
Siang hari ini Fajrin mengikuti Azkar untuk rapat dengan seorang pengusaha mall di sebuah restoran jepang. Meskipun Fajrin tidak terlalu suka menu ikan mentah sebisa mungkin Fajrin menghormati client mereka meski pun dengan hanya memesan semangkuk chikara soba dan segelas Mugicha.
Mereka akan melakukan kerja sama pembangunan sebuah mall di kota Manado, Fajrin mendengarkan dan mencatat semua permintaan pengusaha tersebut sebagai bahan untuk membuat desain mall yang sesuai dengan keinginan client Surendra.
Selesai rapat, pengusaha tersebut segera keluar dari restauran jepang dan tinggallah Fajrin bersama Azkar juga Roby menghabiskan menu yang mereka pesan. Tiba-tiba ponsel Fajrin bergetar dan menampilkan nama Divya.
“ bro... yayang kamu telepon tuh “ ucap Roby sambil menunjuk ponsel Fajrin yang bergetar.
“ bang... aku terima telepon dulu ya... “ ucap Fajrin meminta izin.
“ terima disini saja... loudspeaker “ ucapan Azkar membuat Fajrin menyerah dan menggeser tombol terima panggilan dan tombol loudspeaker.
“ Assalamu'allaikum “ salam Fajrin.
“ wa'alaikumsalam ayang..... kenapa lama sekali angkat teleponnya “ suara manja Divya membuat Roby hampir saja tersedak udang tempura.
Azkar membulatkan kedua matanya menatap tajam Roby dengan memberi isyarat tangan agar Roby diam tak bersuara sekecil apa pun atau Azkar akan memotong gaji juga menolak laporan lembur bila Roby bersuara. Seketika Roby diam dan menelan ludah melihat isyarat tangan Azkar.
“ ada apa..... ayang baru selesai rapat dengan client. “ ucap Fajrin santai.
“ ayang periodeku sudah selesai.... katanya ayang mau mengajari Divya cara mandi besar setelah periode berakhir. “ ucapan Divya membuat Fajrin tersedak sehelai soba.
Roby menahan tawa melihat raut wajah merah Fajrin sedangkan Azkar menepuk punggung Fajrin dan menyodorkan segelas Mugicha.
“ yakin sudah bersih atau baru hari ini bersih? “ tanya Fajrin dengan suara serak karena menahan sesak di tenggorokannya.
“ hmmm..... tadi pagi sepertinya.... “ ucap Divya sedikit mengingat kapan periodenya selesai.
“ ya sudah.... nanti sore ayang beritahu bagaimana cara mandi wajib setelah selesai periode. “ ucap Fajrin sedikit gugup.
“ sekarang saja.... hari ini tidak ada pemotretan nanti malam jam 7 malam baru ada jadwal pemotretan di Asiatique. “ rayu Divya dengan suara manja membuat Roby tidak tahan untuk tertawa dan memilih keluar dari ruang makan yang Azkar pesan untuk menjamu client.
Dengan isyarat tangan Azkar menyuruh Fajrin untuk mengatakan saja tata cara mandi wajib, Fajrin menarik nafas panjang menguatkan diri untuk mengajari Divya bagaimana mandi wajib setelah periodenya berakhir.
“ pertama baca niat dulu... niat bisa kamu ucapkan bisa juga kamu baca di dalam hati saja. Nawaitul Ghusla Lifraf il Hadatsil Haidil Lillahi Ta'ala, artinya aku niat mandi wajib untuk menyucikan hadas besar dari haid karena Allah Ta'ala.” Ucapan Fajrin terhenti karena mendengar suara gemericik air.
“ ayang susah sekali... mana Divya bisa hapal.... pelan-pelan.. “ suara Divya bergema membuat Azkar menahan senyum melihat wajah Fajrin kembali bersemu merah.
“ kamu dimana sekarang? Di kamar mandi? “ tanya Fajrin sedikit ragu.
“ dari mana ayang tahu kalau Divya di kamar mandi? “ suara Divya menggema membuat wajah Fajrin semakin bersemu merah di kedua pipinya.
“ hahahahaha.... aku sudah tidak bisa menahan tawa.... maaf.... maaf.... kalian lanjutkan saja. “ suara tawa Azkar membuat Fajrin semakin malu dan tak bisa berkata-kata.
“ Divya.... nanti sampai kantor ayang telp lagi ya..... ayang kembali ke kantor dulu... Assalamualaikum “ bagi Divya suara Fajrin terdengar sangat malu sekali.
