My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 1 PENGHINAAN



“mau apa kesini?" ucapan sinis dan terkesan merendahkan keluar dari mulut seorang wanita setengah baya.


Mencoba tetap tenang menanggapi ucapan yang terdengar seperti sedang berusaha mengintimidasi.


“maaf bila kedatangan saya mengganggu ketenangan bapak dan ibu..... saya kesini bermaksud ingin melamar pu....” seketika Mutia menyela ucapan Fajrin membuat Fajrin tertunduk lesu.


Selama ini dia tidak sekali pun menyela satu kalimat pun setiap kali orang berbicara dengannya.


“apa? Kamu mau melamar putri kami? Apa yang bisa kamu berikan untuk Sofia? Cinta?jaman sekarang mana cukup melamar hanya dengan cinta?” ucapan Mutia semakin terdengar sinis dan semakin berusaha mengintimidasi Fajrin.


Fajrin terdiam menyadari kekurangannya, memang dia ke rumah Sofia tidak membawa buah tangan apa pun karena saat ini di sakunya hanya ada selembar uang lima puluh ribu itu pun hanya cukup dia pakai untuk membeli BBM motor buntutnya.


“dimana kamu kerja?” tanya Pras penuh selidik yang tidak kalah dengan istrinya dengan nada sinis.


“Surendra construction and property" jawab Fajrin singkat


“bekerja sebagai apa kamu disana?” tanya Mutia yang masih menggunakan nada sinis tidak percaya dengan jawaban Fajrin.


“pa.... ma.... kak Fajrin bekerja seba.....” belum selesai Sofia berbicara, mutia kembali menyela ucapan anaknya.


“mama tanya dia..... bukan kamu..... kenapa kamu yang mau menjawab.... apa kamu tahu dia bekerja sebagai apa di perusahaan besar itu?” tanya Mutia dengan pandangan mata yang semakin tidak suka dengan penampilan Fajrin.


“Saya bekerja di salah satu bagian tim ahli perencanaan" ucap Fajrin singkat


“apa kamu bekerja sebagai arsitektur?” tanya Pras meragukan jawaban Fajrin.


“Alhamdulillah iya pak" ucap Fajrin singkat.


“tidak mungkin kamu seorang arsitektur di perusahaan besar itu.... gaji arsitektur pasti besar tapi melihat penampilan dan motor yang kamu bawa.... sangat tidak menunjukkan seorang arsitektur" ucapan mutia terdengar sangat pedas di telinga Fajrin.


“kalau benar kamu seorang arsitektur di perusahaan itu.... tentu besar gaji yang kamu terima.” Ucapan Pras yang terdengar tenang tapi terkesan sangat meragukan pengakuan Fajrin membuat dada Fajrin terasa sesak.


“tapi saya tidak melihat kalau kamu mendapatkan gaji yang besar..... atau jangan-jangan kamu hanya mengaku sebagai seorang arsitektur di perusahaan itu? Padahal kamu hanya seorang pegawai rendahan saja yang ingin menipu kami" sekali lagi kalimat penghinaan dan merendahkan harga dirinya sebagai seorang kepala keluarga dan imam bagi adiknya membuat panas kedua daun telinganya.


“berapa banyak mahar yang bisa kamu berikan bagi putri kami?” ucapan Pras seketika membuat dada Fajrin terasa sesak.


“apa kamu mampu memberikan putri kami mahar seperti permintaan kami?” kalimat sinis dan terkesan merendahkan kembali keluar dari mulut Mutia.


Dengan sekuat hati dan membuang jauh-jauh idealismenya, Fajrin memberanikan diri bertanya.


“apa yang bapak dan ibu minta agar lamaran saya


“pa ma.... Sofia tidak butuh mahar apa pun” ucap Sofia memohon pada kedua orang tuanya.


“Sofia... diam" bentakkan Pras membuat Sofia diam seketika.


“dik.... sudah biarkan bapak dan ibu berbicara dulu" ucap Fajrin mencoba menenangkan hati Sofia yang mulai takut bila kedua orang tuanya akan menyebutkan mahar yang tidak mampu Fajrin penuhi.


