My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 141 SALING MENGAKUI



“ om.... izinkan Azkar memadu Divya “ ucapan Azkar membuat Fajrin sangat tersentak dan tidak ihklas begitu juga dengan Divya.


“ jangan bang..... jangan ambil Divya dariku.... abang sudah ada Helen..... bang aku serius...... aku mencintai Divya bang..... ayolah bang jangan begini..... “ ucap Fajrin memelas dan memohon agar Azkar menarik ucapannya memadu Divya.


“ papi jangan mau.... Divya tidak mau menikah dengan pria tua ini..... Divya hanya cinta ayang.... Divya hanya mau menikah dengan ayang..... kalau papi menerima pria tua ini sebagai menantu.... lebih baik Divya kawin lari saja sama ayang “ ucap Divya dengan suara sedikit keras dan sudah berdiri dari kursi.


Kalimat yang Fajrin dan Divya ucapkan hampir bersamaan membuat beberapa pengunjung restauran melihat ke arah mereka, Azkar juga Davis pura-pura tersentak mendengar pengakuan mereka berdua. Suasana seketika menjadi hening membuat Azkar berusaha keras menahan tawanya dan Davis tiba-tiba bertepuk tangan, membuat Fajrin dan Divya menjadi heran melihat mereka berdua.


“ hahahahahaha...... kalian ini lucu.... sudah tahu tidak mau di pisahkan tapi masih saja bimbang untuk mengambil keputusan..... jadi kapan kami bisa berkunjung ke rumah om meminang Divya untuk Fajrin “ ucapan Azkar membuat Fajrin juga Divya semakin heran dan penuh tanya.


“ sepertinya.... om ingin mengenal dulu orang-orang yang sangat mendukung calon menantuku ini “ ucap Davis sambil menunjuk Fajrin.


Sementara Divya yang masih heran dengan arah pembicaraan antara Azkar dan Davis hanya bisa berulang kali menggoyang-goyangkan lengan Davis, tapi Davis mengabaikannya.


“ baik om..... akan Azkar sampaikan pada Abba juga Amma..... Azkar tunggu kabar dari om Davis. “ ucap Azkar dan di akhir ucapannya menatap Fajrin dengan tajam.


Fajrin tertunduk malu, tapi Divya memicingkan kedua matanya menatap Davis ingin mencari tahu apa yang sebenarnya mereka berdua rencanakan.


“ Abba dan Amma memberiku target bahwa tahun ini kalian harus sudah menikah..... dan satu lagi aku sudah bosan mendengar ucapan Abba bahwa aku yang selalu memberimu banyak pekerjaan sehingga kamu tidak ada waktu untuk mendekati Divya.... kamu sendiri yang memaksa memegang project itu kamu sendiri yang mencoba lari. “ ucap Azkar tegas.


Membuat Fajrin tidak bisa membantah atau pun menjawab ucapan Azkar hingga membuatnya kesusahan menelan ludah sendiri.


“ papi berencana menjodohkan kalian berdua.... meski pun Fajrin menolak... papi akan meminta keluarga Azkar untuk memaksa Fajrin.... hanya cara ini yang terlintas di otak papi..... papi tidak tega melihat putri papi setiap hari terlihat gelisah bingung selalu termenung sendiri di belakang. “ ucapan Davis membuat Divya terharu dan air mata Divya mulai menggenangi pelupuk matanya.


“ jangan menangis.... papi tidak suka melihat putri papi meneteskan air mata..... dan kamu.... jangan coba-coba untuk tidak menghubungi putriku meski pun hanya satu jam..... kalau bisa setiap hari kamu harus menemui dan menghubungi putriku.... kalau perlu kamu tinggal di rumah kami saja.... ada banyak kamar yang bisa kamu pilih “ ucap Davis tegas membuat Fajrin semakin gugup dan tegang.


Fajrin menatap Davis dan hanya bisa menganggukan kepala menjawab semua permintaan tapi saat kalimat Davis yang terakhir, Fajrin segera memberikan isyarat tangan membuat Davis menatapnya tajam.


“ maksud saya.... kalau sudah halal.... tinggal bersama tuan Davis bisa menjadi opsi pilihan kami.... tapi untuk saat ini..... lebih baik kami tinggal terpisah.... lagi pula saya baru pindah rumah.... masih banyak hal yang harus saya benahi “ ucap Fajrin terbata-bata menjaga agar Davis tidak naik pitam.


