My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 247 INFORMASI



Fajrin melangkah masuk ke kamar mandi memungkut spuit bekas yang masih ada jarum bekas pakai, dan meletakkan di meja tepat di depannya agar Divya bisa melihat apa yang Fajrin maksud. Seketika Divya merasa bersalah karena telah memyembunyikan terapi yang dia lakukan tanpa persetujuan Fajrin. Divya tertunduk memejamkan kedua matanya berharap bisa menahan air matanya, Fajrin mendekat dan berdiri tepat di depan Divya. tiba-tiba Fajrin memeluk erat tubuh istrinya dan seketika tangis Divya pecah, Fajrin hanya menarik nafas panjang berkali-kali tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Hanya pelukan hangat yang bisa Fajrin berikan agar Divya dapat meluapkan semua yang menjadi beban pikiran di otaknya.


Hampir tiga menit Divya menangis di dalam pelukkan Fajrin, semua beban pikiran dan kesedihan Divya luapkan dalam tangisnya. Fajrin sudah tidak perduli lagi berapa kali Divya mengusap ingus dengan kemeja yang masih menempel di badannya. Hingga saat tangis Divya reda, Fajrin mulai berbicara pelan.


“ sudah berapa kali sayang melakukan injeksi gonadotropi..... ? “ ucap Fajrin dengan pelan tepat di telinga kanan Divya.


Dengan masih mengatur nafas Divya mulai menyeka ingus dengan kemeja Fajrin tapi kali ini dengan kain yang dia tarik dari dalam celana Fajrin, Fajrin mengulas senyum tipis.


“ kemeja ayang jadi penuh ingus..... “ canda Fajrin mencoba membuat Divya sedikit cemberut.


Bukannya Divya tersenyum tapi cemberut membuat Fajrin menarik nafas panjang merasa bersalah.


“ maaf..... “ ucap Fajrin dan kembali memeluk erat Divya.


Divya mulai sedikit tersenyum.


“ ayang...... maaf..... “ ucapan Divya terhenti mencoba menguatkan diri untuk mengatakan yang sebenarnya.


Divya menarik nafas panjang sekali mulai mengatakan kenapa dirinya melakukan terapi injeksi gonadotropi dan sejak kapan melakukan terapi juga siapa dokter yang menjadi tempatnya konsultasi tentang PCOS yang dia alami. Fajrin mengusap kasar wajahnya menjadi merasa bersalah membiarkan istrinya merasakan sakitnya jarum setiap kali melakukan injeksi gonadotropi.


“ sakit.... ? “ Divya menganggukan kepala menjawab pertanyaan singkat Fajrin.


“ kalau sakit.... dan sayang sudah tidak kuat menahan rasa sakit...... hentikan saja terapinya..... kalau memang sayang ingin sekali hamil.... kita lakukan program bayi tabung..... “ ucapan Fajrin membuat Divya tertegun.


Divya tidak berpikir bahwa Fajrin akan mengambil keputusan secepat ini untuk melakukan program bayi tabung.


“ itu kalau sayang mau..... kalau sayang tidak mau dan lebih nyaman dengan terapi injeksi gonadotropi..... ya..... tidak apa apa tapi setiap kali sayang melakukan injeksi..... sayang harus memberitahu ayang.......bagaimana? “ Divya semakin tertegun dengan ucapan Fajrin.


Divya menatap dalam-dalam kedua mata Fajrin mencoba mencari tahu apakah Fajrin serius mengatakan semua ini.


“ sejak kapan ayang terlintas di benak ayang kata program bayi tabung ? “ tanya Divya heran.


Fajrin tersenyum mendengar pertanyaan Divya.


“ hmmmm...... kalau untuk keinginan mencoba program bayi tabung...... baru saja terlintas di benak ayang..... tapi kira kira tahun lalu ayang sudah banyak membaca tentang prosedure proses bayi tabung. “ ucap Fajrin sambil menangkup kedua pipi Divya yang memang terlihat sedikit lebih tembem.


“ serius.... baru saja terpikirkan program bayi tabung? “ tanya Divya meyakinkan diri Fajrin.


“ ayang..... tidak bisa membayangkan bagaimana sayang bisa melawan rasa takut pada jarum juga menahan rasa sakit saat sayang harus melakukan injeksi gonadotropi sendiri..... “ ucapan Fajrin yang terlihat jelas kesal juga merasa merinding membuat Divya tersenyum.


“ baiklah.....kita lakukan program bayi tabung. “ ucap Divya yang sudah berubah bersemangat.


