
Seperti hari ini, Divya sudah meminta patrick untuk mengisi lemari pendingin dengan protein laut.
“ kak.... minggu depan kontrak Divya habis..... Divya harus kembali ke Jakarta.... apa kak Fajrin ikut Divya saja kembali ke Jakarta? “ rayu Divya dengan menyodorkan sebuah buku yang pernah Fajrin susun.
“ tidak bisa Divya, project belum selesai..... kakak harus disini sampai serah terima ke pihak Keemaya selesai. “ ucap Fajrin dan meraih buku yang Divya sodorkan.
“ kalau Divya kangen kak Fajrin bagaimana? “ tanya Divya dengan manja membuat Elena melempar sebuah kulit jeruk dan tepat mengenai kepala Divya.
“ kirim pesan saja, nanti kakak balas “ ucap Fajrin sambil menunjukkan sebuah halaman pada Divya.
Divya membaca sesaat halaman yang Fajrin tunjukkan.
“ apa kakak tidak percaya dengan kemampuan rekan-rekan kakak sampai kakak harus tetap disini sampai project selesai..... “ ucap Divya mulai merajuk.
“ bukan kakak tidak percaya pada kemampuan mereka tapi ini amanah langsung dari president direktur Rosewood, kakak tidak bisa begitu saja meninggalkan amanah ini.... kakak tidak bisa menghianati kepercayaan president direktur Radha. “ jelas Fajrin sambil menunjuk sebuah kalimat yang harus Divya baca.
Divya dengan mengerutkan kulit tulang hidungnya terpaksa membaca kalimat yang Fajrin tunjuk.
“ haram memandang wanita yang bukan mahram....? “ Divya tertegun membaca kalimat yang Fajrin tunjuk dengan jari telunjuk kanannya.
“ ayo di baca “ ucap Fajrin sambil membaca sebuah pesan singkat dari Nara.
Fajrin tersenyum manis membaca pesan itu dan Divya melihat senyum itu.
“ duh..... tampan sekali..... jadi ingin cium-cium wajah kak Fajrin... “ gumam Divya dalam hati sambil mengamati Fajrin.
Fajrin sadar bahwa Divya tidak memusatkan kedua matanya pada tulisan di halaman yang dia tunjuk.
“ Di baca Divya.... “ ucap Fajrin santai membuat Divya sadar dan segera kembali melihat tulisan itu.
Sementara Elena dan Liam yang hari ini menemani mereka, kembali menahan tawa. Sudah sering mereka melihat hal seperti ini dan tak jarang juga mereka akan tertawa lepas bila Divya benar-benar kelewatan membuat Fajrin harus berpura-pura kembali ke Jaipur dan yang akhirnya Divya harus menuruti perintah Fajrin.
“ kak Fajrin semakin hari semakin tampan.... Divya semakin cinta sama kakak “ ucapan yang sering sekali Fajrin dengar dari Divya bila Divya ada maunya.
Fajrin menarik nafas panjang dan meletakkan ponselnya di meja, Divya mengintip sedikit wallpaper dari ponsel Fajrin.
“ kali ini kamu mau apa? Kalau masih meminta kakak untuk kembali ke Jakarta dengan kamu.... kakak tidak bisa “ ucap Fajrin yang sudah melipat kedua tangannya di dada.
Divya meringis mendengar tebakan Fajrin yang selalu benar, karena memang Divya sangat tidak ingin berpisah jauh dari Fajrin. Divya sudah terbiasa dengan kebersamaan mereka meskipun hanya terjadi sekali dalam sebulan.
“ Divya akan bilang sama bang Azkar..... Divya telepon bang Azkar sekarang ya.... “ ucap Divya yang sudah meraih ponselnya.
Fajrin seketika berdiri dari sofa dan mengambil jaket serta mengenakan sarung tangannya, Divya mulai panik karena Fajrin akan kembali ke Jaipur.
“ kak jangan kembali dulu.... Divya mohon.... minggu depan Divya sudah kembali ke Jakarta..... ayolah kak..... temani Divya lebih lama lagi..... “ pinta Divya yang sudah bersiap memegang lengan Fajrin.
Elena dan Liam melihat tingkah Divya yang berbeda jauh dengan saat Divya menyelesaikan jadwalnya, membuat mereka berdua selalj berbisik-bisik.
