
Sudah tiga hari ini Divya berusaha memahami isi buku pemberian Roby dan sudah tiga hari ini pula Divya mengabaikan ajakan Ditya untuk bersenang-senang di wakatobi, tetap saja membuat Divya ingin segera menyelesaikan membaca buku itu.
“non.... bibi lihat tiga hari non hanya membaca buku satu itu saja. Apa non berniat berhenti menjadi model?” pertanyaan bi Ina membuat Divya terkejut karena bagaimana bisa bi Ina berpikir demikian.
Bi Ina adalah orang yang merawat Divya dari bayi karena kesibukan Davis, papi Divya membuatnya harus merelakan Divya di rawat oleh seorang pembantu. Sebenarnya bukan hanya karena kesibukan bisnisnya saja yang membuat Davis menyerahkan Divya dalam asuhan bi Ina, tapi Davis tidak bisa melupakan mendingan istrinya yang harus meninggal di meja operasi karena mempertahankan Divya. Setiap kali melihat wajah baby Divya, Davis selalu merasa benci dan terluka harus kehilangan belahan jiwanya demi seorang bayi. Memang Davis lebih memilih menyelamatkan istrinya tapi tidak dengan mendiang istrinya yang lebih memilih menyelamatkan bayinya.
Bi Ina juga tahu bahwa menjadi model terkenal adalah impian Divya sedari kecil, apa pun permintaan dan keinginan Divya untuk mengikuti lomba atau pun festival model pasti Bi Ina akan memenuhinya. Davis mempercayakan semua kebutuhan Divya pada Bi Ina dan memberikan sebuah kartu kredit unlimited untuk keperluan Divya kecil, hingga membuat Ditya sangat malas menemani Divya kecil bermain sedangkan Dipta sibuk dengan teman-temannya.
“bi.... menurut bibi wanita cantik itu yang seperti apa?” tanya Divya sambil menutup buku yang halamannya sudah dia tandai.
“tergantung non..... ada wanita yang wajahnya biasa saja bahkan tidak pernah merawat wajahnya seperti non....tapi terlihat sangat cantik di mata seorang laki-laki.” Jelas bi Ina sambil menyiapkan makan siang Divya.
Saat Divya kembali sibuk dengan bukunya, seseorang datang menghampirinya.
“Div....., ini jadwal pengambilan gambarmu sampai tiga bulan kedepan... management sudah menandatangi empat kontrak baru untuk satu tahun kedepan" ucap Elena sambil menyerahkan empat amplop salinan kontrak kerjanya.
“Soultree..... Kaylan Fashion...... Kandima Maldavis.... Kaylan Jewellery...... semua brand India..... tidak ada yang Eropa?” ucap Divya kecewa sambil membaca tulisan di amplop.
“karena nilai kontrak mereka yang paling besar dari pada yang lain..... kamu baca saja..... Kaylan setiap perhiasan dengan desain terbaru, mereka akan memberimu satu set begitu juga dengan model sari terbaru. Maldavis, mereka mengijinkanmu untuk menginap sesuka hatimu dengan fasilitas lengkap free sem....” belum selesai Elena menjelaskan nilai ke empat kontrak Divya sudah memotong ucapan Elena.
“tapi semua India..... aku tidak suka pakai sari dan aku belum pernah memakai soultree.... kamu yakin produknya akan cocok di kulitku?” tanya Divya dengan kecewa dan meninggalkan Elena sendiri di ruang makan.
Elena heran melihat sikap Divya karena biasanya tidak seperti ini.
“bi..... Divya kenapa?” tanya Elena heran membuat bibi hanya tersenyum kecil dan mengangkat kedua bahunya sebentar.
Elena adalah seorang wanita keturunan melayu-China yang sudah menjadi manager Divya sejak pertama kali Divya memenangkan kontes pencarian bakat Asia’s Next Top Model dan Divya tidak sekali pun berniat untuk pindah ke management yang lain, baru kali ini Elena melihat Divya sangat tidak bersemangat untuk menjalani kontrak kerja. Elena menyusul ke kamar dan mendapati Divya sedang memegang ponsel, kedua ibu jarinya terlihat jelas menari-nari di layar ponsel.
“kamu kenapa?.... aku ada sedikit rahasia lo..... mau tidak dengar cerita aku?” goda Elena mencoba memancing rasa ingin tahu Divya.
