
Begitu mendapat ijin dari Azkar untuk kembali ke Jakarta, Fajrin segera kembali ke Jakarta. belum lama di Jakarta, Fajrin mendapat kabar bahwa Afkar akan khitbah Nara antara bahagia juga terkejut menjadi satu. Fajrin bahagia karena satu tanggung jawabnya sudah terselesaikan dengan baik, terkejut karena Fajrin tidak mengikuti proses ta'aruf Nara.
“ Roby.... kamu panggil Fajrin kemari “ ucapan tegas Azkar membuat Roby segera melangkah ke lift dan menuju ruang kerja Fajrin.
Dengan sedikit berlari Roby masuk ke ruangan kerja Fajrin.
“ iya.... nanti telepon lagi... “ ucap Fajrin yang sedang menerima panggilan dari Divya.
“ bro.... di panggil big bos.... cepat ikut aku “ ucap Roby yang terburu-buru dan menarik lengan kiri Fajrin.
Fajrin hanya mengikuti Roby dengan bingung dan belum sempat mematikan sambungan teleponnya dengan Divya. Fajrin memasukan saja ponselnya ke dalam saku celana.
“ ada apa bang Azkar memanggil? “ tanya Fajrin heran.
“ tidak tahu, tapi terlihat sangat penting sekali.
Beberapa kali big bos menerima panggilan dari bos Afkar.... aaahhh..... sudahlah aku bingung menjelaskan.... nanti kamu juga tahu sendiri “ ucap Roby bingung.
Divya sayup-sayup mendengar ucapan Roby, Fajrin dan Roby masuk ke ruangan Azkar.
“ Assalamualaikum “ salam Fajrin saat sudah berada di dalam ruangan Azkar.
“ wa'alaikumsalam “ balas Azkar.
“ ada apa bang? “ tanya Fajrin heran.
“ Afkar mau mengucapkan ijab qobul “ ucapan Azkar yang singkat membuat Fajrin terkejut juga senang.
Terkejut karena akan menikahkan adiknya dengan cara yang singkat tanpa ada pesta apa pun, senang karena tanggung jawab sebagai wali nikah akan terselesaikan dengan cepat. Fajrin segera mengeluarkan ponselnya dan ingat belum mematikan sambungan telepon Divya, Fajrin segera mematikan sambungan telepon Divya dan menghubungi Nara tapi berkali-kali tidak tersambung yang akhirnya memutuskan menghubungi satya.
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya Afkar dan Barra masuk ke ruangan Azkar juga Dean.
“ Assalamualaikum “ salam Afkar dan Barra bersamaan
“ wa'alaikumsalam “ balas Fajrin dan Azkar bersamaan.
“ kita lakukan sekarang apa sudah siap semua? “ tanya Afkar yang terlihat sedikit gugup tapi dia berusaha menutupinya.
Untuk beberapa menit kedepan seluruh pria yang berada di ruangan Azkar terlihat sangat serius terutama Fajrin dan Afkar. Setelah Afkar mengucap kalimat ijab kabul dan sebelum pergi ke Oslo, Afkar memberikan sebuah cincin dan kartu bank pada Fajrin untuk Nara.
Fajrin terduduk di sofa menatap cincin dan kartu bank pemberian Afkar, tak terasa air matanya menetes karena bahagia bisa menikahkan adiknya dengan pria yang baik. Azkar menepuk bahu Fajrin untuk menenangkan, Roby yang sedari tadi berdiri melihat sahabatnya meneteskan air mata bahagia ikut meneteskan air matanya.
“ satu tanggung jawab sudah kamu selesaikan dengan baik, sekarang hanya perlu menjaga Nara sampai Afkar menjemputnya atau Nara menyusul Afkar “ ucap Azkar menenangkan Fajrin.
Fajrin hanya bisa menganggukan kepala saja dan mengusap air matanya.
Fajrin menarik nafas panjang bingung memulai dari mana menceritakan pada Azkar, Azkar paham bahwa Fajrin tidak bisa di paksa untuk langsung terbuka. Dengan isyarat tangan Azkar meminta Roby keluar dari ruangannya.
“ kalau kamu belum siap bercerita... jangan paksakan diri untuk bercerita.... tapi ingat saat kamu membutuhkan orang untuk mendengar ceritamu.... cari aku. “ ucap Azkar dan beranjak dari sofa.
