My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 24 BUKU



Ini pertama kalinya Divya wudhu setelah mengenal make up, Ningsih membantu Divya menghilangkan make up di beberapa bagian yang rusak karena hari ini tidak terlintas dalam benaknya bahwa dia akan menyentuh air jadi Divya tidak memakai make up water proof.


“begini lebih baik" ucap Ningsih sambil membuang beberap tisu bekas make up Divya.


Divya memandangi dirinya yang tanpa make up di sebuah cermin yang dia pegang, memang terasa aneh tanpa make up dan baru kali ini Divya berada di luar rumah tanpa make up. Divya melangkahkan kaki mengikuti Ningsih, mereka memilih duduk di syaf ke tiga karena hanya syaf itu yang belum terisi penuh. Tepat pukul dua belas lebih lima, Fajrin mulai mengucapkan kalimat iqamah Divya tercengang mendengar suara merdu ini seketika bulu kudunya merinding. Setiap hari jumat Surendra Corp akan mendatangkan seorang Ustad untuk mengisi kajian selepas Sholat Jum'at, biasanya Fajrin yang akan menjadi Imam sholat Jum'at tapi kali ini Ustad yang mereka undang bersedia juga menjadi Imam Sholat.


Memang Sholat jumat tidak wajib bagi wanita tapi tidak ada salahnya wanita ikut sholat jumat karena selepas sholat jumat mereka tidak usah sholat Dhuhur lagi. Selepas Sholat jumat saat seorang Ustad hendak memulai ceramahnya, seperti yang sebelumnya Ustad ini akan meminta Fajrin untuk membacakan satu atau dua ayat.


“pak Fajrin tolong bapak bacakan surat enam puluh empat ayat dua puluh enam" pinta seorang Ustad pada Fajrin.


Saat Fajrin membacakan ayat sesuai permintaan Ustad, seketika bulu kudu di kedua tangan Divya berdiri dan permukaan kulit tangan dan kakinya serasa merinding mendengar suara Fajrin.


“Bismillahirrahmannirrahiim.... Al-khabīṡātu lil-khabīṡīna wal-khabīṡụna lil-khabīṡāt, waṭ-ṭayyibātu liṭ-ṭayyibīna waṭ-ṭayyibụna liṭ-ṭayyibāt, ulā`ika mubarra`ụna mimmā yaqụlụn, lahum magfiratuw wa rizqung karīm (Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji pula, dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik pula. Mereka yang dituduh itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka yang menuduh itu. Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia surga).” Suara Fajrin saat membacakan surat enam puluh empat ayat dua puluh enam membuat Divya tanpa sadar meneteskan air mata.


“ini belum seberapa, dulu sebelum beliau pergi ke Vietnam beliau sering sekali berbicara dengan adiknya hanya untuk membetulkan hapalannya.” Bisikan Ningsi semakin membuat Divya buru-buru menghapus air matanya dan merasa tidak ada apa-apanya untuk Fajrin lihat.


“kamu mengenal kak Fajrin?” bisik Divya.


“beliau bos di bagianku.... dulu aku kagum dengan beliau tapi setelah aku mengetahui bahwa beliau dekat dengan seorang wanita sholehah dan berhijab lebar, aku sangat iri dan membenci beliau tapi seiring waktu aku bisa memahami kenapa beliau tidak melihatku.


Pelan-pelan aku merubah caraku berhijab sampai dimana ada seorang pria yang selalu mengejarku, tapi pria itu bukan beliau. Awalnya aku sedih tapi pada akhirnya beliau juga yang menasehatiku untuk ihklas.” Jelas Ningsih dengan berbisik membuat Divya semakin merasa berkecil hati untuk mendapatkan perhatian Fajrin.


“apa aku harus mengubah cara berpakaianku agar kak Fajrin melihatku?” gumam Divya dalam hati yang mulai bimbang galau dan sedih.


Selesai kajian hingga takmir masjid gedung merapikan kain yang menjadi pembatas syaf pria dan wanita, Divya masih duduk termenung hingga Ningsih harus meninggalkannya sendiri. Dipta dan Roby melihat Divya tertunduk dengan kedua telapak tangannya menutupi wajah cantiknya, berdiri dan duduk di dekat Divya.


