My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 234 SESAAT



Dunia Divya perlahan mulai berubah, dulu Divya hanya mengenal dunia model. Tapi mulai hari ini dunianya berubah, Helga membuka jalan bagi Divya untuk mengenal dunia bisnis fashion design. Begitu juga dengan Fajrin, hingga membuat Helga juga Helsa memutuskan untuk membuka beberapa butik yang khusus menjual pakaian muslim hasil rancangan Divya. Dan tentunya Fajrin ikut ambil bagian sebagai salah satu pemodal, Mexrat menatap kebersamaan keakraban tiga wanita muda dengan rasa haru juga bangga.


“ are you gonna stay in Surendra (apa kamu akan tetap bertahan di Surendra)? “ pertanyaan Mexrat membuyarkan lamunan Fajrin.


“ yes uncle “ jawab Fajrin dengan cepat tanpa keraguan sedikit pun.


Mexrat mulai bercerita tentang kebersamaannya dengan Woro juga Selo selama menjadi mahasiswa di Oslo, Fajrin mendengarkan cerita Mexrat dan sesekali membayangkan wajah Woro semasa hidup.


“ your father without hesitation without thinking will always help us in trouble even when your father decides to help Selo restore the Sadhat family's hotel business...... he did many things that Selo unexpected.... (ayahmu tanpa ragu tanpa berpikir panjang akan selalu menolong kami dalam kesusahan bahkan saat ayahmu memutuskan membantu Selo memulihkan bisnis hotel keluarga Sadhat...... dia melakukan banyak hal di luar perkiraan Selo....) “ ucap Mexrat mengenang bagaimana Woro meyakinkan para pengusaha travel agent agar membawa tamu mereka yang berkunjung ke Bergen agar bermalam di hotel Rosenkrantz.


Kedua mata Mexrat menerawang mengingat bagaimana perjuangan Woro.


“ even though at that time the CEO of Rosenkrantz had already decided to sell the hotel..... but I don't know what your father said until finally the CEO of Rosenkrantz postponed selling the hotel..... I remember very well that hotel for weeks without a single guest.. ...but your father changed all that..... (padahal waktu itu CEO Rosenkrantz sudah memutuskan akan menjual hotel itu..... tapi entah apa yang sudah ayahmu katakan sampai akhirnya CEO Rosenkrantz menunda menjual hotel itu..... aku ingat betul hotel itu bisa berminggu minggu tanpa satu orang tamu pun..... tapi ayahmu merubah itu semua.....) “ kenang Mexrat membuat Fajrin sedikit paham kenapa usianya terpaut jauh dengan Azkar.


“ maybe that's why dad got married late with mom (apa mungkin karena itu ayah jadi terlambat menikah dengan ibu) “ ucap Fajrin pelan.


Mexrat menepuk bahu Fajrin dan tersenyum.


“ no..... your father and mother even though they are not studying in the field of tourism..... but they understand how to move travel agents to bring their guests to spend the night at the Rosenkrantz hotel..... they are too focused on hotels that is until they are a little late to have Fahrid (bukan..... ayah dan ibu kalian meski pun mereka bukan kuliah di bidang pariwisata..... tapi mereka paham bagaimana menggerakkan para travel agen agar membawa para tamu mereka bermalam di Rosenkrantz hotel..... mereka terlalu fokus pada hotel itu sampai mereka sedikit terlambat memiliki Fahrid) “ cerita Mexrat membuat Fajrin paham berbedaan usia Fahrid dengan Azkar.


Disaat mereka sibuk dengan pembicaraan masing-masing, seorang pengawal datang dan membisikkan sesuatu pada Mexrat.


“ tell him to go.....my decision is final (suruh dia pergi.....keputusanku sudah bulat) “ ucap Mexrat dengan tegas.


Helsa memutar kursi rodanya mendekati Mexrat.


“ papa..... Helsa will do that operation... (papa..... Helsa akan lakukan operasi itu.....) “ ucapan Helsa yang tegas membuat Mexrat sedikit terkejut.


