
Selama beberapa hari Fajrin berdiam diri di dalam Apartemen milik Azkar sesekali Roby datang membawakan bahan makanan, ini bukan pertama kalinya Fajrin menginap di apartemen milik Azkar bisa di katakan sering sekali Fajrin menginap disini saat Nara masih di Lampung. Apalagi bila Azkar memintanya untuk tidak pulang ke rumah bila sudah terlalu larut malam keluar dari gedung Surendra Corp, karena apartemen ini hanya berjarak lima menit jalan kaki dari gedung Surendra Corp.
“sudah mulai hilang lebam ini dan ini" tunjuk Roby pada titik wajah Fajrin yang menyisakan warna kekuningan di kulit.
“sudah satu minggu diam disini.... bagaimana kantor?” tanya Fajrin yang mulai pelan pelan menggunakan tangan kirinya meskipun belum bisa untuk menggenggam dengan kuat.
“Dipta sudah memberikan hasil interogasinya pada big bos..... aku pikir Dipta itu sedikit aneh..... dia anak big bos perusahaan petrokimia tapi bisa patuh begitu sama big bos kita.... tahu sendiri waktu pertama kali kita mengenalnya..... sombong suka mabuk dan sering berganti-ganti pasangan.” Ucap Roby mengingat pertama kali mereka mengenal Dipta.
“orang pasti akan sadar kalau apa yang di lakukan itu salah dan akhirnya insyaf" ucap Fajrin sambil memasukkan sepotong irisan segar buah pepaya.
“itu pun karena dia melihat Ningsih..... coba kalau waktu itu tidak melihat Ningsih pasti Dipta masih mabuk dan suka berganti-ganti pasangan.” ucap Roby sambil melempar sebuah jas untuk Fajrin pakai.
“buat apa ini?” tanya Fajrin dan melempar kembali jas itu pada Roby.
“pakai ini..... hari ini big bos mau negosiasi sama pak Zulian terkait penghadanganmu" ucap Roby yang sudah meletakkan jas di sandara sofa.
“pak Zulian? Apa hubungannya beliau sama para preman itu.... “ tanya Fajrin heran yang sepertinya dia sudah melupakan peristiwa penghadangannya dan siapa pelaku sabotase desainnya.
Fajrin menghirup udara AC gedung Surendra Corp dalam-dalam, dia sangat kangen dengan udara kantor tempatnya bekerja.
“Assalamualaikum pak Fajrin" sapa seorang satpam gedung yang sudah mengenal Fajrin dengan baik.
“wa'alaikumsalam pak....bagaimana kabarnya sehat?” tanya Fajrin basa basi dan hanya mendapat jawaban ‘Alhamdulillah’ dari satpam itu.
“ayo.... langsung ke ruangan big bos" ajak Roby yang sudah menarik pelan tubuh Fajrin.
Semua staff Surendra melihat Fajrin dengan tatapan kasihan, sedih, tidak percaya, bangga, kagum, ada yang bertepuk tangan dan ada juga yang mengacungkan kedua ibu jari mereka pada Fajrin.
“mereka kenapa?” tanya Fajrin yang sudah masuk ke dalam lift.
“saat kalian beraksi melawan para penghadang ternyata ada orang yang merekam aksi kalian dan tersebarlah sampai kesini" jelas Roby yang sudah menekan tombol pintu terbuka lift.
Mereka berjalan keluar dan masuk ke ruangan di dalam ruangan itu sudah ada Azkar, Zulian, dan Yudha. Yudha terkejut melihat wajah Fajrin dan seketika menundukkan kepalanya.
“menguap sudah rasa sombongnya" gumam Roby pelan tapi terdengar oleh Fajrin.
“Assalamu'allaikum” salam Fajrin dan mendapatkan balasan dari Azkar juga Zulian
“duduk sini" ucap Azkar sambil menunjuk tempat untuk Fajrin duduk.
“Roby kamu keluar" ucapan Azkar membuat Roby sedikit kesal karena tidak bisa mendengarkan mereka berbicara.
“pak Zulian sudah mendengar semua pengakuan para penghadang Fajrin, sekarang semua keputusan ada di tangan bapak karena Iwan anak bapak bukan anak saya. Dan untuk Yudha yang secara tidak langsung ikut menjadi alasan penghadangan Fajrin selain itu Yudha juga tercatat sebagai salah satu staff Surendra, saya memutuskan untuk menurunkan jabatan Yudha menjadi asisten manager di kantor cabang Balikpapan.” Ucapan Azkar yang terdengar pelan dan penuh wibawa seketika membuat Yudha tersentak tidak terima.