Sofia gadis berhijab rekan satu kampus beda jurusan bahkan beda Fakultas sudah menjalin hubungan dengan Fajrin sejak satu bulan setelah kepergian Nara ke Lampung, Sofia yang menemani hari-hari Fajrin tanpa mengenal lelah. Sofia mengenal Fajrin sebagai seorang pria pekerja keras penyayang dan selalu rendah hati, Sofia kagum dengan sifat Fajrin dan inilah yang membuat Sofia bertahan menjalin hubungan dengan Fajrin meskipun berkali-kali kedua orang tuanya menentang hubungannya dengan Fajrin. Hari ini dengan berat hati Fajrin menuruti permintaan Sofia untuk melamarnya karena Sofia tidak mau di jodohkan dengan pilihan orang tuanya.


“kami minta mahar sebuah rumah mewah dengan fasilitas mewah dan sebuah mobil sport juga logam mulia seratus gram.” Ucapan Mutia membuat harga diri Fajrin jatuh seketika dia diam membatu.


Sofia tertegun mendengar permintaan mahar dari mamanya dan matanya mulai berkaca-kaca menahan air mata tapi usahanya sia-sia karena Sofia tahu betul bahwa saat ini Fajrin harus melunasi pinjamannya pada bos tempat dia bekerja.


Fajrin merasa tak ada gunanya berusaha memenuhi permintaan mahar kedua orang tua Sofia, meskipun dia bekerja keras menjadikan kepala sebagai kaki dan kaki sebagai kepala tetap tak akan mampu memenuhi mahar tersebut. Mencoba menenangkan hati dan menahan emosi dengan berat hati Fajrin memberanikan diri.


“maaf.... bila itu yang bapak dan ibu minta sebagai mahar.... saya akan mengurungkan niat saya untuk melamar putri bapak dan ibu" tangisan Sofia pecah membuat dada Fajrin semakin sakit merasa tak berguna di hadapan kedua orang tua Sofia.


“pa.... ma.... Sofi tidak butuh semua itu... Sofi hanya ingin menjadi Istri kak Fajrin" ucap Sofia dalam tangisnya.


Kedua orang tua Sofia tak bergeming mendengar ucapan anaknya dan masih memandang Fajrin dengan tatapan sinis, sombong, merendahkan dan mungkin juga membencinya.


“sudahlah dik... sepertinya kita tidak berjodoh.... maafkan kakak tidak bisa memenuhi permintaan mahar dari bapak dan ibu" ucap Fajrin pelan dengan menahan rasa egoisnya tapi tidak dengan Sofia.


Sofia semakin menangis keras dengan wajah penuh air mata. Sudah tidak ada yang bisa Fajrin perjuangkan untuk mempersunting seorang gadis yang selama ini menemaninya dari nol.


“sekali lagi maafkan saya sudah mengganggu waktu bapak dan ibu.... saya permisi dulu.... Assalamualaikum” ucap Fajrin sambil berdiri dan mengulurkan tangan kanannya untuk menjabat tangan kedua orang tua Sofia, tapi mereka tidak membalas uluran tangan Fajrin dan bersikap acuh.


Kedua orang tua Sofia masih duduk dengan melipat kedua tangannya di dada, memandang Fajrin dengan tatapan penuh penghinaan dan merendahkan. Saat Sofia hendak mengejar Fajrin, Pras segera menahan tangan Sofia begitu juga Mutia.


“mama sudah bilang.... jangan sekali-kali kamu dekat dengan pria miskin itu.... begini jadinya" ucapan Mutia masih terdengar jelas oleh Fajrin yang masih berada di teras rumah membetulkan sepatu bootsnya.


“papa akan tetap menjodohkan kamu dengan anak teman papa..... dia lebih baik dari pada pria pilihanmu" ucap Pras sambil menarik Sofia ke dalam kamarnya.


Fajrin mengendarai motor bututnya pulang kerumah, rumah yang menjadi satu-satunya kenangan dari Almarhumah ibunya rumah tempat dia mendidik menjaga membimbing adik satu-satunya Nara. Fajrin merebahkan badannya di sofa ruang tengah melepas rasa penat dan menenangkan diri hingga terlelap sampai menjelang Shubuh.


Fajrin masih mengingat jelas kalimat-kalimat yang kedua orang tua Sofia ucapkan, setiap mengingat kalimat itu membuat dadanya terasa sakit seperti tertimpa sebuah besi seberat satu ton.


“apa semua orang tua yang memiliki anak gadis akan meminta mahar yang besar saat ada yang melamar anaknya?” gumam Fajrin tidak mengerti.