
“ there's nothing possible.... if God wills...... all the results of the doctor's examination will be meaningless..... see.... now Ai is pregnant.... if Ai remembers what the doctor said last year ..... how long does it take for Ai to be pregnant..... more than five years.... but now look.... it not two years Ai has been pregnant.... anyway it’s triplets..... once again try Ai to remember.... how many drugs have we bought and Ai ignores it.... (semua tidak ada yang tidak mungkin.... bila TUHAN menghendaki...... semua hasil pemeriksaan dokter tidak akan ada artinya..... lihat... sekarang cinta hamil.... kalau cinta ingat apa ucapan dokter itu tahun lalu..... berapa lama perkiraan cinta bisa hamil..... lebih dari lima tahun.... tapi lihat sekarang.... belum ada dua tahun cinta sudah hamil.... kembar tiga pula..... coba cinta ingat-ingat sekali lagi.... sudah berapa banyak obat yang kita beli dan cinta abaikan obat itu....) “ ucap seorang pria yang berdiri tepat di depan Fajrin.
Divya dan Fajrin dapat dengan jelas mendengar ucapan pria itu, Fajrin menggerakkan pelan genggaman tangannya agar Divya melihatnya. Bukan Divya tidak mendengar ucapan pria yang di depan Fajrin, Divya dapat mendengar dengan jelas dan tersenyum melihat Fajrin.
“ kita akan berusaha.... kita yakinkan ALLAH bahwa kita mampu menjaga amanahnya. “ ucap Divya yang terdengar lebih bersemangat dari pada tadi saat duduk.
Davis yang merasa sudah tidak ada lagi urusan yang harus dia selesaikan di Jakarta, memilih berpisah dengan Fajrin dan Divya di Singapore dan kembali ke Montreal.
“ Fajrin.... papi sudah menandatangani berkas itu.... semalam papi letakkan di meja dekat koper kalian..... papi harus segera kembali ke Montreal..... bibi kalian membuat masalah lagi “ ucap Davis yang terdengar sedih karena Martha adik perempuannya membuat ulah lagi.
Fajrin dan Divya tersenyum sedih mendengar keluh kesah Davis.
“ kami akan antar papi ke bandara.... lusa kami akan kembali ke Jakarta..... “ ucapan Fajrin membuat Divya menatapnya dengan heran.
“ lusa..... ? “ tanya Fajrin heran.
“ ooo.... apa setelah lusa saja?.... bagaimana? “ ucapan Fajrin sekali membuat Divya menatapnya heran.
Fajrin membisikkan sesuatu tepat di telinga Divya, membuat Divya tersipu malu dan Davis tersenyum tipis.
“ nikmati kebersamaan kalian sebelum ALLAH memberikan kalian amanah Fajrin junior atau.... Divya junior...... “ ucap Davis sambil menepuk lengan Fajrin.
Mereka tersenyum bahagia dan mereka segera pergi ke bandar udara International Changi untuk mengantar Davis. Sekepergian Davis, Fajrin mengajak Divya berjalan-jalan keliling Singapore. Fajrin mengajak Divya menaiki singapore fryer melihat pemandangan singapore di siang hari, dan melanjutkan makan malam di Marina Bay Sands SkyPark.
Fajrin sengaja merahasiakan ini karena ingin memberi kejutan pada Divya, Fajrin sudah melakukan reservasi makan malam di salah satu restauran di Marina Bay Sands Skypark.
“ ayang.... ini terlalu berlebihan..... “ ucap Divya berusaha menolak ajakan Fajrin.
“ tidak ada yang terlalu berlebihan untuk istriku “ ucap Fajrin yang sudah menarik Divya ke dalam pelukkannya.
Mau tidak mau pada akhirnya Divya mengikuti langkah kaki Fajrin. Fajrin membawa Divya menuju restauran yang berada di lantai paling atas atau roof top, sebuah restauran yang menyajikan masakan khas Vietnam dengan pemandangan malam Singapore. Restaurant So Pho menyajikan menu makanan kaki lima tersohor di Vietnam. Selain sup mi dan makanan kaki lima populer Vietnam lainnya, So Pho menawarkan hidangan Vietnam autentik dengan suasana santai dan kontemporer serta harga terjangkau. Restauran yang didekorasi secara sederhana, dengan perabotan berwarna netral. Lentera putih dan hamparan tanaman hijau di seluruh restoran menghadirkan suasana santai, cerah, dan menyenangkan.
