My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 164 AZKAR KECEWA



Karena barang-barang ini yang di inginkan Divya, sedangkan yang mengurusi hantaran Fajrin adalah keluarga Surendra maka untuk sementara semua Divya simpan di kamar Nara. Hingga acara pernikahan Norin dengan Dean selesai, seharian bersama Divya sudah cukup membuat hati Fajrin bahagia. Mengantar pulang Divya namun berakhir dengan membuatnya tertahan di kediaman Davis selama hampir 2 jam karena Davis mengajaknya berdiskusi terkait lokasi pelaksanaan acara lamaran juga pertunangan mereka. Membuat Fajrin sampai di pintu gerbang kediaman Azkar tepat 5 menit sebelum Adzan Magrib. Baru saja Fajrin mengucap salam, Azkar sudah menariknya ke ruang keluarga yang juga menjadi ruang santai untuk menemui Freya.


“ ini bisa Amma jadikan pendamping pengantin pria.... sesuai syarat dari kelurga Dean.... single “ ucapan Azkar membuat Fajrin menepuk dahinya pelan


Freya tersenyum melihat wajah bingung Fajrin dan Selo segera memberinya pakaian seragam untuk mencobanya.


“ coba pakai ini.... ini..... dan ini..... sana masuk “ ucapan Selo membuat Fajrin bingung.


Tapi belum selesai kebingungan Fajrin, Azkar sudah mendorongnya untuk masuk ke kamar tamu.


“ ganti disini... setelah selesai langsung lapor Amma “ ucap Azkar tegas semakin membuat Fajrin bingung.


“ pendamping pengantin pria.... apa itu “ gumam Fajrin sedikit kesal tapi Fajrin mencoba satu persatu pakaian seragam yang sudah Freya siapkan.


Fajrin mencoba satu persatu pakaian seragam itu dan memperlihatkan pada Freya, Freya dan Selo tersenyum senang karena ukurannya pas dengan Fajrin.


Acara akad nikah Norin dengan Dean akhirnya tiba, Fajrin yang mendapat tugas menjadi pendamping pengantin pria bagi Dean, membuatnya hari ini tidak biasa fokus pada pekerjaannya. Dari pada menyelesaikan pekerjaan setengah-setengah akhirnya Fajrin memutuskan pergi ke hotel Surendra untuk membantu persiapan pernikahan Norin, semua orang sibuk dengan tugas masing-masing begitu juga dengan Azkar dan Fajrin.


“ Fajrin.... apa kamu sudah mengantar pakaian seragam untuk Divya? “ tanya Freya yang sudah terlihat lelah.


“ Sudah tante tadi sore.... “ jawab Fajrin singkat


“ apakah ada yang tidak pas untuk Divya? “ tanya Freya yang masih saja kuatir bila ada yang belum beres.


“ Insya ALLAH sudah sesuai semua tante “ ucap Fajrin sambil melihat Azkar yang menepuk bahunya.


“ besok setelah sholat Shubuh kamu jemput Divya bawa langsung kemari..... sampai hotel langsung bawa ke kamar sebelah makan pagi dan make up disini saja. “ ucap Freya sambil berjalan karena Selo sudah menariknya masuk ke kamar untuk Istirahat.


Hari yang melelahkan bagi keluarga besar Surendra, karena besok pukul 9.30 acara akad nikah Norin dengan Dean. Selo, Freya dan Erhan juga Ralf menempati kamar family suit room sedangkan keluarga Surendra yang lain sudah menempati di beberapa kamar yang lain yang masih satu lantai dengan kamar family suit room.


Azkar masih menemani Fajrin yang sibuk saling mengirim pesan pada Divya, membuat Azkar tergelitik untuk mengodanya.


“ jadi sudah dapat apa saja? “ pertanyaan membingungkan Azkar membuat Fajrin meletakkan ponselnya asal.


“ maksud abang? “ tatapan mata bingung Fajrin membuat Azkar semakin tergelitik untuk semakin menggoda Fajrin.


“ keluarga sudah saling kenal..... hanya dalam hitungan minggu kalian sebentar lagi lamaran.... apa kamu tidak mendapat apa-apa.... ? “ sekali lagi pertanyaan Azkar semakin membuat Fajrin bingung.


“ aduh bang.... ambigu pertanyaan abang.... tidak jelas “ ucap Fajrin kesal karena Azkar kembali mengatakan hal yang membingungkan.


