
Zulian berdiri dan hendak keluar dari ruangan Azkar, tapi Yudha masih duduk dan tidak terima dengan mutasinya ke Balikpapan. Saat ini di pikiran Yudha hanya bagaimanan meyakinkan Azkar agar dia bisa tetap di kantor cabang Jakarta dan tidak memperdulikan apa yang akan Zulian lakukan terhadap pernikahannya.
“pak Azkar..... beri saya satu alasan kenapa saya harus pindah ke balikpapan. Saya terima bapak menurunkan jabatan saya karena aksi Iwan atas dasar hubungan keluarga kami, tapi pindah ke Balikpapan itu sama saja menjauhkan saya dengan adik dan kedua orang tua saya.” Ucap Yudha mulai emosi.
“yakin..... anda ingin tahu alasan saya memindahkan anda ke cabang Balikpapan?” tanya Azkar meyakinkan Yudha sekali lagi.
Azkar berdiri dan mengambil laptop yang berada di meja kerjanya untuk dia perlihatkan pada Yudha, Zulian melihat Azkar dengan heran. Fajrin terdiam memikirkan alasan bila Azkar bertanya tentang apa yang sudah dia dan Nara lakukan.
“lihat ini" ucap Azkar tegas sambil menunjukkan layar laptopnya pada Yudha.
Seketika tubuh Yudha menegang menahan rasa malu dan takut, Zulian yang hanya bisa melihat dari tempatnya berdiri segera mendekati laptop Azkar untuk melihatnya lebih dekat. Seketika tubuh Zulian lemas dan terduduk di sebelah Fajrin.
“Astagfirullah..... Yudha...” ucap Zulian pelan sambil mengusap kasar wajahnya dengan tangan kiri.
“papa malu..... Azkar sudah berbaik hati menerimamu menduduki posisi yang sekarang tapi kamu tidak amanah sama sekali. Kamu malah mendukung perbuatan Iwan, jadi ini yang sumber kekacauan selama ini? Jadi ini yang membuat Fajrin dan tim-nya harus bekerja siang malam hingga weekend membuat desain baru..... papa kecewa sama kamu Yudha. Seharusnya kamu bisa memberi contoh yang baik buat kedua adikmu, tapi kamu malah melakukan perbuatan yang melanggar kode etik perusahan. Cepat kamu minta maaf pada Fajrin" ucap Zulian yang sudah putus asa dan merasa malu di hadapan Azkar juga Fajrin.
“dalam keadaan seperti ini.... papa masih sempat menyuruhku untuk minta maaf pada Fajrin? Papa tega sekali pada anak sendiri...... seharusnya papa lebih membela anak sendiri dari pria pengecut ini" ucap Yudha dengan rasa kecewa dan marah, seketika Zulian menampar pipi Yudha.
Yudha marah dan keluar ruangan membanting pintu dengan keras membuat Roby terkejut, Zulian masih menatap layar laptop Azkar tidak percaya bahwa Yudha yang mencuri desain Fajrin dan memberikannya pada Iwan. Meskipun Iwan mengubah beberapa bagian kecil tapi tetap saja itu karya Fajrin. Zulian keluar ruangan dengan lemas tanpa mengatakan apa pun pada Azkar dan Fajrin, dia sudah cukup malu dengan kelakuan Iwan dan sekarang Yudha sudah membuat kekacauan di perusahaan yang menjadi tempat mereka mengais rezeki.
Azkar diam hanya memandangi Fajrin menunggunya untuk menjelaskan semua ini, Fajrin tertunduk bingung hendak menjelaskan dari mana.
“siapa yang punya ide membuat perangkap seperti ini?” tanya Azkar yang masih menunggu Fajrin untuk berbicara.
“ide saya sendiri bang" ucap Fajrin singkat dan tegas.
Azkar menatapnya tidak percaya dan memperhatikan gerak gerik kaki Fajrin yang terlihat jelas sedang gugup.
“tidak mungkin kamu bisa membuat jebakan ini..... pasti Nara yang membuat semua jebakan ini di laptop kamu dan memasukkan juga di laptop milikku” ucapan Azkar membuat Fajrin melihat Azkar sesaat dan menyandarkan punggungnya dengan kasar di sandaran sofa.
