My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 228 PERKEBUNAN



Jadwal festival peragaan busana muslim yang akan Divya ikuti sudah semakin dekat bahkan tanpa sepengetahuan Divya, Fajrin melakukan negosisasi dengan beberapa anak perusahan dari PPB group tanpa sepengetahuan Mexrat. Fajrin mencari tahu apa saja anak perusahan PPB group, dan berdasarkan informasi yang dia dapatkan bahwa PPB group memiliki sebuah perusahan management yang menaungi banyak para model editorial mau pun model catwalk. Dengan dua kali negosiasi Fajrin mampu meyakinan perusahaan managemen tersebut untuk menyewakan dua puluh model wanita, dan tentunya tidak sedikit Fajrin mengeluarkan uang untuk membayar jasa mereka. Tapi bukan Fajrin bila tidak melakukan yang terbaik untuk istrinya. Seperti saat ini dengan bantuan Selo, Fajrin mencoba mengenal kawan dari almarhum Woro.


“ ini anak woro..... ? “ tanya pria paru baya yang masih tidak percaya dengan cerita Selo.


“ ini anak kedua.... anak pertama Woro sudah meninggal dan anak ketiga Woro menikah dengan putra keduaku....” ucap Selo memperkenalkan Fajrin.


Fajrin mengulurkan tangan kanannya untuk menjabat tangan kawan dari almarhum Woro.


“ apa kabarmu? “ pertanyaan basa basi kawan almarhum Woro.


“ Alhamdulillah baik om..... perkenalkan nama saya Fajrin “ ucap Fajrin sambil menjabat dan mencium punggung tangan orang itu.


Tanpa Fajrin sadari saat Fajrin mencium punggung tangan orang itu, kedua mata orang itu berkaca-kaca membuat Selo menepuk bahunya.


“ tidak hanya kamu yang merasa kehilangan Woro..... aku juga..... kita pernah sama-sama berjuang mencari beasiswa..... “ ucapan Selo membuat Fajrin tertegun.


Fajrin menatap heran wajah Selo juga pria paruh baya tersebut.


“ duduklah..... aku akan ceritakan semua.... “ ucap pria paruh baya tersebut membuat Fajrin duduk diam.


2 detik, 3 detik, 5 detik hingga 15 detik pria paruh baya itu belum juga memulai ceritanya hanya sesekali menarik nafas panjang seperti mencoba menguatkan diri.


“ dulu kami bertiga pernah membuat janji..... bila di antara kami bertiga ada yang sukses maka dia wajib membantu yang lain..... di antara kami bertiga ayahmu yang paling sukses..... tidak hanya satu beasiswa dia dapatkan tapi tiga beasiswa bahkan saat ayahmu mendapatkan beasiswa S2.... dia mendapat kepercayaan untuk melakukan pemeriksaan pada sebuah gedung tua di Bergen..... dari situlah almarhum ayahmu bertemu dengan ayah mertua Selo. “ ucap pria paru baya itu sambil menunjuk Selo.


“ tapi sayang...... saat ayahmu berada di puncak karirnya.... ayahmu memilih pulang ke Jakarta. “ imbuh Selo dengan sedih.


“ sejak itu kami kehilangan kontak ayahmu...... Selo memberitahuku bahwa Woro memiliki 2 anak yang sekarang sudah menjadi bagian dari keluarga besarnya..... dan sekarang giliranku membalas budi apa yang sudah Woro lakukan padaku dulu...... aku tahu kamu tidak membutuhkannya saat ini tapi suatu saat kamu pasti membutuhkan ini “ ucap pria paruh baya itu sambil menyerahkan sebuah amplop coklat pada Fajrin.


Fajrin terlihat heran juga terkejut dengan pemberian itu.


“ apa ini om.....? “ tanya Fajrin heran.


“ ayahmu pernah memberiku sejumlah uang untuk modal usaha.... dan hanya ini yang bisa om berikan padamu sebagai balas budi om pada almarhum ayahmu “ pria paruh baya itu membuka dan menyerahkan sebuah berkas kepemilikan perkebunan sawit di Malaysia.


Fajrin kembali terkejut dengan berkas yang dia baca itu.


“ om Selo..... ini.... bukankah ini..... “ Selo tersenyum dan menepuk bahu Fajrin.


“ lakukan negosiasi dengan baik..... bukankah kau berjanji akan mengunjunginya bersama Divya “ ucapan Selo membuat Fajrin tidak bisa berkata-kata.


