My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 84 FAST TRACK



“ Balraj.... please tell them, don't stand there.... it's a dangerous point, they are pulling up some iron and steel to the twenty-first floor (Balraj.... tolong bilang pada mereka, jangan berdiri di sana.... itu titik bahaya, mereka sedang menarik keatas beberapa besi dan baja ke lantai dua puluh satu) “ teriak Fajrin membuat seluruh isi ruangan gaduh karena keterkejutan mereka mendengar suara Fajrin yang panik.


“ Divya, sorry I have to go to the project. Assalamu'allaikum (Divya, maaf kakak harus ke project. Assalamu'allaikum) “ suara Fajrin hilang dan cukup membuat para wartawan kecewa tapi mereka memahami bahwa pekerjaannya cukup berbahaya.


Pada akhirnya Divya sendiri yang menyelesai konferensi press, para wartawan akhirnya sangat memaklumi kondisi pekerjaan Fajrin. Sepanjang perjalanan dari tempat konferensi press hingga apartment, Divya beberapa kali mengirim pesan pada Fajrin tapi hanya sekali Fajrin membalasnya karena memang pekerjaan hari ini sangat berat bahkan Fajrin hanya sempat makan siang tidak lebih dari tiga suap.


MONTREAL


“ sir, Liam sent some recording (tuan, Liam mengirim sebuah rekaman) “ ucap Jason membuat Davis meletakkan majalah bisnis yang dia baca.


“ show it (tampilkan) “ ucap Davis singkat dan melipat kedua tangannya di dada.


Jason mulai menyalakan layar LCD yang berada tepat di depan Davis, Davis melihat rekaman itu dengan serius sesekali terlihat mengerutkan kulit di antara kedua alisnya.


“ how long they have been there? Can you find out when they return to Jakarta and confirm that my return without my children knowing (apa masih lama mereka disana? Bisakah kamu mencari informasi kapan mereka kembali ke Jakarta dan pastikan kepulanganku tanpa sepengetahuan anak-anakku) “ Jason menyerahkan sebuah remote pada Davis dan berlalu meninggalkan Davis sendiri.


Setelah kepergian Jason, Davis berulang kali melihat rekaman yang menampilkan sosok Divya dari mulai Fajrin membantunya memakai kain sarung untuk menutupi rambut Divya hingga selesai sholat. Tanpa Davis sadari air matanya menetes, menangis tanpa suara mengingat kembali wajah almarhum istrinya.


“ dia sangat mirip denganmu.... “ gumam Davis dan membiarkan air matanya menetes.


“ bagaimana pria itu bisa membuat Divya menurut? Apa kelebihan pria itu? “ gumam Davis sambil menyeka air matanya.


Davis melangkah menatap foto pernikahannya dengan Lydia dan meremas dadanya yang terasa sakit, setiap kali Davis mendapatkan berita tentang Divya maka setiap kali pula Davis akan merasa sangat merindukan almarhum istrinya. bukan Davis membenci Divya anaknya sendiri tapi setiap kali melihat wajah Divya membuat Davis teringat akan sosok almarhum istrinya, apa lagi saat melihat Divya yang mulai beranjak remaja dan dewasa. Wajah dan sosok Divya sangat mirip dengan almarhum Lydia, Davis terduduk menangis mengingat wajah dan sosok almarhum istrinya.


Jason yang hendak membuka pintu ruang kerja Davis segera menghentikan tangannya dan memilih diam berdiri depan pintu menunggu Davis berhenti menangis, dan hal ini bisa berlangsung lebih dari satu jam. Jason menarik nafas panjang karena dia tidak bisa berbuat banyak untuk Davis yang sudah menjadikan dirinya salah satu orang kepercayaannya.


JAKARTA


“ sayang.... apa kamu melihat dasi yang kemarin abi berikan padaku? “ teriak Dipta memanggil Ningsih yang sedang sibuk dengan menyiapkan bekal makan siang Dipta.


“ terus aku pakai yang mana? “ tanya Dipta yang sudah melingkarkan kedua tangannya tepat di perut ningsih yang sudah membesar.


