
Menunggu seseorang tanpa melakukan apa pun dan hanya duduk termenung hingga orang itu datang adalah hal yang paling menyebalkan. Begitu juga dengan Fajrin yang saat ini menunggu Nara sedang melaksanakan ujian masuk ke sebuah universitas, berkali-kali Fajrin menghela nafas panjang dan merubah posisi duduknya hanya untuk membunuh rasa bosan. berkali-kali melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya, waktu dua jam terasa lama seperti seharian menunggu.
“apa mereka para orang tua juga merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan?” gumam Fajrin sambil memandang dua orang tua yang sepertinya sedang menunggu anaknya seperti yang dia lakukan.
“aku harus tenang..... aku harus yakin bahwa adik akan di terima disini...... kalau aku tidak tenang bisa-bisa adik akan merasakan hal yang sama..... aku harus mencari kesibukan supaya bisa tenang" gumam Fajrin sambil berdiri dan melangkah ke area parkir motor.
Fajrin memacu motor tuanya ke arah kantor, tempat yang saat ini bisa membuat otak dan tubuhnya tenang serta sibuk. Seperti biasanya Fajrin memarkir motornya di basement satu, tanpa dia sadari ada seseorang yang memperhatikannya. Fajrin melangkah ke ruang lift dan berdiri di depan lift, seseorang mengikutinya. Fajrin tak menyadari orang itu karena saat ini masih memikirkan adiknya. Pintu lift terbuka mereka masuk, Fajrin menekan angka dimana ruangannya berada. Sampai di lantai tujuannya Fajrin melangkah keluar dan berjalan untuk ke ruangannya.
“Bro.....” tiba-tiba Roby menghentikan langkahnya.
Fajrin menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya ke belakang melihat Roby yang berjalan cepat ke arahnya.
“kenapa masuk? Status kamu masih cuti....” tanya Roby heran.
“kenapa? Tidak boleh aku kesini?” Fajrin balik tanya dan membuat Roby mati kutu.
“boleh..... ini kantor abang kamu..... “ canda Roby membuat Fajrin jengah.
Fajrin melangkah meninggalkan Roby yang bingung dengan sikap Fajrin.
“ini lebih parah dari putus cinta” gumam Roby yang sudah menyusul Fajrin.
“kenapa mengikuti aku..... pergi sana ke ruanganmu..... nanti di cari bang Azkar.... jadi batu kamu" canda Fajrin dengan kaku.
“big bos lagi berdua sama ustadzah..... jadi aman terkendali" canda Roby dan semakin membuat Fajrin jengah.
Fajrin menyibukkan diri dengan merapikan gulungan gambar desainnya, mengumpulkkan gulungan-gulungan itu berdasarkan nama project dan meletakkan di sebuah lemari yang berada tepat di belakang meja kerjanya.
“Bro..... maafkan ucapan mamaku..... papa berterima kasih dan juga minta maaf.... kalian datang bukannya di jamu dengan makanan tapi di jamu dengan pertengkaran orang tuaku" suara sendu Roby membuat fajrin menghentikan kegiatannya untuk beberapa detik.
“tidak apa-apa.... aku sudah memaafkan dan adikku juga sepertinya sudah melupakannya..... santai saja.... aku bisa mengerti kenapa ibu kamu bersikap demikian..... aku sadar hutangku baru bisa aku lunasi setelah lima tahun lebih dan sudah sepantasnya aku membayarnya lebih....”ucap Fajrin dengan santai seperti menghilangkan rasa sakit hati.
“bukan begitu maksudku..... bingung aku harus bicara apa padamu......” belum sempat Roby melanjutkan ucapannya seseorang mengetuk pintu ruangan Fajrin.
“pak Fajrin..... ada pak Yudha yang ingin bertemu.” Ucap seorang admin yang membantu pekerjaan administrasi di bagiannya.
Fajrin menganggukan kepalanya, memberi tanda untuk mempersilahkan Yudha masuk.
“selamat pagi pak Yudha.... ada keperluan apa bapak kemari?” salam Fajrin dengan santun.
Roby memandangi Yudha dari bawah hingga atas dan memasang wajah tidak suka.
“apa pak Fajrin ada waktu sebentar untuk kita berbicara?” tanya Yudha sambil mengendarkan pandangan ke seluruh ruangan Fajrin dan melangkah mendekati lemari yang menyimpan semua desain Fajrin.
“Silahkan.... hari ini saya bebas" ucap Fajrin mempersilahkan Yudha untuk mulai berbicara.
