
Urusan gaun Divya sudah selesai, dan untuk pakaian yang Fajrin pakai juga sudah terselesaikan. Fajrin kembali ke kantor dan Divya ikut bersama Freya.
Belum juga Fajrin melepas jaketnya, Yuni menghampirinya dan menyerahkan selembar kertas.
“ apa ini? “ tanya Fajrin sambil membaca tulisan di atas kertas yang Yuni pegang.
“ undangan jamuan makan malam, Pak Fajrin dan pak Gultom di minta untuk menemani Bapak Direktur Henri.... “ ucapan Yuni membuat Fajrin menarik nafas panjang.
“ kapan acaranya? “ tanya Fajrin sambil meletakkan jaket kulitnya.
“ minggu depan pak..... tapi maaf tidak bisa menggunakan Sundth Air.... semua private jet Sundth Air kembali ke Norwey. “ jelas Yuni membuat Fajrin mengambil selembar kertas yang masih di tangan Yuni.
Fajrin membaca tulisan di kertas tersebut dan menarik nafas panjang.
“ ini.... undangannya jelas-jelas untuk CEO Surendra..... kenapa jadi aku yang menggantikannya..... “ gumam Fajrin sambil menyisir kasar rambutnya.
Fajrin merasa kalau Azkar ada maksud tertentu meminta dia menggantikannya di undangan tersebut, Fajrin melangkah keluar dan mengabaikan Gultom yang ingin membicarakan sesuatu. Membuat Gultom heran dengan wajah Fajrin yang terlihat jelas tidak nyaman.
“ Rob..... lagi sibukkah? “ tanya Fajrin sambil menunjuk pintu ruang kerja Azkar.
“ masuk aja.... baru selesai makan siang “ ucap Roby santai.
Fajrin mengetuk pintu ruang kerja Azkar tapi beberapa kali tidak ada jawaban, akhirnya Fajrin membuka juga pintu ruang kerja Azkar.
“ Assalamu'allaikum bang.... “ salam Fajrin membuat Azkar yang sedari tadi sudah menunggu langsung menyuruh Fajrin masuk.
Dengan isyarat tangan Azkar menyuruh Fajrin masuk dan duduk di sofa karena Azkar sedang berbicara dengan seseorang di telepon.
Setelah menunggu kurang lebih 10 menit, akhirnya Azkar duduk di depan Fajrin.
“ ini.... beberapa hal yang harus kamu sampaikan kalau mereka memintamu untuk mengatakan sepatah dia kata sebagai perwakilan CEO Surendra “ ucap Azkar sambil menyodorkan sebuah map.
Fajrin menarik nafas panjang merasa aneh dengan sikap Azkar kali ini dan terkesan sedang menutupi sesuatu.
“ tidak mau... ini bukan tanggung jawabku.... aku hanya staff biasa di sini. “ ucap Fajrin mengabaikan map yang Azkar sodorkan.
“ kata siapa kamu staff biasa “ ucap Azkar sambil meraih map tersebut dan memukulkan pada lengan Fajrin.
“ kataku..... kata HRD... “ sekali lagi Azkar memukul lengan Fajrin dengan map yang dia pegang.
“ apa susahnya menggantikan aku sekali saja..... lagi pula.... kamu bukan staff biasa disini..... “ ucapan Azkar membuat Fajrin semakin bingung.
“ jangan bilang kalau kamu sudah melupakan 10% saham kepemilikan di Rosenkrantz..... “ ucap Azkar kesal sambil sekali lagi memukul lengan Fajrin.
Fajrin meringis mendengar ucapan Azkar kali ini.
“ tidak bang.... “ jawab Fajrin sambil meringis.
“ ini Surendra bukan Rosenkrantz bang..... beda.... “ ucap Fajrim yang masih berusaha menghindar untuk menggantikan Azkar.
Azkar berdiri dan mengambil laptopnya, menunjukkan sesuatu pada Fajrin.
Fajrin membaca setiap kata yang tertulis dan tiba-tiba mengerutkan keningnya.
“ ini serius.....? “ sekali lagi Azkar memukul lengan Fajrin dengan map yang sama.
“ aduh.... sakit bang..... hobi sekali memukulku.... “ gerutu Fajrin.
Azkar semakin jengkel dengan sikap Fajrin yang masih belum paham juga dengan memintanya datang ke undangan jamuan makan malam sebagai perwakilan CEO Surendra.
“ kamu harus datang..... kamu tidak kasihan bayiku.... kalau aku yang pergi ke undangan itu.... aku harus bawa Helen.... bawa bayiku..... apa kamu tega telinga keponakanmu di tutup kapas..... “ ucap Azkar pura-pura memelas.
