
“dik..... dua bulan lagi kakak ke Jaipur mengerjakan project ini" ucap Fajrin pada Nara yang sedang sibuk dengan laptop barunya.
“berapa lama kak? Sampai project selesai atau hanya beberapa minggu saja?” tanya Nara yang sudah melihat selembar kertas yang berisi pernyataan bahwa Rosewood menunjuk Fajrin sebagai perancang bangunan miliknya.
“kakak pulang kalau project sudah selesai dan siap di serah terima-kan ke pemiliknya.” Ucap Fajrin yang sudah duduk di samping Nara.
Nara tiba-tiba memeluk Fajrin.
“Nara ihklas melepas kakak pergi..... kakak jangan lupa sholat” ucap Nara pelan yang terdengar sedih di telinga Fajrin.
“adik tinggal di rumah bang Azkar ya..... biar kakak tenang" ucap Fajrin yang sudah membalas pelukkan Nara.
“tidak mau..... lagi pula bang Azkar sudah menyuruh beberapa orang untuk mengawasi Nara.” Fajrin terkejut mendengar ucapan Nara.
“dari mana adik tahu..... apa bang Azkar memberitahu adik?” tanya Fajrin sambil menangkup kedua pipi Nara.
“tidak..... tapi beberapa hari lalu ada ibu-ibu bilang kalau rumah yang di sebelah sana ada yang kontrak dan semua laki-laki “ ucap Nara sambil menunjuk rumah yang dia maksud.
“mereka tidak jelas pekerjaannya tapi setiap hari selalu ada dua orang yang duduk di depan rumah dan mengawasi rumah kita, terkadang dua orang itu juga mengikuti Nara. Begitu kata ibu-ibu" ucap Nara sambil memainkan ujung kemeja Fajrin.
“oooo..... yakin berani selama lima belas bulan kakak tinggal sendiri?” tanya Fajrin meyakinkan diri Nara.
“Insya ALLAH..... lagi pula pasti bang Azkar menyuruh orang-orangnya untuk menjaga Nara.” Ucap Nara santai.
“benar juga..... bisa jadi nanti bang Azkar menyuruh satu orang pengawal tidur disini menemani adik.” Ucap Fajrin membuat Nara terkejut.
“tidak mau” tolak Nara tegas.
“kalau tidak mau.... selama kakak pergi.... adik tinggal di rumah bang Azkar ya....” bujuk Fajrin membuat Nara kalah dan tidak punya pilihan.
Selama dua bulan sebelum Fajrin berangkat ke Jaipur, Fajrin sibuk dengan persiapan pekerjaannya dan sibuk mencari provider yang bisa menyediakan jaringan internet di rumahnya. Fajrin sengaja memasang jaringan internet di rumah untuk Nara supaya dia bisa melakukan panggilan skype, Fajrin langsung membayar biaya tagihan berlangganan untuk dua tahun kedepan.
Mendengar Fajrin akan berangkat ke Jaipur dalam waktu dua bulan ini, Ningsih segera menghubungi Dipta dan meminta Dipta untuk bertemu abi-nya. Ningsih tidak mau menikah tanpa Fajrin sebagai saksi, secara otomatis membuat Dipta terkejut karena itu berarti Dipta harus menikahi Ningsih satu minggu sebelum Fajrin berangkat dan itu berarti dia harus semakin giat menghapal beberapa juz lagi. Setiap weekend Fajrin benar-benar memanfaatkan waktu selama dua bulan menemani Nara kemana pun Nara minta dan permintaan Nara hanya satu menemaninya mencari tahu tentang kompetisi CTF online. Karena sepengetahuan Nara, Fajrin dulu pernah mengajaknya melihat kompetisi CTF secara streaming dengan Bara. Fajrin memberinya beberapa saran dan masukan Nara mencatatnya di sebuah kertas dan menempelkannya di sebuah papan white board yang tidak jauh dari meja belajarnya.
Segala persiapan Fajrin dan tim-nya sudah selesai semua, Fajrin sudah mengatakan juga pada Azkar bahwa dia memerlukan bantuannya untuk menjaga Nara selama dia pergi. Azkar menambah dua orang pengawal laki-laki untuk tinggal di rumah sewa yang berada tidak jauh dari rumah Fajrin dan menempatkan satu orang pengawal wanita serta satu orang asisten wanita untuk membantu Nara membersihkan rumah.
