
“ aku yakin.... kerjasama apa pun yang kamu tawarkan pada PPB group tidak akan membuat Mexrat melihatmu.... apa lagi dengan sikapmu yang sombong..... aku yakin tidak akan ada satu pun anak perusahaan PPB group mau menerima tawaran kerjasama darimu “ ucap Dipta sambil melangkah keluar dari ruang kerja Davis.
Ditya sangat kesal dengan ucapan Dipta yang menurutnya merasa paling tahu permasalahan yang dia hadapi.
“ benar apa kata Dipta.... selama akun perbankan dan akun lain milikmu masih dalam status blokir..... kamu tidak akan bisa melakukan kerjasama apa pun dengan perusahan mana pun..... tapi papi tidak akan memaksamu meminta maaf..... kamu sudah besar.... kamu pasti paham apa konsekuensi yang harus kamu terima bila akunmu masih dalam status blokir..... papi yakin tidak hanya di Jakarta dan Canada saja akunmu yang di blokir tapi semua “ ucapan Davis membuat Ditya terdiam karena apa yang Davis ucapkan benar adanya.
Davis kembali dengan kesibukannya, Ditya duduk terdiam. Terlihat jelas dari raut wajahnya bahwa Ditya sedang memikirkan cara berbaikan dengan Fajrin tanpa harus meminta maaf, kata maaf adalah kata yang tidak boleh keluar dari mulutnya. Disaat mereka berdua larut dalam kesibukan dan pemikiran masing-masing, Martha tiba-tiba duduk di samping Ditya.
“ Are you worried the two items that you asked for will not be able to fulfill by Fajrin...... don't worry..... aunty has told the guard to find out how ready they are...... if they don't have the two things that you want, ...... just cancel Divya's marriage..... isn’t easy it (apa kamu kuatir 2 barang permintaan kamu tidak akan bisa Fajrin penuhi...... jangan kuatir..... tante sudah menyuruh orang kepercayaan tante untuk mencari tahu bagaimana kesiapan mereka...... kalau 2 barang keinginanmu saja dia tidak bisa dia memenuhi...... batalkan saja pernikahan Divya..... gampang bukan) “ ucap Martha pelan dengan sinis.
Martha sudah mendapatkan sedikit informasi tentang latar belakang Fajrin dan Martha juga merasa bahwa Fajrin tidak pantas untuk Divya, maka dari itu Martha sengaja menuliskan barang apa saja yang harus Fajrin bawa sebagai mahar.
Ditya menatap Martha dengan heran membuat Martha merasa bahwa Ditya belum sepenuhnya percaya padanya.
“ Who did aunty tell to watch over them (memangnya tante menyuruh siapa untuk mengawasi mereka)? “ tanya Ditya ingin tahu.
Belum juga Martha menjawab, ponsel Martha berdering.
“ Wait a minute..... they contacted aunty (sebentar..... mereka menghubungi tante) “ suara pelan Martha membuat Ditya mengikuti langkah kaki Martha yang keluar dari ruang kerja Davis.
Davis melihat gerak gerik mereka dengan tatapan sedikit curiga, Davis kuatir bila Ditya terlalu percaya dengan Martha bukan kepercayaan yang Ditya dapat dari Martha tapi kekecewaan.
“ sir.... do I need to find out about their plan (tuan.... apa saya perlu mencari tahu rencana mereka)? “ bisik Jason.
Dengan Isyarat tangan Davis menolak saran Jason, saat ini Davis ingin fokus pada pernikahan Divya. Dan setelah Divya menikah baru Davis akan membereskan masalah Ditya.
Menjelang sore satu persatu saudara sepupu juga para paman dan tante Divya kembali ke hotel, begitu juga dengan Davis dan Divya. Mereka semua akan bermalam di hotel karena besok pagi mereka akan melihat ruangan yang akan mereka pakai sebagai tempat pesta pernikahan Divya. Davis yang sudah mempercayakan urusan pesta pada sebuah wedding organizer, hanya tahu beres semua.
Davis menempatkan Divya di kamar yang berhadapan dengan kamar yang dia sewa untuk dirinya. Divya yang tidak bisa menghubungi Fajrin mulai merasa rindu yang amat sangat dalam, membuat Davis harus berkali-kali menguatkan Divya agar bersabar.
“ papi..... pinjam ponsel papi.... Divya kangen ayang “ rajuk Divya membuat Davis meletakkan garpu dan pisau makannya sedikit keras.
