
Afkar tersenyum tipis dan membelai dadanya karena bersyukur tidak mengalami apa yang Azkar alami
“ Alhamdulillah Nara tidak begitu..... bang... kembali ke masalah Fajrin..... abang yakin bisa menyelesaikan urusan bea cukai dalam 2 3 hari atau setidak-tidaknya 2 hari sebelum hari H.... sudah berada di rumah abang? “ ucap Afkar kembali serius.
“ selama dokumen pembelian dan dokumen pendukung lainnya sudah lengkap.... 2 3 hari selesai..... “ ucap Azkar dengan yakin.
“ untuk yang nomor urut ke dua....jangan kuatir aku sudah mengakuisisi perusahaan itu.... jadi 2 barang itu bisa kita anggap sudah selesai.... tinggal 9 barang-baranh wanita yang aku belum dapat informasi secara pasti “ jelas Afkar sambil berdiri karena melihat pintu kamarnya terbuka sedikit.
“ bang.... sudah dulu ya.... sepertinya Nara terbangun. Assalamualaikum “ salam Afkar dan segera menutup laptop tanpa menunggu salam balasan dari Azkar.
Azkar menggelengkan kepala melihat sikap Afkar yang sekarang berbeda jauh dengan Afkar sebelum bertemu Nara.
“ Roby “ ucap Azkar memanggil Roby yang sedari tadi terlihat melamun.
“ ya bos..... “ jawab Roby gugup
“ kita punya pesawat cargo? “ pertanyaan Azkar membuat Roby bingung.
Bagaimana mungkin big bos tidak tahu kalau Sundth air sudah memiliki 1 pesawat kargo dan sedang dalam proses pembelian 1 lagi pesawat kargo.
“ bos.... bukankah Sundth sudah memiliki 1 dan menurut berita yang beredar di whatsapp group.... bos Afkar sedang melakukan negosiasi untuk menambah 1 lagi pesawat kargo. “ penjelasan Roby membuat Azkar menatap Roby tidak percaya.
Karena mendapatkan tatapan tidak percaya dari Azkar, Roby segera mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan percakapan di whatsapp group para pengawal Surendra dan Sadhat. Azkar hanya sesaat membacanya.
“ Fajrin dimana? Suruh dia kesini.... “ Roby segera keluar dan menghubungi Fajrin.
Beberapa kali panggilan tapi Fajrin belum juga mengangkat telepon Roby. Karena Fajrin sedang sibuk melakukan simulasi 3D design dengan Irvan dan meninggalkan ponselnya di meja kerjanya. Akhirnya Roby pergi ke ruangan Fajrin, dan ternyata Fajrin sedang sibuk berdiskusi dengan Irvan dan timnya.
“ serius sekali..... “ suara Roby membuyarkan diskusi mereka.
“ ada apa kemari..... ini harus selesai hari ini.... jangan ganggu “ ucap Fajrin sambil menunjuk layar laptop Irvan.
“ siapa yang mau menganggu dirimu...... aku kesini disuruh karena abang kamu mencarimu.... “ ucap Roby ikut-ikut melihat layar laptop Irvan meski pun Roby tidak paham apa yang dia lihat.
Fajrin menegakkan tubuhnya dan menatap Roby untuk sesaat.
“ kalian selesaikan ini sendiri..... batasan parameter sudah aku tentukan..... kalian pakai itu sebagai acuan. “ ucap Fajrin yang sudah membalikkan badan hendak meninggalkan Irvan dan timnya.
Fajrin melangkah keluar bersama Roby ke ruangan Azkar. Di dalam ruangan Azkar, Fajrin terlihat sangat serius mendengarkan apa saja sudah Afkar lakukan untuk memenuhi permintaan keluarga Lohia. Terkadang terlihat wajah sedih juga putus asa.
“ kenapa mereka terkesan menyulitkan diriku? “ ucap Fajrin tertunduk.
“ kalau aku lihat.... mereka bukan berusaha menyulitkan dirimu tapi.... mereka ingin melihat seberapa besar kemampuan keuanganmu..... sekarang mereka belum tahu saja di belakangmu.... mereka hanya tahu bahwa kamu bagian dari keluarga besar Surendra saja.... tenanglah Afkar pasti bisa menyelesaikan semua. “ ucap Azkar berusaha menenangkan Fajrin yang mengetahui nama-nama barang yang keluarga Lohia minta ternyata barang-barang dengan jumlah produksi terbatas.
