
Fajrin dengan ketiga rekannya hanya 3 hari saja di Hongkong, Fajrin menyampaikan dan menjelaskan konsep apa yang dia pakai untuk project di Miyakojima. Pada rapat hari pertama banyak sekali sanggahan dan masukkan dari para petinggi Rosewood, dan Irvan sebagai pemimpin di project ini mencatat semua sanggahan juga masukkan dari para petinggi Rosewood.
Hingga pada hari ketiga Fajrin menyampaikan sebuah konsep yang dapat menfasilitasi semua masukkan dari para petinggi. Fajrin mulai menjelaskan konsepnya, 55 vila di resort yang akan menampilkan kolam renang pribadi, taman lanskap, dan pemandangan laut tanpa halangan. Dengan arsitektur dan interior yang dirancang dengan mulus untuk memberi ketenangan alam bagi para tamu. Empat restoran dan bar dengan konsep tepi pantai yang santai menyajikan makanan laut segar, daging sapi yang dibesarkan di pulau, minuman beralkohol yang disuling secara lokal, dan sake. Pemandangan laut yang menakjubkan sebagai latar belakang, tempat acara dalam dan luar ruangan resort yang akan menjadikan tuan rumah tujuan pernikahan dan perayaan pribadi menjadi tak terlupakan.
Rekreasi dengan Klub Penjelajah Rosewood yang berdiri sendiri, program Rosewood untuk tamu muda yang dirancang untuk menginspirasi kreativitas dan imajinasi, untuk jiwa petualangan, penemuan, dan tanggung jawab sosial melalui pengalaman unik yang disesuaikan dengan tujuan. Asaya, konsep kesehatan terpadu perintis Rosewood, yang menawarkan ruang perawatan yang terletak di tengah taman pribadi, fasilitas hidroterapi dalam dan luar ruangan, serta menu program dan layanan yang dipengaruhi oleh tradisi penyembuhan lokal.
Di luar resort, para tamu akan menemukan banyak situs yang sangat indah, dari lengkungan batu alam yang megah di dekat pantai Sunayama hingga mercusuar yang ditata sempurna di Tanjung Higashi-Hennazaki dan tujuh kilometer bentangan Yonaha Maehama pantai terbaik di Jepang dan terkenal dengan Matahari terbenam sinematiknya. Tempat persinggahan singkat yang mengungkapkan adat, budaya, dialek, masakan, dan kerajinan khas serta cara-cara menawan uchinanchu Okinawa yang mendiami pulau itu.
Fajrin memaparkan semua konsep itu dengan sangat meyakinkan, terlihat jelas raut wajah para petinggi Rosewood yang sangat senang dengan pemaparan Fajrin.
Dihari ketiga saat sore hari, Fajrin dan ketiga rekannya menuju lokasi project di pulau Miyakojima dengan 3 orang staff Rosewood yang akan bertanggung jawab mengawasi project ini. Mereka menunjukkan lokasi project yang ternyata dapat di akses melalui 2 jalur, yaitu bandara dan pelabuhan. Project ini di bangun dengan menempati semenanjung terpencil yang dikelilingi oleh tiga sisi yaitu pantai pasir putih, formasi batuan yang dramatis, dan pemandangan laut yang menakjubkan. Pengunjung yang datang akan merasakan pasir di bawah kaki mereka, pengungung berkendara selama 20 menit dari Bandara Miyako atau berkendara selama 30 menit dari Bandara Shimojishima yang menerima penerbangan langsung dari Hong Kong mau pun kota-kota besar di Jepang.
Irvan menjadi sedikit merinding di project kali ini, Fajrin memijat pelan kedua bahunya untuk menguatkan Irvan yang terlihat jelas sangat merinding dengan konsep dan kondisi lokasi project yang banyak sekali menyajikan keindahan alam pulau Miyakojima. Selama 4 hari Fajrin dan 3 rekannya berada di pulau ini, untuk mempelajari struktur tanah, cuaca hingga kecepatan angin.
Dari Pulau Miyakojima, Fajrin dan ketiga rekannya langsung menuju kantor cabang Surendra di Osaka dan disini tugas muslim mulai terlihat. Ternyata tim jepang sudah menggali semua informasi tentang Fajrin dan timnya, mereka sangat senang bisa bekerja sama dengan staff dari kantor pusat. Fajrin tidak terlalu lama berada di Osaka hanya 1 hari saja dan melanjutkan perjalanan ke pulau Hokkaido untuk melihat kesiapan project World La Plume Niseko Resort.
