My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 64 ISI KONTRAK



“ pakai ini untuk menutupi tangan dan kakimu ” ucap Fajrin sambil melempar dua buah kain sarung bersih ke arah Divya.


Divya yang tidak siap dengan pemberian Fajrin tidak bisa menangkapnya dengan baik membuat kedua kain sarung itu mendarat di kepala dan bahu kiri Divya. Dengan bingung Divya memegang kain sarung itu memakainya menutupi bagian tubuh yang menurutnya juga menurut pandangan Fajrin tidak boleh terlihat. Begitu juga dengan Elena, dia bingung dengan respon Fajrin yang di luar perkiraannya.


“ duduklah..... aku yakin ada yang ingin kamu katakan ” Ucap Fajrin yang sudah duduk di kursi tamu.


Elena membantu Divya menutupi kedua lengan juga pahanya dengan kain sarung milik Fajrin dan duduk di kursi tamu kembali.


“ tidak bisakah anda membantu Divya sekali lagi, saya tahu anda sibuk tapi saya mohon kali ini bantu kami.... kalau pun anda tidak mau membantu kami setidak-tidaknya anda membantu adik sahabat anda ” Ucap Elena sambil mengeluarkan berkas kontrak dari dalam amplop.


“ apa kamu sudah tahu isi kontrak yang bos kalian buat? ” pertanyaan Fajrin membuat Elena terdiam karena Elena sama sekali belum membaca kontrak itu.


“ I'm sure you two haven't read the contents of this contract, and all of you who have been listening to what I said to their boss. I'm so sure you guys want to know the contents of this contract that my rejection make their boss angry (aku yakin kalian berdua belum membaca isi kontrak ini, dan kalian semua yang sedari tadi mendengar percakapanku dengan bos mereka. Aku sangat yakin kalian ingin tahu isi kontrak ini sampai penolakkanku membuat bos mereka emosi) " ucap Fajrin dengan santai sambil membolak balik sebuah majalah desain rumah.


selagi menunggu Elena dan Divya selesai membaca isi kontrak tersebut. Fajrin berdiri tepat di depan para tim Jakarta juga Jatinra.


“ Have you understood the term of marriage (apa kalian sudah memahami ketentuan sebuah pernikahan)? ” pertanyaan Fajrin seketika membuat mereka semua tegang.


Mereka takut bila salah menjawab pertanyaan Fajrin.


“ One of the term of marriage is the presence of a marriage guardian from the bride (salah satu ketentuan pernikahan adalah adanya wali nikah dari pihak wanita) " ucap Muslim sedikit takut.


“ did you see they coming with Divya's guardian (apa kalian lihat mereka datang membawa wali nikah Divya)? ” sekali lagi pertanyaan Fajrin membuat mereka diam seribu bahasa.


Fajrin kembali duduk di kursi tamu menunggu Elena berbicara.


“ what should I do to make you willing to help Divya (apa yang harus saya lakukan agar anda bersedia membantu Divya?) ” tanya Elena merasa malu dengan isi kontrak yang Arbab buat.


Elena paham sekali bahwa Fajrin sangat menjaga batas-batasnya.


“ aku akan membantu kalian.... tapi perbaiki semua isi kontrak sesuai dengan apa yang aku katakan. ” Mendengar ucapan Fajrin, seketika kedua mata Elena dan Divya terlihat jelas sangat senang.


Sementara Arbab dan Ben menunggu Elena dan Divya di lobi apartment, Arbab terlihat masih marah dan geram mendapat perlakuan dari Fajrin. Arbab merasa terhina apa lagi saat Fajrin menolaknya berkali-kali di hadapan Ben dan Elena yang jelas-jelas mereka bekerja untuk Arbab.


Elena mencoret dan menulis apa saja yang Fajrin sebutkan, Fajrin memperhatikan Divya untuk dua detik dan merasa kasihan. Kali ini Divya tidak berani menatap wajah Fajrin dia hanya berani menatap Fajrin hingga setinggi dada saja, serasa ingin memeluk dan menangis mencurahkan semua rasa kecewa sedih juga senang karena Fajrin yang menolongnya.


