My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 12 HUTANG (1)



“kakak kenapa?” tanya Nara yang sudah duduk di sebelah Fajrin sambil memegang sebuah map berwarna biru.


“tidak ada apa-apa..... sudah selesai semua administrasinya?” tanya Farjin mengalihkan perhatian Nara.


“sudah kak..... untung hari ini daftar.... kalau tidak Nara bisa tidak kuliah" ucap Nara sambil merapikan niqabnya.


“iya..... adik harus berjanji pada kakak..... adik harus belajar yang rajin, harus giat tidak boleh mengeluh apa pun kesulitannya, setiap semester tidak boleh ada mata kuliah yang mengulang dan harus mendapatkan nilai minimal B+. Kuliah disini mahal tapi memang bagus jurusannya.....” ucap Fajrin sambil menggenggam erat kedua tangan adiknya.


“iya kak" ucap Nara singkat dan yakin.


“sudah sore.... kita pulang ya...” ajak fajrin membuat Nara segera berdiri dan berjalan ke area parkir motor.


Sampai di rumah, Fajrin langsung masuk ke kamar mengambil dua buku rekening dari dalam lemari pakaiannya.


“Bismillah semoga berkah buat Nara.....” ucap Fajrin sambil memandangi sebuah halaman buku rekening yang menampilkan sejumlah nominal yang dia butuhkan untuk biaya kuliah satu tahun pertama Nara.


Ponsel Fajrin berdering, dia melihatnya sesaat dan menekan tombol pesan.


“Alhamdulillah...... ya ALLAH semoga ini yang terbaik.....” ucap Fajrin sambil membuka buku rekening satunya dan membalas pesan tadi.


Fajrin mengeluarkan laptopnya dan mengetik sesuatu, beberapa menit kemudian dia mengetik sebuah pesan dan mengirimkan sebuah foto. Beberapa detik kemudian ponselnya berbunyi.


“Assalamu'allaikum, om Rendra" salam Fajrin.


“.....”


“saya yang seharusnya berterima kasih sama om, om sudah membantu saya. Kalau waktu itu om tidak percaya dengan saya, mungkin saya saat ini tidak bisa seperti yang sekarang.” Ucap Fajrin dengan suara santun.


“.....”


“iya om..... akan selalu saya ingat pesan dan nasehat om"


“.....”


“Insya ALLAH..... setelah urusan Nara selesai saya akan Silahturahmi kesana" ucap Fajrin pelan dan santun.


“.....”


“Wa'alaikumsalam” balas Fajrin sambil mematikan ponsel dan meletakkan di meja.


“Alhamdulillah.... lunas juga akhirnya hutangku pada keluarga Roby. Tinggal hutang ke bang azkar..... semoga saja bang Azkar mau menerima pembayaran hutangku" gumam Fajrin sambil memandangi nominal uang yang tersisa yang di tampilkan oleh internet banking.


Fajrin keluar kamar mendapati Nara sudah menunggunya di meja makan untuk makan malam, mereka makan malam tanpa ada pembicaraan apa pun. Selesai makan malam Fajrin menyuruh Nara untuk istirahat karena hari ini pasti sangat melelahkan setelah setengah hari berlari-lari mengejar batas waktu pendaftaran kuliah.


“besok pagi saja belajarnya.... nanti malam jam dua kakak bangunkan" ucap fajrin sambil membereskan peralatan bekas makan mereka.


“iya kak..... Nara sholat Isya' dulu" ucap Nara yang sudah masuk ke kamae mandi untuk wudhu.


Tepat pukul dua pagi Fajrin membangunkan Nara dan mengajaknya untuk sholat Tahajjud. Selesai sholat Tahajjud, Nara pamit belajar untuk persiapan ujian masuk universitas Dinamika. Fajrin memandangi Nara yang melangkah masuk ke kamar dengan tatapan penuh pengharapan. Fajrin kembali berdzikir dengan ruas jari-jemarinya hingga menjelang adzan Shubuh. Nara keluar kamar mendapati Fajrin yang sudah bersiap berangkat ke Masjid untuk Sholat shubuh berjamaah, sedangkan Nara sholat di kamar.


“Assalamu'allaikum”salam Fajrin saat masuk rumah sepulang dari Sholat Shubuh.


“Wa'alaikumsalam” balas Nara yang masih berada di kamar.


Fajrin melangkah masuk ke kamar Nara melihat apa yang sedang Nara lakukan.


“ada apa kak?” tanya Nara sambil mencoret-coret bukunya mencoba menjawab soal-soal persiapan masuk Universitas.


