
“ ayang sudah “ suara Divya dengan kedua tangan penuh dengan busa shampo.
“ ..... “ mendengar pertanyaan Fajrin membuat Divya tergelitik untuk menggodanya.
“ sudah ayang.... kalau ayang tidak percaya.... Divya telepon pakai panggilan video..... bagaimana? Biar ayang percaya “ ucap Divya menggoda Fajrin.
“ ..... “ Divya tersenyum senang karena merasa berhasil menggoda Fajrin.
“ ayang meragukan Divya “ suara Divya pura-pura merajuk tapi tersenyum senang karena berhasil menggoda Fajrin.
“ ..... “ Divya melakukan apa yang Fajrin ucapkan dengan masih mengulas senyum bahagia.
“ ayang sudah..... masih ada lagikah? “ suara Divya terdengar sangat bahagia.
“ .....“ Divya mulai melakukan apa yang Fajrin ucapkan dengan menggeser tubuhnya tepat di bahwa shower dengan air yang masih mengalir.
“ ini sudah selesaikan? Divya bisa mandi seperti biasakah? “ tanya Divya dengan senyum bahagia membayangkan wajah gugup Fajrin.
“ ......“ Divya girang mendengar suara Fajrin yang terdengar sudah tenang.
“..... terima kasih cinta.... I love you ayang “ salam Divya dengan suara sangat bahagia.
Divya melanjutkan mandi seperti biasa dan bersiap untuk berangkat ke lokasi pemotretan
JAKARTA
Fajrin melangkah masuk ke ruang bagiannya dengan masih mengulas senyum tipis, gultom dan yang lainnya sempat melihat senyum itu tapi mereka hanya saling melihat satu sama lain. Mereka sudah dapat memperkirakan bahwa saat ini pimpinan mereka sedang bahagia, sementara Yuni semakin kagum dengan senyum Fajrin.
“ pak bos cakep sekali.... “ gumam Yuni sambil melihat Fajrin yang mulai sibuk dengan gambar designnya.
“ jangan mimpi bisa dekat sama pak Fajrin.... kamu masih bertahan di sini seharusnya bersyukur “ ucap Muslim sambil menarik kertas A4 dari meja Yuni.
“ berisik.... Yuni pasti bisa membuat pak Fajrin melihat kelebihan Yuni. “ ucap Yuni dengan penuh percaya diri.
“ ikuti saranku saja, dari pada ujung-ujungnya kamu dapat surat pemecatan atau kalau masih beruntung surat mutasi ke bagian lain “ ucap Muslim yang masih menghitung jumlah kertas A4 yang dia ambil.
Muslim menyerahkan kertas yang dia ambil pada Fajrin, kemudian para insinyur teknik sipil berdiri di sekeliling Fajrin. Mereka mendengarkan setiap penjelasan yang Fajrin katakan, terkadang suara tawa mereka membuat Yuni membalikkan badan dan ingin tahu apa yang membuat mereka tertawa.
Saat Fajrin sibuk menjelaskan apa dia design, tiba-tiba Azkar masuk ke ruang bagiannya.
“ Assalamu'allaikum “ salam Azkar dengan suara tegas membuat Yuni merinding takut.
“ wa'alaikumsalam “ balas gultom dan Irvan sambil menganggukan kepala sekali menyambut kedatangan Azkar.
Sementara Yuni semakin kaku gugup juga takut karena baru kali melihat lebih dekat sosok big bos yang banyak di gunjingan para Admin dan sekretaris, bahwa big bos Surendra adalah orang yang dingin tanpa perasaan.
Azkar melangkah mendekati para insinyur teknik sipil yang mengelilingi Fajrin.
“ sekarang kalian paham maksud dari perhitungan tadi? “ tanya Fajrin meyakinkan diri mereka sekali lagi.
“ paham pak “ ucap mereka hampir bersamaan.
Saat Muslim hendak kembali ke meja gambarnya, tanpa sengaja Muslim hampir saja menabrak Azkar.
“ eee... big bos... maaf tidak sengaja “ ucap Muslim dan sedikit menggeser tubuhnya agar tidak menabrak Azkar.
Azkar mengamati kertas kalkir yang sudah terdapat banyak garis-garis di depan Fajrin, mencoba membuka sedikit ujung kertas kalkir yang Fajrin tumpuk menjadi satu.
“ sedikit lagi bang, ini tinggal bagian ini saja yang perlu di perbaiki..... selebihnya sudah siap di kerjakan “ ucap Fajrin sambil mendorong mesin gambar sedikit ke atas.
