My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 137 RUMAH BARU



Sehari setelah kembali dari Bergen, Fajrin mulai memindahkan semua barang-badannya mau pun barang-barang milik Nara termasuk komputer server yang berada di kamar Nara ke rumah yang dia bangun sendiri. Sebuah rumah yang berada di dalam perumahan masyarakat ekonomi menengah ke atas, rumah yang seharusnya menjadi milik Nara. Tanpa Fajrin sadari sebuah mobil dengan bagian belakang terbuka berhenti tepat di depan rumahnya, beberapa orang pria masuk ke dalam rumah.


“ Assalamualaikum, maaf kami mendapatkan perintah dari tuan Azkar untuk membantu anda memindahkan semua ini ke rumah baru anda “ ucap salah seorang pengawal Azkar.


“ wa'alaikumsalam “ balas Fajrin sambil melihat beberapa orang pria membawa masuk beberapa kotak kardus dan mulai memasukkan benda-benda kecil yang berada di ruang tamu dan ruang tengah juga dapur dan kamar tidur Nara.


Fajrin tidak bisa menolak bantuan para pengawal Azkar, kalau pun menolak juga percuma saja tidak ada gunanya. Dan yang bisa Fajrin lakukan adalah menunjukkan barang apa saja yang dia bawa pindah. Satu mobil dengan bagian belakang terbuka tidak mampu membawa semua perabotan mereka sehingga perlu beberapa mobil bagian belakang terbuka untuk mengangkut semua barang-barang Fajrin unutk sekali jalan.


Sampai di rumah baru, tak sedikit pun pengawal Azkar mengizinkan Fajrin mengangkat benda apa pun. Mereka hanya meminta Fajrin menunjukkan dimana mereka meletakkan semua barang-barang itu. Menjelang sore semua barang-barang Fajrin sudah berada di tempatnya dengan rapi sesuai keinginan Fajrin, begitu juga dengan komputer server Nara yang sudah berada di rack server sesuai dengan rencana Fajrin. Karena para pengawal Azkar tidak mengetahui bagaimana menyalakan dan memfungsikan kembali komputer server tersebut, akhirnya salah satu dari mereka menghubungi Dean dan Dean menyuruh salah seorang IT untuk membantu Fajrin kembali mengaktifkan komputer server Nara.


“ pak.... sudah selesai... bisa bapak cek sendiri mungkin ada sistem yang tidak aktif, saya akan coba mengaktifkannya “ ucap orang IT tersebut.


Fajrin melakukan pengecekan seperti yang pernah Nara ajarkan, mengaktifkan sensor pengenal wajah dan iris. Orang IT Surendra Cyber memperhatikan apa yang Fajrin lakukan.


“ visual programnya sama seperti yang perusahaan buat hanya warnanya saja yang berbeda “ gumam orang IT itu dalam hati.


Saat orang IT tersebut sibuk dengan pemikirannya, Fajrin terlihat kerepotan untuk mengaktifkan sesuatu.


“ ini kenapa ada pesan error? “ pertanyaan Fajrin membuat orang IT itu sedikit terkejut dan sadar dari lamunannya.


“ maaf pak... error yang mana ya? “ tanya orang IT tersebut.


Fajrin menunjukkan pesan error yang dia baca.


“ oooo.... maaf saya lupa mengaktifkan firewall “ ucap IT itu dan kembali melakukan beberapa perbaikan agar pesan error tersebut tidak muncul kembali.


Setelah kurang lebih 1 jam, IT tersebut melakukan beberapa perbaikan agar tidak memunculkan pesan error kembali akhirnya komputer server Nara kembali bekerja seperti semula.


Para pengawal Azkar yang bersantai di teras depan rumah terlihat sangat lelah dan penat, tapi mereka belum berani kembali ke pos masing-masing sebelum Fajrin memerintahkannya.


“ terima kasih sudah sehari penuh membantu saya pindah rumah.... maaf saya sudah membuat kalian semua repot hingga lelah seperti ini.... sebagai ucapan terima kasih saya.... bagaimana kalau makan malam kali ini saya yang traktir. “ mendengar kata ‘ traktir ‘ membuat para pengawal Azkar segera berdiri.


