My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 75 MALL



“ kamu masih mau disini atau kembali ke apartemen? “ tanya Fajrin sambil menggandeng tangan Divya keluar dari Ballroom.


“ kak Fajrin mau kemana? Divya ikut “ pertanyaan Divya semakin membuat Fajrin bingung mau melakukan apa.


Dengan menarik nafas panjang Fajrin mencoba menjelaskan pada Divya.


“ kakak mau jalan sama mereka.... mereka ingin melihat-lihat kota ini.... apa kamu mau ikut juga dengan pakaian seperti ini? “ ucap Fajrin sambil menunjuk ke enam tim jakarta juga Jatinra yang sudah menunggu mereka di depan lift untuk naik ke kamar dan berganti pakaian santai.


“ ikut “ tanpa berpikir panjang Divya menjawab pertanyaan Fajrin.


“ baiklah “ Fajrin melangkah menuju lift yang terbuka karena tangan Muslim masih menahan sensor pintu lift.


“ do you guys have a plan where to go (kalian sudah ada rencana mau jalan kemana)? “ pertanyaan Fajrin membuat seluruh tim jakarta menunjuk Jatinra yang terlihat sibuk dengan ponselnya.


“ So where do you want to take us (jadi kamu mau membawa kita semua jalan kemana)? “ tanya Fajrin pada Jatinra yang masih belum sadar kalau semua mata tertuju melihat dirinya.


Andra menggerakkan sikunya untuk menyadarkan Jatinra.


“ where do you want to go (kalian semua mau kemana dulu)? “ tanya Jatinra kembali dan membuat tim jakarta hampir bersamaan menepuk dahi masing-masing.


“ you don't know where to go?.... then let's go to the mall first, it's impossible to take a woman out for a walk in party clothes and high heels (kamu belum tahu mau jalan kemana? Kalau begitu kita ke mall dulu, tidak mungkin membawa seorang wanita jalan-jalan dengan pakaian pesta dan sepatu berhak tinggi) “ ucap Fajrin membuat Jatinra tersenyum kecut tapi tidak dengan tim jakarta yang menahan tawanya.


Fajrin mengajak Divya juga Liam kembali masuk ke kamarnya, sementara tim jakarta masuk ke kamar masing-masing untuk berganti pakaian. Sementara Fajrin berganti pakaian di dalam kamar mandi dan Divya menunggunya dengan duduk di sofa. beberapa menit kemudian Fajrin keluar kamar mandi sudah berganti dengan celana jeans warna hitam dan kaos warna gagah di mata Divya. Tanpa sadar Divya berjalan mendekati Fajrin yang sedang memasang jam tangan di pergelangan tangan kanannya.


“ Divya.... “ ucap Fajrin menyadarkan Divya yang masih saja berjalan mendekati Fajrin.


Fajrin bukannya bergeser dari posisinya berdiri saat ini tapi justru menghadap Divya, semakin membuat Divya ingin sekali memeluk tubuh Fajrin. Saat Divya semakin dekat dengan sigap Fajrin mengambil sebuah handuk dengan tangan kirinya dan menutupi wajah Divya, seketika Divya tersadar. Tangan kiri Fajrin masih memegang dahi Divya dengan batas handuk agar telapak tangannya tidak menyentuh kulit wajah mau pun rambut Divya.


“ kenapa kak Fajrin menutupi wajah Divya dengan handuk? “ ucap Divya yang berusaha menyingkirkan handuk dari wajahnya, tapi sia-sia karena tangan Fajrin menenahannya untuk tetap berada di kepala Divya.


Liam yang melihat perlakuan Fajrin terhadap Divya kali ini tidak bisa menahan tawanya hingga membuatnya harus menutup mulut dengan tangan kanannya.


“ Liam... dare to laugh I kick you (Liam... berani tertawa aku tendang kamu) “ ucap Divya dengan kesal.


“ sudah sadar? “ tanya Fajrin pelan membuat Divya menganggukan kepalanya


“ bagus..... sekarang kakak lepas “ ucap Fajrin sambil meraih sebuah jaket kulit yang tidak jauh dari jangkauan tangan kanannya.