Yudha melihat Roby dengan tatapan tidak suka, Fajrin menyadari hal itu dan segera meminta Roby untuk keluar dari ruangannya.
“silahkan..... ada keperluan apa anda menemui saya" ucap Fajrin masih dengan santai dan sopan.
“kita bicara di luar kantor.... saya tunggu anda di restauran ini jam sebelas" ucap Yudha sambil meletakkan sebuah kartu nama Restauran.
“jam sebelas.... aduh.... “ Fajrin buru-buru mengejar Yudha.
“maaf pak Yudha.... kalau jam sebelas tiga puluh bagaimana? Jam sebelas saya masih ada sedikit keperluan....” ucap Fajrin sambil menahan pintu lift dengan tangan kanannya.
“baik...” ucap Yudha singkat dan menekan tombol untuk menutup pintu lift.
Pukul sepuluh lebih empat puluh lima menit Fajrin sudah berdiri di tempat dia menunggu Nara tadi pagi, dengan gelisah Fajrin berkali-kali melihat jam tangan keringat dingin mulai membasahi kaos polo warna abu-abu yang dia kenakan. Fajrin berusaha menenangkan diri dengan memainkan ponselnya, entah mengetik sesuatu entah bermain game minesweeper entah browsing.Setelah menunggu dengan gelisah akhirnya Nara keluar dengan mata berbinar-binar.
“kakak......” teriak Nara gembira saat melihat Fajrin sudah menunggunya.
Nara segera memeluk erat tubuh Fajrin.
“bisa?” tanya Fajrin singkat.
“Alhamdulillah bisa.....kenapa basah begini pakaian kakak?” tanya Nara sambil meraba punggung Fajrin.
“gerah” jawab Fajrin singkat dan menggandeng tangan Nara mengajaknya ke area parkir motor.
“ooo....”
“kira-kira..... masuk tidak?” tanya Fajrin yang sudah memindahkan tangannya ke bahu Nara karena ada seorang laki-laki yang akan lewat dan Fajrin tidak ingin laki-laki itu menyentuh adiknya meskipun tidak sengaja.
“Insya ALLAH masuk" ucap Nara yakin.
“Aamiin" ucap Fajrin singkat sambil memakaikan helm di kepala Nara.
“langsung pulang ya.....” pinta Nara sambil membetulkan posisi duduknya agar abaya dan hijabnya tidak masuk ke roda motor.
“mampir sebentar ke suatu tempat..... kakak ada janji sama rekan kerja" ucap Fajrin sambil menyalakan motornya.
Jarak kampus ke restauran tempat bertemu dengan Yudha kurang lebih lima belas menit, Nara melingkarkan tangan kanannya ke perut Fajrin untuk berpengangan sesekali Fajrin menepuk punggung tangan Nara seperti sedang menguatkan dirinya sendiri. Tepat pukul sebelas lebih dua puluh lima menit mereka sampai di sebuah restauran masakan jepang. Fajrin membantu melepas helm Nara dan menggenggam tangan Nara untuk mengikuti langkahnya. Fajrin berbicara pada seorang pelayan dan pelayan itu menunjukkan meja yang Fajrin maksud. Dari jauh Fajrin melihat jelas Yudha yang sedang duduk dengan seorang wanita berhijab, Fajrin tidak mengetahu wanita berhijab itu siapa karena posisi mereka membelakangi arah Fajrin berjalan.
“selamat siang pak Yudha" salam Fajrin dan membuat wanita berhijab itu sedikit terkejut terlihat jelas dari kedua bahunya yang terangkat sesaat.
“silahkan duduk” ucap Yudha dan mempersilahkan Fajrin duduk di depannya.
Fajrin menarik kursi untuk Nara yang tepat berhadapan dengan wanita berhijab itu. Fajrin melihat wanita itu sesaat dan menganggukkan kepala sekali untuk menyapanya.
“apa kalian saling mengenal?” tanya yudha pada wanita berhijab itu yang tak lain adalah istrinya, Sofia yang juga mantan pacar Fajrin.
“kami dulu satu kampus" ucap Fajrin singkat dan berusaha menjaga perasaan Yudha.
“ooo..... silahkan kalau pak Fajrin ingin memesan sesuatu.... saya yang akan membayar tagihannya" ucap Yudha dengan nada sombong sambil menggeser sebuah buku menu ke depan Fajrin.
“terima kasih.... adik mau makan?” ucap Fajrin sambil menyerahkan buku menu.
Nara melihatnya sesaat dan menggelengkan kepala memberi tanda bahwa Nara tidak tertarik dengan makanan jepang.