My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 193 GENDHIS



Penerbangan Kualalumpur Penang di tempuh dalam waktu 1 jam, penerbangan kali ini sangat lancar tidak ada turbulence. Tepat pukul 4 lebih 45 menit pesawat mendarat di bandara udara international Bayan Lepas pulau Pinang.


Fajrin segera menghubungi kontak Surendra di Penang, setelah menunggu 30 menit sebuah mobil MPV 2494 cc berwarna hitam berhenti tepat di depan Fajrin dan yang lain. Seorang pria dengan mata sipit menghampiri Fajrin dan memperkenalkan diri, tanpa menunggu lama pria itu segera memasukkan 4 koper kecil di bagian belakang mobil. Fajrin meminta Divya untuk masuk terlebih dahulu dan tanpa aba-aba, Gendhis menyerobot masuk duduk di sebelah Divya membuat Fajrin dan Henri menggelengkan kepala dengan heran.


“ apa lokasi jamuan makan malam dan tempat kami bermalam jauh? “ tanya Henri.


“ tuan-tuan akan bermalam di hotel yang sama dengan lokasi jamuan makan malam “ ucap orang tersebut yang dengan berbahasa Indonesia.


“ anda asli mana? Sepertinya bukan orang melayu? “ tanya Fajrin sedikit curiga.


“ saya asli surabaya....... dulu saya melamar untuk Surendra Jakarta tapi pak Henri merekomendasikan saya untuk posisi di Malaysia “ ucap orang itu dengan logat surabaya yang tidak bisa dia hilangkan.


Hampir bersamaan Henri dan Fajrin tertawa kecil.


Mobil berhenti tepat di depan lobi hotel, orang itu menurunkan semua koper dan meletakkan di sebuah trolly hotel. Dengan cepat dia menyerahkan kunci mobil pada seorang petugas valet, dan berjalan menuju meja resepsionis. Tidak butuh waktu lama bagi orang itu untuk menyerahkan sebuah kunci kamar pada Fajrin dan Henri.


“ silahkan ini kunci anda “ ucap orang itu pada Fajrin dan Henri.


Fajrin terlihat bingung dengan satu kunci yang dia pegang.


“ mmmm..... bisakah saya meminta satu kamar lagi? “ tanya Fajrin sedikit ragu.


“ maaf tuan.... alokasi kamar disini untuk para tamu undangan jamuan makan malam sudah di tentukan oleh tuan rumah..... satu undangan satu kamar.... kenapa tuan Fajrin tidak ingin satu kamar dengan nyonya? Apa ada sedikit duri? “ ucap orang itu sedikit berbisik.


“ kami belum .... “ belum selesai Fajrin berbicara Henri segera mendorong pelan punggung Fajrin untuk melangkah menuju lift.


“ terima kasih.... kami naik dulu.... sampai ketemu di jamuan makan malam “ ucap Henri sambil mendorong Fajrin untuk tetap melangkah menuju lift.


Di dalam lift Fajrin terlihat gelisah juga bingung bagaimana bisa dirinya satu kamar dengan Divya, di otaknya penuh dengan pemikiran bagaimana dia melewati 2 malam dalam 1 kamar dengan Divya. Henri melihat kegelisahan Fajrin.


“ Gendhis.... kamu satu kamar sama Divya ya..... “ ucapan Henri membuat Gendhis dengan cepat menggelengkan kepala.


“ Gendhis mau tidur sama papa.... kapan lagi Gendhis bisa tidur sama papa peluk papa....memangnya kenapa Gendhis harus satu kamar sama mba Divya? Apa jangan-jangan kak Fajrin takut kalau ada setan di dalam kamar...... “ ucap Gendhis tegas dan pelan-pelan menggoda Fajrin.


Divya mencerna kata setan dari mulut Gendhis dan mulai berpikir bahwa kamar yang akan dia tempati adalah kamar yang seram, tapi tidak dengan Fajrin yang semakin terlihat gelisah dengan ucapan Gendhis yang terkesan menggoda dirinya. Sampai di depan kamar masing-masing, Gendhis masih saja menggoda Fajrin membuat Henri dengan sedikit memaksa menarik anak gadisnya masuk ke dalam kamar mereka.


“ berhenti menggoda kakakmu..... “ ucapan tegas Henri membuat Gendhis tertunduk.


Henri percaya bahwa Fajrin akan berusaha keras tidak tergoda oleh rayuan setan, Divya yang masih tidak paham dengan kata setan yang Gendhis ucapkan hanya melihat Fajrin heran yang terlihat jelas gugup.


