
Dua minggu sudah Fajrin berada di Bergen menghabiskan waktu dengan keluarga besar Afkar, sesekali Selo mengajaknya berjalan-jalan disekitar castil.
“ kalau kamu serius dengan putrinya Davis.... om akan mendukungmu.... sudah kewajibanku membantu kamu.... ayahmu banyak berjasa pada keluarga kami, sekarang waktuku untuk membalas kebaikan ayah kalian dengan menjaga kalian berdua. Katakan saja apa yang kamu butuhkan, om akan membantumu “ ucapan Selo membuat Fajrin teringat kembali sosok ayahnya yang seorang pekerja keras.
“ terima kasih.... selama ini bang Azkar sudah banyak membantu saya dan adik saya, itu sudah lebih dari cukup bagi saya. “ ucap Fajrin merasa tersanjung dengan ucapan Selo.
“ kita sudah menjadi keluarga sejak dulu.... kalau saja ayah kalian tidak bersikeras kembali ke Jakarta.... “ ucapan Selo terhenti begitu juga dengan langkahnya.
“ semua sudah berlalu om.... sekarang kami hanya menjalani apa yang sudah menjadi takdir kami. “ ucap Fajrin sambil mengajak Selo duduk di kursi taman.
Kedua pria beda generasi ini duduk terdiam menikmati langit sore melihat luasnya laut utara, dari belakang seorang wanita setengah baya mendekati mereka.
“ Abba..... lusa kita harus ke Jakarta, akhir pekan ini Dean akan membawa kedua orang tuanya melamar Norin. “ ucapan Freya membuat Selo tersenyum bahagia.
Satu persatu anaknya akan mengikat janji dnegan pasangan masing-masing.
“ Fajrin, kamu dengar itu.... apa kamu mau Norin mendahului kamu? Nara sudah mendahului kamu.... kamu sudah menyelesaikan kewajiban sebagai wali nikah Nara, sudah waktunya kamu menentukan pasanganmu sendiri.... kami akan dengan senang hati melamar Divya untukmu “ ucapan Selo seketika membuat wajah Fajrin terlihat malu.
“ serius kamu suka dengan Divya putrinya Davis? Baguslah kalau kamu serius.... jadi kita Jakarta sudah memiliki dua rencana pasti.... menikahkan Fajrin dengan Divya dan Norin dengan Dean.... Amma tidak sabar untuk mempersiapkan acara pesta pernikahan kalian “ ucap Freya dan segera melangkah menjauh dari dua pria beda generasi ini.
Fajrin memijat dahinya yang tiba-tiba terasa pening.
“ ayo... kita masuk.... om yakin kakek akan senang mendengar rencana ini “ selo sambil menepuk bahu Fajrin.
Fajrin mengikuti pelan langkah kaki Selo.
“ Ya ALLAH..... aku mohon berikan hidayah-Mu pada wanita yang sudah membuatku labil..... aku nadzar bila dia hijrah, aku akan meminangnya.... akan aku jadikan dia ratu di hidupku “ gumam Fajrin dalam hati dengan dada yang terasa sesak.
Karena selama di Bergen, Fajrin sama sekali tidak bisa menggunakan ponselnya untuk berkomunikasi baik menerima pesan dari Divya atau pun mengirim pesan pada Divya. Hal itu karena Fajrin lupa mengaktifkan layanan roaming internasional pada kartu selularnya, Meski pun Fajrin bisa membeli kartu seluler sekali pakai dari operator Telenor tapi karena membutuhkan verifikasi data kependudukan Norwegia yang tidak Fajrin miliki. Akhirnya Fajrin memutuskan untuk tidak membeli kartu selular Teledor.
Hari kepulangan Fajrin ke Jakarta membuat Nara sedikit berat melepas kepergian kakaknya tapi bagaimana pun juga kakak beradik ini harus berpisah karena jarak. Fajrin kembali ke Jakarta dengan kedua orang tua Afkar juga Norin, mereka menggunakan private jet Sundth Air. Selama penerbangan saat mereka bersantai setelah hidangan makan pagi di sajikan oleh seorang pramugara, Selo dan Freya menyempatkan memberi banyak nasehat pada Fajrin. Fajrin mendengarkan semua nasehat Selo juga Freya, Fajrin merasa seperti kembali mendapatkan kehangatan dari kedua orang tua.