“ bang, bisakah dalam dua hari ke depan kita berbicara? Jujur aku bingung mau memulai cerita dari mana. “ ucapan Fajrin membuat Azkar kembali mendekatinya.
“ bagaimana kalau setelah sholat Jumat..... bukankah minggu ini rekan-rekan pengurus masjid belum mendapatkan seorang ustad untuk menjadi imam Sholat, bagaimana kalau kamu saja yang menjadi imam juga sebagai pemberi khotbah? “ ucapan Azkar membuat Fajrin heran karena tidak biasanya Azkar memintanya menjadi Imam sekaligus pengisi khotbah jumat.
Fajri menatap Azkar sedikit curiga mencari tahu apakah Azkar ada maksud tersembunyi.
“ jangan melihatku seperti itu.... sudah sana kembali ke ruangan kamu... selepas Sholat jumat kamu ceritakan semua “ ucap Azkar sambil menarik lengan Fajrin dan memaksanya keluar.
Setelah menutup pintu, Azkar segera mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada seseorang.
“ semoga saja bisa hadir di sholat jumat “ gumam Azkar dalam hati.
5 menit sebelum jam pulang kantor, Fajrin menerima sebuah pesan singkat sesaat kemudian tersenyum membaca pesan itu dan membalas pesan itu.
Setelah menempuh perjalanan dengan motor selama 50 menit dan berhenti sebentar di masjid untuk sholat Magrib, Fajrin menghentikan motornya tepat di depan sebuah pintu gerbang setinggi 2 meter lebih sebuah rumah. Fajrin sedikit ragu untuk menekan bel rumah, karena ini pertama kalinya Fajrin bertamu di rumah ini.
Dengan menarik nafas panjang Fajrin memberanikan diri menekan bel pagar dan menatap kamera CCTV, setelah menunggu beberapa menit pintu gerbang terbuka seorang pria setengah baya menyambutnya dan menyuruhnya masuk. Fajrin menuntun motornya dan memarkir tidak jauh dari pos keamanan rumah tersebut dan tersenyum lebar menyapa seseorang yang dia kenal.
“ Sir, how do you do (bagaimana kabar anda)? “ salam Liam membuat Fajrin tersenyum.
“ Alhamdulillah its fine..... Is Divya in here (Alhamdulillah sehat..... apa Divya ada)? “ tanya Fajrin dan membuat Liam segera menunjukkan arah untuk masuk ke dalam rumah.
Divya sudah menceritakan pada semua penghuni rumah ini juga pada para pengawalnya bahwa ada seseorang yang akan dia kenalkan, Liam sudah dapat menebak siapa yang Divya maksud. Fajrin duduk di sofa ruang tamu menunggu Divya dengan Liam masih berdiri tidak jauh dari Fajrin duduk. Fajrin sedikit gugup karena ini pertama kalinya dia melihat Divya setelah memutus kontak hingga kembali dari Lombok, ada rasa aneh di dalam dadanya yang tidak bisa dia hilangkan begitu saja.
“ sekarang giliran kamu... giliran kamu memantapkan hati untuk masa depan kamu sendiri “ gumam Fajrin dalam hati menguatkan dirinya sendiri.
Fajrin tertunduk menatap ujung ibu jarinya yang sedikit mengintip dari balik kaos kaki.
“ hari ini terakhir aku memakaimu, sepulang dari sini aku akan membeli yang baru..... tapi kalau kamu di jahit sedikit masih bisa aku memakaimu “ gumam Fajrin dalam hati sambil menggerakkan kedua ibu jari kakinya yang sedikit mengintip di balik kaos kaki.
Tanpa Fajrin sadari saat sibuk memperhatikan ibu jari kakinya, seseorang sudah berdiri di depannya dengan anggun.
“ Ayang..... sudah lama menunggu? “ suara yang sangat dia kenal dan mungkin juga sangat dia rindukan.
Seketika Fajrin berdiri dan terlihat jelas sangat gugup hingga hanya mampu melihat sosok tersebut setinggi pinggang saja. Fajrin memegang dadanya yang berdetak tidak menentu berusaha menenangkan diri.
“ Assalamualaikum.... bagaimana kabar Divya “ salam Fajrin sedikit canggung dan malu.
“ Divya.... sudah jangan membuatnya semakin malu..... nenek sudah membuat makan malam untuk tamu kamu.... ayo langsung makan saja.... nanti keburu dingin “ ucapan Nenek Ina membuat Fajrin sedikit tenang karena ternyata Divya tidak sendiri menemuinya.