My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 210 KEMBALI CERIA



“ masih marah “ gumam Fajrin dalam hati dan menarik nafas panjang.


“ dik..... maaf..... kakak salah..... kakak egois.....” ucapan pelan Fajrin membuat Afkar menjaga sedikit jarak dengan Nara.


“ kalian berbicaralah di belakang..... selagi masih pagi dan belum ada yang bangun selain kita “ ucap Afkar sambil mendorong pelan tubuh Nara menuju taman belakang.


Nara melangkah dalam diam, Fajrin kehabisan kata-kata hanya bisa mengikuti kemana kaki Nara melangkah.


“ dik..... sampai kapan adik akan mendiamkan kakak......? “ ucap Fajrin berusaha menghentikan langkah kaki Nara yang tidak terlalu cepat atau pun lebar.


Melihat Nara pelan-pelan duduk di kursi taman membuat Fajrin sedikit merasa lega.


“ apakah karena ibu sudah meninggal..... jadi kakak mulai mengurangi sikap egois kakak? Apakah kakak tidak menyesal sudah bersikap egois pada adik? “ ucapan Nara yang terdengar sangat tegas sedikit membuat Fajrin sedikit tersentak.


Fajrin menatap dalam-dalam kedua mata Nara yang masih terlihat jelas berusaha untuk tidak emosi.


Mendengarkan keluh kesah Nara membuat Fajrin menatap lurus kedepan dan sesekali menarik nafas panjang. Fajrin tidak menyangkal apa yang Nara katakan karena memang dirinya tiba tinggal di Jakarta, mereka sama sekali tidak pernah sekali pun menginjakkan kaki di jogja. Bahkan hanya untuk sekadar berlibur pun mereka tidak pernah pergi ke Jogja.


Kali ini Fajrin sangat terkejut juga tidak percaya mendengar ucapan Nara, karena dia tidak tahu menahu apa yang sudah Asma simpan selama ini dan apa yang ingin Asma lakukan pada barang-barang yang mereka bawa dari Oslo.


Sekali lagi Fajrin tersentak dan terkejut dengan pertanyaan Nara, Fajrin menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Nara.


Mendengar cerita Nara membuat Fajrin menatap dalam-dalam kedua mata adiknya yang mulai terlihat nanar.


“ adik tahu dimana ibu menyimpan buku-buku itu? “ tanya Fajrin ingin tahu.


Seketika Fajrin menjadi lemas mendengar jawaban Nara, merasa bersalah pada almarhum Asma tapi nasi sudah menjadi bubur bahkan tidak mungkin bagi Fajrin mencari kembali apa yang sudah di keluarkan dari dalam rumah mereka.


Menatap dalam-dalam kedua mata Nara mencari celah bahwa apa yang Nara katakan benar adanya.


“ apa karena itu adik menjadi sangat marah pada kakak dan memendam amarah adik? “ tanya Fajrin sedikir ragu.


Fajrin terkejut mendengar jawaban Nara dengan suara tinggi dan tegas yang tiba-tiba, baru kali ini Fajrin mendengar kembali suara tinggi Nara. Sejak sepulang berhaji, Fajrin sama sekali tidak pernah mendengar suara tegas dan tinggi Nara bahkan di saat Nara memerlukan bantuannya.


Afkar yang sedari tadi memperhatikan mereka tidak kalah terkejutnya, karena baru kali ini melihat Nara berani meninggikan suara dan tegas di hadapan Fajrin. Fajrin merasa bersalah pada Asma juga Nara, mendengar ucapan Nara membuat Fajrin heran dan bertanya-tanya merasa bahwa masih Nara menutupi sesuatu darinya.


“ apa yang akan adik lakukan..... “ pertanyaan Fajrin membuat Nara terduduk dan menutup kedua matanya dengan tangan.


Fajrin mengamati Nara yang pelan-pelan ternyata menangis, Fajrin merasa bersalah dan memeluk Nara.


“ maaf..... maaf..... “ hanya kata maaf yang bisa Fajrin ucapkan dan mendekap Nara.


Fajrin tertegun sesaat mendengar ucapan Nara.


Kembali Fajrin dibuat terkejut mendengar pertanyaan Nara kali ini, Fajrin tidak menyangka bahwa Nara masih menyimpan banyak pertanyaan tentang keputusannya mempercepat pernikahan Nara dengan Afkar. Karena selama ini Fajrin berpikir bahwa Nara juga menyukai Afkar dan menerima keputusannya.