Dunia sepertinya berbalik mengejarnya, bila dulu dia berusaha keras mendidik membesarkan Nara seorang diri yang membuat dirinya mengabaikan dunia dan hanya memikirkan apa yang harus Nara dapatkan. Sekarang satu persatu dunia mengejarnya bahkan dari arah yang tidak dapat dia perkirakan sama sekali.


Fajrin duduk termenung di meja kerjanya yang baru, meja kerja yang baru 2 hari ini dia pakai.


“ tuan Mexrat.... sekarang ini..... apa yang sebenarnya ayah lakukan pada mereka.... “ gumam Fajrim sambil membolak balikkan berkas kepemilikan sebuah perkebunan sawit.


Disaat Fajrin termenung, Azkar mengetuk pintu ruang kerjanya.


“ anak ini.... apa yang sedang di pikirkan salam dan ketukan pintu dia abaikan.... aku aku harus menjitak kepalanya lagi biar dia fokus “ gumam Azkar yang sudah melangkah mendekati meja kerja Fajrin.


Melihat Fajrin membolak balikkan berkas dengan serius membuat Azkar ingin tahu apa tulisan di berkas tersebut, seketika kedua mata Azkar membulat sempurna.


“ gila..... luas sekali kebun sawitmu..... “ ucapan Azkar membuat Fajrin terkejut dan hambir saja membuat berkas yang dia pegang.


“ aduh bang..... bisa tidak salam dulu.... ketuk pintu dulu..... “ ucap Fajrin sambil memegang dadanya.


“ aku sudah mengetuk dan mengucap salam tapi kamu diam saja.... “ ucap Azkar yang kedua bola matanya masih memperhatikan tulisan di berkas yang Fajrin pegang.


“ pasti om Woro sudah melakukan suatu kebaikan sampai kamu bisa memegang berkas ini...... “ ucap Azkar sambil mencoba mengambil 1 lembar berkas dari tangan Fajrin.


Fajrin pasrah dengan apa yang Azkar lakukan karena dia sendiri tidak tahu bagaimana menjalankan perkebunan ini. Azkar terlihat serius membaca berkas yang dia pegang dan sesekali tampak mengerutkan kulit di antara dua alisnya.


“ berkas ini hanya menyatakan kalau om Woro sebagai pemilik modal bukan sebagai pemilik perkebunan..... kalau pemilik perkebunan ini menyerahkan berkas kepemilikan padamu berarti perkebunan ini milikmu “ ucap Azkar mencoba memahami maksud dari berkas yang dia pegang.


Fajrin menarik nafas panjang dan menyerahkan berkas yang dia pegang pada Azkar, Azkar menatap Fajrin dengen heran.


“ ini berkas kepemilikan perkebunan “ ucap Fajrin sambil mengulurkan berkas yang dia maksud.


Azkar dengan cepat menyambar berkas tersebut dan membacanya dengan serius. Suasana seketika menjadi hening membuat Fajrin tidak bisa berpikir jernih apa yang akan dia lakukan dengan berkas itu.


“ hmmmmm..... om Woro memiliki hak di perkebunan itu sebesar 30%...... perkebunan ini di secara operasional di kelola oleeeeh....... “ ucapan Azkar terhenti dan menatap Fajrin tidak percaya.


Fajrin yang mendapatkan tatapan tajam dari Azkar menjadi merasa ngeri dan mencoba mengalihkan perhatiannya pada beberapa berkas yang ada di mejanya.


“ kamu harus secepatnya bertemu dengan beliau..... beliau lebih paham masalah seperti ini...... tapi aku tidak yakin kalau beliau tidak tahu menahu tentang pemilik modal awal adalah om Woro..... usahakan saat kamu menemani Divya... kamu luangkan waktu satu atau dua hari membahas ini..... jangan kembali ke Jakarta kalau ini belum selesai..... ingat ahli waris ini bukan hanya kamu.... “ nasehat serius Azkar sedikit banyak membuat Fajrin merasa tenang tapi Fajrin tetap tidak tahu bagaimana memulai negosiasi tentang semua ini.


Fajrin pulang ke rumah dengan pikiran campur aduk, mendengar suara tawa Divya membuat rasa lelah suntuk juga penat hilang seketika.


“ Assalamu'allaikum “ salam Fajrin membuat dua orang pelayan kediaman Davis segera beranjak pergi.


“ Wa'alaikumsalam “ balas Divya dan mencium punggung tangan kanan Fajrin.