My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 236 USAHA DAVIS



Setiap hari Fajrin menerima pesan dari Afkar tentang tumbuh kembang kedua keponakkannya yang terkadang berupa pesan gambar atau pun pesan video, sedikit banyak membuat Fajrin terhibur dan tersenyum. Divya sangat senang melihat perubahan suasana hati Fajrin yang cukup terhibur dengan melihat pesan-pesan dari Afkar, tapi terkadang terbersit rasa sedih juga kecewa kenapa sampai saat ini dirinya belum ada tanda-tanda kehamilan sama sekali.


“ sayang... lihat ini.... mereka sudah bisa tengkurap..... “ ucap Fajrin senang sambil memperlihatkan layar ponselnya yang menampilkan video singkat kedua bayi kembar Afkar dan Nara.


Divya tersenyum tipis melihat kedua bayi kembar yang mulai bisa tengkurap dan berbalik sendiri, tapi raut wajah Divya berubah menjadi sedih bila mengingat keadaannya yang belum juga hamil.


“ ayang.... kapan hamil..... “ suara Divya terdengar sedih.


Membuat Fajrin menarik nafas panjang, meletakkan ponselnya disembarang tempat dan memeluk Divya.


“ sabar ya.... In Shaa ALLAH kita juga akan memiliki bayi bayi lucu seperti mereka.... yang penting ihktiar dunia dan doa kita tidak pernah putus “ ucap Fajrin sambil mencium puncak kepala Divya.


Ucapan Fajrin sedikit menghibur Divya tapi tetap saja tidak membuat Divya tenang dan membuatnya teringat akan kejadian di New Delhi.


“ apa mungkin minuman itu memberi efek negatif seperti ini..... “ gumam Divya dalam hati.


Minggu berganti minggu hingga berganti bulan, kesibukan Fajrin dan Divya semakin banyak. Butik yang menjadi satu dengan workshop yang berada tepat di sebelah kiri rumah mulai melakukan transaksi jual beli bahkan Helga juga mulai membuka beberapa butik khusus pakaian hasil rancangan Divya di Kualalumpur dan Penang. Meski pun ada Liam juga Elena membantu Divya, tetap saja Divya semakin sibuk. Kesibukan Divya membuatnya melupakan masalah kehamilan yang dia inginkan. Hingga Davis menghubunginya menanyakan tentang cucu dari mereka.


“ belum pi..... doakan kami pi..... kami tetap berusaha pi.... mungkin ALLAH menginginkan kami untuk lebih bersabar “ ucap Divya sambil memastikan model apa saja yang Helga inginkan di butiknya.


sejak itu tidak hanya sekali dua kali Davis menanyakan tentang kehamilan Divya, dan berkali-kali pula Davis mendapatkan jawaban yang sama dari Fajrin juga Divya. Hingga membuat Davis tidak sabar terbang ke Jakarta untuk membujuk Divya juga Fajrin untuk melakukan pemeriksaan kualitas benih Fajrin juga telur Divya. Meninggalkan bisnisnya yang masih terseok-seok memulihkan diri setelah badai akibat dari banyaknya berita skandal para keturunan Prakash dan Lohia.


Kedatangan Davis ke Jakarta tentu tidak hanya untuk membujuk Fajrin juga Divya agar bersedia memeriksakan diri tapi juga untuk melakukan negosiasi agar Fajrin bersedia menjadi penghubung dirinya dengan Rosenkrantz. Kali ini Davis datang sendiri ke Jakarta karena beberapa orang pengawal yang sebelumnya selalu menemaninya sengaja tidak dia bawa serta. Davis berusaha mengurangi banyak pengeluaran baik pengeluaran pribadi mau pun perusahaan.


Sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah, seseorang masuk tanpa mengucap salam dan dengan perlahan melangkah masuk ke dalam rumah yang terlihat sepi. Tentu saja suasana rumah terlihat sepi karena Fajrin berada di kantor sedangkan Divya berada di workshop bersama Elena juga Liam.


“ kemana semua orang..... ini benar rumah mereka.... tapi kemana Divya.... pintu depan tidak terkunci dibiarkan begitu saja “ gumam Davis heran sambil meletakkan sebuah koper ukuran sedang tepat di bawah anak tangga.