“ dik..... sebelum ibu meninggal tepatnya 3 hari setelah wukuf..... ibu berpesan pada kakak..... bila suatu saat ada pria yang meng-khitbah adik..... kakak harus memastikan bahwa pria itu pria baik-baik.... kalau seandainya pria itu bukan dari keluarga Sadhat..... tapi kalau pria itu berasal dari keluarga Sadhat..... jangan sekali-sekali kakak menolak khitbah mereka..... ibu juga mengatakan bahwa ibu sudah berdoa agar adik berjodoh dengan Afkar Sadhat. “ cerita Fajrin sambil mengingat-ingat setiap kata yang Asma katakan padanya di saat mereka berjalan pulang ke hotel sepulang dari sholat Shubuh di Masjidil Haram.


“ kakak tidak berbohong..... ibu bilang seperti itu... itulah kenapa waktu Afkar mengatakan pada Helen bahwa Afkar ingin mengenal adik lebih dekat kakak tidak menolaknya.... karena kakak sudah tahu bahwa Afkar adik bang Azkar dan mereka adalah keluarga Sadhat..... tapi ternyata adik menolak “ ucap Fajrin mengingat bagaimana mendekatkan Nara dengan Afkar sedangkan waktunya habis dengan pekerjaannya.


Fajrin menganggukan kepala menjawab pertanyaan Nara.


“ memang ibu tidak detail mengatakan siapa pria dari keluarga Sadhat..... tapi tentunya bukan bang Azkar.... karena bang Azkar saat itu sedang berusaha mendekati Helen...... dan karena keluarga Sadhat hanya punya 1 pria yang masih sendiri..... kakak berpikir bahwa yang ibu maksud adalah Afkar. “ ucap Fajrin yang masih memeluk Nara.


Tanpa Fajrin sadari, Barra yang sedari tadi sudah membawa kembali D4rkC0d3 memperhatikan dirinya. Dengan perlahan Barra mendekati Nara dan memberi isyarat tangan pada Fajrin agar jangan memberitahu Nara tentang kehadirannya. Dengan sekali kediapan mata Fajrin menyetujui apa yang akan Barra lakukan.


Melihat Nara terkejut dengan kehadiran Barra membuat Fajrin sedikit terhibur dan merasa lega bahwa Nara sudah terlihat ceria lagi. Barra masih saja menggoda Nara membuat Afkar yang sedari tadi juga memperhatikan interaksi antara Fajrin dan Nara, mendekatinya dengan langkah lebar dan mulai sedikit berdebat dengan Barra.


“ ayo dik masuk..... “ ucap Fajrin yang sudah melingkarkan tangan kanannya di bahu Nara.


Membiarkan Barra dan Afkar yang melakuka perdebatan kecil.


Makan pagi kali ini Fajrin sengaja mengambilkan makanan untuk Nara sedikit lebih banyak dari sebelum-sebelumnya.


“ makan yang banyak.... biar keponakan kakak jadi anak sehat kuat seperti adik “ ucap Fajrin sambil memindahkan 1 potong daging semur ke piring Nara.


Selesai makan pagi bersama, Fajrin mengantar Nara hingga teras rumah sebelum dirinya kembali ke kediaman Azkar. Karena hari ini Fajrin harus membawa beberapa potong pakaian seragam untuk timnya yang bersedia menjadi pembawa mahar.


Dengan menggunakan salah satu mobil milik Azkar, Fajrin membawa 12 potong pakaian seragam ke kantor.


“ coba kamu hitung dan pastikan lagi kira-kira muat tidak itu dengan tim kamu.... jangan sampai sudah di kantor ternyata ada yang tidak muat “ ucap Azkar sambil memberikan kunci mobilnya yang bisa Fajrin pakai hari ini.


“ Fajrin.... malam ini sampai hari pernikahanmu.... kamu tidur disini bawa sebagian pakaianmu untuk tidur disini dan bawa juga 1 koper besar untuk bulan madu kalian “ ucap Helen mengingat Fajrin.


Seketika raut wajah Fajrin menjadi merah.


“ eee.... itu kenapa mukamu merah.... awas jangan berpikir yang tidak-tidak dulu “ ucap Helen membuat Fajrin kembali menyibukkan diri memastikan jumlah dan ukuran pakaian seragam yang akan dia bawa ke kantor.


Azkar yang melihat jelas wajah Fajrin memerah, dengan sedikit langkah lebar mendekati Fajrin dan membisikkan sesuatu. Seketika wajah Fajrin semakin merah.


“ sayang.... jangan membuat Fajrin berpikir yang tidak-tidak “ suara lembut Helen membuat Azkar segera mencium kedua pipi Helen dan berpamitan untuk berangkat kerja.