“ Lihat saja tidak boleh. “ ucap Divya cemberut.


Fajrin menarik nafas panjang sambil memakai jaketnya.


“ sepertinya apa yang tadi kakak jelaskan tidak ada yang masuk ke otak kamu “ ucap Fajrin sambil menggelengkan kepalanya heran melihat Divya yang terkadang terlihat penurut, kadang manja tapi kadang juga sangat antusias.


Di depan Lift sudah menunggu tim jakarta juga Jatinra, mereka melihat Fajrin dengan tidak percaya karena masih bisa menahan diri tidak menyentuh Divya sedikit pun.


“ let's go to the mall for a while, let her change first (kita ke mall sebentar, biar dia berganti pakaian dulu) “ ucap Fajrin membuat Jatinra menganggukan kepalanya.


Jatinra mengajak mereka untuk masuk ke sebuah mall yang hanya membutuhkan waktu delapan menit dengan jalan kaki, Divya yang mengenakan sepatu berhak tujuh centimeter masih bisa berjalan dengan santai tapi saat masuk ke dalam mall. Tiba-tiba keseimbangan Divya terganggu sehingga membuat tubuhnya jatuh disamping tepat mengenai Fajrin, untung saja Fajrin sigap dengan kedua tangannya Fajrin menahan kedua lengan Divya.


“ makanya jangan pakai sepatu berhak tinggi.... jadi susah jalan. “ ucap Fajrin sambil memapah Divya dengan masih memegang kedua lengan atas Divya dari samping kiri.


Mereka masuk ke sebuah butik yang khusus menjual brand Vero Moda.


“ berapa ukuran sepatu kamu? “ tanya Fajrin sambil melihat beberapa sepatu berjenis flat shoes.


Divya memberitahu Fajrin ukuran sepatunya dengan isyarat tangan, Fajrin mengambil dua pasang sepatu dan menyerahkan pada Divya untuk Divya coba.


“ kamu coba ini dulu “ ucap Fajrin yang sudah meletakkan dua pasang sepatu berjenis flat shoes.


“ pak, biar kekasih bapak yang memilih sendiri “ bisik Andra.


“ kalau dia yang memilih sendiri.... nanti yang dia pilih sepatu itu “ ucap Fajrin sambil menunjuk ke arah sepatu berhak dua belas centimeter.


Andra menahan tawa melihat sikap Fajrin yang sedikit protektif.


“ muat kak “ ucap Divya pelan tapi terdengar jelas oleh Fajrin.


“ kalau pakaian kamu pilih sendiri, kakak tidak tahu ukuran kamu. “ ucap Fajrin sambil menenteng sepatu Divya yang berhak tinggi.


Seorang pelayan mengikuti langkah kaki Divya dan Fajrin berjalan di belakang pelayan tersebut, sementara Jatinra dan yang lain menunggu dengan berdiri di depan butik.


Berkali-kali Divya mencoba dress dan blouse juga bawahan tapi berkali-kali juga Fajrin menggelengkan kepalanya, karena menurut Fajrin terlalu terbuka. Entah terbuka di area dada atau lengan atau perut atau bahkan bawahan yang terlalu pendek.


“ terus Divya pakai yang mana? Kalau seperti ini apa sebaiknya Divya tidak memakai baju saja “ ucap Divya yang mulai cemberut.


Seketika Fajrin terlihat gugup dan canggung mendengar ucapan Divya yang cukup berani, beruntung pelayan tadi tidak mengerti bahasa Indonesia jadi tidak terlalu membuat Fajrin salah tingkah.


“ kalau sudah halal boleh tidak pakai. “ entah Fajrin sadar atau tidak dengan ucapannya, tapi sudah cukup membuat Divya tersenyum bahagia karena berhasil membuat Fajrin gugup.


“ jadi kapan Divya halal buat kakak? “ tanya Divya membuat Fajrin semakin gugup.


Fajrin menghembuskan nafas panjang dan memijat pelipisnya.


“ berputar kesini lagi.... sudahlah kamu pakai pakaian sesuka kamu saja. “ ucap Fajrin sambil memalingkan badan menghindari tatapan mata Divya.