
Sudah satu bulan ini Fajrin membimbing Divya sholat, Divya pelan-pelan mulai bisa mengucapkan sendiri bacaan di setiap gerakan sholat. Hanya terkadang Divya masih sedikit ragu untuk membaca surat apa setelah membaca surat Al Fatihah, dan ini menjadi kewajiban Fajrin untuk membantunya dengan membaca surat pendek agar Divya dapat mengingatnya.
Sesuai janji Fajrin bila dalam selama sepuluh hari berturut-turut Divya bisa melaksanakan sholat shubuh tepat waktu dan tidak kembali tidur selepas sholat shubuh, maka Fajrin akan mengunjunginya satu malam dua hari.
Hari ini jadwal Divya hanya satu yaitu pengambilan gambar untuk iklan produk baru dari Kaylan Silk, Divya mengenakan kain Saree berwarna salem dengan hiasan bordir berwarna silver dan tentunya pakaian ini mengekspose kulit mulus punggung Divya yang hanya tertutup sehelai tali berwarna salem. Divya memandangi dirinya di cermin mengamati pakaian yang dia kenakan mencoba meletakkan kain panjang bagian dari Sare untuk menutupi punggungnya yang terekspose dan kedua lengannya.
“ Divya.... kamu sudah siap? Ayo ikut aku.... beruntung kali ini pengambilan gambarmu di ruang tertutup tidak banyak yang melihatmu mengenakan pakaian ini. “ ucap Elena yang sudab berjalan di depan Divya.
Divya mengikuti langkah kaki Elena dan Joana juga Derek merapikan beberapa bagian dari kain Saree yang Divya pakai. Di sebuah ruangan yang di fungsikan sebagai lokasi pengambilan gambar, sudah ada empat orang pria. Seorang fotografer, seorang pengarah gaya, seorang staff promosi dari pihak Kaylan dan juga seorang staff bagian desain, Divya menganggukan kepalanya sekali memberi salam pada mereka. Elena berdiri di samping sebuah layar komputer yang terhubung dengan kamera yang akan mengambil foto Divya, seorang pengarah gaya berbicara sebentar dengan Divya yang sudah berdiri di titik pengambilan gambar.
Divya mengikuti setiap arahan dari pengarah gaya, saat mereka serius dan fokus dengan berbagai pose yang Divya tampilkan sesekali seorang staff bagian promosi meminta Divya mengulang atau merubah gaya karena menurutnya kurang menarik. Divya mengikuti semua arahan dari pengarah gaya juga fotografer, Elena berkali-kali memperlihatkan kedua ibu jarinya pada Divya sebagai tanda bahwa posenya cantik dan menarik.
Tanpa orang-orang itu sadari seorang pria masuk dan tersenyum melihat penampilan Divya yang menurutnya sangat seksi apa lagi saat Divya menampilkan pose sedikit menampilkan kulit punggungnya.
“ can you repeat that pose and put a long cloth on your arm (bisakan kamu mengulang pose tadi dan meletakkan kain itu di lenganmu)? “ ucapan pria itu secara otomatis membuat semua orang melihat ke asal suara.
Divya juga Elena seketika terkejut melihat Rohit yang sudah berdiri bersandar pada sebuah daun pintu. Divya segera merapikan kain Saree yang di lengannya untuk menutupi lengan juga punggungnya yang hanya tertutup seutas tali berwarna salem. Rohit berjalan mendekati Divya yang sedikit takut bila Rohit akan memaksanya kembali meminum sesuatu.
“ can you lower the Saree a little bit to the forearm (bisakah kalian menurunkan kain Saree itu hingga lengan bawah)? “ ucapan Rohit seketika membuat Joana melangkah mendekati Divya.
Mereka terlihat berbisik membuat Elena segera mendekati Divya.
“ Divya... he won't hurt you..... many pairs of eyes are watching him even if he want hurt you again surely many witnesses will defend you (Divya... dia tidak akan menyakitimu..... banyak pasang mata yang melihatnya kalau pun dia akan menyakitimu lagi pasti banyak saksi yang akan membelamu) “ ucap Elena membujuk Divya untuk mengikuti arahan Rohit agar jadwal ini cepat selesai.
Pelan-pelan Joana menurunkan kain Saree hingga lengan bawah Divya dan menahannya agar tidak terjatuh.
