My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 106 INFORMASI



Fajrin kembali disibukkan dengan beberapa project design bangunan hotel dan perkantoran baik di jawa mau pun di luar jawa bahkan project Rosewood group di Jepang sedang dalam proses design awal. Hari-Hari Fajrin kembali seperti saat sebelum mengenal Divya berkutat dengan kertas kalkir, meja gambar, laptop, pensil dan penggaris panjang. Empat meja gambar dengan design yang berbeda, meski pun tidak bisa di pungkiri bahwa Fajrin masih mendapatkan pesan singkat dari Divya.


“ Bagaimana design untuk resort dan arena Afkar? Apa sudah selesai? “ tanya Azkar yang tiba-tiba masuk ke ruangan Fajrin


“ Sudah selesai bang, hari ini Gultom dan Ryan sudah di lokasi “ ucap Fajrin sambil melihat tengkuknya.


Setelah berbasa-basi dengan Fajrin, Azkar keluar dari ruang bagian Fajrin. Saat hendak melangkah masuk ke dalam dalam, Azkar sedikit terkejut dengan sosok yang dia lihat saat ini.


“ Assalamu’alaikum “ salam Azkar.


“ Wa’alaikumsalam... semakin berkembang saja bisnis kamu.... sudah banyak juga kantor cabang kamu “ ucap Davis sambil menggeser posisi berdirinya agar Azkar bisa berdiri di sampingnya.


“ Alhamdulillah.... ada sesuatukah yang bisa Azkar bantu untuk om? “ tany Azkar santai.


“ Ada banyak hal yang ingin om ketahuan tentang salah seorang pegawai kamu. “ ucapan Davis tidak membuat Azkar terkejut sedikit pun.


Azkar dapar menebak siapa yang Davis maksud tapi Azkar memilih diam menunggu Davis mengatakan siapa yang Davis maksud.


“ Kalau begitu kita bicarakan di ruang kerja saja. “ ucap Azkar yang sudah menahan pintu lift untuk Davis keluar.


Mereka melangkah menuju ruang kerja Azkar, Roby melihat kedatangan Azkar dan membukakan pintu ruangan untuk mereka.


“ on Davis mau minum apa? Biar Roby siapkan. “ ucap Azkar menawarkan minuman untuk Davis.


“ Teh hangat saja “ ucap Davis membuat Azkar dengan isyarat tangan menyuruh Roby untuk segera membuatnya.


Azkar mempersilahkan Davis duduk di sebuah sofa, Davis mengedarkan pandangan di setiap sudut ruangan dan melihat sebuah foto yang tak asing baginya.


“ bagaimana kabar dia? “ tanya Davis ingin tahu kabar Afkar.


“ dia sudah memiliki perusahaan sendiri, gedung di belakang gedung ini miliknya.... dia sudah berhasil membuat klubnya sendiri “ ucap Azkar bangga pada kesuksesan Afkar.


Saat mereka sedang berbasa-basi, Roby masuk membawa dua buah teh hangat untuk Azkar dan Davis. Roby meletakkan dua minuman hangat itu di meja depan sofa.


“ om, perkenalkan ini asisten baruku..... namanya Roby, bila om Davis membutuhan informasi apa pun silahkan om Davis hubungi Roby bila tidak bertemu saya. “ ucap Azkar memperkenalkan Roby.


Davis melihat Roby sesaat dan Roby menganggukan kepala memperkenalkan diri.


“ Rob.... ini om Davis.... papinya Dipta “ ucapan Azkar membuat Roby sedikit terkejut karena selama ini hanya tahu sosok Davis dari majalah bisnis begitu juga dengan Fajrin.


Roby segera keluar dari ruangan Davis.


“ suatu kehormatan bagi saya, bahwa om Davis menyempatkan datang kemari demi mengetahui salah seorang staff Surendra. Sebenarnya Om Davis tidak perlu kesini, om bisa menyuruh anak buah om untuk mencari informasi itu kesini. Kalau boleh tahu informasi tentang siapa yang om Davis ingin ketahui? “ ucap Azkar dengan sopan.


“ kamu tidak perlu berpura-pura tidak tahu, saya yakin kamu sudah tahu siapa yang om maksud. “ ucapan Davis seketika membuat Azkar tersenyum tipis.


“ semuanya.... selama ini aku hanya sedikit sekali mendapatkan informasi tentang dia.... atau jangan-jangan kamu menutupi informasi apa pun tentang Fajrin? “ sekali lagi Azkar tersenyum tipis mendengar ucapan Davis.