“ yayang kamu bagaimana? Sudah selesai mandi wajibnya? “ pertanyaan Azkar seketika membuat Fajrin menghentikan tangannya membuat garis diagonal.
Fajrin menarik nafas panjang mengingat pembicaraannya tadi dengan Divya.
“ abang kesini kamu membuat aku malu? “ pertanyaan Fajrin membuat Azkar menatapnya heran.
“ hahahahaha..... ayo masuk.... ada yang perlu aku bicarakan “ Azkar melangkah masuk ke ruang kerja Fajrin.
Yuni yang memperhatikan mereka berdua hanya bisa mengelus dada menatap wajah tampan Fajrin.
Fajrin menceritakan apa saja yang mereka bicarakan pada Azkar, awalnya Azkar mendengar dengan serius tapi saat Fajrin menceritakan bagaimana dia menyuruh Divya membersihkan area sensitif seketika Azkar tertawa terbahak-bahak hingga suara tawanya terdengar di meja Yuni.
“ hahahahaha..... tentu saja Divya bingung, coba kalau kamu mempraktekkan langsung padanya..... aku jamin dia tidak akan bingung...... hahahahaha “ suara tawa Azkar kembali terdengar.
Membuat Fajrin merasa menyesal menceritakan semua pada Azkar.
“ bang.... sudah tertawanya..... memang seperti itu cara mandi wajib setelah periode.... tidak mungkin aku lewatkan bagian itu “ protes Fajrin dan semakin membuat Azkar tertawa terbahak-bahak.
Akhirnya Fajrin diam dan duduk di samping Azkar menunggu Azkar berhenti tertawa, setelah beberapa menit akhirnya Azkar berhenti tertawa dan mulai bersikap serius.
“ besok kamu rapat di restauran Turkuaz, ada client ingin bertemu langsung sama arsitek yang akan membuat design gedungnya. “ ucap Azkar serius.
“ yang lain saja bang...... besok aku mau mulai puasa Nabi Daud lagi. “ penolakan Fajrin membuat Azkar menatapnya dengan heran.
“ puasa Nabi Daud.... apa kamu sedang menahan sesuatu? “ ucap Azkar sambil menggerakkan jari telunjuk dan jari tengah kedua tangannya sebagai isyarat menekankan kata ‘sesuatu’.
Fajrin terdiam menghindari tatapan mata Azkar yang mencurigakan, tapi Azkar berusaha mencari tahu maksud kata ‘sesuatu' menurut Fajrin.
“ yakin..... kamu tidak menahan sesuatu itu berkali-kali? “ tanya Azkar selidik.
Fajrin semakin berusaha menghindari tatapan Azkar, dan melangkah keluar ruang menuju meja gambar.
“ hati-hati..... nanti malam harus yakin kamu bisa menahan sesuatu itu “ ucap Azkar dengan keras membuat semua tim Fajrin melihat ke Azkar dan Fajrin bergantian dengan tatapan heran.
Fajrin kembali sibuk dengan kertas kalkir menyibukkan otaknya dengan garis-garis, dan cara itu cukup ampuh untuk membuat Fajrin fokus. Saat jam pulang kerja Fajrin langsung pulang ke rumah karena kepalanya terasa penat, tapi seperti biasa sebelum masuk gang. Fajrin membeli makan malam untuk dirinya dan Nara.
Karena kepalanya sangat penat selepas Isya’ Fajrin langsung beristirahat begitu juga dengan Nara karena nanti malam Nara akan mengikuti kompetisi CTF online.
Pukul 3 pagi hari Fajrin terbangun karena merasakan ada bagian yang basah di celananya.
“ Astagfirullah.... kenapa sampai terbawa mimpi “ gumam Fajrin sambil melihat boxernya yang basah tepat di area tengah.
Fajrin dengan buru-buru mengambil baju ganti dan masuk ke kamar mandi untuk mandi wajib, selesai mandi wajib Fajrin membuat membuat mie instan dan jus kurma untuk makan sahur juga untuk Nara yang masih begadang.
Selepas Shubuh Nara melihat Fajrin yang sibuk mencuci boxer di tempat cucian tepat di belakang dapur.
“ kak....lebih baik segera di halalkan saja.... dari pada kakak mandi wajib karena mimpi basah “ ucap Nara yang sudah berjongkok tepat di depan Fajrin yang mencuci boxernya.
“ inginnya begitu dik..... “ ucap Fajrin dan menghela nafas panjang.
Nara merasa kasihan dengan Fajrin tapi juga tak bisa berbuat banyak untuk kakaknya.