“ hmmmm..... begitu ya.... baiklah.... kalau begitu..... kami para orang tua yang akan menentukan kapan kami bertemu dan membicarakan semua ini “ ucap Davis sambil menunjuk Azkar.


“ om.... saya tidak begitu tua..... anak saya masih kecil-kecil.... “ protes Azkar membuat Davis tertawa.


“ dan kamu.... Divya sudah hijrah.... apa kamu tidak akan meminta Divya pada om Davis sekarang saja..... apa kamu masih menunggu Abba dan Amma yang bertindak dan memaksamu “ ucapan tegas Azkar membuat Fajrin menegakkan tulang belakangnya dan menatap Davis.


“ tuan.... restui hubungan kami.... izinkan saya mengenal putri tuan lebih dekat lagi..... saya berjanji akan menjadikan putri tuan Davis sebagai ratu di hidup saya..... “ ucap Fajrin yang terdengar jelas sangat gugup juga tegang.


“ hahahahahaha....... Azkar sesuai perkiraan kamu..... Fajrin sangat menyukai putriku.... aku tidak akan meragukan apa yang sudah dia ucapkan. “ ucap Davis bahagia karena Divya mengulas senyum bahagia menatap Fajrin.


Akhirnya Davis dan Azkar membicarakan apa saja yang Selo dan Freya rencanakan terkait masa depan Fajrin, Davis mendengarkan setiap ucapan Azkar tanpa menyela. Begitu juga sebaliknya saat Davis mengatakan rencananya pada Azkar, Azkar mendengarkan dan mencoba memikirkan solusi dari masing-masing rencana Davis, Selo juga Freya.


Sementara Fajrin yang tertunduk malu di bawah pandangan mata Divya, ingin sekali mengatakan sesuatu tapi terlalu malu dengan keberadaan Azkar di sampingnya. Akhirnya Fajrin mengeluarkan ponselnya dan mengetik pesan singkat untuk Divya.


“ kamu terlihat lebih cantik memakai hijab “ tulis Fajrin dengan tersenyum.


Ponsel Divya berdering membuat Davis menghentikan pembicaraannya, Divya segera membuka pesan singkat tersebut dan membacanya dengan senyum bahagia.


“ dari siapa? “ tanya Davis curiga.


Seketika Divya memperlihatkan isi pesan singkat itu, tubuh Fajrin semakin menegang melihat Divya menunjukkan pesan singkatnya pada Davis.


“ hahahaha..... sudah pandai merayu rupanya.... “ ucapan Davis membuat Fajrin semakin malu.


“ ayang.... Divya cantik ya..... pakai ini..... “ Fajrin menganggukan kepala dengan malu-malu menjawab pertanyaan Divya.


“ sudah.... berapa lama berhijab? “ tanya Fajrin sedikit ragu dengan masih menunduk


“ saat Divya tidak bisa mengirim pesan pada ayang..... dan papi menyuruh Divya untuk segera memutuskan pilihan Divya “ ucap Divya pelan mengenang bagaimana pikirannya kacau saat mengetahui bahwa Fajrin pergi ke Bergen tanpa memberitahunya.


“ Alhamdulillah.... doa ayang terkabulkan dengan cara-NYA “ ucapan Fajrin membuat Azkar juga Davis membulatkan kedua matanya menatap Fajrin yang tertunduk malu.


“ hahahahahahaha....... aku bangga sama kamu..... kamu meminta sesuatu dengan caramu dan yang di Atas mengabulkan dengan cara-Nya “ ucap Azkar bangga.


Akhirnya Davis dan Azkar melanjutkan pembicaraan mereka, membiarkan Fajrin dan Divya berkomunikasi dengan cara mereka sendiri. Di saat mereka berempat sibuk dengan pembicaraan masing-masing, Jason yang sedari tadi duduk tepat di belakang Davis. tiba-tiba berdiri di samping Davis dan sedikit membungkukkan badan memmbisikkan sesuatu.


“ why become like that....what has that kid done (kenapa bisa begitu.... apa yang sudah anak itu lakukan) “ ucapan penuh amarah seketika keluar dari mulut Davis.


Membuat Fajrin terkejut hingga hampir saja menjatuhkan ponselnya, Azkar menatap Davis penuh tanya begitu juga dengan Divya.


Jason memperlihatkan ponselnya menunjukkan beberapa pesan singkat dari orang tangan kanan Davis di Montreal, seketika kedua mata Davis membulat sempurna.


“ satu masalah selesai.... muncul masalah baru “ ucap Davis dan menyandarkan punggungnya sandaran kursi dengan kasar.


Divya menatap Davis dengan heran.