My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 118 MANDI WAJIB (2)



Fajrin menengadahkan kepalanya menatap langit siang kota Jakarta.


“ pakai jari telunjuk atau jari tengah tangan kiri cukup 1 ruas saja masuk ke dalam, pastikan sudah tidak ada sisa darah periode “ ucap Fajrin cepat menahan rasa frustasi juga menekan rasa aneh pada dirinya.


“ ..... “ mendengar pertanyaan Divya semakin membuat Fajrin frustasi.


“ Divya.... tolong lakukan saja... jangan banyak bertanya “ ucap Fajrin dengan cepat karena putus asa tidak berhasil menekan rasa itu dan semakin membuatnya frustasi.


“ ..... “ ucapan Divya semakin membuat Fajrin frustasi.


“ Insya ALLAH bila sudah halal “ ucap Fajrin lemas.


“ sepertinya aku harus kembali puasa Nabi Daud “ gumam Fajrin dalam hati dan masih frustasi.


“ .... “ Fajrin bernafas lega mendengar Divya sudah menyelesaikan langkah yang menurutnya membuat rasa tidak nyaman pada dirinya muncul dengan tiba-tiba.


tidak ada pria normal yang tidak merasakan rasa tidak nyaman ini bila membahas hal-hal yang bersifat sensitif dengan wanita yang dia cintai.


“ cuci tangan kiri dengan sabun sampai bersih “ suara Fajrin mulai sedikit tenang karena rasa itu sudah sedikit mereda.


“ ..... “ suara Divya membuat Fajrin kembali duduk di kursi dengan posisi sedikit aneh karena rasa itu belum sepenuhnya hilang dan sesuatu di bawah sana menunjukan keberadaannya.


“ wudhu seperti hendak mendirikan sholat “ ucap Fajrin sambil membetulkan posisi duduknya.


“...... “ suara Divya dengan semangat dan terdengar tidak merajuk sedikit membuat Fajrin tersenyum.


“ siram kepala dengan air sebanyak 3 kali.... usahakan air itu mengenai semua rambut dari pangkal rambut hingga ujung rambut “ ucapan Fajrin yang sudah merasa sedikit nyaman karena sudah dapat mengendalikan rasa itu juga bagian bahwa yang pelan-pelan kembali ke bentuk semula.


Fajrin kembali mendengar suara gemericik air shower.


“ ..... “ pertanyaan Divya membuat Fajrin melihat jam tangan.


“ cuci kepala bagian kanan dulu lalu bagian kiri pakai shampo, usahakan sampai kena kulit kepala kalau perlu gosok-gosokkan tangan di sela-sela rambut sampai Divya yakin sudah merata mengenai dasar kulit kepala. “ ucap Fajrin dengan santai.


Pada langkah ini Fajrin menunggu jawaban Divya kurang lebih selama 3 menit.


“ ..... “ suara Divya membuat Fajrin menggelengkan lehernya yang terasa kaku.


“ yakin semua kulit kepala sudah terkena shampo? “ tanya Fajrin meyakinkan ucapan Divya.


“ ..... “ ucapan Divya membuat Fajrin merasakan rasa itu kembali dan juga membuat bagian bawahnya kembali menampakan diri.


“ ayang percaya... jangan tutup panggilan ini “ ucap Fajrin gugup.


“ .... “ suara cemberut Divya membuat Fajrin merasa gemas.


“ ayang percaya..... sekarang siram kepala sebanyak 3 kali. “ ucap Fajrin yang kembali menekan rasa itu.


Kembali Fajrin menunggu kurang lebih 3 menit dan hanya terdengar suara gemericik air.


“.... “ suara Divya membuat Fajrin melihat jam tangan lagi.


“ sekarang bersihkan badan mulai dari sisi kanan dulu lalu sisi kiri dan mandi seperti biasa. “ ucapan Fajrin yang mulai tenang kembali karena berhasil menekan rasa itu dan sekali lagi bagian bawahnya pelan-pelan kembali ke bentuk semula.


“ ..... “ pertanyaan Divya membuat Fajrin kembali gugup.


“ iya.... Divya bisa mandi seperti biasa.... ayang tutup dulu ya... sudah lama kita bicara... tidak enak sama yang lain “ ucap Fajrin sebelum mematikan sambungan telepon.


“..... “ mendengar salam Divya membuat Fajrin mengulas senyum bahagia.


Fajrin mematikan ponselnya dan masih mengulas senyum melangkah kembali masuk di dalam gedung untuk kembali ke ruangannya.


