My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 205 KAKAAAAK



Pertama kalinya Fajrin menyusun kontrak kerjasama untuk 2 project yang akan di kerjakan oleh sahabatnya, dan berkali-kali Fajrin harus merevisi beberapa butir kontrak karena menurut Azkar tidak ada profit bagi kedua belah pihak. 3 hari Fajrin hanya berkutat dengan kontrak itu, kepala Fajrin terasa mau pecah.


“ ternyata lebih sulit membuat kontrak dari pada menyusun buku skripsi..... “ gumam Fajrin sambil membaca kata-kata yang sudah di coret oleh Azkar.


Merubah beberapa butir lagi, mencetak kembali berkas tersebut dan menyerahkan pada Azkar.


“ bang..... ini sudah ke 20 kalinya dalam 3 hari ini..... kalau kontrak ini masih tidak memberi profit pada Surendra..... aku mundur saja.... “ ucap Fajrin sambil menyerahkan 2 bundle berkas kontrak.


“ baru juga 2 kontrak kamu sudah menyerah..... bagaimana nanti dengan kontrak yang lain..... “ ucap Azkar sambil membuka berkas-berkas yang Fajrin serahkan.


Fajrin menarik nafas panjang mendengar kritik Azkar. Disaat Fajrin menunggu keputusan Azkar dengan harap-harap cemas, tiba-tiba ponselnya bergetar. Fajrin mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana dan melihat nomor yang menghubunginya, untuk beberapa detik Fajrin hanya mendengarkan suara penelpon saja.


“ bang.... kawan yang aku ceritakan..... dia sudah ada di lobi “ ucap Fajrin sedikit kuatir kalau Azkar tidak mau bertemu dengan kawan yang dia maksud.


“ bawa kesini “ ucap Azkar singkat.


Jawaban singkat Azkar sudah cukup membuat Fajrin melangkah cepat keluar ruangan Azkar, beberapa menit kemudian Fajrin kembali dengan seorang kawan.


“ Assalamu'allaikum.... bang..... ini kawanku “ salam Fajrin yang melihat Azkar sedang berdiri memandangi langit siang Jakarta.


“ Wa'alaikumsalam “ balas Azkar sambil membalikkan badan.


Fajrin memperkenalkan kawannya pada Azkar, Azkar kembali fokus dengan berkas kontrak Fajrin. Setelah menunggu kurang lebih 15 menit, Azkar tanpa basa basi langsung menyodorkan berkas kontrak membuat Fajrin dan kawannya tertegun.


“ kapan project ini mulai kalian kerjakan? “ pertanyaan singkat dan padat membuat kawan Fajrin mulai angkat bicara.


Selama kurang lebih 30 menit Azkar mendengar penjelasan tersebut, terlihat jelas wajah Azkar sangat puas dengan pilihan Fajrin.


Saat Fajrin hendak mengantar kawannya keluar dari ruang kerja Azkar.


“ selesai dengan kawanmu.... kembali kemari “ ucapan tegas Azkar membuat Fajrin menganggukkan kepala sekali.


Tepat di depan lift lantai 1, Fajrin bertemu Divya dan berbicara sesaat.


“ seperti pernah melihat orang itu..... tapi dimana ya..... “ gumam Divya dalam hati sambil mencoba mengingat-ingat wajah kawan Fajrin.


Divya tidak menuju ruang kerja Fajrin, tapi langsung ke ruang kerja Azkar. Azkar yang sudah hapal siapa yang datang di jam-jam seperti ini tidak memperdulikan Divya yang sibuk membuka satu persatu kotak makan siang. 30 menit kemudian Fajrin masuk, belum sempat Fajrin duduk.


“ berapa yang sudah kamu keluarkan untuk negosiasi ini? “ pertanyaan singkat Azkar membuat Fajrin juga Divya tertegun.


Fajrin duduk tepat di hadapan Azkar dan mulai menceritakan kenapa memilih kawannya dalam mengerjakan 2 project ini, pada awalnya terlihat jelas wajah datar Azkar tapi setelah Fajrin menjelaskan judul skripsi dan project pertama yang kawannya kerjakan. Seketika wajah Azkar terlihat sangat serius, begitu juga Divya yang sedari tadi hanya mendengarkan saja.


“ tunggu.... ayang bilang.... kawan ayang tadi juga seorang dosen.... jangan-jangan dia suaminya Fitri..... “ ucap Divya pelan tapi terdengar jelas di telinga Azkar dan Fajrin.


“ Fitri? “ tanya Azkar dan Fajrin hampir bersamaan.


Tak menunggu lama, Divya segera menjelaskan siapa Fitri. Dan Azkar juga tidak percaya begitu saja dengan penjelasan Fajrin, Azkar segera mengirim pesan pada seseorang. Tanpa menunggu lama Azkar tiba-tiba menepuk bahu Fajrin.


