
Karena tertidur di sofa membuat leher dan punggung Fajrin terasa penat, belum lagi harus ke kantor dengan mengendarai motor sambil membawa tabung besar sepanjang satu setengah meter untuk menyimpan gulungan kertas kalkir. Sampai di area parkir ponselnya bergetar, Fajrin melihat sesaat ternyata pesan singkat dari Divya yang mengabarkan bahwa dirinya sudah berada di rumah. Fajrin tersenyum bahagia membaca isi pesan tersebut sambil melangkah masuk ke dalam Lift.
Hari ini Fajrin berencana untuk melakukan simulasi dari desainya dengan program 3D design bersama Irvan. Dan Fajrin sudah membayangkan bahwa hari ini seharian akan sibuk dengan puluhan lembar kertas kalkir.
Divya yang sudah terbiasa dengan suasana rumah ini, dan sudah merasa bahwa rumah ini adalah rumahnya yang akan menjadi tempat berteduh bagi keluarga kecilnya. Bahkan Fajrin sudah membelikan 3 rak gantung untuk memajang semua pakaian hasil kerja keras Divya, Fajrin menatanya di ruang tengah sehingga sekarang ruang tengah terrlihat seperti workshop bagi Divya. Bahkan Fajrin berencana untuk membeli tanah kosong di sebelah kiri rumahnya untuk dia jadikan sebuah butik bagi Divya.
Divya memandangi deretan tunik juga bawahan yang sudah dia buat.
“ masih kurang 5 lagi...... hijabnya masih kurang setengah lebih..... aaahh.... ternyata masih banyak yang harus di kerjakan..... Bismilllah pasti bisa.... untuk sepatu..... nanti malam saja aku bahas dengan ayang..... “ gumam Divya sambil merapikan deretan hijab yang sudah dia bungkus dengan plastik dan tertata rapi di rak gantung.
Divya memandangi sekeliling ruangan, seperti biasa rumah sudah terlihat rapi dan bersih. Divya merasa hari ini tidak ada ide untuk membuat desain bawahan atau pun hijab, Divya melangkah ke ruang kerja Fajrin yang juga ruang server Nara. Saat membuka pintu ruangan, Divya menatapnya tidak percaya. Divya selalu melihat ruangan ini bila ada Fajrin dan baru kali ini Divya masuk ruangan ini tanpa Fajrin.
“ aku kira akan banyak kertas berserakkan..... ternyata bersih dari kertas.... “ gumam Divya dalam hati sambil memperhatikan meja gambar yang terdapat kertas kecil-kecil yang menempel di pinggir meja gambar.
Divya memperhatikan satu persatu kertas kecil-kecil tersebut, sekali lagi Divya terkejut bukan karena tulisan Fajrin yang rapi tapi karena apa yang tertulis di kertas itu.
“ apa ini..... Bugatti Centodieci..... Tour de I’lle..... Judith Leiber Couture x Lanvin..... Judith Leiber Large Rainbow Pavé Curblink...... Judith Leiber Gem Pink Multicolor Chandelier..... “ suara pelan Divya membaca tulisan di kertas kecil yang dia pegang.
Tiba-tiba Divya menggelengkan kepala seperti menyangkal pemikirannya sendiri, dengan langkah lebar Divya keluar dari ruang kerja Fajrin untuk mencari ponselnya yang masih dia simpan di dalam tas kecilnya. Menekan nomor Davis adalah hal pertama yang terlintas dalam benaknya. Setelah tersambung dengan Davis, Divya segera menyembutkan nama-nama barang yang tertulis di kertaa yang dia pegang.
“ papi..... papi tahu siapa yang menentukan barang apa saja yang harus ayang bawa di akad nanti? “ tanya Divya dengan gusar.
“..... “ jawaban Davis membuat Divya sangat kecewa juga marah.
Divya kecewa karena Davis menyerahkan itu semua pada adik perempuannya yang gaya hidupnya sangat galmor, marah karena Davis belum membaca isi pesan singkat dari adik perempuannya.
“ papi harus baca..... Divya tidak mau semua itu..... kalau pun ayang hanya bisa memberi Divya mahar mukena..... Divya tetap akan menikah dengan ayang..... Divya tidak butuh semua itu.... “ suara Divya menjadi serak karena menangis kecewa dengan Davis yang mempercayakan semua itu pada adik perempuannya.
