan Gendhis, Divya tidak bisa bertanya lebih dalam lagi dan memutuskan setelah pulang dari Penang akan mencoba mengenal Gendhis. tiba-tiba suasana menjadi sepi dan canggung bagi mereka berdua, Fajrin yang masih memikirkan amanah baru dari Henri hanya bisa berdoa dan berharap semoga Gendhis secepatnya memenuhi permintaan Henri.
“ ayang..... kita sholat Magrib dulu ya.... sebelum makan malam “ suara Divya memecah kesunyian kamar.
Membuat Fajrin sadar bahwa dia tidak sedang sendiri di kamar ini.
“ ayo.... lepas sholat Magrib kita cari makan malam di bawah.... sekalian kita ajak Gendhis makan malam dan membungkus sesuatu buat om Henri. “ ucap Fajrin dan melangkah masuk ke kamar mandi untuk wudhu.
Divya mengikuti apa yang Fajrin katakan dan melangkah masuk ke kamarnya karena di dalam kamar ini terdapat kamar mandi dalam. Karena Divya ingin sekali sholat berjamaah dengan Fajrin sedangkan status mereka belum halal, akhirnya mau tak mau Fajrin mengeraskan suaranya supaya Divya yang sholat di kamar bisa mendengar suaranya.
Selesai sholat Magrib, Fajrin dan Divya mengajak Gendhis untuk makan malam di restoran yang berada di hotel tempat mereka bermalam.
“ mau makan dimana? Hotel ini ada 5 restauran.... Java tree.... Palm court..... Farquhar's bar tidak boleh yang ini...... Planter's lounge..... Sarkies ? “ tanya Fajrin sambil menunjukkan nama nama Restauran yang lokasinya tertulis jelas di dinding lift.
“ Palm court aja...... “ ucap Gendhis singkat.
Fajrin menekan tombol lift tempat restauran yang Gendhis tunjuk, sampai di lantai tujuan mereka langsung masuk ke dalam restauran yang ternyata sudah lumayan banyak tamunya. Fajrin terlihat berbicara dengan seorang pelayan hotel dan menunjukkan meja kosong, Gendhis langsung duduk tanpa menunggu Fajrin atau pun Divya.
Fajrin dan Divya hanya bisa menarik nafas panjang melihat sikap Gendhis yang lebih terkesan cuek dan semaunya.
“ beef tripe, wonton soup, mango sago dan ice tea “ Divya membulatkan kedua matanya mendengar menu pilihan Gendhis yang banyak dan makanan berat semua.
Fajrin hanya tersenyum tipis mendengar pilihan Gendhis sedangkan Divya sendiri hanya memilih menu sehat yang tidak membuat beberapa anggota bagian tubuhnya melar, Fajrin sendiri hanya memilih nasi goreng kampung dan iced tea.
Setelah menunggu kurang lebih 17 menit satu persatu pesanan mereka datang dan tersaji di meja, Gendhis tanpa malu-malu langsung saja memakan menu yang dia pilih.
“ dhis..... pelan-pelan makannya.... perempuan makannya begini amat tidak terlihat menarik sama sekali.... “ ucapan Divya membuat Gendhis cuek dan acuh.
Selesai dengan beef tripe, Gendhis meminum seteguk iced tea.
“ mba.... buat apa terlihat menarik saat makan..... tidak ada cowok yang Gendhis suka.... lagi pula cowok disini yang mengenal Gendhis cuma kak Fajrin.... kak Fajrin itu udah seperti kakak buat Gendhis.... kakak yang cerewet yang suka ngatur.... “ ucap Gendhis sambil meraih mangkuk wonton soup dan meletakkan di atas piring beef tripe yang dagingnya sudah berpindah ke perut Gendhis.
Mendapat jawaban yang lebih terkesan cuek dan apa adanya membuat Divya gemas.
“ sudah jangan hiraukan Gendhis.....Divya makan saja. “ ucap Fajrin menenangkan Divya yang terlihat tidak suka melihat cara Gendhis makan.
Tanpa mereka sadari ada seorang pria muda yang usianya masih kepala 2 mendekati kepala 3 memperhatikan mereka.
“ orang itu seperti yang pernah kakek tunjukkan.... kalau benar pria itu seperti dugaanku.... pasti yang berhijab itu calon istrinya lantas siapa perempuan yang berpenampilan seperti pria itu..... “ gumam sosok itu dengan menatap tajam pada Fajrin dan Divya juga Gendhis yang terlihat lebih seperti sebuah keluarga.
Selesai makan malam Fajrin tak lupa membungkuskan makan malam untuk Henri.
“ ini buat om.... kalau om belum kuat makan sendiri... kamu suapi..... “ ucap Fajrin sambil menyerahkan sebuah bungkus makan malam berupa japchae.
Divya dan Fajrin sudah masuk ke kamar masing-masing, hari yang melelahkan menegangkan dan terasa panjang bagi mereka. Fajrin bersyukur karena kamar yang mereka pakai adalah family suite, bisa tidur terpisah dengan Divya. Fajrin tidak bisa membayangkan apa yang akan di lakukan setan bila kamar yang dia dapatkan adalah kamar dengan satu ranjang ukuran king size.
Divya yang belum bisa memejamkan kedua matanya karena ucapan Henri yang membuatnya berpikir bagaimana bisa dekat dengan Gendhis yang sikap dan tingkahnya bertolak belakang dengan dirinya, baru kali ini otaknya berpikir keras memikirkan orang lain yang bukan anggota keluarganya atau pun orang yang dia cintai.
“ belum juga menikah serasa sudah punya anak gadis..... “ gumam Divya dalam hati.
Sedangkan Gendhis di dalam kamar berusaha menyuapi Henri seperti yang Fajrin katakan.
“ pa..... papa jangan sakit ya.... papa harus sehat.... kalau papa sakit nanti yang suka cerewetin Gendhis siapa? Gendhis belum buat papa senang.... belum ajak papa jalan-jalan..... papa juga belum lihat anaknya Anggun..... Gendhis janji kalau jadwal Gendhia sudah tidak sepadat ini.... Gendhis bawa papa jalan-jalan ke tempatnya Anggun..... papa yang sehat ya “ ucap Gendhis sambil menyuapi Henri.
Henri tersenyum mendengar ucapan Gendhis, anak perempuan ketiga atau anak terakhir yang tidak jadi terakhir karena ada Anggun.
“ kamu jangan bandel.... papa tidak tahu sampai kapan papa bisa di sampingmu.... kalau pun papa tidak ada... masih ada Fajrin yang bisa kamu jadikan contoh..... kalian sudah saling mengenal.... kamu tahu Nara juga kan.... “ nasehat Henri membuat Gendhis teringat masa kecilnya bersama Nara juga Anggun yang suka sekali mengganggu Fajrin.