My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 105 KOREKSI DIRI (2)



Davis merenungi apa yang Dipta ceritakan, berkali-kali Davis menarik nafas panjang seperti menyesali apa yang selama ini tidak dia lakukan pada Divya. Saat Davis termenung, tiba-tiba Nenek Ina masuk.


“ kamu menyesal sudah meninggalkan Divya denganku? “ tanya Nenek Ina ragu.


Davis menarik nafas panjang.


“ saya tidak menyesal meninggalkan Divya pada ibu tapi saya menyesal tidak bisa membimbing Divya seperti yang ibu lakukan pada maminya. “ ucap Davis pelan.


“ aku sudah membimbing Divya seperti yang aku lakukan pada Lydia, tapi aku tidak bisa menahan atau pun menghalangi keinginannya termasuk keinginannya menjadi model. Selama apa yang dia lakukan tidak membuatnya terbawa arus pergaulan bebas aku tidak bisa menghalanginya. “ jelas Nenek Ina.


“ apa Divya pernah cerita siapa pria yang dia sukai? “ pertanyaan Davis membuat Nenek Ina tidak jadi membuka pintu ruang kerja Davis.


“ aku tidak tahu siapa pria itu.... tapi aku pernah melihatnya sibuk membaca sebuah buku dan bahkan membawa buku itu kemana-mana.... kalau tidak salah buku itu berwarna merah muda dan kuning “ ucap Nenek Ina mencoba mengingat warna sampul buku yang selalu Divya bawa.


“ buku? Tentang apa buku itu? “ tanya Davis heran.


“ kamu tanya saja sama Divya. “ ucap Nenek Ina dan keluar dari ruang kerja Davis.


Davis terdiam sesaat memikirkan buku itu kemudian memutuskan untuk melihat Divya, tepat berada di depan pintu kamar Divya. Davis mendengar suara tangisan sedih Divya, suara tangis yang dulu pernah Davis dengar dan membuat Davis tidak tahan untuk segera meninggalkan Jakarta. Tapi kali ini Davis tidak bisa lari dari kenyataan bahwa putrinya sangat membutuhkan kehadiran dirinya yang sudah lebih dari 20 tahun dia tinggalkan.


Pelan-pelan Davis membuka pintu kamar Divya dan mendapati Divya duduk di samping ranjang memeluk kedua lututnya menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya. Davis duduk di sebelah Divya dan memeluk bahu Divya.


“ pi.... waktu pertama kali papi bertemu mami dalam pikiran papi, mami wanita yang cantik? “ pertanyaan Divya membuat Davis mengingat pertama kali bertemu sosok Lydia wanita sederhana yang sangat pandai menjaga diri.


“ mami kamu wanita yang memiliki prinsip kuat, mami kamu bahkan berani menolak ajakan papi.... mami kamu lebih memilih berjalan kaki di siang hari yang panas dari pada menerima tawaran papi naik mobil. “ ucap Davis mengenang bagaimana usahanya mendapatkan Lydia.


“ mungkin sifat Divya menurun dari papi “ ucap Divya sambil meraih buku yang dia selipkan di bawah ranjang tepat di belakangnya.


“ maksud kamu..... sama-sama menyukai orang yang memegang kuat prinsipnya? “ tebakan Davis membuat Divya sedikit mengulas senyum tipis.


Divya membuka-buka halaman buku yang dia pegang dan berhenti pada sebuah halaman yang berjudul perintah berhijab.


“ pi..... saat pertama kali papi melihat mami dan tertarik apakah mami sudah berhijab? “ pertanyaan Divya membuat Davis membuka kembali dompet yang selalu dia bawa kemana pun pergi.


“ benar.... mami kamu sudah berhijab jauh sebelum bertemu papi. Dia wanita pertama yang menolak ajakan papi padahal sebelumnya tidak ada satu pun wanita yang menolak ajakan papi. “ ucap Davis tersenyum getir mengingat semua penolakan Lydia.


“ pasti berat perjuangan papi mendapatkan mami..... kalau Divya harus berhijab seperti mami untuk mendapatkan hati dia.... bagaimana karir Divya di dunia model? “ ucap Divya sambil menutup kembali buku itu dan menggerak-gerakkan jari telunjuknya tepat di nama Fajrin.