Di dalam otak Fajrin sudah terpikirkan berbagai macam strategi untuk melawan setan, mulai dari akan lebih memilih tidur di sofa atau di lantai hingga menambah satu kamar lagi untuk dirinya. Dada Fajrin semakin bergemuruh saat hendak membuka pintu kamar yang akan menjadi tempatnya bermalam selama 2 malam, dengan perlahan Fajrin membuka pelan dan saat pintu terbuka Farjin menyuruh Divya untuk masuk terlebih dahulu. Karena Fajrin menunggu koper mereka yang sudah terlihat menuju kamarnya, saat Fajrin hendak menahan pintu dengan kaki kanannya.


“ ayang.... Divya kamar yang kedua ya.... “ suara keras Divya membuat Fajrin tertegun dan mengerutkan keningnya.


“ kamar kedua....? “ gumam Fajrin dalam hati dengan bingung.


Setelah menerima koper miliknya dan milik Divya, Fajrin segera masuk ke dalam kamar dan mendapati bahwa kamar mereka adalah tipe family suite.


“ astagfirullah hal adzim..... kenapa otakku kacau begini..... “ gumam Fajrin dalam hati sambil mengelus dada.


Melihat sikap gugup Fajrin hilang membuat Divya tersenyum tipis dan mulai paham apa arti ucapan Gendhis tadi.


“ oooo..... sepertinya aku mulai paham dengan ucapan Gendhis tadi...... “ ucap Divya pelan dengan senyum tipis.


pelan-pelan Divya melangkah mendekati Fajrin yang sibuk dengan koper milik Divya.


“ memangnya ayang berpikir apa? “ suara lembut Divya membuat Fajrin menegakkan tubuhnya.


Dengan menarik nafas panjang Fajrin membalikkan badan mencoba menghadap Divya.


“ apa ayang berpikir kalau kita satu kamar dengan 1 bed? “ pertanyaan Divya seketika membuat Fajrin menjadi gugup.


Divya sedikit membungkukkan badan hingga wajah Divya memperpendek jarak dengan dada Fajrin membuat dada Fajrin kembali bergemuruh, pelan-pelan Divya meraih kopernya yang berada di samping Fajrin dan seketika menariknya. Fajrin terkejut dengan apa yang Divya lakukan, yang sempat membuat wajahnya memerah pipinya terasa panas dan dadanya kembali bergemuruh.


“ Divya..... jangan pancing ayang “ suara geram Fajrin membuat Divya tersenyum senang.


Divya senang karena berhasil sedikit menggoda Fajrin.


“ Divya tidak menggoda..... hanya ambil koper saja..... “ kilah Divya yang membuat Fajrin gemas.


Fajrin masuk ke kamar nomor satu dan merebahkan tubuhnya di ranjang dengan kasar.


“ sabar..... harus bertahan..... tinggal beberapa minggu lagi..... “ ucap Fajrin sambil memejamkan kedua matanya rapat-rapat.


Karena acara jamuan makan malam dilaksanakan besok malam, Fajrin menyibukkan otaknya dengan mengeluarkan beberapa pakaiannya dari dalam koper dan meletakkan di lemari gantung. Di saat Fajrin dan Divya sibuk dengan pakaiannya, tiba-tiba pintu bel kamar berbunyi. Fajrin segera membuka pintu dan mendapati Gendhis yang terlihat kebingungan.


“ ada apa? “ tanya Fajrin heran.


Divya yang juga keluar dari kamarnya terlihat bingung melihat Gendhis.


“ kak.... papa..... tolong papa.... “ ucap Gendhis dengan gugup bingung juga panik.


“ kenapa om.... ? “ ucap Fajrin sambil melangkah menuju kamar Henri.


Divya mengikuti dari belakang tak lupa melepas keycard kamar mereka.


Fajrin mendapati Henri yang terduduk di sofa dengan memegang dadanya. Dengan isyarat tangan Henri meminta Fajrin mendekat dan menyuruh Gendhis keluar, Divya mengikuti Fajrin dan membantu Henri untuk tenang. Fajrin mencari-cari obat Henri dan menyerahkannya, Divya membantu Henri dengan memegang sebuah gelas berisi air mineral. Untuk beberapa menit kedepan Fajrin dan Divya hanya bisa menemani Henri dalam diam, saat Henri sudah tenang pelan-pelan kedua tangan Henri meraih tangan Fajrin dan Divya.


“ kalian berjanjilah padaku..... bila takdirku sudah datang..... nikahkan Gendhis dengan pria terbaik di mata kalian.... jadilah wali Gendhis..... jadikan Gendhis bagian dari keluarga kalian “ ucapan Henri yang sangat dalam membuat mata Divya berkaca-kaca.


“ tidak.... om yang akan menjadi wali nikah Gendhis..... om, harus semangat.... biar pun Gendhis terlihat bandel aku yakin di dalam hatinya dia sangat menyanyangi om.... dia akan menuruti semua permintaan om. “ ucap Fajrin menenangkan Henri.


Gendhis yang tidak sabar dengan keras membuka pintu menbuat Divya segera menghapus air matanya yang sudah menggantung.