
Mereka berempat makan pagi dengan rasa canggung terutama Fajrin dan Liam, Fajrin berkali-kali menggelengkan kepalanya menghilangkan bayangan Divya yang berada di atas punggungnya. Liam berkali-kali memejamkan matanya menghilangkan bayangan dirinya yang hampir saja mencium bibir Elena, sedangkan Elena menatap Divya dengan tatapan tidak percaya bahwa dia mengingkari janjinya tidak tidur di ranjang. Divya yang tidak mengingat bahwa telah tidur di punggung Fajrin menatap Elena dengan heran.
“ beautiful morning..... you guys aren't as noisy as usual (pagi yang indah..... kalian tidak berisik seperti biasanya) “ ucap Divya sambil memasukkan sepotong roti keju.
Fajrin menarik nafas panjang heran mendengar ucapan Divya. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi dan ini berarti Fajrin harus segera kembali ke Jaipur agar siang hari sudah sampai di apartemen.
Fajrin memakai sepatu boots, jaket dan juga sarung tangan yang tidak pernah dia lupakan karena hanya sarung tangan ini yang bisa membantunya mencegah Divya berbuat yang aneh-aneh saat Divya sadar.
“ kak.... tidak bisakah kembali nanti sore saja.... Divya masih kangen kak Fajrin. “ ucap Divya dengan cemberut.
“ miss.... wasn't last night is enough? it's so hard for us to wake you up (kangen.... memangnya semalam belum cukup? Sampai sulit sekali kita bangunkan). “ sindir Elena yang masih sedikit jengkel dengan sikap Divya yang ingkar janji.
“ not enough (belum) “ jawab Divya singkat dan sukses membuat Fajrin tersedak oleh ludahnya sendiri.
Fajrin berdiri mengabaikan permintaan Divya mengambil tas punggung dan langsung memakainya, Fajrin tidak ingin kejadian beberapa beberapa bulan lalu terjadi lagi.
“ thank you for the food and thank you for accompanying me to stay here even though there was a little accident that a little embarrassing. I hope you have a pleasant trip next week, I'm sorry if I've bothered you (terima kasih atas makanannya dan terima kasih kalian sudah menemani saya menginap disini meskipun ada sedikit kecelakaan kecil yang sedikit memalukan. Semoga minggu depan perjalanan kalian menyenangkan, maafkan saya bila saya sudah merepotkan kalian). “ ucap Fajrin berpamitan pada Elena juga Liam.
Divya semakin cemberut karena merasa di abaikan Fajrin.
“ Haven't left for Jakarta.... He has already ignore me (belum juga sampai di Jakarta.... kak Fajrin sudah mengabaikan aku). “ ucap Divya cemberut membuat Elena segera menutup mulut Divya dengan tangan kanannya.
“ no, you didn't bother us.... we were the ones who bothered you. Sorry for bothering you and thank you for helping us remind Divya (tidak, anda tidak membuat kami repot.... justru kami yang sudah merepotkan anda. Maafkan kami sudah membuat anda kerepotan dan terima kasih anda sudah membantu kami mengingatkan Divya). “ ucap Elena yang masih menutup mulut Divya dengan tangan kanannya dan memaksa Divya untuk menundukan kepala dengan tangan kirinya.
Fajrin tersenyum melihat tingkah mereka.
“ Assalamu'allaikum “ salam Fajrin dan membuka pintu unit Divya.
“ Wa'alaikumsalam “ balas Divya dengan suara tertekan karena mulutnya masih tertutup oleh tangan Elena.
“ Liam, you escort Mr. Fajrin until he gets into his car (Liam, kamu antar pak Fajrin sampai beliau naik ke mobilnya) “ perintah Elena membuat Divya melihatnya dengan sedih.
Saat Liam sudah keluar dan menutup pintu, Elena segera menjauhkan tangannya dari mulut Divya dan berlari menahan pintu agar Divya tidak membuka pintu dan mengejar Fajrin.