Azkar menarik nafas panjang dan berdiri dari sofa melangkah menuju meja kerjanya untuk mengambil sesuatu, Azkar tersenyum sambil memegang sebuah amplop hitam yang cukup tebal. Azkar kembali ke sofa dan meletakkan amplop tersebut di meja tepat di depan Davis.


“ semua yang om Davis ingin tahu tentang Fajrin ada di dalam amplop itu “ ucap Azkar sambil menunjuk amplop tersebut.


Davis melihat amplop tersebut dan pelan-pelan mengambilnya.


“ latar belakang keluarga, pendidikan sampai dimana dia tinggal semua ada di dalam amplop itu, mungkin sudah saatnya om Davis mengetahui siapa Fajrin sebenarnya dan tidak perlu menyuruh orang untuk mengikutinya lagi. “ ucapan Azkar membuat Davis terkejut.


“ bagaimana kamu tahu kalau aku menyelidiki Fajrin? “ tanya Davis sambil mengeluarkan berkas dari dalam amplop.


“ karena Fajrin pernah memiliki hubungan dengan Divya sampai membuat kami terkejut pagi-pagi melihat Divya sudah berdiri di depan rumah kami hanya ingin tahu bagaimana mendapatkan hatinya. “ ucapan Azkar membuat Davis terkejut.


Davis terdiam dan membuka satu persatu berkas tentang Fajrin.


“ dia anak Woro sahabat orang tua kamu? Bukankah anak Woro bernama Fahrid bukan Fajrin? “ pertanyaan Davis membuat Azkar tersenyum tipis.


“ Fajrin anak kedua om Woro, Fahrid anak pertama dan sudah meninggal setelah mereka 1 tahun menatap di Jakarta. Om Woro meninggal saat tante Asma hamil anak ke-3 mereka dan tante Asma menyusul om Woro saat Fajrin mendampingi tante Asma menunaikan Haji. “ Davis terkejut mendengar kata haji.


Secara otomatis Fajrin juga ikut melaksanakan semua rukun haji, Davis terdiam dan sudah mulai memahami kenapa Fajrin tidak bisa melanjutkan hubungan tanpa ikatan kontrak. Azkar mulai menceritakan bagaimana dia bisa mengenali bahwa Fajrin adalah anak ke-2 Woro sahabat kedua orang tuanya, menceritakan bagaimana perjuangan Fajrin menjadi orang tua bagi adik perempuannya, menceritakan bagaimana Fajrin mendidik membimbing dan menafkahi adiknya juga bagaimana Fajrin kuliah dan bekerja hingga menjadi seorang arsitek muda yang terkenal.


Davis merasa banyak sekali kelebihan dari seorang Fajrin dan dapat menyimpulkan bahwa Fajrin adalah orang yang memegang kuat prinsip. Davis merasa tidak ada apa-apa nya di hadapan Fajrin meski pun Fajrin bukan seorang pengusaha seperti dirinya atau seperti Azkar.


“ apa kedua orang tua kamu tahu tentang Fajrin? “ pertanyaan Davis membuat Azkar terdiam.


“ belum.... saya belum menceritakan pada Abba juga Amma, saya kuatir kalau Amma tidak bisa menerima berita ini. Om Woro dan tante Asma sangat berjasa sekali di keluarga kami, saya tidak siap menyampaikan berita ini pada mereka. Saya hanya bisa melindungi menjaga kedua anak om Woro dan tante Asma dengan cara seperti ini untuk membalas apa yang sudah om dan tante buat pada keluarga kami. “ ucap Azkar sedih.


Meski pun Davis tidak mengenal siapa woro dan istrinya, tapi nama Woro cukup di kenal di kalangan para pebisnis yang pernah menjalin kerja sama dengan keluarga Sadhat atau pun Rosenkrantz.


“ bisakah om membawa berkas ini sehari atau dua hari? Om ingin membacanya sekali lagi “ tanya Davis yang sudah memasukkan kembali berkas Fajrin ke dalam amplop.


“ maaf om, data ini tidak boleh keluar dari ruanganku.... kalau om Davis ingin data ini.... om Davis bisa menanyakan berbicara langsung pada sumber informasi secara langsung “ ucap Azkar sambil membuka pintu ruangannya dan dengan isyarat tangan menyuruh Roby masuk.


“ Roby.... om Davis ingin tahu semua hal tentang Fajrin. “ ucapan Azkar membuat Roby seketika berkeringat dingin.


Davis menatap Roby penuh selidik.


“ apakah om bisa menemui Fajrin? “ tanya Davis yang sudah berdiri dari sofa.


“ silahkan bila Fajrin sudah tidak sibuk “ ucap Azkar dan menjabat tangan Davis sebelum Davis keluar dari ruangannya.