“..... “ Divya cemberut mendengar ucapan Davis yang terdengar santai dan tanpa beban apa pun.
Divya memutus sambungan telepon sepihak dan menghapus air matanya, keluar rumah mencari Liam.
“ (Liam..... stay at home..... give me the key.... I have to go to Surendra's building (Liam..... jaga rumah..... berikan kuncinya.... aku harus ke tempat ayang kerja) “ teriak Divya membuat Liam yang sedang bersantai dengan rekannya segera berlari mendekati Divya.
“ give me the key (berikan kuncinya) “ bentak Divya membuat Liam menyilangkan kedua jari telunjuknya pada Divya.
“ Sorry Miss..... Mr. Fajrin warn me not to hand over this key.... if you want to go.... I'll take you me (maaf nona..... tuan Fajrin melarang saya menyerahkan kunci ini.... kalau nona ingin pergi.... saya akan mengantar nona) “ jelas Liam membuat Divya semakin kesal.
Tapi karena Liam tidak mau juga menyerahkan kunci mobil akhirnya Divya melangkah kasar mendekati mobil.
“ hurry up (cepat antar aku) “ bentak Divya sekali lagi dan membuat Liam tersenyum.
“ it’s really effective use Mr. Fajrin name (efektif juga pakai nama tuan Fajrin.... ) “ gumam Liam dalam hati dan segera masuk ke mobil.
GEDUNG SURENDRA
Karena ada beberapa barang yang masih dalam proses produksi atau pun sudah selesai produksi tapi dalam status pesanan orang lain. Tapi tidak butuh waktu lama bagi Afkar untuk mendapatkan berapa nominal dan bagaimana mendapatkan 2 benda yang berada di urutan paling atas dari daftar barang yang keluarga Lohia inginkan, karena barang yang berada di urutan nomor 1 adalah barang yang hanya di produksi sebanyak 7 unit dan masih ada 3 unit yang belum berstatus pesanan orang. Yang membuat Afkar sedikit kuatir adalah proses masuknya ke Jakarta mengingat barang ini adalah barang super mewah dan membutuhkan proses di bea cukai yang tidak bisa selesai dalam satu dua hari saja. Untuk proses pengirimannya sudah bisa di atasi oleh Afkar, menggunakan pesawat kargo Sundth Air untuk mengirimnya dan barang-barang ini baru bisa di serah terimakan dari pabrik tepat 2 minggu sebelum acara Fajrin.
Azkar yang mendapatkan berita detail tersebut tentang nama barang di daftar nomor 1 keluarga Lohia menjadi pening dan segera melakukan panggilan skype ke Afkar. Azkar tidak memperdulikan di Oslo sekarang pukul berapa.
“ kamu yakin baru kamu terima 2 minggu sebelum hari H..... tidak bisa di percepat? “ pertanyaan Azkar membuat Afkar mengusap kasar wajahnya.
“ ini masih bagus aku bisa dapatkan 2 minggu sebelum hari H..... terlambat sedikit saja.... bisa dapat produksi yang nomor 7..... dan baru di serah terimakan awal tahun depan. “ jelas Afkar sambil melihat pintu kamarnya.
“ kenapa kamu melirik begitu.... ada apa dengan Nara? “ tanya Azkar curiga.
Afkar terlihat menarik nafas panjang dan memijat lehernya yang terasa penat.
“ beberapa hari ini.... tidak mau keluar apartemen.... maunya di dalam apartemen terus dan kemana-mana selalu menempel.... apa dulu kakak ipar juga begitu sama abang? “ ucap Afkar sambil meraih gelas air minumnya.
“ masih bagus...... mau menempel terus sama kamu.... dari pada kamu di suruh menjauh hanya kerena aroma parfum yang tidak sesuai dengan keinginannya..... “ Afkar membulatkan kedua matanya tidak percaya dengan ucapan Azkar.
“ serius? “ tanya Afkar tidak percaya.
“ iya.... waktu hamil pertama yang parah.... hampir 1 bulan Helen tidak mau aku dekati.... aku di suruh tidur di sofa “ ucap Azkar kesal mengingat perlakuan Helen saat hamil anak pertamanya.