“ Divya.... jangan seperti ini.... kamu sudah berbuat memalukan pada Pak Fajrin “ ucap Elena yang mulai tidak tahan dengan sikap Divya.
“ memalukan? Aku tidak melakukan apa-apa..... aku tidur di ranjangku dan kak Fajrin di bawah dengan kantung tidur..... apa kamu marah karena aku tidur di ranjang? “ ucap Divya yang masih tidak bisa mengingat bagaimana dia bisa berada di atas punggung Fajrin.
Elena kesal dan menghempaskan pahanya di sofa membuat Divya mengikutinya dengan senyum-senyum sendiri.
“ kamu tidak ingat apa yang sudah kamu lakukan pada pak Fajrin? “ Divya menjawab pertanyaan Elena dengan menggelengkan kepala.
Elena menepuk dahinya heran melihat Divya.
“ memangnya apa yang sudah aku lakukan pada kak Fajrin? “ tanya Divya dengan percaya diri bahwa dia tidak melakukan apa-apa pada Fajrin.
Saat Elena hendak menceritakan, tiba-tiba Liam masuk dan membawa sebuah makan kecil khas India. Elena dengan isyarat tangan menyuruh Liam duduk di sampingnya.
“ Liam..... tell her what you saw this morning.... tell her every detail what you’ve seen don't you ever try to hide anything.... watch out if you try to hide something from me (Liam..... ceritakan apa yang sudah kamu lihat tadi pagi.... ceritakan dengan detail jangan ada satu pun yang kamu sembunyikan.... awas kalau sampai kamu menutupi sesuatu dariku) “ ancam Elena membuat Liam menarik nafas panjang.
Akhirnya Liam menceritakan semua secara detail apa yang dia lihat pagi tadi hingga bagaimana Elena membantunya memindahkan Divya dari atas punggung Fajrin ke ranjang. Divya yang awalnya tidak percaya dengan cerita Liam berubah menjadi percaya saat samar-samar mengingat sesuatu, bukannya membuat Divya malu mengingat itu semua tapi justru membuat Divya semakin bahagia karena sekali lagi dapat berada lebih dekat dengan Fajrin meskipun hanya terpisah oleh kantung tidur dan pakaian masing-masing.
“ Liam... are you serious about your story..... or is it just your illusion (Liam... kamu sungguh-sungguh dengan ceritamu itu..... atau itu hanya ilusimu saja)? “ tanya Divya pura-pura tidak percaya, padahal dia sudah sedikit banyak mengingat bagaimana dia bisa berada di punggung Fajrin.
“ I'm so embarrassed to see you like that.... I feel like I'm not seeing the Divya that I know (aku malu sekali melihatmu seperti itu.... aku seperti melihat bukan Divya yang aku kenal) “ ucap Elena sambil menggelengkan kepala.
Divya merasa tidak ada yang salah dengan tertidur di punggung Fajrin.
“ but thankfully..... next week we will return to Kuala Lumpur.... I have time to rest my brain and body.... before your next contract (tapi syukurlah..... minggu depan kita kembali ke Kualalumpur.... aku ada waktu untuk mengistirahatkan otak dan tubuhku.... sebelum kontrak kamu yang berikutnya). “ ucap Elena sambil menggeser tempar duduk karena merasa bahwa tangan Liam berada tidak jauh dari bahunya.
Divya kembali sedih mengingat rencana kepulangannya yang sudah dekat karena itu berarti dia tidak akan bisa bertemu Fajrin untuk beberapa bulan kedepan. Divya menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan kasar.
“ if only last night I really could sleep with him (kalau saja semalam bisa benar-benar tidur dengan kak Fajrin). “ ucapan Divya membuat Elena melempar sebuah bantal kursi dan memukulinya berkali-kali.
Divya tertawa bahagia karena berhasil membuat Elena juga Liam terkejut. Liam hanya melihat mereka berdua dengan menggelengkan kepala dan memilih kembali ke unitnya meninggalkan mereka berdua, yang semakin ramai dengan aksi saling lembar bantal kursi seperti dua orang remaja yang sedang bercanda.