BANGKOK CHAKRABONGSE VILLAS


Divya dengan tidak sabar menunggu telepon dari Fajrin membuatnya bolak balik keluar masuk kamar mandi, belum sempat Divya menggerutu ponselnya berdering. Dengan cepat dan tersenyum bahagia Divya menekan tombol terima panggilan serta menekan tombol loudspeaker.


“ Assalamualaikum ayang... lama sekali? “ ucap Divya sedikit cemberut.


“ ...... “ suara Fajrin membuat Divya mengulas senyum lebar..


“ ayang kenapa diam? “ suara Divya yang terdengar mulai kesal karena tidak ada jawaban dari Fajrin.


“ ...... “ suara Fajrin kembali terdengar membuat Divya dengan buru-buru menggantungkan bathrobe di balik pintu kamar mandi.


Divya bingung dengan doa yang Fajrin ucapkan.


“ ayang pelan-pelan.... lupa tadi apa yang ayang ucapkan. “ suara kesal Divya yang tak mampu mengingat doa yang Fajrin ucapkan.


Divya meletakkan ponselnya di saku bathrobe agar tidak terkena air saat melakukan mandi wajib.


“ ..... “ Divya menganggukan kepala berusaha keras konsentrasi mengingat ucapan Fajrin.


“ Nawaitul Ghusla Lifraf “ ucap Divya mengikuti ucapan Fajrin.


“...... “ sekali lagi Divya menganggukan kepala konsentrasi mengingat setiap kata yang Fajrin ucapkan.


“ il Hadatsil Haidil Lillahi Ta'ala “ ucap Divya mengikuti ucapan Fajrin.


“ ....... “ Divya melangkah masuk ke ruang kaca yang terdapat shower untuk mandi.


“ cuci tangan 3 kali..... ayang sudah.... sekarang apa lagi? “ ucap Divya dengan melihat ke ponselnya yang sudah dia letakkan di saku bathrobe yang tergantung di belakang pintu kamar mandi.


Divya menunggu suara Fajrin dengan heran.


“ ..... “ Divya membulatkan kedua bibirnya mendengar penjelasan Fajrin.


Divya melakukan apa yang Fajrin katakan.


“ itu sajakah... atau masih ada lanjutnya? “ suara Divya yang semangat mendapatkan ilmu baru.


Divya menjadi tidak sabar menunggu langkah berikutnya.


“ ..... “ Divya memiringkan kepalanya ke kanan mencoba mencerna apa yang baru saja Fajrin ucapkan.


“ maksud ayang...? “ suara bingung Divya membuat Divya menggerak jari jemari tangan kirinya.


“ ...... “ Divya mengerutkan kulit di antara kedua alisnya mencerna maksud dari ucapan Fajrin yang terdengar cepat seperti tanpa titik dan koma.


“ oooo .... ayang.... sakit tidak? “ ucap Divya sambil mengarahkan tangan kirinya ke area sensitifnya.


“ ..... “ Divya cemberut mendengar jawaban Fajrin dan melakukan apa yang Fajrin katakan dengan pelan-pelan.


Divya takut bila apa yang dia lakukan akan membuat area sensitifnya sakit.


“ baiklah.... ayang jangan marah.... Divya tidak pernah mandi seperti ini..... lain kali ayang harus membantu Divya mandi wajib “ ucap Divya sambil masih melakukan apa yang Fajrin katakan


“ ...... “ Divya tersenyum bahagia mendengar ucapan Fajrin


Beberapa detik kemudian Divya mengamati ujung jari telunjukknya yang sudah tidak ada sisa darah periode.


“ ayang sudah.... sekarang apa lagi? “ ucap Divya yang masih mengamati ujung jari telunjuknya.


“ ..... “ Divya buru-buru membersihkan tangan kirinya.


“ ayang sudah..... sekarang apa lagi? “ suara Divya kembali semangat dan senyum lebar terluas di bibirnya.


“ .... “ Divya segera berwudhu di bawah guyuran air shower.


“ ayang.... Divya sudah selesai wudhu.... masih ada lagi kah? “ ucap Divya sambil melihat sebuah jam yang tergantung tepat di atas pintu kamar mandi.


“ ...... “ Divya bergeser sedikit tepat di bawah shower untuk membasahi kepalanya dan menggerakkan kepalanya menghindari air shower sebanyak 2 kali.


“ ayang sudah..... masih ada lagi? “ ucap Divya yang sudah bergeser dan tidak berada di bawah guyuran air shower.


“ .... “ Divya mengambil sebotol shampo kesayangannya dan menuangkan shampo secukup di telapak tangan kirinya.


Divya melakukan apa yang Fajrin katakan dengan pelan-pelan karena ini pertama kalinya Divya mandi wajib sesuai arahan Fajrin. Kurang lebih selama 3 menit.