“ sepertinya kamu sudah pandai berinvestasi di CV milik kawanmu.... “ ucapan Azkar membuat Fajrin sekali lagi tertegun.


“ atau mungkin..... CV miliknya bisa menjadi bagian dari Surendra group..... “ ucapan Azkar yang sedikit ambigu di telinga Fajrin membuat Fajrin meraih kotak makan siang dari tangan Divya.


Melihat Fajrin yang sepertinya tidak tertarik dengan sarannya, membuat Azkar menatap tajam Fajrin.


Selesai makan siang dan sholat Dhuhur, Fajrin mengajak Divya ke ruang kerjanya.


“ Ayang..... kata papi ini hari terakhir Divya boleh bertemu ayang..... dan baru boleh bertemu ayang nanti saat akad nikah “ ucap Divya dengan cemberut.


Fajrin menarik nafas panjang mendengar keluh kesah Divya.


“ 4 hari lagi...... sabar ya.... “ ucap Fajrin mencoba membuat Divya tidak sedih.


Divya kembali pulang dengan rasa malas , karena selama 4 hari ke depan Divya tidak boleh bertemu atau pun menghubungi Fajrin.


Fajrin pun mencoba untuk kuat, dengan menyibukkan diri karena pagi selepas Shubuh. Fajrin harus ke bandara menunggu kedatangan Nara.


“ sudah siap? “ tanya Dean pada Fajrin yang sudah masuk mobil.


Sepanjang perjalanan ke bandara, Fajrin sudah tidak sabar melihat penampilan Nara dengan perut yang membuncit. Setelah menunggu kurang lebih 1 jam yang terasa lama, sebuah private jet yang berukuran lebih besar dari private jet kebanyakan berjalan pelan masuk ke hanggar.


Fajrin terlihat jelas tidak sabar melihat Nara, Afkar menuruni anak tangga membuat Fajrin menahan tawanya karena terlihat jelas bahwa Afkar berusaha menutupi pandangan mata Nara. Dan saat Afkar sudah berada di ujung bawah anak tangga, seketika suara nyaring Nara membuat Fajrin tersenyum lebar.


“ kakaaaak.... “ suara manja Nara membuat Fajrin melangkah lebar mendekati Nara.


Fajrin memeluk Nara dari samping.


“ sehat? “ Nara menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Fajrin.


“ kangen.... kakak kenapa tidak bilang kalau mau menikah..... Nara ingin membelikan mahar untuk kakak “ suara manja Nara membuat Fajrin mengusap kepala Nara.


“ maaf.... waktu Afkar bilang kalau adik hamil kembar lagi..... kakak minta Afkar untuk tidak memberitahu rencana kakak.... kakak tidak ingin adik keguguran lagi..... “ ucap Fajrin sambil membelai kepala Nara.


Nara bergelayut manja di tangan Fajrin, Afkar memperkenalkan pada Fajrin siapa saja yang akan bermain dengan Nara pada kompetisi onsite kali ini dan Barra memperkenalkan Zarya sebagai calon istrinya pada Fajrin. Karena Nara memeluk erat lengannya, membuat Fajrin harus mengikuti kemana Nara melangkah.


“ dik..... tidak sopan ini.... suami duduk di depan..... adik duduk sama kakak.....” ucap Fajrin mencoba menyuruh Nara duduk disamping Afkar.


“ Nara kangen kakak..... nanti malam Nara tidur sama kakak ya..... “ Fajrin menarik nafas panjang mendengar ucapan Nara.


Afkar tersenyum mendengar suara Nara yang terdengar sangat manja.


“ yakin..... sayang mau tidur sama Fajrin tidak sama mas.....? “ tanya Afkar meyakinkan ucapan Nara.


Nara terdiam seperti memikirkan sesuatu.


“ hmmmmm..... yakin “ ucap Nara sedikit ragu.


“ yakin bisa tidur? “ tanya Afkar sekali lagi.


Fajrin menatap Nara dan Afkar bergantian, merasa bahwa saat ini adik kecilnya sudah banyak berubah dan Fajrin tersenyum tipis melihat keraguan di kedua mata adiknya.


“ Nara kangen kakak..... tapi Nara tidak bisa tidur kalau mas tidak peluk Nara....... Nara bingung...... “ ucap Nara yang mulai terdengar merajuk.


Fajrin gemas dengan jawaban Nara dan membelai kepala Nara.


Sepanjang perjalanan dari bandara menuju kediaman Afkar selama di Jakarta, banyak hal yang Nara ceritakan pada Fajrin. Meski pun beberapa hal sudah dia ketahui dari Afkar, tetap saja Fajrin ingin mendengarkan dari sisi Nara.