Davis kembali memeluk dan mencium puncak kepala Divya berkali-kali.


Divya menatap wajah Davis tidak percaya.


“ papi serius.... mulai hari ini papi yang akan selalu mengingatkan Divya, papi akan selalu berada di sampingmu. “ ucap Davis meyakinkan Divya.


Saat Davis mengambil alih buku yang Divya pegang seketika kedua matanya membulat membaca sebuah nama yang tidak asing di telinganya.


“ apa ini nama pria yang kamu sukai? “ tanya Davis ragu.


Divya menarik nafas panjang menguatkan hatinya.


“ Iya.... ini nama lengkapnya “ ucap Divya dengan menguasai senyum tipis.


Davis tidak percaya dan membuka sebuah halaman yang menuliskan biografi tentang penulis buku itu. Davis terdiam sesaat membaca biografi tentang Fajrin dan menarik nafas panjang.


“ kamu yakin... pria ini yang kamu suka..... atau kamu sekedar kagum saja? “ pertanyaan Davis membuat Divya sedih.


“ kenapa semua orang yang tahu bahwa Divya menyukai orang ini selalu meragukan pengakuan Divya? Apa karena penampilan Divya yang jauh dari kata tertutup? “ Ucapan Divya membuat Davis merasa bersalah.


“ bukan papi tidak percaya.... tapi membaca biografinya ini.... sangat mustahil baginya untuk melihat kamu yang seperti ini “ ucapan Davis membuat Divya kembali menenggelamkan kembali wajahnya di antara kedua lututnya.


Davis menarik nafas panjang merasa tidak bisa membantu Divya.


“ Bagaimana kalau kita mulai mengganti beberapa pakaian kamu dengan pakaian yang tertutup, mungkin kamu bisa menggunakan pakaian seperti ini atau seperti ini “ ucap Davis mencoba menghibur Divya dengan menunjukan beberapa gambar wanita yang mengenakan pakai menutup lengan hingga pergelangan tangan dan setinggi mata kaki.


“ kamu bisa mencoba dengan memakai dress seperti ini.... atau pakaian santai seperti ini.... untuk berubah seperti mami kamu tentu butuh proses yang tidak mudah. Apa lagi sejak kecil kamu tidak mengenal hijab.... maaf seharusnya papi yang mengenalkan semua ini padamu. “ ucap Davis kembali sedih.


Divya sedikit tersenyum mendengar ucapan Davis yang ingin sekali membantunya berubah, Divya tiba-tiba berdiri dan melangkah menuju ruangan yang menyimpan semua pakaiannya. Sehari setelah pengakuan Davis, Divya memindahkan semua barang-barangnya dari rumah yang sekarang di tempati keluarga kecil Dipta ke kediaman Davis. Davis mengikutinya dan sedikit terkejut melihat hampir semua dress yang Divya miliki adalah mini dress dengan potongan leher yang mengekspose area dada dan punggung, beberapa dress yang panjang hingga mata kaki tapi dengan belahan yang mengekspose paha kanan atau kiri, bahkan ada beberapa dress yang hanya menutupi sebagian dada dan memperlihatkan area perut.


Davis seketika merasa pening dan memahami kenapa Fajrin menolak Divya, Davis berjalan pelan melihat benda apa saja yang menjadi milik Divya. Davis melihat beberapa parfum, make up, sepatu bahkan tas juga dompet dengan brand terkenal berjejer di lemari. Perhiasan mahal dan terkenal tersusun rapi di sebuah lemari kecil tepat di tengah-tengah ruang penyimpanan pakaian.


“ Apakah Fajrin merasa minder dengan yang dia lihat pada diri Divya? “ gumam Davis dalam hati sambil memilah-milah beberapa parfum brand terkenal.


“ kalau papi meminta kamu untuk menyingkirkan beberapa benda ini apakah kamu mau? “ tanta Davis sedikit ragu.


“ maksud papi.... benda apa? “ tanta Divya heran.


Davis menunjuk pada beberapa parfum, make up, tas, sepatu, dompet, pakaian dan asesoris. Divya menatap Davis tidak percaya dan membuka mulutnya lebar-lebar, karena barang yang di tunjuk Davis adalah barang-barang yang sangat ingin dia miliki.