“ ayang..... kapan ayang melakuan reservasi ? “ pertanyaan Divya membuat Fajrin tersenyum tipis.
“ hmmmm.... kapan ya..... “ ucap Fajrin sedikit menggoda Divya.
Saat seorang pramusaji menyerahkan buku menu, seketika Divya menutup buku menu tersebut.
“ ayang yang pilih menu makan malam “ sekali lagi Fajrin tersenyum tipis mendnegar ucapan Divya.
“ two Bun Noodle with premiun Marbled beef and fried Spring rolls, two summer rolls with prawns grilled chicken and one Vietnamese pancake with chicken and seafood.... for the drink two hot honey lemon “ menu pilihan Fajrin membuat Divya tergelitik untuk melihat harganya.
Setiap kali Fajrin menyebutkan menu yang dia pilih, setiap kali pula Divya menatap Fajrin tidak percaya.
“ ayang..... ayang yakin itu menu tidak mahal? “ pertanyaan Divya membuat Fajrin mencubit gemas pipi kiri Divya.
“ sayang.... dengar baik-baik..... untuk sayang tidak ada yang namanya berlebihan dan tidak ada yang namanya mahal..... ayang akan lakukan apa pun selama sayang bisa terus tersenyum seperti ini “ ucap Fajrin yang sudah menangkup kedua pipi Divya.
Malam ini pertama kalinya Fajrin mengajak Divya makan malam mewah, Fajrin ingin agar Divya tidak terlalu memikirkan semua ucapan dokter. Di sela-sela menunggu hidangan pembuka atau menu utama atau pun hidangan penutup, Fajrin tidak henti-hentinya memuji perubahan sikap pada diri Divya membandingkan saat pertama kali melihat Divya.
Malam semakin larut hingga membuat mereka harus segera kembali ke apartment tempat mereka bermalam menggunakan taksi, sepanjang perjalanan suasana menjadi hening mereka saling menggenggam tangan seperti saling menguatkan satu sama lain. Di dalam hati Divya berharap semoga Fajrin tidak akan pernah meninggalkan dirinya, apa pun yang terjadi pada dirinya nanti. Begitu juga di dalam diri Fajrin yang berharap semoga Divya tidak menyerah dengan kondisinya, ihklas menerima semua ujian ini dan mau berusaha bersama-sama hingga nafas terakhir.
Sampai di dalam apartement, Divya dan Fajrin membersihkan diri secara bergantian. Seperti biasa setiap malam sebelum tidur atau pun aktivitas malam, Fajrin akan mengajak Divya untuk saling terbuka dari hati ke hati.
“ sayang..... ayang harap sayang tidak terlalu memikirkan semua ucapan dokter tadi...... dokter atau pun kita tidak akan ada yang pernah tahu bagaimana takdir kita..... dan hanya kita dengan izin ALLAH saja bisa merubah nasib kita..... ayang harap..... mulai malam ini buang jauh-jauh semua ucapan dokter tadi..... kita berusaha bersama-sama dan mulai malam ini kita sholat Tahajjud berjamaah.... “ ucap Fajrin yang sudah memeluk Divya di dalam dekapannya.
“ kalau seandainya dalam dua tahun sampai lima tahun lebih..... Divya belum hamil juga bagaimana? “ tanya Divya sambil memainkan jari telunjuk tangan kirinya di dada Fajrin.
“ sayang ingat kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam menanti keturunan.....? “ tanya Fajrin sambil membelai lembut rambut Divya.
“ mmmmm.... kalau tidak salah saat Nabi Ibrahim dan Siti Sarah sudah menua.... rambut mereka sudah memutih. “ jawab Divya pelan yang masih belum tahu kemana arah pembicaraan ini.