Di hari pernikahan Ningsih sesuai dengan permintaan Ningsih, Fajrin datang sebagi saksi dari pihak Ningsih karena dua orang kakaknya tidak dapat hadir. Roby, Azkar dan semua tim Fajrin datang sebagai bagian dari saksi pihak Dipta karena sampai detik ini Dipta masih tidak mendapatkan restu dari Davis papinya. Sedangkan Ditya sangat terkejut mendengar Dipta akan menikahi seorang gadis berjilbab yang parasnya jauh sekali dari para mantan kekasihnya, dengan sangat terpaksa Ditya hadir ke pernikahan Dipta. Saat Ditya melihat Ningsih untuk pertama kalinya saat itu juga Ditya terkejut juga terkesima dengan wajah ayu Ningsih yang terpoles make up flawless, membuat Dipta harus menyadarkannya dengan menepuk bahunya beberapa kali.
Hari ini tepat di hari keberangkatan Fajrin dan yang lainnya ke Jaipur, Ningsih dan Dipta mengantarnya sampai pintu masuk ruang cek in. Mereka tidak memiliki previllage untuk mengantar sampai private longue, sedangkan Nara karena harus menghadiri praktikum mata kuliah sistem perangkat keras dengan sangat terpaksa tidak dapat mengantar kepergian Fajrin hingga bandara, tapi Fajrin masih menyempatkan diri mengantar Nara ke kampus.
Saat Fajrin hendak meninggalkan Nara, Fajrin menyerahkan satu kardus kecil berisi puluhan Flashdisk yang Nara tidak tahu apa isi Flashdisk itu, Fajrin hanya memberinya pesan.
“kalau adik benar-benar serius dengan kompetisi CTF online, pelajari semua script yang ada di dalam Flashdisk ini..... kakak tidak bisa mengajari adik dalam waktu singkat tapi kakak yakin dengan adik mempelajari apa yang ada di dalam Flashdisk ini, adik akan memahami maksud kakak.” Kalimat terakhir yang Fajrin ucapkan sebelum pergi meninggalkan Nara di kampus.
“pak.... bapak bisa bahasa Hindi?” tanya Muslim ragu.
“tidak bisa.... sulit” jawab Fajrin singkat membuat
Muslim dan Ryan tidak jadi bertanya lebih lanjut.
“kalau bahasa vietnam bapak pasti fasih" ucap Andra sambil mengingat saat Fajrin berbicara dengan tim vietnam.
“tidak juga.... hanya sedikit saja.... itu pun saya belajar dari mereka" ucap Fajrin sambil melihat jam di tangan kanannya.
“kalian sudah membaca profile tim India yang akan bekerja sama dengan kita?” pertanyaan Fajrin membuat ke enam timnya menjadi seketika terdiam.
“sedikit pak" jawab Gultom pelan.
“yang perlu di ingat kalian jangan sekali-kali makan daging sapi.... lebih baik daging ayam.... kalau tidak mereka akan mendiamkan kalian" ucap Fajrin sambil melihat ponselnya yang menampilkan sebuah pesan dari nomor yang tidak dia kenal.
“nomor siapa ini" gumam Fajrin dan segera menghapus pesan itu.
“oooo..... pimpinan cabang New Delhi pak Krishna..... orang india asli....” ucap Irvan pelan.
“beliau campuran India Rusia....” ucapan singkat Fajrin membuat Irvan merinding membayangkan bagaimana dia akan berkomunikasi dengan tim India.
“oooo.... selain pak Krishna apa yang lain asli india?” tanya Ryan penasaran.
“Jatinra campuran India Pakistan dia satu-satunya tim India yang sama dengan kita" ucapan Fajrin membuat mereka bertanya-tanya maksud dari kata sama.
Fajrin memberi tanda dengan tangannya dan seketika membuat mereka berenam serempak membulatkan kedua bibirnya.
“oooooo..... bisa makan sapi" ucap Cahyo membuat yang lain menahan tawanya.