My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 115 PERHATIAN



Karena malam ini Fajrin lembur hingga pukul 10 malam dan langsung pulang ke rumah mendapati Nara yang sudah bersiap di depan meja belajarnya dengan laptop yang menyala. Fajrin menyiapkan makan kecil juga minuman untuk Nara dan masuk ke kamarnya untuk melepas penat.


Sebelum kepergian Divya ke Bangkok, Fajrin menyempatkan untuk kembali berkunjung ke rumah Divya menghabiskan waktu hingga pukul 10 malam dengan bercanda dan berbicara banyak hal. Terkadang seorang atau 2 orang pengawal ikut berbicara dengan mereka, sebenarnya pengawal itu ikut berbicara karena Davis menyuruh mereka. Davis ingin tahu apa yang Divya bicarakan dengan Fajrin hingga membuat Divya bisa tertawa lepas seperti sama sekali tidak menyimpan sebuah luka hati.


MONTREAL


Davis melihat rekaman video yang pengawalnya kirimkan dan mengamati rekaman video itu dengan terheran-heran, melihat tawa lepas Divya yang sangat mirip dengan Lydia membuatnya ingin segera terbang ke Jakarta.


“ Jason, tomorrow we’ll fly to Jakarta.... tell Dipta my arrival schedule, so I can play with my grandson (Jason, besok kita terbang ke Jakarta.... beritahu Dipta jadwal kedatanganku, agar aku bisa bermain dengan cucuku.) “ ucap Davis yang masih melihat rekaman video tersebut.


“ Sorry sir, in 2 days Miss Divya will fly to Bangkok to do a photo shoot for 5 Thai clothing brands (maaf tuan, 2 hari lagi nona Divya akan terbang ke Bangkok untuk melakukan pemotretan 5 brand pakaian asal Thailand.) “ ucapan Jason membuat Davis heran.


“ kenapa Fajrin tidak melarang Divya?..... kenapa Fajrin membiarkan Divya melakukan pemotretan itu?.... apa yang Fajrin pikirkan di dalam otaknya?.... apa Fajrin hanya mempermainkan perasaan Divya?..... atau Fajrin hanya berusaha menyenangkan hati Divya?... “ seribu pertanyaan muncul di dalam benak Davis.


Davis merasa sudah cukup mengenal Fajrin yang menurutnya lebih religius bila di bandingkan dengan Azkar, dirinya maupun ketiga anak-anaknya.


“ how long did Divya do the photoshoot (berapa lama Divya melakukan pemotretan)? “ suara berat Davis membuat Jason dengan sigap menyerahkan sebuah berkas.


Berkas dengan detail jadwal, lokasi, nama brand, kru pemotretan bahkan hotel di mana Divya bermalam selama melakukan pemotretan.


“ three weeks..... then two or one day before Divya's return schedule, we should already in Bangkok.... you must arrange the schedule so I can be on the same flight with Divya when I go to Jakarta if necessary try to make our seat close without distance (3 minggu..... kalau begitu 2 atau 1 hari sebelum jadwal kepulangan Divya, kita harus sudah berada di Bangkok.... kamu atur jadwal supaya aku bisa dalam satu penerbangan yang sama dengan Divya saat ke Jakarta kalau perlu usahakan dapat kursi yang berdekatan tanpa jarak) “ suara tegas Davis membuat Jason sedikit merinding karena terdengar akan ada suatu hal genting yang akan terjadi.


JAKARTA


“ Nek.... kenapa ayang belum datang “ gerutu Divya yang menunggu Fajrin dari pagi karena malam ini Divya akan terbang ke Bangkok bersama Liam.


Nenek Ina hanya bisa menggelengkan kepala terheran-heran melihat rasa gugup pada Divya.


“ sebentar lagi pasti datang “ ucap Nenek Ina mencoba menghibur Divya.


Divya hendak menekan nomor Fajrin, tiba-tiba suara motor Fajrin terdengar. Seketika Divya berjalan cepat ke teras rumah dan mendapati Fajrin yang sedang memarkir motornya tepat di samping pos keamanan rumah. Terlihat wajah penat Fajrin dengan keringat yang mengucur di pelipis dan dahinya.


“ Assalamualaikum “ salam Fajrin saat melihat Divya berdiri di teras rumah dengan wajah cemberut.


“ wa'alaikumsalam “ balas Divya dengan cemberut.


Fajrin tersenyum duduk di teras melepas sarung tangan, sepatu dan jaketnya.


“ kenapa lama sekali? Seharusnya 15 menit yang lalu sampai “ protes Divya.


“ maaf, tadi macet dan..... ada sedikit halangan “ ucap Fajrin sambil ngibaskan kerah kemejanya karena gerah.