“nanti jam sembilan ikut kakak ke kantor sebentar.... kita temui bang Azkar.... “ ucap Fajrin sambil membelai rambut hitam Nara.


“iya kak" jawab Nara singkat.


Fajrin keluar dari kamar Nara dan menuju ke belakang untuk mencuci semua pakaian kotornya juga pakaian kotor adiknya.


Tepat pukul sembilan Fajrin dan Nara sampai di gedung Surendra Corp, Fajrin langsung mengajak Nara masuk ke lift dan mekan tombol lantai sembilan belas tempat ruangan Azkar berada.


“Wa'alaikumsalam, ada di dalam.... ada apa?” tanya Roby yang sudah berdiri dan mendekati Nara.


Nara menggeser tubuhnya ke belakang Fajrin menjauh dari Roby.


“berhenti di situ.... jangan menggoda Nara.” Ucap fajrin tegas membuat Roby mencibikkan bibirnya melihat reaksi sabahatnya.


“aku hanya ingin menyapa saja tidak lebih" ucap roby berkilah.


Fajrin tahu betul bahwa Roby sahabatnya sangat tertarik dengan Nara, tapi Fajrin tidak mengijinkan Roby untuk mendekati adiknya. Mengingat track record Roby yang sering bergonta-ganti pasangan dan suka mengumbar janji pada wanita yang dia dekati.


“ada apa kesini" suara tegas Azkar membuat Roby kembali berdiri di belakang mejanya.


Fajrin dan Nara melihat wajah ketidaksukaan Azkar.


“kami ada sedikit perlu dengan bang Azkar” ucap Fajrin dengan pelan dan santun.


“ayo masuk....” ajak azkar dengan suara tegas tapi terdengar dingin di telinga Roby.


“Roby..... siapkan jadwal meeting sampai dua minggu ke depan.” Suara tegas dan dingin azkar membuat Roby segera kembali bekerja.


Fajrin dan Nara mengikuti langkah kaki Azkar, mereka masuk ke dalam ruangan yang sangat besar dengan dinding yang di penuhi rak yang tertata rapi buku-buku yang berhubungan dengan posisinya.


Azkar mengajak duduk Fajrin dan Nara di sebuah sofa yang tak jauh dari meja kerjanya. Nara mengedarkan pandangannya melihat seluruh isis ruang kerja azkar, seketika matanya fokus pada sebuah foto keluarga yang terpajang tepat di belakang azkar.


“sepertinya pernah melihat orang itu..... tapi dimana ya....” gumam Nara dalam hati sambil berpikir.


“dik.... duduk.... tidak sopan berdiri" bisik Fajrin sambil menarik tangan kanan Nara untuk duduk di sebelahnya.


Azkar melihat Nara dengan tatapan berbagai dugaan dan mengulas senyum tipis, senyum yang sempat terlihat oleh Fajrin.


“dik.... itu pandangannya kemana?” tegur Fajrin membuat Nara tersadar dan segera menundukkan pandangannya.


“Nara..... apa kamu melihat sesuatu?” tanya Azkar dengan suara pelan dan terdengar santai tidak saat seperti berbicara dengan Roby.


“tidak ada bang.... “ jawab Nara malu karena merasa ketahuan bahwa sedang memandangi foto keluarga Azkar.


“oya...... Helen titip salam untukmu" ucap Azkar santai


.


“Wa'alaikumsalam” balas Nara singkat.


“bagaimana rencana kuliah kamu?” tanya Azkar yang memulai pembicaraan semakin santai dan terasa hangat seperti pembicaraan sebuah keluarga.


“besok sudah test masuk dan pengumumannya dua hari setelah test, bang....” ucap Nara tertunduk malu.


“kuliah yang rajin buat kakak kamu bangga sampai dia tidak bisa menahan air matanya.” Ucap Azkar membuat Fajrin tersenyum lebar.


“Insya ALLAH bang" jawab Nara singkat.


“ada perlu apa kamu kesini mengajak Nara?” tanya azkar pada Fajrin.


“maaf bang.... kalau kami mengganggu waktu abang..... saya kesini ingin melunasi hutang uang sekolah Nara.” Ucap Fajrin dengan yakin.


“yakin kamu mau melunasi semua?” tanya azkar meyakinkan Fajrin sekali lagi.


“iya bang..... “ jawab Fajrin singkat.


“baiklah kalau begitu..... kamu transfer kesini" ucap Azkar sambil menyerahkan sebuah kartu yang bertuliskan nomor rekening.


Fajrin segera mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi internet banking untuk transfer pelunasan hutangnya, sebelum menekan tombol ‘transfer' kedua mata Fajrin membulat melihat nama pemilik rekening.