“kenapa sedih.... takut tidak sanggup bersaing dengan para staff wanita disini?” canda Roby membuat dia mendapatkan pukulan di lengan dari Divya.


“adik sudah melihat sendiri bagaimana sosok Fajrin.... dengan kebiasaan adik yang sekarang seperti ini bagaimana adik bisa mendapatkan hatinya, jangankan hati.... untuk membuat mata Fajrin menatap adik lebih dari satu detik saja tidak mungkin terjadi.” Ucap Dipta sambil menggelengkan kepalanya.


Tak terasa air mata Divya kembali membasahi pipi mulusnya, Dipta segera memeluk erat tubuh Divya yang menangis dalam diam. Divya menangis tanpa suara tapi kedua matanya mengeluarkan air mata serasa tak mau berhenti.


“mungkin ini bisa sedikit membantumu untuk mendapatkan perhatian Fajrin" ucap Roby sambil menyerahkan sebuah buku pada Divya.


“kamu baca buku ini..... kalau ada yang tidak kamu pahami hubungi salah satu penyusun buku ini, abang kamu sudah punya nomor kontak salah satu penyusun buku ini.” Ucap Roby yang sudah berdiri dan hendak keluar dari Masjid.


Divya membolak balik buku pemberian Roby dengan heran.


“apa hubungannya buku ini sama tujuanku mendapatkan perhatian kak Fajrin" ucap Divya yang mulai tenang dan heran membuat Dipta sebagai kakaknya menjadi gemas.


“bawa pulang buku ini dan baca tulisan disetiap halamannya.... jangan sampai kamu melewatkan satu kata pun dari tulisan di buku ini..... sudah kakak mau rapat lagi dengan Pak Azkar" ucap Dipta yang sudah berdiri.


Divya tertegun mendengar ucapan tegas Dipta yang menurutnya terdengar sangat tegas dan di luar kebiasaan Dipta selama ini.


“buku apa ini? Kenapa aku harus membaca ini?” gumam Divya sambil membuka buku itu.


Entah karena hati Divya yang bimbang dan otaknya yang tidak bisa berpikir jernih, saat jari jemarinya membuka-buka halaman dan berhenti di sebuah halaman dengan judul HUKUM MEMANDANG WANITA YANG BUKAN MAHRAMNYA. Divya tertegun kedua matanya membulat saat membaca paragraf kedua.


“apa karena ini kak Fajrin tidak melihatku lebih dari satu detik.... “ gumam Divya sambil melepas mukena yang dipinjamkan oleh Ningsih.


Divya keluar dari Masjid dengan membaca buku, menggantungkan mukena di lengan kirinya berjalan tak terarah hingga sebuah suara menyadarkannya.


“dik..... kakak masih rapat..... nanti saja kalau sudah di rumah kita bahas..... “ ucap Fajrin yang menerima panggilan telepon dari Nara.


Divya melihat sosok Fajrin yang sedang berbicara dengan seseorang di ponsel sambil memijat tengkuknya, Divya terkesima membuatnya diam berdiri tak bersuara hanya melihat tanpa berkedip dan mungkin sedikit berhalusinasi. Membayangkan bila dia berdiri di dekat Fajrin dan membantu meringankan rasa penat yang Fajrin rasakan saat ini, tanpa sadar tangan kanan bergerak seperti memijat sesuatu begitu juga dengan tangan kirinya perlahan bergerak seperti memijat sesuatu yang mengakibatkan buku serta mukena terjatuh ke lantai.


Fajrin terkejut dan mencari asal suara.


“Astagfirullah" ucap Fajrin terkejut dan segera memejamkan kedua matanya saat melihat seorang wanita dengan pakaian terbuka menurut dirinya sedang membungkuk untuk mengambil sesuatu.


Fajrin segera berjalan dengan langkah lebar kembali masuk ke ruang rapat dan menutup matanya dengan tangan kirinya. Divya terduduk di lantai karena gugup melihat Fajrin terkejut dan mengucapkan sebuah kata yang sangat asing di telinga Divya.


“oh my GOD.... terkejut saja begitu tampan apalagi kalau tersenyum.....” ucap Divya kegirangan sambil meremas buku yang terjatuh tadi.