Azkar tersenyum dan dengan isyarat tangan mengartikan maksud dari pertanyaannya, seketika otak Fajrin mengingat apa yang sudah Divya lakukan padanya beberapa hari lalu membuat wajah Fajrin terlihat semburat merah di leher hingga kedua rahangnya.


“ bang.... jangan keras-keras.... berisik nanti kakek dan yang lain terbangun “ ucap Fajrin sambil berusaha menahan tawa Azkar.


Azkar semakin tertawa meski pun kedua tangan Fajrin berhasil menutup mulut Azkar, tapi tawa Azkar masih saja terdengar.


“ bang.... ayolah.... malu aku..... “ Azkar menggelengkan kepala dan menepuk tangan Fajrin untuk menjauhkan tangan Fajrin dari mulutnya.


“ aku ceritakan semua.... tapi abang berjanji jangan tertawa keras lagi “ Azkar menganggukan kepala menerima tawaran Fajrin.


pelan-pelan Fajrin membuka mulut Azkar, tapi saat kedua tangan Fajrin sudah menjauh dari mulutnya seketika Azkar kembali tertawa meski pun kali ini tidak sekeras tadi. Tapi sudah cukup membuat Fajrin semakin malu, Fajrin hanya diam memandangi Azkar yang masih memuaskan diri menyelesaikan tawanya.


Setelah Azkar puas dengan tawanya, kedua mata Azkar terlihat jelas berusaha mencari tahu kebenaran dan detail apa saja yang sudah Fajrin lakukan pada Divya.


“ ayo cerita.... tadi katanya mau cerita “ goda Azkar membuat Fajrin menarik nafas panjang.


“ baiklah.... mana bisa aku menutupi rahasia dari abang.... “ ucap Fajrin tertunduk.


“ ayo cerita... tidak pakai lama.... “ paksa Azkar dengan penuh semangat tidak sabar mendengar cerita Fajrin.


Membuat Fajrin mati kutu yang akhirnya Fajrin menceritakan bagaimana bisa bibirnya bertemu dengan bibir Divya, di awal-awal cerita Fajrin sengaja menceritakan dengan semangat supaya Azkar bersemangat untuk mendengarnya. Tapi di akhir cerita kedua mata Azkar seketika berubah menjadi kecewa bahkan membuatnya tertunduk, terlihat jelas oleh Fajrin kalau Azkar kecewa mendengar akhir dari cerita Fajrin.


“ tidak seru.... aku kira.... kamu duluan yang punya inisiatif untuk mencium Divya. “ ucap Azkar kecewa.


“ seharusnya setelah kamu sadar dari otakmu yang kosong itu..... makan saja bibirnya... habiskan saja sekalian.... kenapa kamu justru menjauh “ ungkapan rasa kecewa juga jengkel Azkar karena cerita Fajrin di luar harapannya.


“ belum halal bang.... “ ucap Fajrin yang menjadi jengkel dengan ucapan Azkar.


Tapi Fajrin tersenyum puas karena berhasil membuat rasa ingin tahu Azkar menjadi terjun bebas.


“ aku balik ke kamar, jangan lupa besok pagi.... cerita yang sama sekali tidak menarik tidak menyenangkan “ ucap Azkar yang masih kecewa mengingat detail cerita Fajrin.


“ mana berani aku bertindak lebih jauh dari itu..... itu saja sudah membuatku bereaksi..... kalau aku teruskan bisa khilaf aku nanti “ gumam Fajrin dalam hati sambil tersenyum mengingat apa yang sudah Divya lakukan.


Fajrin masih tersenyum melihat Azkar melangkah keluar kamar dengan kecewa, senyum karena puas membuat Azkar kecewa juga karena mengingat perlakuan Divya padanya. Fajrin merebahkan tubuhnya di atas sofa yang sudah dia rubah menjadi ranjang.


Belum juga Fajrin memejamkan mata, ponselnya berdering seketika Fajrin membaca pesan singkat yang masuk dan membalasnya karena pesan singkat itu dari Divya.


Malam ini Fajrin tidur di ruang tengah family suit room, sebenarnya Fajrin mendapatkan satu kamar sendiri tapi Fajrin menyerahkan pada keluarga Surendra yang lain yang ternyata membawa semua keluarganya.