Divya melihat Elena sesaat dan kembali fokus pada layar ponselnya, Elena semakin heran dengan sikap Divya yang tidak seperti biasanya. Elena memperhatikan bahwa fokus Divya hanya pada sebuah ponsel, Elena berjalan mendekati Divya mencoba mencari tahu apa yang membuat Divya sangat tertarik memandang ponselnya hingga mengabaikan dirinya.
“ya Tuhan..... tampan sekali dia..... apa itu kekasihmu? Apa dia yang membuatmu hingga tergila-gila seperti ini? Siapa namanya? Apakah dia pengusaha muda? Atau dia seorang model? Apa nama management-nya? Aku akan mencari tahu tentang pria itu?” tanya Elena beruntun sambil mengeluarkan ponselnya untuk mencari tahu nama tentang pria itu.
“Divya sayang...... apa yang membuatmu terdengar seperti putus asa? Apa dia suami orang? Ayo cepat katakan.....aku tidak mau melihatmu putus asa seperti ini?” ucap Elena yang sudah duduk di pinggir ranjang.
“baiklah kalau kamu tidak mau mengatakannya.... aku akan mencari tahu sendiri, tapi sebelum itu aku akan mengemasi barang-barangmu karena lusa kita harus sudah berada di New Delhi.” Elena mulai memanggil beberapa asistennya untuk segera mengemasi barang-barang Divya.
Karena Divya sangat tidak mau melepas ponsel dari genggaman tangannya, dengan sedikit ancaman dan paksaan Elena merebut ponsel membuat Divya mau tidak mau menuruti Elena.
“aku harus menyelesaikan kontrak ini secepatnya supaya aku bisa mendapatkan hati kak Fajrin" ucap Divya menyemangati diri sendiri.
Semua barang-barang Divya untuk satu tahun kedepan sudah masuk dalam beberapa koper besar yang siap terbang ke New Delhi. Saat makan malam seperti biasa Divya di temani Bi Ina, tapi saat tinggal beberapa suap Dipta datang dengan mulut yang bergerak-gerak seperti menghapal sesuatu. Dipta duduk di depan Divya sambil melepas sepatu kaos kaki dan dari kerjanya, Bi Ina menerima semua itu dan meletakkan di tempatnya.
“bang..... dua hari lagi aku ke New Delhi..... management sudah membuat kontrak untuk satu tahun ke depan disana” ucap Divya sedih.
“bagus itu" ucap Dipta sambil menerima peralatan makan dari Bi Ina.
“bagus.....? ooooo..... jadi abang tidak mau membantu Divya untuk mendekati kak Fajrin? Begitu......” ucap Divya jengkel dan mulai marah.
Divya membanting pisau serta garpu di piring membuat suara gaduh dan meninggalkan meja makan, Divya sangat marah karena merasa bahwa Dipta masih menganggapnya tidak serius dengan keinginannya. Divya menangis di kamar dan membanting semua barang-barangnya hingga berserakan di seluruh kamar, Dipta mendengar dengan jelas suara gaduh di kamar Divya dan saat bibi hendak naik tangga dengan cepat Dipta melarangnya.
“biarkan saja bi.... nanti juga tenang sendiri.... itu berarti Divya belum memahami isi buku pemberian Roby...... kalau udah paham pasti dia tidak akan semarah itu" ucap Dipta santai tapi tidak dengan bi Ina yang semakin kuatir tapi juga tidak berani menentang Dipta.
Selepas makan malam saat Dipta hendak masuk ke kamarnya dan melewati kamar Divya, dia membuka pintu kamar Divya dan masuk kedalam.
“berantakan sekali..... kamu sudah mengerti isi buku itu" ucap Dipta sambil menunjuk sebuah buku yang tergeletak di sudut ranjang.
“abang rasa.... kamu belum mengerti..... karena kalau kamu sudah mengerti tidak mungkin kamu membuat kamarmu sendiri berantakan seperti ini" ucap Dipta yang sudah berdiri di depan Divya yang terduduk di lantai dengan menangis.
“kalau kamu mau mendapatkan hati Fajrin..... turuti apa kata abang. Baca buku ini sampai selesai jangan terlewatkan satu kata pun, jalani kontrakmu, setiap ada waktu luang kamu baca buku ini meskipun harus berkali-kali kamu membacanya untuk bisa memahami isinya. Setelah paham hubungi abang.” Ucapan tegas Dipta membuat Divya sadar akan sikapnya yang masih kekanak-kanakan.
Saat Dipta hendak melangkah keluar dari kamar Divya.
“kali ini Divya akan menuruti nasehat abang.” Ucap Divya dengan suara serak namun penuh keyakinan.