“ wa'alaikumsalam cinta “ balas Divya dan sukses membuat Fajrin tersenyum simpul.
Sepanjang perjalanan kembali ke kantor, setiap kali Azkar melihat Fajrin membuatnya teringat akan wajah malu Fajrin dan pada akhirnya Azkar tertawa lagi dan lagi.
“ bang... sudahlah... jangan membuatku malu lagi. “ pinta Fajrin tapi semakin membuat Azkar tertawa terbahak-bahak.
“ kalau kamu benar-benar serius dengan Divya, aku akan membantu kamu meyakinkan om Davis. “ ucapan Azkar membuat Fajrin tertunduk menahan malu.
“ terima kasih.... aku akan berusaha sekuat yang aku mampu.... kalau pun syarat dari tuan Davis terlalu mustahil untuk aku penuhi.... aku akan memberitahu bang Azkar. “ ucap Fajrin sambil mempersilahkan Azkar untuk masuk ke dalam lift terlebih dahulu.
“ aku pegang ucapan kamu..... sudah sekarang kamu telepon lagi yayang kamu... biar dia tidak merajuk “ ucap Azkar sambil mendorong pelan Fajrin agar keluar dari lift karena sudah sampai di lantai tujuannya.
Fajrin tersenyum mendengar ucapan Azkar dan segera berjalan cepat menuju balkon yang tak jauh dari ruangannya. Fajrin mengenakan earphone dan menghubungi Divya kembali, hanya mendengar sekali nada panggil. Divya sudah mengangkat telepon dari Fajrin.
“ ..... “ mendengar suara Divya yang terdengar merajuk juga cemberut membuat Fajrin tersenyum
“ wa'alaikumsalam. “ balas Fajrin yang sudah duduk di sebuah kursi yang berada di balkon.
“......“ Fajrin mengusap kasar wajahnya dengan tangan kiri mendengar suara Divya yang menggema.
Fajrin menarik nafas panjang, menekan suatu rasa yang seharusnya tidak boleh dia rasakan saat ini.
“..... “ kembali terdengar suara Divya yang menggema membuat Fajrin sekali lagi mengusap kasar wajahnya dengan tangan kiri.
“ Divya.... kamu ulangi apa yang ayang ucapkan, Nawaitul Ghusla Lifraf il Hadatsil Haidil Lillahi Ta'ala “ suara Fajrin membuat Divya bingung mengingatnya.
“ ..... “ Fajrin menarik nafas panjang.
“ Nawaitul Ghusla Lifraf “ ucap Fajrin sepotong-sepotong.
“..... “ Fajrin fokus mendengarkan suara Divya.
“ il Hadatsil Haidil Lillahi Ta'ala “ ucap Fajrin sepotong-sepotong lagi.
“ .....“ Fajrin kembali fokus mendengarkan suara Divya.
“ sekarang cuci kedua tangan Divya sebanyak 3 kali di bawah air mengalir. “ ucap Fajrin yang sudah berdiri dan bersandar di pagar besi brc.
“.... “ terdengar suara Divya yang menirukan ucapannya membuat Fajrin tersenyum tipis.
Fajrin frustasi menarik nafas panjang, berusaha menekan sebuah rasa yang sekali lagi tidak seharusnya muncul di saat seperti ini.
“ dengan tangan kiri bersihkan area sensitif dan sekitar area buang air besar... pastikan sudah tidak ada sisa darah periode juga kotoran.... “ ucapan Fajrin terhenti sesaat.
Fajrin terdiam memikirkan kata-kata yang tepat untuk dia katakan pada Divya agar Divya tidak berpikir yang aneh-aneh.
“ ..... “ suara Divya membuat Fajrin frustasi karena berusaha menekan rasa itu lagi.
Dengan memejamkan mata menarik nafas panjang, Fajrin semakin frustasi berusaha keras menekan rasa itu.
“ pastikan 1 ruas jari dari salah satu jari tangan kiri Divya masuk.... untuk memastikan tidak ada sisa darah periode “ suara Fajrin terbata-bata karena frustasi berusaha keras menekan sebuah rasa itu yang begitu kuat dia rasakan saat ini.
“ .... “ suara Divya yang terdengar heran membuat Fajrin semakin frustasi.
" susah sekali kalau mengajari jarak jauh seperti ini " gumam Fajrin dalam hati yang semakin frustasi menekan rasa yang seharusnya tidak muncul di saat seperti ini.