“ kasihan juga sih.... tapi apa tidak bisa di ganti sama direktur yang lain..... aku hanya sta.....” belum selesai Fajrin berbicara Azkar sudah memukulnya kembali dengan map yang sama.
“ jangan bilang staff biasa lagi..... sekali lagi kamu bilang begitu.... aku tukar posisimu sama Hao Nhat..... kamu di Vietnam.... Hao Nhat disini.... mau? “ ucap Azkar pura-pura mengancam Fajrin agar mau datang ke undangan jamuan makan malam.
“ iya... iya.... aku yang datang.... selalu saja mengancam “ ucap Fajrin sambil meraih map yang tadi di pakai Azkar untuk memukulnya.
Azkar tersenyum senang.
“ kapan lagi aku bisa menyuruh investor.... pemegang saham.... juga calon direktur untuk menggantikan aku di acara semacam ini..... “ gumam Azkar dalam hati karena senang bisa menyuruh Fajrin.
Fajrin terlihat serius membaca tulisan di dalam map tersebut dan tiba-tiba mengusap kasar wajahnya.
“ aku bawa Roby...... “ belum juga Fajrin berhenti mengatakan maksudnya, Azkar sudah menatapnya dengan tajam.
“ ini di undangan ada tulisan beserta pasangan..... “ kilah Fajrin.
Wajah kesal Azkar mulai terlihat membuat Fajrin berpikir keras alasan apa yang bisa dia buat agar bisa membawa Roby.
“ kamu sudah ada Divya kenapa bawa Roby...... Roby asistenku bukan asistenmu..... “ ucap Roby geram.
“ belum halal bang..... bawa Divya..... “ jawab Fajrin geram juga.
Azkar berdiri dari sofa dan melangkah mendekati jendela kaca yang menampilkan langit siang kota Jakarta.
“ undangan jamuan makan malam ini..... kamu yang harus datang dengan Divya..... kamu datang sebagai perwakilanku..... aku sudah tahu kinerjamu seperti apa.... bahkan aku tahu semua tentang kehidupan pribadi kalian..... aku dulu pernah berjanji pada tante Asma..... kalau aku akan menjaga kalian seperti adikku..... aku tahu Divya sekarang berusaha keras keluar dari dunia model yang membesarkan namanya..... meski pun om Davis sudah membantunya..... aku tidak yakin Divya bisa berhasil..... aku tidak mau aku sukses sendiri.... semua adik-adikku harus sukses juga..... Afkar sudah sukses dengan jalannya sendiri..... Norin juga sudah..... meski pun ada campur tangan Abba dan Kakek..... Nara sudah bersama Afkar..... hanya kamu yang belum menjadi seperti mereka.... kamu terlalu nyaman berada di posisi saat ini..... meski pun kamu seorang arsitek..... setidak-tidaknya kamu juga belajar memahami dunia bisnis..... kakek sudah memberimu modal..... setidak-tidaknya sebagai ucapan terima kasih pada kakek..... kamu belajar memahami dunia bisnis dari sekarang..... tidak mungkin selamanya pemilik 10% saham Rosenkrantz menjadi manager bagian..... “ ucapan Azkar yang terdengar serius membuat Fajrin berpikir.
“ benar juga tidak bisa selamanya aku bergantung pada Afkar..... pasti suatu saat Afkar butuh tenangku..... kalau aku tidak belajar sekarang..... bagaimana aku bisa membantu Afkar bila dia membutuhkanku nanti..... “ gumam Fajrin dalam hati.
Azkar merasa bahwa apa yang dia katakan pada Fajrin sudah cukup dan berharap Fajrin bisa memahami keputusannya.
“ kalau kamu tidak mau memenuhi undangan itu..... aku tidak akan memaksa lagi.... letakkan saja map itu di meja. “ ucap Azkar pura-pura lemas.
Fajrin terdiam tubuhnya terasa dingin dan kaku, baru kali ini mendengar suara Azkar yang putus asa dengan dirinya.
“ kalau aku bisa mendapatkan izin dari papi..... aku akan penuhi undangan itu dengan Divya. “ ucap Fajrin mencoba menerima keputusan Azkar.
Azkar membalikkan badan dan menatap Fajrin, tatapan mata hangat seperti seorang kakak pada adiknya. Melihat Azkar yang sudah tidak terlihat putus asa, Fajrin melangkah keluar ruangan dan membawa map dari Azkar.
“ Abba.... Amma.... aku sudah melakukan apa yang kalian sarankan.... aku harap saran kalian berhasil menyadarkan Fajrin betapa pentingnya dia di keluarga kita. “ gumam Azkar sambil melihat punggung Fajrin menghilang dibalik pintu.