My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 23 MUTIARA HITAM



Hari yang di tunggu-tunggu Divya akhirnya datang juga, sedari selesai makan pagi bersama kedua kakaknya Divya sibuk di kamar seorang diri. Mulai mengenakan lulur dari kaki hingga leher, memakai masker untuk mencerahkan kulit wajahnya, membasuh rambut hitam yang sedikit pirang dengan shampoo Kevis eight yang sengaja dia beli saat berlibur di Glendale California. Shampoo seharga seratus dua puluh empat dollar Amerika yang menjadi shampoo favoritnya, bila habis maka Divya akan langsung meminta Dipta untuk membelikankanya meskipun Divya bisa membeli sendiri dari bayarannya sebagai seorangSupermodel.


Tepat pukul sebelas lebih tiga puluh menit Divya sudah menunggu Dipta dan Roby di lobi gedung Surendra, Divya menjadi pusat perhatian para kaum Adam dan hawa karena pakaian yang dia kenakan sangat menarik perhatian. Pakaian yang sangat pas di tubuhnya menampilkan setiap lekuk tubuhnya dan memperlihatkan lengan dan betisnya yang mulus tanpa bekas luka sekecil apa pun. Berkali-kali Divya menghubungi ponsel Dipta mau pun Roby tapi tidak ada yang mengangkat semua, Divya mulai kesal menunggu mereka berdua. tiba-tiba matanya tertuju pada satu sosok yang dia idam-idamkan.


Fajrin berjalan dari arah gedung Cyber sambil membawa sebuah map dan memainkan sebuah Flashdisk di tangan kirinya.


“lihat apa mereka sampai berkerumun seperti itu.... macam semut saja" ucap Fajrin sambil menekan tombol lift.


Tepat saat pintu lift terbuka, Roby dan Dipta keluar dari lift.


“bro..... nanti siang jadi?” sapa Roby saat melihat Fajrin.


“jadi...... beliau sedang dalam perjalanan kemari, Dipta kamu harus hadir.” Ucap Fajrin sambil melangkah masuk ke dalam lift.


Roby dan Dipta heran melihat kerumunan tanpa berusaha mencari tahu apa yang menyebabkan para staff Surendra berkerumun seperti semut. Tiba-tiba kedua mata Dipta dan Roby membulat sempurna terkejut tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Dipta segera menuju ke pusat kerumunan melepas jasnya dan memakaikan pada Divya.


“abang sudah bilang.... jangan pakai pakaian seperti ini.... bandel sekali” ucap Dipta sambil menarik tubuh Divya ke dalam pelukkannya dan membawa mendekati Roby yang menepuk dahinya berkali-kali.


“kamu tidak punya pakaian yang sopan?” tanya Roby yang masih menepuk dahinya.


Divya melihat tubuhnya dari dada hingga bawah dress yang dia pakai.


“ini sudah menutup dada dan paha.” ucap Divya tanpa rasa bersalah sedikit pun.


“tidak bisa begini..... kalau pakai pakaian begini tidak hanya Fajrin yang malas melihatmu bisa-bisa seisi ruangan menyuruhmu keluar.” Ucap Roby kesal.


Dipta tidak mampu berkata-kata melihat penampilan Divya yang banyak mengundang perhatian kaum Adam juga Hawa.


“kita bawa ke ruang rapat dulu saja, sambil memikirkan bagaimana membatalkan sale ini" ucap Roby yang sudah menekan tombol lift.


Kedua kakak beradik itu mengikuti langkah kaki Roby tepat saat lift berhenti di lantai dua, seorang wanita dengan mengenakan celana panjang model slim fit dan blouse setinggi lutut serta hijab yang menutup dada masuk ke dalam lift. Seketika sekujur tubuh Dipta menegang membuat Roby ingin menjahilinya.


“ning..... sudah makan siang? Ini buat siapa?” tanya Roby asal.


“Alhmdulillah sudah pak..... ini buat pak Fajrin tadi beliau titip untuk diberikan makan siang gado-gado siram" ucap ningsih sambil merapikan lipatan hijab di dekat pelipis kirinya.


“hari sabtu besok..... Abi ada di rumah tidak?” tanya Roby membuat Dipta semakin tegang dan salah tingkah.


“Insya ALLAH ada pak.” Jawab Ningsih singkat.


“Dip.... ningsih bilang sabtu besok Abi-nya ada di rumah..... kamu jadi mau bicara sama Abi-nya Ningsih?” ucapan Roby semakin membuat Dipta gugup hingga keringat mengucur di dahi dan punggungnya.