“ apakah tidak ada yang mendidikmu untuk bersikap juga berpakaian sopan? Apakah kamu juga seperti Dipta yang sangat sulit mengerti huruf Arab? “ berbagai pertanyaan muncul di dalam otak Fajrin tentang sosok Divya


“ kalian sudah mengerti dengan apa yang perlu harus kalian rubah dan ganti? ” tanya Fajrin membuat Elena dengan sedikit berat menganggukan kepalanya.


Tapi tidak dengan Divya, Divya menganggukan kepalanya dengan cepat karena dia sangat mengerti apa yang ada di dalam pikiran Fajrin saat ini. Bagi Divya yang terpenting saat ini adalah bisa berkomunikasi dengan Fajrin bagaimana pun caranya.


“ semua sekarang tergantung kalian, kalian menyetujui persyaratan yang aku ajukan..... aku akan segera menandatangani kontrak kalian. ” Ucap Fajrin dengan tegas membuat Elena semakin menahan malu.


“ baiklah.... akan saya diskusikan perubahan ini pada Arbab, secepatnya saya akan menghubungi anda. ” Ucap Elena sambil berdiri.


Divya masih terduduk dan memegang erat kain sarung Fajrin yang menutupi kedua lengannya.


“ Divya.... ayo kita keluar " ucap Elena sambil menepuk bahu kanan Divya


“ oooo..... iya..... ini kak, terima kasih " ucap Divya sambil berdiri dan menyerahkan dua kain sarung pada Fajrin.


Irvan membuka pintu untuk mereka berdua keluar, saat pintu tertutup kembali Fajrin mengusap kasar wajahnya dengan tangan kirinya.


“ If you have a younger sister, you must take good care, protect her, give her good education and teach them what is allowed and what is forbidden for her (jika kalian memiliki adik perempuan harus dijaga, dilindungi, didik dengan baik dan ajarkan mereka mana yang boleh mana yang tidak boleh mereka lakukan). ” Ucap Fajrin yang sudah berdiri dan meraih kain sarung yang tadi di pakai Divya.


Fajrin melipat kedua kain sarung itu dan melangkah masuk ke dalan kamarnya.


“ that a crazy....they proposed a contract marriage.....is that really how the entertainment world solves every scandal problem....luckily Mr. Fajrin refuses it.....if Mr. Fajrin accepts the contract it could make the journey of his love even more complicated (gila.... mereka mengajukan pernikahan kontrak..... apa memang seperti itu dunia hiburan menyelesaikan setiap masalah skandal.... untung saja pak Fajrin menolak..... kalau pak Fajrin menerima kontrak itu bisa semakin rumit perjalanan cintanya. ” Ucap Muslim sambil membuka kembali kertas kalkir yang tadi dia kerjakan.


“ Mr. Fajrin is a firm person and holds strong in principle... so I'm sure he will never be tempted by any of contract if that has no benefit for him (pak Fajrin orang yang tegas dan memegang kuat prinsipnya... jadi aku yakin sampai kapan pun beliau tidak akan tergiur dengan tawaran kontrak yang tidak ada manfaat baginya). “ Ucapan Jatinra mendapatkan anggukan kepala dari tim Jakarta.


Saat tim Jakarta dan Jatinra sibuk berbicara membahas pembicaraan Fajrin dengan Elena, tanpa mereka sadari Fajrin sudah berdiri di depan pintu kamarnya.


“ is the backbiting over?.... you guys are men but like backbiting.... how about your reporting and improving drawings (sudah selesai ghibahnya?..... kalian ini pria tapi suka ghibah.... bagaimana laporan dan perbaikan gambar kalian)" ucapan Fajrin seketika membuat mereka sibuk dengan tugas dan tanggung jawabnya.