Bagaimana Mexrat tidak terkejut, selama ini Helsa menolak anjuran operasi cangkok sumsum tulang belakang mau pun terapi agar bisa berjalan normal kembali. Mexrat menatap kedua mata Helsa mencoba mencari sesuatu yang mungkin putri kembarnya sembunyikan.


“ Helsa will do all the therapist that the doctor recommends..... Helsa must be able to build a business with Helga and sister-in-law (Helsa akan lakukan semua terapi yang dokter sarankan..... Helsa harus bisa membangun bisnis dengan Helga juga kakak ipar) “ ucap Helsa dengan yakin.


“ Helga.... why did Helsa change her mind (Helga.... kenapa Helsa bisa berubah pikiran)? “ pertanyaan heran Mexrat membuat Helga melirik Divya.


Mexrat menatap Divya seperti bertanya.


“ nothing is impossible..... (tidak ada yang tidak mungkin.....) “ ucap Divya sambil meraih lengan kiri Fajrin.


Mexrat menatap Fajrin mencoba meminta penjelasan Fajrin atas apa yang Divya katakan, sesaat kemudian Mexrat tersenyum memeluk Helsa.


“ we do it together..... papa sure you will be able to walk again (kita lakukan bersama-sama..... papa yakin kamu bisa berjalan kembali) “ ucap Mexrat membuat Helsa semakin yakin.


Aura kebahagian menyelimuti kebersamaan mereka dan tidak terasa dua hari kebersamaan mereka harus berpisah kembali, Divya dan Fajrin yang harus kembali ke Jakarta untuk kembali melakukan kesibukan masing-masing. sedangkan Mexrat membawa Helsa terbang ke America untuk melakukan operasi cangkok sumsum tulang belakang dan beberapa operasi lainnya juga terapi fisik agar Helsa kembali berjalan normal. Helga memegang kendali penuh PPB group selama Mexrat menemani Helsa. Arbab yang masih berusaha menemui Mexrat setiap hari selalu duduk di dalam mobil yang terparkir tepat di depan pintu gerbang kediaman Mexrat. Elena pun sudah terbang ke Jakarta menyusul Divya.


Hari berganti hari, minggu berganti minggu, hingga tidak terasa berganti bulan. Karir Fajrin sebagai pengganti Hendri semakin membuat Surendra menerima banyak tawaran kontrak kerjasama, Divya dengan bantuan Elena yang pernah menempuh pendidikan di bidang fashion design banyak membantu Divya dengan memberi berbagai masukkan. Membuat Fajrin harus membeli sebuah rumah tepat berada di samping kirinya untuk Divya pakai sebagai workshop sekaligus butik, Fajrin tidak ingin workshop mau pun butik pakaian hasil rancangan Divya berada jauh dari rumah mereka. Bahkan Divya mulai memperkerjakan beberapa orang untuk membantunya.


Pernikahan mereka berjalan tanpa ada riak yang berarti kalau pun ada pertengkaran, itu pun bukan pertengkaran besar tapi hanya selisih paham kecil yang pada akhirnya membuat Fajrin dan Divya melakukan proses pelebaran dinding rahim.


Hingga pada suatu sore setelah mereka sholat Magrib berjamaah, ponsel Fajrin berdering berkali-kali. Membuat Fajrin dan Divya heran siapa yang menghubunginya di saat-saat seperti ini.


“ ayang.....bang Azkar “ ucap Divya sambil menekan layar ponsel Fajrin.


Fajrin mendengarkam suara Askar, seketika kulit wajah Fajrin menjadi pucat pasi.


“ ayang..... ada apa? Ada kabar apa? “ tanya Divya mulai panik karen Fajrin tidak menjawab pertanyaannya.


Kedua mata Fajrin perlahan menjadi berkaca-kaca membuat Divya menjadi panik, tiba-tiba Fajrin menjatuhkan ponselnya dan tangan kanannya memegang sudut lemari pakaian untuk menahan tubuhnya agar tidak tersungkur ke lantai. Divya semakin panik melihat Fajrin seperti ini tangan kanannya mencoba mengambil ponsel Fajrin sementara tangan kirinya mencoba menahan tubuh Fajrin agar tetap berdiri.


“ Assalamu'allaikum bang.... ada berita apa? “ suara Divya terdengar panik di telinga Azkar.