Di saat yang lain beristirahat menghemat tenaga agar tidak terlalu lelah dan capek karena penerbangan panjang tanpa transit, Fajrin memandangi foto Divya yang ternyata ada satu yang sengaja dia simpan. Sebuah foto yang dia dapat dari salah seorang rekan satu almamater dengannya yang mendengar kedekatan antara Fajrin dan Divya dari mulut Roby.
Senyum tipis terulas di bibir Fajrin setiap kali ibu jarinya bergerak mengusap layar ponsel. Tanpa Fajrin sadari ada dua pasang mata yang memperhatikannya.
“ Abba, apakah Davis melarang Fajrin berhubungan dengan putrinya? “ bisik Freya pada Selo.
“ jangan berpikir negatif dulu, kita belum tahu bagaimana detail permasalahan mereka.... sampai di Jakarta setelah urusan Norin selesai.... kita tanyakan pada Azkar.... pasti dia tahu semua.... kalau kita tanya pada Fajrin pasti dia tidak mau bercerita. “ bisik Selo.
Selama penerbangan tak henti-hentinya Fajrin berdoa dan berdzikir berharap hanya pada ALLAH bahwa ALLAH akan memberikan Divya hidayah.
Penerbangan ke Jakarta membuat Fajrin merasa bosan karena hanya bisa duduk, tidur, makan, dan ke toilet. Dan untuk membunuh rasa bosan itu Fajrin memilih mencatat apa saja yang akan dia lakukan setelah sampai di Jakarta dan apa saja kemungkinan akan dia lakukan bila bertemu Divya.
JAKARTA.
Divya yang sudah memutuskan pilihannya mulai melakukan perubahan pada penampilannya dengan bantuan Fitri, Divya mengganti semua model pakaiannya tanpa menyisahkan satu pun. Fitri mengenalkan bagaimana cara berpakaian yang sopan dan terkesan elegan, Davis sangat mendukung keputusan Divya. Bahkan Davis menyarankan agar Divya menekuni hobi yang dulu pernah dia lakukan, Davis mencarikan tempat kursus atau pun kampus dengan program fashion design.
“ saran papi, kamu tekuni kembali hobi kamu waktu SD dulu “ ucap Davis sambil meletakkan beberapa buku sketsa fashion milik Divya yang Nenek Ina simpan.
Divya melihat buku itu dan membukanya lembar demi lembar.
“ apa masih bisa Divya memulai ini kembali, sepertinya tangan ini sudah kaku selama ini Divya hanya memakai untuk tanda tangan kontrak “ ucap Divya sambil menggerak-gerakan jari jemari tangan kirinya.
“ berusahalah dulu.... papi akan membantumu dengan mengadakan fashion show.... kamu pikirkan saja brand apa yang akan kamu pakai nanti.... tapi ingat satu hal.... jangan buat pakaian yang terbuka. “ ucap Davis sambil menyerahkan beberapa lembar brosur tempat kursus dan kampus fashion design di kualalumpur yang sudah di print oleh Jason.
Divya meraih beberapa lembar brosur tersebut dan terlihat memilah-milah.
“ kangen..... ayang kapan pulanh “ gumam Divya dalam hati.
Meski pun mata dan tangannya tertuju pada lembaran-lembaran brosur beberapa kampus dan tempat kursus fashion design, tapi hati dan otaknya hanya tertuju pada satu sosok. Tanpa Divya sadari air matanya mengalir, Divya menangis tanpa suara merasakan sesuatu yang sakit di dada membuat nafasnya terasa berat dan sesak hanya karena tidak mendengar berita sedikit pun dari Fajrin. Dari ruang makan Davis melihat apa yang terjadi pada Divya, Davis merasa dadanya sakit seperti terhimpit sesuatu. Melihat putrinya menangis dalam diam hanya karena merindukan sosok pria yang berusaha menjauh dari lingkungan keluarganya.
“ kali ini, papi berjanji akan membuatmu tersenyum dan tertawa.... papi akan melakukan apa pun supaya kamu tersenyum lagi. " gumam Davis sambil menarik nafas panjang.