
“ Divya..... you look so beautiful (Divya.... kamu terlihat sangat cantik.....) “ ucap Arbab tanpa sadar membuat Divya mengeratkan pelukkannya pada pinggang Fajrin.
Fajrin sedikit merasa terganggu dengan pujian Arbab pada Divya.
“ good afternoon Mr. Arbab..... we meet again (selamat siang tuan Arbab.... kita bertemu kembali) “ ucap Fajrin mencoba menyadarkan Arbab akan keberadaannya.
Arbab terkejut menatap Fajrin dan dengan tatapan penuh tanya melihat posisi Divya yang berada di dalam pelukan tangan kiri Fajrin. Rasa terkejut juga heran Arbab hanya sesaat dan senyum ramah terulas di bibir Arbab dengan otak yang masih memiliki pemikiran yang tidak berubah tentang Fajrin dan Divya.
“ you guys still on that contract (kalian masih menjalani kontrak itu)? “ ucapan Arbab membuat Elena secara spontan menarik lengan kanan Arbab.
Tak hanya Elena yang spontan menarik lengan Arbab, tapi Mexrat dan kedua putrinya juga sangat terkejut dengan ucapan Arbab. Fajrin dan Divya tersenyum mendengar pertanyaan Arbab.
Entah apa yang di katakan Elena pada Arbab tapi seketika raut wajah Arbab menjadi terlihat jelas sangat kecewa dan tidak bisa percaya begitu saja dengan semua ucapan dan penjelasan Elena.
“ impossible..... are you seriously already married or just contract married? (tidak mungkin.... kalian serius sudah menikah?..... atau ini hanya pernikahan kontrak kalian)? “ tanya Arbab sekali lagi pada Divya dan Fajrin.
Elena menepuk dahinya pelan mendengar ucapan Arbab yang terkesan tidak masuk akal.
Fajrin tersenyum mendengar pertanyaan Arbab.
“ right....we are married and......our marriage contract is with GOD.....only death can separate us
(benar.... kami sudah menikah dan...... kontrak pernikahan kami dengan ALLAH..... hanya kematian yang bisa memisahkan kami) “ jawaban Fajrin membuat Arbab terlihat jelas sangat kecewa juga lemas.
Sikap Arbab yang cepat berubah mendengar ucapan Fajrin, membuat Mexrat juga kedua putri kembarnya yang sedari tadi memilih diam menjadi terlihat geram juga kecewa.
“ Arbab..... “ suara pelan Helsa belum mampu menyadarkan Arbab.
“ Arbab.... “ sekali lagi Helsa mencoba menyadarkan Arbab tentang keberadaannya.
Kali ini Arbab menggerakkan pelan kepalanya mencari asal suara, dan mendapati sosok wanita yang dekat dengannya.
“ Helsa..... “ ucap Arbab terkejut dan terlihat mulai panik.
Helsa menatap Arbab penuh tanya dan curiga.
“ is it because of our sister-in-law.... you refuse to announce our relationship (apakah karena kakak ipar kami ini.... kamu menolak mengumumkan hubungan kita)? “ pertanyaan Helsa yang langsung pada intinya membuat Arbab semakin gugup.
Gugup karena tepat di belakang Helsa berdiri Mexrat dengan tatapan mata tajam yang siap menerkamnya.
“ or are you ashamed of my current condition?......aren't you the one who made me like this? Didn't you promise to always be by my side.....? (atau kau malu dengan kondisiku sekarang?...... bukankah kau yang membuatku seperti ini? Bukankah kau sudah berjanji akan selalu berada di sisiku.....? ) “ sekali lagi pertanyaan Helsa membuat Arbab mati kutu.
Lidah Arbab terasa kelu tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
“ from today I will withdraw all my investment and I forbid you to meet Helsa (mulai hari ini aku akan menarik semua investasiku dan aku melarangmu bertemu dengan Helsa) “ suara tegas Mexrat membuat Arbab semakin gelagapan.
“ Grandpa's company was destroyed.... (hancurlah perusahaan kakek....) “ ucapan pelan Elena membuat Arbab melihatnya sesaat dan kembali menatap Mexrat dengan tatapan memohon agar Mexrat memberinya kesempatan untuk menjelaskan semua ini.