Di sela-sela perjalanan bisnisnya, Fajrin selalu menyempatkan diri menghubungi Divya 1 jam sebelum jadwal makan pagi dan 30 menit sebelum istirahat malam. Bahkan Fajrin menyempatkan mengirim pesan singkat pada Divya berupa pesan gambar atau pun video dengan menyelipkan beberapa kata rayuan juga kalimat keinginan.
Fajrin tersenyum tipis saat mendapat balasan dari Divya yang mengatakan bahwa dia ingin merencanakan bulan madu di pulau Miyakojima selama 1 minggu dan di sapporo 1 minggu. Saat otak Fajrin mulai berhalusinasi tentang rencana Divya, Gulton menepuk punggungnya.
“ pak, lokasi ini 2 bulan lagi siap di kerjakan.... dan di pulau Miyakojima baru 6 bulan lagi siap di kerjakan..... saat 2 project ini mulai dalam tahap pengerjaan.... posisi Muslim dimana? Apa dia harus bolak balik Hokkaido Miyakojima? “ tanya Gultom yang mulai sedikit kuatir bila selama project akan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan tim Jepang.
“ nanti kita pikirkan lagi kalau kita sudah di jakarta.... sekarang kamu fokus dulu pada situasi dan kondisi tempat ini.... jangan sampai saat pengerjaan ada banyak kekurangan pada desain kita. “ ucap Fajrin sambil memasukkan kembali ponselnya.
Selama 5 hari mereka berada di Hokkaido, 4 hari mereka pakai untuk mempelajari lokasi project dan 1 hari mereka gunakan untuk berkeliling membeli oleh-oleh khas pulau Hokkaido. Fajrin tidak membeli oleh-oleh apa pun tapi Fajrin mengirimkan beberapa foto lokasi pada Divya, Fajrin ingin tahu apa pendapat Divya dan keinginan Divya.
Dan di akhir perjalanan bisnisnya atau di hari ke 14, mereka menunggu jadwal izin terbang Sundth Air dari pihak Airnav bandara Shin Chitose. Karena bandara ini salah satu bandara tersibuk di Jepang, Fajrin dan 3 rekannya dari kemarin sore sudah berpindah penginapan di distrik Chitose. Dan sesuai perkiraan Fajrin, Sundth Air baru mendapatkan izin terbang pada pukul 4 sore yang berarti pukul 2 pagi dini hari waktu Hokkaido atau pukul 12 tengah malam waktu Jakarta Sundth air baru mendarat di bandara internasional Soekarno Hatta.
Ketiga rekan Fajrin menghabiskan waktu mereka dengan kembali berjalan-jalan di Sapporo sedangkan Fajrin melepas rindu melakukan panggilan Video dengan Divya. Terlihat jelas aura bahagia di wajah Fajrin, bisa melihat Divya yang ternyata sedang sibuk melakukan beberapa perubahan di rancangan pakaiannya yang nanti akan di kenakan Nara saat acara lamaran mereka.
“ ayang.... apa jadwal keberangkatan ayang sudah ada? “ tanya Divya sambil memotong kain lace.
“ sudah...... nanti jam 4 sore dari sini.... mungkin sampai Jakarta tengah malam..... Divya malam ini pulang ke rumah ya.... jangan menginap lagi di rumah ayang “ ucap Fajrin sambil tersenyum melihat Divya yang menempelkan kain lace di manekin.
“ kenapa kalau malam ini Divya masih menginap di sini “ tanya Divya sambil menyematkan jarum pentul di kain lace yang menempel di manekin.
“ ayang malam ini sudah sampai Jakarta..... tidak enak kalau paginya di lihat tetangga.... belum halal sudah satu rumah.... “ ucap Fajrin sambil membetulkan posisi duduknya.
“ oooo.... iya... nanti jam 5 Divya pulang..... ayang jangan lupa ya.... kalau nanti mau boarding dan setelah landing kirim pesan.... jangan buat Divya kuatir.... “ ucap Divya sambil meraih ponsel yang sedari tadi di letakkan di meja menghadap dirinya.
“ iya..... selama perjalanan bisnis ini.... ayang selalu mengirim pesan singkat sebelum boarding dan sesudah landing.... ayang tahu.... ayang tidak boleh membuat Divya kuatir..... “ ucap Fajrin yang semakin gemas dengan ucapan Divya.
“ ayang tutup dulu ya teleponnya.... yang lain sudah pada kembali..... besok kita sambung lagi...... Assalamualaikum “ salam Fajrin saat melihat muslim membawa banyak sekali barang masuk ke dalam penginapan mereka yang berupa cottage.
“ wa'alaikumsalam..... I love you ayang “ salam Divya dan sukses membuat Fajrin semakin gemas.
“ lama sekali menuju halal kalau keluarga besar ambil bagian “ gumam Fajrin sambil mematikan ponselnya.