“sepertinya tidak ada yang bisa kami sembunyikan dari abang.” Ucap Fajrin pelan dan menghembuskan nafas dengan kasar.
“cerdik sekali ide Nara..... baguslah aku ada bukti untuk memindahkan Yudha ke Balikpapan...... minimal di sana dia bisa belajar bagaimana membuat para klien percaya pada dirinya..... atau kalau dia melanggar kode etik perusahaan lagi..... aku akan memecatnya saja..... “ ucapan Azkar membuat Fajrin semakin lemas.
“bang.... hari ini aku pulang ke rumah ya...... aku bosan di apartemen.” Ucap Fajrin yang mulai ingat akan pesan Nara.
Fajrin melihat tangannya yang belum sembuh benar.
“tak apalah bang..... kalau Nara menangis minimal aku masih bisa memeluknya.... lagi pula dua bulan lagi aku sudah meninggalkan Nara lagi.... jadi aku ingin menghabiskan waktu sama Nara sebelum ke Jaipur.”
Akhirnya Azkar mengijinkan Fajrin untuk pulang dan Fajrin senang sekali karena bisa bertemu dengan adiknya lagi.
“bawa ini” ucap Azkar sambil menyerahkan sebuah paket yang bertuliskan nama Febyanara Maharani.
Fajrin melihat paket itu dengan heran, tapi saat melihat nama penerima segera dia tersenyum bahagia.
“punya Nara..... aku hampir lupa dengan paket ini..... terima kasih bang..... tapi kenapa bisa ada di abang?” ucap Fajrin heran.
“sepulang dari Ritz-Carlton ada mobil ekspedisi berhenti di lobi.... kurirnya kebingungan karena alamatnya benar tapi nama penerima tidak di kenal di kantor ini.... untung saja ada aku kalau tidak bisa kembali paket itu ke kantor bea cukai.” Jelas Azkar sambil menyerahkan sebuah paket lagi.
“ooooh....... begitu....terima kasih bang..... ini apa lagi?” tanya Fajrin heran karena Nara hanya mengatakan satu paket tidak dua paket.
“yang punya paket pasti tahu....” ucap Azkar yang sudah kembali duduk di kursi kebesarannya.
“terima kasih bang..... Assalamualaikum” ucap Fajrin dengan senang dan keluar ruangan.
Fajrin keluar ruangan dengan bahagia karena hari ini diizinkan pulang ke rumah dengan membawa dua buah paket untuk Nara, Roby melihat Fajrin heran dan hanya bisa bengong karena baru kali ini melihat wajah sahabatnya bisa tersenyum lebar dengan bahagia seperti tidak ada beban sama sekali mengingat banyak sekali tanggung jawabnya.
“sepertinya aku harus meminta bantuan Afkar untuk mengawasi setiap pergerakan Yudha.... kalau di Jakarta saja dia berani melakukan pencurian data tentu di balikpapan akan dengan mudah dia mencuri data.... apa lagi disana minim pengawasan kantor pusat" gumam Azkar sambil memikirkan ide pengawasan seperti apa yang akan dia jelaskan pada Afkar.
“kalau dia tidak mau..... aku minta Nara saja..... lagi pula sepertinya kemampuan Nara hampir sama seperti Afkar.” Gumam Azkar sambil melihat foto Nara saat mengenakan seragam olah raga SMP.
“kalau saja mereka berjodoh..... dapat dipastikan siapa yang akan mengejar duluan dan siapa yang akan dikejar..... tapi pada akhirnya yang paling posesif dapat aku tebak kalau mereka berjodoh.” Gumam Azkar sambil menyandingkan kedua foto di depannya.
“bagus juga kalau mereka bisa berjodoh..... aku doakan saja di sepertiga malam" gumam Azkar dalam hati memandangi foto Afkar yang dia dapat dari sebuah media elektronik dan foto Nara yang dia dapat dari helen saat masih menjadi ustadzah di Lampung tempat Nara sekolah.
Seketika senyum tipis terulas di bibir Azkar seperti mengharapkan sebuah keajaiban takdir.