“ 1 kali 24 jam lagi kalian sudah halal..... bersabarlah sedikit lagi “ ucap Davis yang sudah beberapa hari mematikan ponsel Divya.
“ sekali saja kirim pesan singkat..... “ rajuk Divya dengan memohon pada Davis.
“ mau kirim pesan apa? Kangen? “ ucap Davis yang mulai bosan dengan satu permintaan Divya ini.
Divya menganggukan kepala menjawab pertanyaan Davis. Karena tidak tega dan mulai bosan dengan permintaan Divya, Davis mengeluarkan ponselnya. Saat hendak menyerahkan ponselnya pada Divya, Nenek Ina menghentikannya.
“ jangan.... pamali..... lagi di pingit tidak boleh saling kontak dulu..... besok pagi sudah halal “ ucapan Nenek Ina meski pun terkesan masih mempercayai sesuatu di luar syariat.
Selepas makan pagi di restauran hotel yang lebih dari separuh jumlah meja yang ada sudah Davis sewa untuk keluarga besar Prakash juga Lohia, Divya melangkah kasar menuju lift untuk kembali ke kamarnya. Davis dan Nenek Ina menatapnya dengan rasa sedikit kasihan.
“ ayang.... kangen “ gumam Divya dalam hati yang sudah menutup kepalanya dengan bantal.
Di saat Divya meredam rasa kangennya, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarnya.
“ siapa juga yang menganggu “ ucap Divya kesal.
Dengan kesal Divya membuka pintu kamar, melihat Davis berdiri di depan pintu kamarnya membuat Divya bertanya-tanya.
“ ada apa papi cari Divya “ ucap Divya sedikit kecewa.
Davis tersenyum melihat respon putrinya yang terlihat jelas berharap bisa melihat Fajrin di depan pintu kamarnya, Davis memperlihatkan layar ponselnya.
“ baca ini “ ucap Davis sambil menyodorkan ponselnya.
Divya membaca pesan singkat yang Davis tunjukkan dengan sedikit heran Divya menatap Davis. Davis mengulas senyum tipis.
“ passport? Bukankah terakhir kali ayang yang pegang passport Divya....? atau Divya lupa meletakkan passport? “ gumam Divya pelan tapi cukup jelas di telinga Davis.
Dengan cepat Divya membalas pesan itu dan tanpa menunggu lama Divya sudah mendapat balasan dari Fajrin, aura bahagia terpancar di jelas di wajah Divya. Divya meloncat kegirangan memeluk Davis.
“ papi..... Divya sudah tidak sabar ingin menunggu besok “ ucap Divya membuat Davis mengelengkan kepala.
Hanya 2 pesan singkat dari Fajrin sudah mampu membuat suasana hati Divya yang semula tidak bagus seketika menjadi bagus, bahkan Divya mulai memikirkan kejutan apa yang akan Fajrin berikan. Seharian penuh Divya berada di kamar hotel tapi Divya tidak mempermasalahkan karena sedang memikirkan beberapa kemungkinan kejutan yang akan Fajrin berikan padanya. Bahkan pada malam hari Divya sulit memejamkan kedua matanya hinga membuat Davis harus mengambil 1 keycard kamar hotel untuk memastikan bahwa Divya bisa tidur atau tidak.
“ Divya..... tidur..... besok pagi selesai Shubuh..... kamu harus bersiap-siap...... jangan sampai kamu mengantuk saat acara besarmu “ nasehat Davis semakin membuat Divya sulit memejamkan kedua matanya.
“ kalau setengah jam lagi papi kemari dan kamu belum tertidur..... papi akan hubungi Fajrin untuk memundurkan pernikahan kalian “ seketika Divya berusaha keras memejamkan kedua matanya.
Divya takut ancaman Davis kali ini, dengan bertelungkup dan menutupi kepalanya dengan menyembunyikan kepalanya di bawah bantal Divya berharap bisa segera terlelap. Agar Shubuh segera menjelang dan Fajrin segera menghalalkan hubungan dengannya.
Tepat saat Adzan Shubuh berkumandang, Divya terbangun dan dengan cepat masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri juga berwudhu.
“ nanti Dhuhur sudah jadi makmum ayang..... “ ucap Divya gembira.
Tapi hanya sesaat kegembiraan Divya karena tiba-tiba Divya ingat kalau hari ini adalah hari jum'at.
“ tak apalah....... Azhar nanti bisa jadi makmum ayang “ ucap Divya kembali gembira.