“ can you show the back strap of the blouse
(bisakah kamu memperlihatkan tali punggung blus)? “ tanya Rohit dengan tatapan nakal.
Elena menganggukan kepala menyutujui permintaan Rohit.
Dengan sedikit perdebatan kecil antara Divya dan Elena yang akhirnya Divya mau memperlihatkan kulit punggung mulusnya, dan pemotretan kembali berlanjut hingga menjelang Magrib. Rohit sangat menikmati melihat punggung Divya, dengan mata nakalnya Rohit memandang Divya seolah-oleh saat ini Divya berdiri di hadapannya tanpa sehelai kain pun. Mata nakal Rohit memperhatikan berbagai pose yang Divya tampilkan terlihat jelas oleh Elena. Setelah pemotretan selesai Divya segera menutup punggung juga lengannya dengan menggunakan kain Saree dan berjalan ke ruang ganti bersama Elena, di dalam ruang ganti sudah menunggu Derek yang sudah menyiapkan pakaian ganti Divya. Tanpa sepengetahuan Divya juga Elena, Rohit mengikutinya. Saat Elena hendak menutup pintu ruang ganti, tangan kanan Rohit menahan pintu membuat Elena terkejut.
“ what do you want? This is the dressing room (anda mau apa? Ini ruang ganti) “ ucap Elena dengan terkejut.
“ Of course I want to see Kaylan Silk's brand ambassador, why? Are you forbidding me (tentu saja aku ingin melihat brand ambassador Kaylan Silk, kenapa? Apa kamu melarangku?) “ ucapan Rohit yang terkesan sangat menantang membuat Elena tidak bisa menolak mengingat bahwa Kaylan Silk yang membayar mereka.
Divya yang mendengar suara Rohit segera meraih coat dari tangan Derek dan segera mengenakannya, melihat sosok Rohit membuat Divya merasa mual dan jijik. Divya segera berlari keluar ruang ganti dan menuju toilet yang tak jauh dari ruang ganti, Liam yang melihat Divya berlari ke arah toilet segera menyusulnya.
“ stay here (jaga disini) “ ucap Divya singkat dan Liam segera berdiri tepat di depan pintu toilet.
Rohit ternyata mengikuti Divya dan melihat Liam dengan pandangan mata merendahkannya.
“ step aside (minggir kamu) “ ucap Rohit dengan kesan merendahkan Liam.
Liam tidak bergeming dan tetap berdiri di depan pintu toilet.
“ dare to againt me.... you don't know who I’m (berani melawanku.... kamu belum tahu siapa aku) “ ucap Rohit yang mulai emosi dan tidak sabar.
Rohit berusaha menyingkirkan Liam dari depan pintu, tapi badan Liam yang kekar tidak bergeming sama sekali hingga Rohit melayangkan pukulan ke arah wajah Liam. Belum sempat pukulan Rohit menyentuh wajah Liam, Liam sudah menahan pergelangan tangan Rohit membuat pemilik tangan teriak kesakitan.
Divya keluar dari toilet dengan wajah pucat karena semua isi perutnya keluar semua, melihat Liam menahan tangan Rohit membuat Divya kembali ingin muntah. Dengan ekspresi wajah jijik melihat sosok Rohit, semakin membuat Rohit geram juga emosi karena baru kali ini ada wanita yang mual melihat wajahnya.
“ Liam, get rid of his face... my stomach hurts see his face (Liam, singkirkan wajahnya... perutku mual melihat dia) “ ucap Divya dengan menutup mulutnya dengan tangan kanan menahan rasa mual.
Liam segera merubah posisi berdirinya menjadi di antara Divya dan Rohit sehingga yang Divya lihat saat ini adalah punggung Liam, Rohim geram dengan perlakuan Divya juga Liam. Divya segera berlari kembali masuk ke ruang ganti dan segera melepas kain Saree dengan pakaian yang sudah Derek siapkan.
“ let's go back to the apartment, my stomach is hurts (ayo kembali ke apartemen, perutku sakit) “ ucap Divya yang sudah menarik tangan Elena.
Sepanjang perjalanan dari lokasi pemotretan ke apartemen, Divya lebih banyak diam dan memegang perutnya. Elena membelai punggung Divya mencoba menenangkannya, Elena menarik nafas panjang merasa kasihan melihat Divya yang sangat ketakutan melihat Rohit.