“ kalau kamu masih bersikap seperti ini.... kakak tidak akan menghubungi kamu lagi selama kakak masih disini “ ucap Fajrin dengan suara sedikit tinggi membuat Divya tertunduk.
“ tadi kakak sudah bilang..... kamu kirim pesan saja nanti pasti kakak balas..... apa kamu tidak tahu gunanya ponsel kamu itu? “ suara Fajrin kembali seperti semula karena tidak tega melihat Divya yang tertunduk cemberut.
“ kalau begitu temani Divya sampai besok.... malam ini kakak tidak boleh kembali ke Jaipur.... kakak harus menginap di sini “ ucap Divya denga berani dan menatap mata Fajrin.
Sedetik kedua mata mereka bertemu dan Fajrin dengan cepat memutus kontak mata mereka dengan memejamkan mata. Elena dan Liam yang sedang menikmati jus semangka seketika terkejut dengan ucapan Divya yang berani, sampai jus semangka yang sudah berada di mulut mereka tersembur keluar.
Fajrin menarik nafas panjang dan memalingkan badannya melihat Liam dan Elena yang sibuk membersihkan bekas semburan jus semangka mereka.
“ baiklah....... “ ucapan Fajrin terhenti tapi sudah cukup membuat Divya teriak kegirangan
“ tapi mereka berdua juga menginap disini “ ucapan Fajrin membuat Divya lemas, sementara Elena dan Liam tertawa terbahak-bahak mendengar syarat Fajrin.
“ bagaimana? “ tanya Fajrin sambil melihat Liam yang masih tertawa.
Divya berjalan mendekati Elena dan Liam yang masih tertawa terbahak-bahak.
“ come on.....stay here overnight.....the day after tomorrow until his returns to Jakarta I can't see his handsome face anymore (ayolah..... menginap semalam disini..... lusa sampai kak Fajrin kembali ke Jakarta aku tidak bisa melihat wajah tampannya lagi). “ rayu Divya dengan wajah memelas membuat Elena dan Liam tidak tega.
Elena dan Liam saling memandang seperti berbicara dengan mata mereka, dan mereka menjawab permintaan Divya bersamaan.
“ okay....but we all sleep on the floor....no one should sleep in the room or on the sofa (baiklah.... tapi kita semua tidur di lantai.... tidak boleh ada satu pun yang tidur di kamar atau di sofa) “ ucap Elena dan Liam bersamaan.
Mereka sangat paham bahwa Divya tidak bisa tidur dengan alas tidur yang keras. Divya membuka lebar mulutnya tidak percaya dengan syarat yang mereka ajukan.
“ okay (baiklah).... “ jawab Divya lemas dan kembali duduk di sofa.
Elena dan Liam senang karena kali ini berhasil membuat Divya yang selalu meminta kondisi nyaman dapat merasakan kondisi ketidaknyamannan.
“ Liam.... take your sleeping bags (Liam.... ambil kantung tidur kalian) “ perintah Elena dan membuat Liam segera keluar dari unit Divya untuk mengambil kantung tidur.
Fajrin meletakkan kembali jaketnya di sofa dan kembali duduk di depan Divya.
“ sudah selesai sandiwaranya? “ tanya Fajrin yang membuka kembali halaman yang dia tunjuk tadi karena sempat tertutup beberapa halaman.
Divya menganggukan kepalanya dengan malas.
“ kalau sudah selesai.... lanjutkan membaca ini “ ucap Fajrin yang kembali menunjuk kalimat yang tadi Divya baca.
“ qul lilmu-miniina yaghudhdhuu min abshaarihim wayahfadzuu furuujahum dzaalikaadzkaa lahum innallaaha khairumbimaa yashna'uuna. Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara ***********. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat “ suara Divya bergetar saat membaca arti dari tulisan yang dia baca.
“ baca ini “ ucap Fajrin yang sudah memindahkan jari telunjuknya di sebuah kalimat.
Divya menarik nafas panjang mengikuti arah yang Fajrin tunjuk dengan jari telunjuk.
“ Memandang wanita adalah panah beracun dari berbagai macam panah iblis. Barangsiapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah akan memberi balasan iman kepadanya yang terasa manis baginya HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no. 7875 “ suara Divya terdengar bergetar kembali.