“pak Azkar.... izinkan saya tetap di kantor cabang Jakarta.... saya terima bila bapak menurunkan jabatan saya, tapi saya mohon jangan pindahkan saya ke Balikpapan.” ucap Yudha dengan memohon.
Zulian tidak bisa berkata apa-apa selain menepuk bahu Yudha untuk sabar menerima keputusan Azkar.
“pa..... kalau Yudha ke Balikpapan bagaimana dengan Sofia..... pasti dia tidak mau ikut" ucap Yudha putus asa.
“mungkin ini bisa membuatmu mencari cara membujuk Sofia untuk mengikutimu" ucap Fajrin sambil meletakkan ponselnya di meja.
“ponsel?” tanya Yudha heran.
Fajrin menekan pesan suara Sofia yang pertama kali dia dengar dan melanjutkan pesan suara berikutnya hingga semua pesan suara Sofia selesai, seketika raut wajah Zulian semakin merah menahan amarah yang sudah tidak mampu dia tahan. Yudha terdiam mendengarkan pesan suara istrinya yang terdengar sangat putus asa, sangat kecewa, juga sangat ketakutan.
“kami mengirim kalian sekolah di luar negeri untuk mendapatkan ilmu yang terbaik tapi ternyata kami salah.... kalian justru mengenal pergaulan bebas" ucapan sedih Zulian membuat Yudha tertunduk.
“Azkar lanjutkan saja keputusanmu untuk Yudha dia bawahanmu.....biarkan ini menjadi pelajaran hidupnya. Untuk Iwan biarkan aku yang menyelesaikannya.” Ucap Zulian pasrah karena dia juga secara tidak langsung merusak kedua anaknya.
“pak Yudha.... sebaiknya bapak mulai menjauh dari minuman keras dan mulai belajar Sholat" ucapan pelan Fajrin membuat dada Yudha terasa di tusuk tombak.
“aku yakin.... kalau Sofia melihat pak Yudha mulai Sholat pasti Sofia akan mematuhi pak Yudha" ucap Fajrin sambil menepuk bahu kanan Yudha dengan telapak tangan kirinya yang masih terbalut kain kasa.
“aku sudah lupa bagaimana caranya sholat dan apa saja bacaannya" ucap Yudha pelan.
“mintalah Sofi untuk mengajari bapak" ucap Fajrin sambil tersenyum
“kalau dia tidak mau bagaimana?” tanya Yudha semakin bingung bagaimana menghadapi Sofia karena tindakan Sofia selama ini yang masih menjaga jarak darinya karena kebiasaan buruknya.
“mintalah dengan baik-baik..... bicarakan pelan-pelan.... saya mengenal Sofia, dia tidak bisa menolak permintaan orang lain bila memintanya dengan baik-baik.” Jelas Fajrin sambil kembali memutarkan alasan Sofia menjaga jarak dengan Yudha.
“setelah pak Yudha rajin Sholat.... lakukan akad nikah sekali lagi.... karena akad nikah yang sebelumnya tidak sah bila dilihat dari sisi agama kita.” Jelas Fajrin membuat Yudha heran.
“tidak sah? Bagaimana bisa.... aku sudah mengucapkannya di hadapan wali Sofia dan para saksi sudah mengatakan sah.” Ucap Yudha yang mulai emosi.
“ada sebuah hadist riwayat Al-Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma Sesungguhnya batas antara seorang muslim dengan kesyirikan atau kekafiran adalah meninggalkan shalat. Dan hadist riwayat Musnad Ahmad ibn Hanbal dari Buraidah bin Hashib radhiyallahu ‘anhu Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat. Siapa yang meninggalkan shalat maka dia murtad.” Ucapan Fajrin semakin membuat kepala Zulian pening tapi Yudha masih tidak bergeming.
“ada salah satu ayat yang artinya jika kamu telah mengetahui bahwa mereka benar-benar beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada orang-orang kafir suami-suami mereka.Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tidak halal bagi mereka’.... pak Zulian pasti paham apa maksud saya.” ucapan Fajrin seketika membuat Zulian meneteskan air mata karena sudah menjerumuskan Sofia wanita sholehah kedalam hubungan yang salah di mata agama mereka.
“terima kasih kamu sudah mengingatkanku.... aku akan membatalkan pernikahan Yudha dan memisahkan mereka dulu sampai Yudha mendirikan sholat.” suara Zulian yang terdengar berat dan menahan diri untuk tidak memarahi Yudha.