My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 113 GERAH



Selesai makan siang, mereka tidak langsung kembali ke ruang kerja tapi masih bersantai sambil menikmati angin siang Jakarta. Sementara Roby sudah harus kembali ke meja kerjanya karena harus menyusun jadwal Azkar untuk 1 minggu ke depan.


“ jadi sejak kapan kalian sepakat memulai semua ini? “ pertanyaan Azkar membuat Fajrin tersedak minuman hangat yang dia minum.


“ pertanyaan sederhana saja sudah membuat kamu tersedak “ goda Azkar.


Fajrin menarik nafas panjang.


“ untuk memulai kembali mungkin sejak 1 hari sebelum aku kembali dari Lombok, tapi kalau untuk memantapkan hati mungkin setelah menikahkan Nara “ ucapan Fajrin membuat Azkar tidak percaya.


“ kalau seandainya om Davis papi Divya melarang kamu menjalin hubungan dengan anaknya bagaimana? “ Fajrin terdiam mendengar pertanyaan Azkar tapi tidak dengan Divya.


Divya cemberut mendengar pertanyaan Azkar.


“ tidak usah cemberut, jelek..... supaya kamu siap juga kalau papi kamu tidak merestui hubungan kalian.... kamu sudah siap akan melakukan apa “ jelas Azkar membuat Fajrin menarik nafas panjang.


“ aku jalani dulu semua ini.... kalau nanti seandainya tuan Davis tidak merestui bahkan melarang aku bertemu dengan putrinya.... mungkin memang kami belum berjodoh “ ucap Fajrin yang terkesan sangat pasrah dengan takdir.


“ kamu belum bertemu om Davis baru juga aku yang bertanya.... kamu sudah menyerah.... berusahalah lebih dulu meyakinkan om Davis..... setidak-tidaknya kamu berusaha dulu meyakinkan om Davis, kalau semua usaha kamu tidak berhasil baru kamu pasrah dengan takdir “ ucapan Azkar membuat Fajrin kembali ingat masa lalu.


“ kalau penolakan tuan Davis karena status sosial.... apa yang bisa aku perjuangkan dan buktikan lagi.... sampai tua pun aku belum bisa membuat status sosialku setara dengan tuan Davis “ mendengar kalimat Fajrin yang apa adanya membuat mata Divya berkaca-kaca.


Selama ini Divya tidak memikirkan apa yang Fajrin katakan saat ini, tidak sekali pun terlintas dalam benaknya. Azkar terdiam mendengar pengakuan Fajrin yang tidak ada kesan menyesal mengenal Divya atau pun menyesal bila akhir hubungan mereka sesuai dengan yang Fajrin pikiran saat ini.


“ ayang.... jangan begini..... Divya sedih.... baru juga memulai lagi dari awal.... ayang sudah berpikir bagaimana akhir hubungan kita “ ucap Divya dengan mata berkaca-kaca.


“ bagaimana pun juga kamu harus sudah mempersiapkan hati dan langkah apa yang akan kamu lakukan bila om Davis tidak merestui hubungan kamu dengan Fajrin..... aku bertanya karena aku peduli sama kamu bukan untuk menjatuhkan hati kamu. “ nasehat Azkar membuat mata Divya semakin berkaca-kaca.


Divya diam sejenak memikirkan sesuatu.


“ kalau papi tidak merestui kami dan melarang Divya bertemu ayang.... Divya kawin lari saja sama ayang “ ucapan Divya membuat Fajrin juga Azkar menepuk dahinya hampir bersamaan.


Azkar mendorong pelan dahi Divya membuat Divya mengerucutkan kedua bibirnya.


“ itu pikiran sempit..... mana bisa kamu kawin lari.... yang ada malah kalian tidak akan bahagia menjalani pernikahan kalian..... bisa-bisa setiap hari kamu mengeluh yang hanya membuat dia suntuk dan akhirnya kalian bercerai. “ ucap Azkar menatap Divya kesal.


“ Divya pokoknya tidak mau pisah lagi sama ayang.... Divya hanya mau sama ayang.... “ ucap Divya yang sudah berpindah tempat duduk di sebelah Fajrin dan memeluk lengan Fajrin.


Fajrin terkejut melihat respon Divya.


“ Divya... jangan begini.... malu di lihat bang Azkar. “ ucap Fajrin sambil berusaha melepaskan lengannya dari pelukan Divya.


