My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 135 MEYAKINKAN FAJRIN



Fajrin tersenyum melihat mata bahagia Nara.


“ kenapa kakak melihat Nara seperti itu? “ tanya Nara heran.


“ tidak ada apa-apa..... Afkar selesai makan pagi.... aku pinjam Nara sebentar ya... ? “ ucap Fajrin sambil mengedipkan sebelah matanya pada Afkar.


Afkar tersenyum menjawab permintaan Fajrin. Selepas makan pagi, Afkar membawa Nara dan Fajrin jalan-jalan di taman belakang castil.


“ kalian bisa bicara berdua disini “ ucap Afkar sambil membelai puncak kepala Nara.


Fajrin dan Nara duduk berdampingan sambil melihat pemandangan Laut Utara.


“ ada apa kak? Sepertinya penting sekali “ ucap Nara membuka pembicaraan antara kakak beradik.


Fajrin menarik nafas panjang.


“ dik, adik masih ingat dengan pesan singkat yang pernah kakak tunjukkan? “ tanya Fajrin sedikit ragu.


“ Insya ALLAH masih ingat. Kenapa kak? Apa kakak masih mendapatkan pesan singkat yang sama? “ tanya Nara yang sudah merubah posisi duduknya menghadap Fajrin.


“ iya, setiap hari kakak masih mendapat pesan itu. Hanya selama disini saja kakak tidak menerima pesan seperti itu “ ucap Fajrin sambil mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan semua pesan singkat bernada ancaman.


Nara membaca semua pesan singkat itu dan terlihat mengerutkan dahinya, Nara menarik nafas panjang hendak mengatakan semua.


“ kak..... sebenarnya.... Nara tahu siapa yang membuat kakak seperti ini. Pesan ini di kirim dari Montreal dengan nomor pra bayar dan dia hanya memakainya sehari saja, dugaan Nara pengirim pesan ini salah satu dari keluarga mba Divya. Kak..... sekarang Nara sudah jauh dari Jakarta, orang ini tidak akan bisa menyakiti Nara “ ucap Nara menenangkan Fajrin.


“ tapi orang-orang terdekat kakak tidak hanya adik.... masih ada sahabat-sahabat kakak dan keluarganya. “ ucap Fajrin putus asa.


“ sepertinya tindakan Nara tidak salah “ ucap Nara pelan tapi cukup membuat Fajrin curiga.


“ dik.... adik melakukan sesuatu pada pengirim pesan ini? “ tanya Fajrin curiga sambil memegang kedua lengan Nara.


“ hehehehehe..... sedikit “ ucap Nara sambil menghentikan jari kelingking dengan ibu jari


“ jangan dik..... tidak baik membuat orang kesusahan. “ ucap Fajrin tertunduk.


“ kak.... apa kakak mencintai mba Divya? “ pertanyaan Nara membuat kedua mata Fajrin berkaca-kaca.


Ini kedua kalinya Nara melihat Fajrin menangis selama di Bergen, yang pertama saat menyerahkan dirinya pada Afkar tadi malam. Nara memeluk erat leher Fajrin dan membiarkan Fajrin menangis di bahunya. Untuk beberapa menit kedepan Fajrin menumpahkan semua rasa sedihnya.


“ kalau kakak mencintai mba Divya, Nara ikhlas kakak menikahi mba Divya.... “ ucapan Nara kembali membuat Fajrin menangis.


“ kakak harus berusaha meyakinkan wali nikah mba Divya dan untuk salah satu keluarga mba Divya yang mengancam kakak.... biar Nara yang menyelesaikan “ ucapan pelan Nara membuat mata merah Fajrin menatapnya penuh dengan pertanyaan.


“ apa yang akan adik lakukan? “ ucap Fajrin sambil menghapus air mata.


Nara tersenyum mendengar pertanyaan Fajrin.


“ jangan membuat orang lain susah..... “ ucap Fajrin sambil membersihkan wajahnya dengan sapu tangan.


“ tega sekali “ ucap Nara sedih.