Fajrin tersenyum melihat kedua sinar mata Divya yang seketika berubah menjadi bahagia.


“ sebesar itukah.... keinginan sayang untuk hamil “ gumam Fajrin dalam hati sambil tersenyum menatap Divya.


“ ayang..... bagaimana kalau kita coba di rumah sakit ini “ ucap Divya yang melihat Fajrin baru turun dari motornya.


Fajrin melepas helm dengan tersenyum.


“ Assalamu'allaikum “ salam Fajrin sambil melangkah mendekati Divya


“ Wa'alaikumsalam “ balas Divya sambil meraih tangan kanan dan mencium punggung tangan Fajrin.


Fajrin tersenyum melihat Divya yang sangat antusias mencari informasi rumah sakit infertilitas.


“ kita masuk dulu...... kita bahas di dalam “ ucap Fajrin yang sudah memeluk bahu Divya mengajaknya masuk ke dalam rumah.


Memang dari sejak siang tadi Divya sudah tidak sabar menunggu kepulangan Fajrin dan satu jam sebelum jam kepulangan Fajrin, Divya sudah menunggu Fajrin di ruang tamu dengan membawa beberapa lembar kertas tentang informasi rumah sakit infertilitas.


Fajrin mengajak Divya melangkah menuju kamar tidur mereka karena Fajrin ingin segera membersihkan diri. Divya yang sangat antusias sampai membacakan semua informasi yang dia pegang padahal Fajrin sudah masuk kamar mandi, bahkan tanpa Divya sadari sudah mengikuti Fajrin masuk ke kamar mandi dengan tetap menjelaskan apa yang sudah Divya dapat. Fajrin tersenyum lebar karena melihat Divya masih berdiri dengan membaca kertas yang dia pegang.


“ sayang mau sampai kapan berdiri disitu...... apa tidak sekalian kesini “ ucapan Fajrin membuat Divya tersadar dan melihat sekeliling dimana dia berada saat ini.


Saat Divya mengedarkan pandangannya dan mendapati tubuh polos Fajrin dengan aset yang sudah siap berdiri tegak membuat Divya kesulitan menelan air ludahnya sendiri.


“ serius.... hanya di lihat saja “ goda Fajrin membuat kedua pipi Divya bersemu merah.


Karena Divya masih diam terpaku membuat Fajrin melangkah pelan mendekati Divya, detak jantung Divya semakin tidak beraturan ketika jarak mereka semakin dekat dan dengan perlahan Fajrin menarik Divya kedalam pelukkan. Kertas yang Divya pegang sudah tergeletak di lantai dan kedua tangan Fajrin mulai aktif menjelajah apa yang sudah halal baginya.


Kegiatan membersihkan diri yang tidak hanya sekedar membersihkan diri tapi mandi sore plus plus. Sikap Divya yang penurut dan tidak ada penolakkan setiap kali Fajrin meminta haknya, sikap inilah yang membuat Fajrin benar-benar ihklas menerima keadaan Divya.


Beberapa kali Fajrin membuat Divya mencapai puncak, sungguh kepuasan tersendiri bagi Fajrin karena masih dapat membuat Divya mencapai puncak berkali-kali meski pun fokus otak Divya pada program bayi tabung.


Kegiatan membersihkan diri menjadi berlangsung kurang lebih empat puluh lima menit, dengan tersenyum bahagia Fajrin keluar dari kamar mandi tanpa sehalai kain pun yang menutupi dirinya. Membuat Divya sedikit mencebikkan kkedua bibirnya.


“ ayang..... pakai ini.... itu kelihatan “ protes Divya membuat Fajrin tertawa lepas.


Tapi dengan santainya Fajrin mengabaikan protes Divya dan melakukan gerakan yang justru menggoda Divya.


Divya melangkah mendahului Fajrin berusaha tidak tergoda dengan apa yang Fajrin lakukan. Benar saja saat Divya melepas kain yang menutupi tubuh polosnya karena hendak berganti pakaian, Fajrin dengan sigap memeluknya dari belakang tapi saat Fajrin hendak mengoda Divya dengan kecupan kecil di leher tiba-tiba terdengar suara adzan Magrib.


“ ayang..... Magrib “ ucapan Divya yang terdengar tidak tergoda membuat Fajrin menghentikan aksinya.


“ setelah makan malam..... ayang lanjut lagi.... “ bisik Fajrin tepat di telinga kiri Divya.


Membuat Divya merinding.