Aura ketegangan terjadi di antara Mexrat, Helga, Helsa dan Arbab. Elena berjalan pelan mendekati Divya.
“ apa kau tidak memerlukan seorang asisten lagi untuk membantu Liam? Apa kau tidak kasihan melihat Liam kerepotan menenangkan para wanita-wanita itu? “ bisik Elena sambil menunjuk Liam yang terlihat jelas berusaha keras bersikap ramah pada para pengunjung booth yang menyodorkan pakaian yang sudah para wanita pegang.
Divya tersenyum dan belum sempat Divya mengatakan sesuatu Fajrin memberikan isyarat mata pada Elena, seketika Elena kegirangan.
“ Arbab..... Mr. Fajrin asked me to be a part of Divya's business (Arbab..... tuan Fajrin memintaku menjadi bagian dari bisnis Divya) “ ucap Elena gembira sambil melangkah mendekati Liam yang terlihat jelas berusaha keras melayani para pengunjung booth yang semuanya wanita.
Arbab terlihat jelas tidak berdaya di hadapan Mexrat.
“ you know clearly .... me and your late father were friends from childhood .... and your grandfather has said that you will marry Helsa ..... but this is how you treat Helsa ..... from today I forbid you met Helsa and from today on your matchmaking I'll cancel it (kau tahu dengan jelas.... aku dan mendiang ayahmu bersahabat dari kecil.... dan kakekmu sudah mengatakan bahwa kau akan menikahi dengan Helsa..... tapi ternyata begini sikapmu pada Helsa..... mulai hari ini aku melarangmu bertemu dengan Helsa dan mulai hari ini perjodohan kalian aku batalkan) “ ucapan tegas Mexrat membuat tubuh Arbab bergetar ketakutan.
Arbab paham bila perjodohan ini tidak terjadi maka perusahan talent management yang dia pegang saat ini akan kehilangan investor terbesarnya dan pasti akan membuat kakeknya murka.
Ketiga wartawan yang menyaksikan semua ini tidak menyia-nyia berita ini dan merekamnya sebagai berita yang menarik.
Mexrat menarik kursi roda Helsa dan melangkah meninggalkan Fajrin, Divya dan Helga.
“ both of you before returning to Jakarta..... take the time to our house (kalian berdua sebelum kembali ke Jakarta..... sempatkan ke rumah kami) “ Fajrin dan Divya hampir bersamaan menganggukkan kepala menjawab permintaan Mexrat.
Helga menatap Arbab dengan tatap tidak suka.
“ sister-in-law....let me introduce you to those ladies
(kakak ipar.... mari aku kenalkan kakak pada wanita-wanita itu) “ ucap Helga yang sudah mengamit lengan kiri Divya.
Fajrin melepas pelukkannya dan tersenyum sebagai tanda bahwa Fajrin mengizinkan Divya mengikuti langkah Helga.
Arbab masih terdiam kaku tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun, hari yang Arbab tunggu-tunggu untuk melihat Divya dan meyakinan Divya agar kembali pada agensinya. Bahkan Arbab sudah berlatih menyiapkan kalimat untuk merayu Divya, tapi hanya dalam sekejap mata semua kalimat yang sudah Arbab siapkan hilang dari ingatannya dalam hitungan detik.
Fajrin menepuk punggung Arbab.
“ women don't need flowers... but need reassurance.... learn to sincerely accept and love what you already have now (wanita tidak membutuhkan bunga... tapi membutuhkan kepastian.... belajarlah ihklas menerima dan mencintai apa yang sudah engkau miliki saat ini) “ ucap Fajrin sambil menepuk-nepuk punggung Arbab.
Arbab menatap Fajrin dengan heran dan tidak percaya.
Fajrin meninggalkan Arbab dengan rasa herannya, melangkah mendekati Divya yang mulai terlihat akrab dengan para wanita yang Helga perkenalkan. Senyum bangga juga kagum terulas di bibir Fajrin.
“ sebarkan kebaikan dengan caramu..... ayang akan selalu mendukungmu “ gumam Fajrin dalam hati.