“ tidak usah tuan..... nanti kami mendapat masalah dengan tuan Azkar “ ucap salah seorang pengawal.


“ tidak apa.... aku akan bilang sendiri pada bang Azkar kalau aku memaksa mentraktir kalian makan. “ ucap Fajrin yang sudah melangkah ke depan pagar untuk memanggil seorang pedagang nasi goreng yang lewat depan rumahnya.


Selesai makan malam, para pengawal Azkar pergi meninggalkan Fajrin. Tapi tanpa Fajrin sadari para pengawal lainnya yang sudah Azkar tentukan, sudah menempati rumah tak jauh dari rumah Fajrin.


“ rumah sebesar ini harus aku tempati sendiri “ ucap Fajrin sambil menarik nafas panjang.


Fajrin berkeliling di dalam rumah hingga naik ke lantai 2 masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri, karena sudah terlalu lelah dan penat akhirnya Fajrin menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dan mulai terlelap. Mengabaikan beberapa panggilan dan pesan yang masuk di ponselnya.


Seperti biasa setengah jam sebelum Shubuh Fajrin sudah terbangun dan membersihkan diri untuk persiapan sholat shubuh di Masjid, kebetulan letak masjid di dalam kompleks perumahan ini sedikit jauh kurang lebih 800 meter. Berjalan di pagi hari menikmati udara pagi yang masih terasa segar membuat Fajrin mendapatkan semangat baru untuk memulai semua yang sudah dia rencanakan. Pukul enam Fajrin sudah kembali masuk ke dalam rumah dan mulai membuat makan pagi untuk dirinya, karena hari ini hari pertama masuk kerja setelah cuti selama 2 minggu membuat Fajrin bersemangat hingga lupa bahwa selama 2 minggu motor buntutnya tidak pernah sama sekali di pakai. Dengan susah payah Fajrin menyalakan motornya agar bisa dia pakai ke kantor, setelah kurang lebih 30 menit berusaha menyalakan motornya akhirnya Fajrin berangkat kerja.


Sampai di area parkir motor gedung Surendra, seseorang menepuk bahunya membuat Fajrin hampir saja melemahkan pergerakan orang tersebut.


“ aduh...... sakit bro.... “ pekik Roby sambil menahan sakit di pergelangan tangan kirinya yang masih di tahan oleh Fajri.


“ kebiasaan suka membuat orang terkejut “ ucap Fajrin sambil melepas tangan Roby.


“ 2 minggu di Bergen aku kira kewaspadaanmu sedikit berkurang.... ternyata semakin waspada saja.... “ ucap Roby yang sudah merangkul bahu Fajrin dan mengajaknya masuk ke dalam area lift.


Fajrin tersenyum tipis mendengar ucapan Roby, sampai di lantai 1 Roby segera keluar menuju lobi untuk menyambut kedatangan Azkar yang 5 menit lagi sampai lobi. Fajrin tidak mengikuti langkah kaki Roby tapi keluar dari lift dan menunggu Azkar di depan lift khusus.


5 menit kemudian Azkar terlihat memasuki lobi dan dengan langkah lebar mendekati Fajrin.


“ Assalamualaikum, bagaimana semalam.... enak tidur di rumah baru? “ pertanyaan Azkar membuat beberapa orang staff yang berdiri tak jauh dari mereka terlihat berbisik-bisik.


“ wa’alaikumsalam....biasa saja bang.... sama saja seperti rumah lama. “ ucap Fajrin sambil menahan pintu Lift khusus untuk Azkar.


Mereka bertiga masuk ke dalam lift khusus.


“ maksud kamu terasa sepi di rumah baru.... begitukah?.... makanya segera kamu halalkan wanita manja itu..... biar tidak terasa sepi “ mendengar ucapan Azkar membuat Fajrin menarik nafas panjang karena merasakan sesuatu yang sakit di dadanya.


“ nantilah bang... kalau dia sudah hijrah.... kalau belum hijrah tidak berani aku melangkah lebih jauh dari sekarang “ ucap Fajrin yang tertunduk.


Roby melihat perubahan wajah Fajrin menjadi ikut sedih apa lagi pagi tadi sebelum berangkat kerja, Roby sempat mendengar pembicaraan kedua orang tuanya.