Divya memandangi Ningsih dari ujung kaki hingga kepala dengan heran.


“inikah mutiara hitam yang bang Dipta maksud?” gumam Divya dalam hati sambil memandangi ningsih.


Pintu lift terbuka keempat orang tersebut keluar, Ningsih berjalan ke ruang kerjanya sedangkan Roby membawa kakak beradik Lohia ke ruang rapat yang kosong. Tatapan mata Dipta tak lepas dari sosok Ningsih hingga hilang masuk ke ruangan.


“bang.... itu mutiara hitamnya?” canda Divya tapi belum membuat Dipta tersadar.


“kalian tunggu disini.... aku cari mukena dulu buat kamu" belum sempat Roby keluar ruangan, Ningsih mendatangi mereka dengan membawa dua helai pakaian untuk Divya.


Ningsih tahu betul siapa Divya karena Ningsih ternyata pernah satu sekolah dengan Divya sewaktu SMP meskipun hanya satu tahun saja karena Abi Ningsih harus pinta ke Langsa.


“kamu pasti Divya Prakash Lohia.... kalau kamu mau mendekati pak Fajrin, pakai ini.... sebentar lagi beliau akan menjadi Imam Sholat Jum'at dan akan ada pengajian di Masjid kami.” Ucap Ningsih dengan tegas.


Roby dan Divya heran melihat ucapan tegas Ningsih, tapi tidak dengan Dipta karena mereka sudah beberapa kali bertemu dan berbincang-bincang. Karena sikap tegas Ningsih inilah Dipta bertemu lutut dan berusaha keras menyakinkan hati orang tua Ningsih.


“bang.... ada black pearl" suara pelan Divya terdengar jelas oleh Ningsih dan dia hanya tersenyum.


“pak Dipta.... Abi pesan besok sabtu selepas Shubuh sampai masuk Dhuhur, bapak bisa menyerahkan halapan tiga juz" ucapan Ningsih seketika membuat Dipta membatu karena dia belum menghapal semua.


Roby mendengar ucapan Ningsih dan segera menutup mulutnya dengan tangan kanannya.


“Assalamu'allaikum” salam Ningsih dan segera meninggalkan mereka bertiga.


“Wa'alaikumsalam” balas Roby dan Dipta hampir bersamaan.


Divya menatap pemberian Ningsih dengan heran dan bingung bagaimana memakainya.


“pakai saja sebisa kamu" ucap Dipta yang lemas karena belum hapal semua surat yang sudah dia janjikan.


Tiga puluh menit sebelum Adzan Dhuhur, mereka bertiga masuk ke dalam lift untuk turun ke lantai dua tempat masjid besar Surendra Corp berada. Mereka bertemu dengan dengan Fajrin juga Azkar dan Ningsih yang berjalan di belakang Fajrin, tangan Divya di tarik oleh seseorang dan hampir saja membuat Divya teriak.


“bagaimana hapalan kamu?” Azkar menepuk bahu Dipta.


“belum sempurna pak.” Ucap Dipta lemas dan tertunduk.


“bukankah Fajrin sudah membantumu?” tanya Azkar membuat Dipta semakin tertunduk.


“saya memang tidak pandai menghapal” ucap Dipta seperti mau menyerah.


“kalau begini saja kamu menyerah.... seharusnya kamu malu sama bang Azkar...... bang Azkar hanya diberi waktu tiga hari menghapal sudah An-Nisa sebagai mahar permintaan Helen.” Ucap Fajrin yang sudah berjalan di samping Dipta.


Dipta terkejut mendengar ucapan Fajrin menatap Azkar tidak percaya.


“semangat Bro...... masih dua bulan lagi untuk mengucap kalimat Ijab qabul" ucap Roby memberi semangat Dipta.


Ningsih melihat ke empat pria itu dengan tersenyum kecil dan Divya melihatnya dengan jelas.


“manis" gumam Divya dalam hati.


“disana untuk jamaah pria, jamaah wanita disini" ucap Ningsih yang sudah menarik Divya masuk ke area sholat khusus wanita.


“kamu sudah Wudhu?” Divya diam mendengar pertanyaan Ningsih.


“kamu tahu cara wudhu? Ikuti aku....” Ningsih membimbing Divya untuk wudhu yang pada awalnya Divya tidak mau melakukannya karena takut make up-nya luntur.