Baru saja Fajrin beristirahat sebentar seorang pengawal mendekatinya.


“ Sir, this is what you need ( tuan, ini barang yang ada butuhkan) “ seorang pengawal menghampiri Fajrin dan menyerahkan sebuah onderdil motor.


“ Thank you, fortunately I met you. If not, your miss will scold me.... for being too long on the road (terima kasih, untung saja saya bertemu anda. Kalau tidak bisa-bisa saya di marahin nona anda.... karena terlalu lama di jalan) “ ucapan Fajrin membuat pengawal itu menahan senyum dan saat melihat wajah Divya seketika wajah pengawal itu menjadi tegang.


Fajrin membuka bungkusan onderdil dari pengawal tersebut, membuat Divya menjadi ingin tahu.


“ ini rantai motor, tadi di depan kompleks tiba-tiba rantai motor putus.... untung saja pengawal kamu itu sedang lari-lari dan untung juga dia mengenaliku kalau tidak bisa lebih lama ayang duduk dekat pos keamanan kompleks “ ucap Fajrin sambil melihat detail onderdil tersebut.


Entah Divya mengerti atau tidak, Fajrin segera berdiri dan melangkah ke motornya tanpa mengenakan alas kaki. Divya dengan reflek ingin mengikuti Fajrin tapi dia lupa kalau tidak mengenakan alas kaki.


“ aduh..... “ teriak Divya membuat Fajrin segera memalingkan badan dan berjalan kembali menuju teras.


Divya bersusah payah berjalan naik kembali ke teras.


“ kenapa jalan tanpa alas kaki? “ ucap Fajrin kesal.


“ ayang bisa jalan tanpa alas kaki.... Divya juga ingin jalan tanpa alas kaki “ gerutu Divya sambil memijat pelan telapak kakinya yang terasa pedih.


Fajrin memakai kembali sarung tangan duduk di lantai dan memegang kaki Divya untuk melihat telapak kaki Divya yang sakit, seorang pengawal berlari mendekat.


“ can you get some ice block (bisakah kamu mengambilkan es batu)? “ pinta Fajrin pada pengawal itu sambil meletakkan kedua kaki Divya di paha kanannya.


Dengan sigap pengawal tersebut mengambil semangkuk es dari dapur dan menyerahkan pada Fajrin.


“ thanks (terima kasih) “ ucap Fajrin sambil menerima semangkuk es.


Pelan-pelan Fajrin menempelkan es di telapak kaki Divya yang memerah karena menginjak lantai yang terkena panas matahari.


“ kalau tidak terbiasa jalan tanpa alas kaki tidak usah memaksakan diri berjalan tanpa alas kaki..... ini akibatnya... merah semua telapak kaki kamu. “ ucap Fajrin sambil menempelkan es di kedua telapak kaki Divya bergantian.


Air es yang mencair membasahi sarung tangan juga celana Fajrin karena Fajrin meletakkan kaki Divya tepat di pahanya.


“ ayang..... basah celana ayang....” ucap Divya cemberut.


“ tidak apa-apa basah karena air es.... kalau basah karena oli motor yang susah “ ucap Fajrin yang masih mendinginkan telapak kaki Divya dengan es yang dia pegang.


“ ayang..... maaf “ ucap Divya yang cemberut dengan suara manja.


“ jangan di ulangi lagi..... bagaimana? Sudah enak apa belum kakinya? “ tanya Fajrin sambil melihat telapak kaki Divya yang sudah tidak memerah.


Divya menganggukan kepala dan menarik kakinya dari pada Fajrin.


“ tunggu di sini dulu.... jangan ikut ayang.... ayang mau ganti ini dulu “ ucap Fajrin yang sudah melangkah kembali menuju motornya untuk memasang rantai motor.


Karena rantai motornya putus jadi Fajrin berusaha menggantinya sendiri, seorang pengawal melihatnya dan merasa sedikit kasihan yang akhirnya membantu Fajrin. Setelah 15 menit berusaha mengganti rantai motor Fajri membersihkan tangannya yang kotor dan mendekati Divya yang masih menunggunya di teras.


“ ayang.... ayang pakai mobil Divya saja. “ rajuk Divya yang terdengar sedih melihat peluh menetes di dahi dan pelipis Fajrin.


Fajrin tersenyum mendengar ucapan Divya.


“ terima kasih sudah meminjamkan mobil..... tapi jalan depan rumah ayang tidak muat untuk di lewati mobil dan garasi di rumah terlalu kecil untuk memarkir mobil kamu “ ucap Fajrin menolak tawaran Divya.