Sementara sepanjang perjalanan ke gedung Surendra, aura kesal Divya membuat Liam tidak berani berbicara sepatah kata pun. Saat sampai di lobi pun dengan kasar Divya menutup pintu membuat Liam sedikit kaget. Divya terlihat sangat kesal kenapa Fajrin tidak menceritakan semua ini padanya, Divya mengabaikan seorang satpam yang mau menegurkan karena belum mengisi daftar tamu di meja resepsionis. Karena langkah kaki Divya yang cepat dan masuk ke dalam tanpa memperdulikan orang lain membuat satpam tersebut menghela nafas panjang.
Sampai di lantai tempat kerja Fajrin, Divya mengamati seluruh ruangan tapi tidak mendapati sosok Fajrin sama sekali.
“ kemana ayang..... itu jaket dan tas punggungnya..... tapi ayang tidak ada..... “ gumam Divya sambil melangkah mendekati pintu ruang kerja Fajrin.
“ pak Fajrin ke ruangan big bos “ ucap Irvan singkat membuat Divya mencari asal suara.
“ oooo.... terima kasih.... aku kesana “ ucap Divya pelan merasa malu karena tidak mengucap salam dan langsung masuk ruang bagian Fajrin.
Belum sempat Divya keluar dari ruang bagian Fajrin.
“ Alhamdulillah akhirnya ada juga yang berhasil membuat Pak Fajrin tersenyum “ suara keras Muslim membuat Divya tertuduk malu dan tetap melangkah menuju lift.
Roby yang melihat kedatangan Divya membuatnya menatap Divya dengan heran.
“ dari mana tahu ayang kamu di sini? “ tanya Roby yang asal.
“ dari timnya “ jawab Divya singkat sambil melangkah ke ruang kerja Azkar.
Fajrin dan Azkar terkejut saat melihat Divya membuka pintu.
“ Assalamu'allaikum “ salam Divya membuat Azkar menghela nafas panjang.
“ Wa'alaikumsalam “ balas Azkar dan Fajrin hampir bersamaan.
“ duduk.... kamu kemari pasti karena 11 nama benda yang keluarga kamu inginkan “ ucap Azkar tegas membuat Divya segera duduk menempel di sebelah kanan Fajrin.
“ jangan begini.... malu sama bang Azkar “ bisik Fajrin pada Divya membuat Azkar ingin menarik telinga Fajrin.
“ jangan jual mahal..... nanti kalau sudah halal ga ada mahal-mahalnya yang ada justru obral “ ucap Azkar tegas membuat Fajri tertunduk.
Divya tentu saja senang karena Fajrin tidak menjauhkan lengan kanannya dari Divya yang sudah menempelkan lengan kirinya tanpa celah sedikit pun.
“ ayang.... ayang tahu semua nama barang yang tante Martha minta? “ Fajrin menganggukan kepala menjawab pertanyaan Divya.
“ Divya tidak mau itu semua..... Divya tidak mau mahar itu semua...... asalkan Divya bisa menikah dengan ayang.... mahar mukena saja Divya mau “ ucapan jujur Divya membuat 2 lelaki saling menatap untuk sesaat.
Azkar dan Fajrin hampir bersamaan merebahkan punggungnya dengan kasar di sandaran sofa. Divya mengeluarkan secarik kertas yang dia bawa dari meja gambar Fajrin.
“ ini.... ini.... permintaan bang Ditya..... yang lain Divya tidak mau “ ucap Divya sambil meletakkan secarik kertas di meja.
Azkar dan Fajrin kembali hampir bersamaan melihat nama barang yang Divya tunjuk.
“ 2 barang ini barang pelangkah..... “ ucap Azkar sambil melihat Fajrin yang masih membaca 2 nama barang yang Divya tunjuk.
“ apa itu barang pelangkah? “ tanya Fajrin heran.
Azkar menepuk dahinya pelan, Azkar baru ingat bahwa Fajrin menikahkan Nara tanpa meminta barang pelangkah. Dan sekarang Azkar bingung bagaimana menjelaskan keberadaan barang pelangkah baik dari sisi agama mau pun tradisi. Fajrin menatap Azkar penuh tanya menunggu penjelasan dari Azkar, Azkar sendiri terlihat mengerutkan kulit dahinya mencari kata atau kalimat yang tepat untuk menjelaskan fungsi barang pelangkah di pernikahan mereka nanti.
“ kalau aku menjelaskan dari sisi agama.... aku pasti kalah telak..... kalau aku menjelaskan dari sisi tradisi..... aku sendiri tidak tahu jelas kenapa ada tradisi barang pelangkah. “ gumam Azkar dalam hati sambil menatap Fajrin yang menunggu penjelasannya.