“ kak.... sepertinya tuan Davis mulai menyukai kakak... hanya kakak kedua mba Divya yang tidak suka sama kakak “ ucap Nara menyimpulkan cerita Fajrin.


“ kakak bisa memaklumi apa yang Ditya lakukan..... Dia hanya ingin melindungi adik dan hartanya..... mungkin kalau kita sekaya mereka, kakak juga akan melakukan hal yang sama untuk adik “ ucap Fajrin sambil menengadahkan kepala melihat langit cerah kota Bergen.


“ Alhamdulillah kita tidak sekaya mereka..... kalau kita kaya pasti kakak tidak akan meminta Nara melakukan ta'aruf sama mas Afkar “ ucap Nara yang sudah merebahkan kepalanya di paha Fajrin.


“ jangan begini.... ada Afkar disana.... dia pasti cemburu melihat adik begini “ ucap Fajrin sambil menunjuk keberadaan Afkar yang duduk tidak jauh dari mereka.


“ kak.... apa kakak sudah sholat Istikharah? “ tanya Nara ragu.


“ sudah.... dan kakak sudah mendapatkan petunjuk.... tapi kakak tidak berani melangkah lebih jauh lagi.... bagaimana kalau ancaman itu benar terjadi? “ Fajrin kembali frustasi memikirkan pesan singkat itu.


“ tadi.... Nara sudah bilang.... pesan itu Nara yang akan selesaikan.... kakak hanya perlu meyakinkan tuan Davis.... dan terserah Nara mau melakukan apa pada orang yang mengirim pesan itu.....bisa tidak kakak egois sedikit saja. “ ucap Nara kesal dan merubah posisinya menjadi duduk.


Fajrin menarik nafas panjang, gemas melihat adiknya yang kesal.


“ mas Afkar sini “ teriak Nara memanggil Afkar yang maaih duduk di bangku taman.


Afkar berjalan mendekati Nara.


“ sayang ada apa? “ tanya Afkar heran.


“ mas Afkar bantu Nara meyakinkan kakak “ ucap Nara cemberut.


“ meyakinkan apa? “ tanya Afkar bingung.


“ Nara mau sebelum kakak kembali ke Jakarta harus bisa belajar dari mas Afkar, bagaimana bersikap egois agar dapat meyakinkan wali mba Divya. “ ucap Nara kesal dan melangkah menjauh dari kedua pria yang menatapnya heran.


“ kamu serius sama Divya? “ pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Afkar.


Fajrin menarik nafas panjang, dan kembali menceritakan tentang hubungannya dengan Divya juga kondisi hubungannya saat ini.


“ aku dan bang Azkar sudah lama mengenal Divya dan keluarganya. Divya itu tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari om Davis dan kakaknya.... kalau kamu bisa membuat Divya menjadi lebih baik tidak sale seperti yang aku tahu.... aku yakin om Davis akan merestui kalian. “ ucap Afkar dengan yakin.


“ kalau pun tuan Davis merestui kami.... lantas bagaimana dengan Ditya? Di Jakarta aku masih ada Roby, Syafril juga keluarga mereka... kalau terjadi sesuatu pada mereka bagaimana? Tidak mungkin juga aku tidak peduli dengan keluarga mereka. “ ucap Fajrin sambil memijat tengkuknya yang terasa penat.


“ tentang Ditya..... biar om Davis yang menyelesaikan.... aku yakin om Davis ada cara sendiri mengendalikan Ditya.... sekarang pikirkan bagaimana meyakinkan om Davis. “ ucap Afkar berusaha meyakinkan Fajrin.


“ mungkin beberapa hari berlibur disini bisa membuat otakku dingin untuk mencari cara meyakinkan tuan Davis.... maukah kamu membantuku? “ tanya Fajrin yang sudah berdiri dari kursi.


“ tentu aku akan membantu kakak iparku..... ayo kita masuk.... ada banyak orang yang akan membantumu meyakinkan om Davis “ ucap Afkar sambil melangkah mendekati Nara.


Fajrin tersenyum senang mendengar ucapan Afkar dan mengikuti langkah kaki Afkar juga Nara masuk kembali ke dalam castil milik Erhan.