Ningsih sudah hamil delapan bulan membuat Dipta tidak tega setiap kali melihat Ningsih harus masuk kerja dan menatap layar komputer berjam-jam demi melengkapi beberapa dokumen terkait laporan Fajrin tentang perkembangan project Jaipur. Bahkan tak jarang Dipta harus meminta izin pada Azkar agar mengizinkan Ningsih mengerjakan laporan di kantornya saja, dengan sangat terpaksa Azkar mengizinkan Ningsih mengerjakan laporan itu di kantor Dipta. Dengan catatan dua jam sebelum waktu pulang kantor Ningsih harus sudah mengirimkan laporan itu dalam bentuk salinan kertas juga salinan file.


Karena hari ini hari terakhir Ningsih bekerja sebelum menjalani cuti melahirkan, Dipta membantu membawakan semua berkas kerja Ningsih. Seperti biasa Ningsih mengerjakan laporan dari Fajrin, saat Ningsih sedang konsentrasi penuh pada pekerjaannya tiba-tiba Dipta teriak memanggilnya.


“ sayang..... lihat ini “ suara keras Dipta membuat Ningsih tidak jadi menekan tombol space bar pada keyboard laptopnnya.


“ ada apa mas.... hampir saja aku salah menekan tombol..... bisa-bisa gambar dari pak Fajrin rusak “ gerutu Ningsih.


“ maaf sayangku..... lihat ini “ ucap Dipta yang sudah duduk di samping Ningsih dan memperlihatkan layar tabletnya yang menampilkan sosok Fajrin menggengam erat tangan Divya.


“ pak Fajrin tidak berubah sama sekali.... dia masih sama. Semoga saja Divya bisa benar-benar mendapatkan hatinya. “ ucap Ningsih yang hanya sesaat melihat tablet Dipta.


“ apa sayang cemburu pada Divya? “ goda Dipta.


“ kalau aku cemburu pada Divya mana bisa perutku sebesar ini “ ucap Ningsih yang sudah menarik tangan Dipta dan meletakkan di atas perutnya yang buncit.


Dipta tersenyum melihat ekspresi Ningsih dan memberikan sebuah pelukan juga ciuman di pelipis kanan Ningsih yang tertutup hijab.


JAIPUR


Sejak Konferensi press hari itu Fajrin tidak melewatkan sekali pun menghubungi Divya, bahkan selepas makam malam Fajrin menyempatkan menerima telepon dari Divya meskipun hanya sekedar mendengar cerita apa saja yang Divya lakukan hari ini. Sekali waktu dalam satu bulan Fajrin menyempatkan mengunjungi Divya di apartment, dan mereka menghabiskan waktu seharian di apartemen dengan bercerita banyak hal. Fajrin tidak mau berdua saja di dalam apartemen dengan Divya, harus ada Liam atau Elena atau kalau pun mereka berdua tidak mau menemani maka Divya harus menarik Joana untuk menemani mereka. Bukan karena Fajrin kuatir kalau Divya akan memeluknya dari belakang lagi, tapi Fajrin takut bila nanti dirinya khilaf. Dan dengan bujuk rayu Divya pada akhirnya Joana atau pun Elena akan selalu menemani Divya bila Fajrin datang berkunjung meskipun hanya setengah hari.


Saat Fajrin datang berkunjung pun, waktu mereka berdua hanya habis di pakai Fajrin untuk mengajari Divya membaca tulisan Arab. yang terkadang membuat Elena atau Joana atau Liam jadi serasa melihat sepasang remaja yang sedang belajar bersama. Bahkan membuat Elena juga Liam merasa bosan, bila sudah mendengar suara Divya yang berbicara dengan suara manja pada Fajrin. Saat-saat seperti inilah yang selalu Divya nanti-nantikan, bahkan Divya selalu meminta Patrick untuk mengisi lemari pendinginnya dengan beberapa bahan makanan karena Divya ingin merasakan lagi masakan Fajrin.


Fajrin akan menuruti permintaan Divya membuatkannya menu makan siang dengan bahan yang ada di lemari pendingin, dan tentunya Divya akan memakan sendiri semua menu masakan yang Fajrin buat sampai habis tak tersisa. Membuat Elena atau Joana atau pun Liam hanya bisa melihatnya dengan menahan air liur, karena Divya tidak membaginya sama sekali dengan mereka. Karena Patrick sudah paham kalau Divya meminta lemari pendinginnya di isi bahan makanan berarti Fajrin akan datang, jadi Patrick tidak akan membuatkan Divya menu makan siang. Mau tidak mau Fajrin membuat dua menu makan siang, satu untuk Divya dan satu lagi untuk dirinya dan Elena atau Joana atau Liam.