“ hahahaha..... aku sudah mulai paham siapa di antara kalian yang akan menjadi budak cinta jika om Davis merestui kalian “ ucap Azkar yang sudah berdiri dari kursi tangan.


“ kalau sudah begini...... mana mau Divya lepas itu pelukan..... hahahaha “ tawa Azkar sambil berjalan menjauh dari kursi taman mentertawakan Fajrin yang berusaha melepas lengannya dari pelukan Divya yang semakin erat memeluknya.


“ sudah lepas.... bang Azkar sudah pergi “ ucap Fajrin pelan yang berusaha menenangkan dan menyembunyikan rasa gugupnya karena lengannya menempel pada benda kenyal milik Divya.


“ tidak.... Divya tidak mau lepaskan ini.... ayang harus berjanji akan meyakinkan papi dengan cara apa pun.... Divya pokoknya tidak mau berpisah lagi dengan ayang “ ucap Divya yang semakin erat memeluk lengan Fajrin hingga menekan benda kenyal sisi kanan.


Fajrin menengadahkan kepalanya dan menarik nafas panjang.


“ iya.... ayang berjanji “ ucap Fajrin pelan menyembunyikan rasa gugupnya.


“ ayang berjanji apa? “ tanya Divya meyakinkan ucapan Fajrin sambil meletakkan dagunya di bahu kiri Fajrin yang semakin membuat lengan Fajrin menekan benda kenyal sebelah kanan milik Divya.


Fajrin menarik nafas panjang sekali lagi.


“ ayang berjanji akan berusaha meyakinkan tuan Davis agar merestui hubungan kita.... sudah puas? “ tanya Fajrin yang semakin menahan rasa gugup.


“ belum.... hubungan kita apa? “ tanya Divya sambil menggoyangkan dagunya di bahu Fajrin dan tentunya semakin membuat Fajrin gugup.


“ sampai tuan Davis merestui kita menjadi pasangan suami istri.... sudah puas? “ ucap Fajrin dan membuat Divya melepas peluangnya pada lengan Fajrin.


Seketika Fajrin berdiri sedikit menjaga jarak dengan Divya dan menggerak-gerakan kerah kemejanya dengan tangan kanan menghilangkan rasa gerak yang dia tahan saat lengannya menekan benda kenyal milik Divya. Fajrin mengatur nafas dan menyisir kasar rambutnya dengan kasar.


“ Divya..... jangan lakukan itu lagi.... sebelum tuan Davis benar-benar merestui kita..... “ ucap Fajrin geram menahan diri untuk tidak berkata dengan nada tinggi pada Divya.


“ memang Divya melakukan apa pada ayang? “ tanya Divya pura-pura tidak paham maksud Fajrin.


Sebenarnya Divya sangat paham maksud Fajrin, dan Divya sengaja memeluk lengan Fajrin lebih lama dan lebih erat karena Divya sangat ingin memeluk Fajrin.


Fajrin bingung bagaimana menjelaskan apa yang sudah Divya lakukan pada lengannya dan memilih membereskan kotak makan siang Divya, sementara Divya menahan senyum melihat sikap Fajrin yang terlihat jelas gugup menutupi sesuatu. Dengan kikuk Fajrin melangkah masuk ke dalam gedung membuat Divya berlari kecil mengikutinya.


“ ayang.... ayang.... memang Divya melakukan apa? “ suara manja dan keras Divya membuat Fajrin mengabaikannya.


Divya berlari kecil mengikuti Fajrin sampai depan lift, pintu lift terbuka Fajrin masuk dan menahan pintu lift dengan menyandarkan punggungnya tepat di sensor gerak agar pintu lift tidak menutup. Divya tersenyum melihat sikap Fajrin yang masih menunggunya masuk.


“ ayang marah..... Divya peluk erat lengan ayang? “ pertanyaan Divya membuat Fajrin semakin kikuk berada di dekat Divya.


Pintu lift tertutup begitu Fajrin melangkah berdiri di samping Divya.


“ jangan lakukan hal itu lagi pada siapa pun. “ ucap Fajrin gugup.


“ tidak..... Divya hanya melakukan sama ayang.... dan.... tadi Divya sengaja memeluk lengan ayang “ goda Divya dan membuat Fajrin semakin gugup.


“ jangan lakukan lagi sebelum tuan Davis merestui kita dan sebelum kita halal “ ucapan Tegas Fajrin membuat Divya tersenyum bahagia.