Davis melangkah masuk ke beberapa ruangan sambil mengedarkan pandangan kesekeliling.


“ rumah ini terasa nyaman meski pun tanpa hiasan mahal...... “ ucap Davis sambil memegang sebuah pintu ruangan.


Dan saat tangan kanan Davis mendorong pelan pintu itu, terdengar suara mesin membuat Davis membuka lebar pintu tersebut. Seketika kedua mata Davis membulat sempurna melihat isi ruangan tersebut.


“ apa ini...... ? “ gumam Davis penuh tanya dan sangat heran melihat isi ruangan yang di luar perkiraannya.


Untuk beberapa detik, Davis sangat heran juga bertanya-tanya melihat seluruh isi ruangan tersebut yang luar pemikirannya. Tapi saat hendak melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan tersebut, seseorang menghentikannya.


Davis mencari asal suara dan melihat Liam sudah berdiri tidak jauh dari ujung anak tangga.


“when are you coming, Sir?..... Sir, are you looking for Miss Divya? (kapan tuan datang?...... Apa tuan mencari nona Divya?) “ pertanyaan Liam membuat Davis menutup pintu ruangan tersebut.


Davis memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan menganggukan kepala sekali.


“ please come with me sir..... Miss Divya is at the workshop (silahkan ikut saya tuan..... nona Divya berada di workshop) “ ucap Liam sambil mengarahkan tangan kanannya sebagai penunjuk jalan.


Davis mengikuti arah yang Liam tunjuk. Mereka melangkah menuju workshop melewati pintu belakang yang sudah Fajrin buat sebagai pintu penghubung antara rumahnya dan workshop.


Sekali lagi pemandangan yang membuat Davis terkejut juga tidak percaya dengan kedua matanya, kesibukkan beberapa orang yang sedang memotong menjahit mengemas beberapa kain dan juga pakaian yang siap untuk di kirim. Liam yakin Davis tidak percaya dengan apa yang dia perlihatkan, Liam menjelaskan keadaan workshop ini mulai pertama kali Fajrin membeli rumah ini hingga menjadi seperti ini. Sesekali Davis menatap Liam dengan tatapan tidak percaya, tapi Liam berhasil meyakinkan Davis dengan memperlihatkan beberapa label dan kemasan yang bertuliskan inisial Divya.


Liam membawa Davis menuju sebuah ruangan yang Divya pakai untuk membuat sketsa rancangannya, terlihat beberapa tumpuk buku sketsa tertata rapi di sebuah lemari kaca dan Elena yang sibuk memeriksa beberapa kotak pakaian yang siap di kirim.


“ miss....look who visited us (nona.... lihat siapa yang mengunjungi kita) “ ucapan Liam belum membuat Divya memperhatikannya.


“ stop giving me guesses...... or I'll ask my husband to forbid you to go on a date tonight (berhenti memberiku tebakan...... atau aku akan meminta suamiku melarang kalian pergi kencan malam ini) “ ucap Divya dengan kedua mata dan kedua tangan yang sibuk dengan sketsanya.


Liam menarik nafas panjang dan mendapat tatapan tajam dari Elena.


“ miss take a look here for a second (nona lihatlah kemari sebentar) “ suara Liam terdengar sedih juga lemas.


Davis memberi isyarat tangan agar Liam juga Elena diam, Davis melangkah tanpa suara mendekati meja Divya dan berdehem sekali.


“ Liam...... “ suara Divya sedikit meninggi.


Davis tersenyum melihat beberapa kertas yang bertebaran di atas meja, sekali lagi Davis berdehem untuk menarik perhatian Divya.


Divya merasa curiga dengan suara dehem tersebut dan menarik nafas panjang, saat mengalihkan pandangan kedua matanya yang terlalu fokus pada kertas sketsa ke sumber suara deheman tersebut. Seketika Divya terkejut mendapati Davis sudah berdiri tepat di depan mejanya.


“ papi.... kapan papi sampai.....? kenapa tidak mengirim pesan....? kami bisa jemput papi di bandara.... “ ucap Divya sambil berlari kecil mendekati dan segera memeluk erat Davis.


Mereka berpelukan melepas rasa rindu, membuat Elena juga Liam dengan perlahan keluar dari ruangan meninggalkan ayah dan anak yang saling melepas rindu.